Ekspedisi Sejarah Indonesia (Exsara)

Exsara merupakan organisasi terbesar di Jurusan Sejarah Unnes. Aku dirikan bersama teman-teman jurusan sejarah Unnes angkatan 2008. Mereka semakin maju

Catatan Hidupku

Aku sangat suka menulis. Termasuk membuat catatan hidupku. Biar nanti aku mati, tapi pikiranku seolah terus hidup sampai anak cucuku

Petualangan Hidup

Setiap hidup, pasti menyempatkan berkunjung ke tempat unik, berkenalan dengan orang baru. Semua itu akan mendidik kita jadi manusia besar

Sejarah Nasional dan Dunia

Basis pendidikanku Sejarah. Aku sangat menyukai kisah masa lalu. Ada yang kuanggap sebagai sastra ada yang kuanggap sebagai guru kehidupan

Pola Hidup Sehat

Sejak SMP aku sudah punya bakat pemerhati gizi. Aku sangat mencintai pola hidup sehat. Tanpa kita sehat, semua yang kita miliki tak ada gunannya

Wednesday, September 10, 2014

Sejarah dan Makna Jempol Dijepit Telunjuk dan Jari Tengah

 

OLEH: HENDRI F. ISNAENI


Mano in fica, simbol sanggama pada meriam Si Jagur. Pernah diyakini perempuan dapat memberikan kesuburan.

PADA suatu kesempatan, pembesar Majapahit, Pamandana didekati perempuan gila. Dia memberi isyarat penuh makna: menjepit jempol tangan kanannya di antara jari telunjuk dan jari tengah. Kisah ini termuat dalam novel sejarah Majapahit: Bala Sanggrama karya Langit Kresna Hariadi.

Isyarat penuh makna tersebut jelas rekaan dan anakronisme. Sebab, bukti dari isyarat cabul itu baru terdapat pada meriam Si Jagur di Museum Fatahillah, Jakarta. Meriam ini terbuat dari hasil melebur 16 meriam kecil, sebagaimana tulisan Latin pada meriam itu: Ex me Ipsa renata sVm (dari saya sendiri aku dilahirkan kembali).

Meriam ini dibuat Manuel Tavares Bocarro di Makau, Tiongkok. Master pengecor senjata Portugis ini berasal dari Goa, India, di mana dia belajar membuat meriam dari ayahnya, Pedro Tavares Bocarro. Meriam itu dipersembahkan dan ditempatkan di benteng St. Jago de Barra di Makau, sebelum akhirnya dibawa ke Malaka. Nama Si Jagur diduga hasil penyederhanaan dari nama orang suci St. Jago de Barra.

Menurut João Guedes, pada 1627 Manuel Bocarro mengecor beberapa meriam besar yang bisa menembakan proyektil seberat 50 pound. Semua meriam didedikasikan untuk orang-orang suci: St. Alphonse, St. Ursula, St. Peter Martyr, St. Gabriel, St. James, Paus St. Linus dan St. Paul, dan lain-lain. “Selama bertahun-tahun mereka menjaga Makau dari posisinya di benteng masing-masing,” tulis João Guedes dalam “Weapons of Yesteryear,” dimuat macaomagazine.net.

Setelah VOC menguasai Malaka, meriam Si Jagur dibawa ke Batavia pada 1641 dan ditempatkan di Kasteel Batavia untuk menjaga pelabuhan dan kota.

Menurut Adolf Heuken, SJ dalam Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta, meriam Si Jagur memiliki keistimewaan: tangan mengepal dengan ibu jari tersembul di antara telunjuk dan jari tengah. “Mano in fica ini merupakan simbol sanggama,” tulis Heuken.

Mano in fica merupakan simbol hubungan seksual kuno yang berasal dari Italia. Ia berasal dari kata Italia: mano (tangan) dan fica (vulva) yang dalam bahasa Inggris diartikan fig (buah ara), idiom untuk organ genital perempuan –buah ara bila dibelah dua seperti kemaluan perempuan. Bagi orang Roma, buah ara berkaitan dengan kesuburan perempuan dan erotisme; ia sakral bagi Bacchus atau Dionysus (dewa anggur dan kemabukan).    

Mano in fica, tulis Jeanette Ellis dalam Forbidden Rites, merupakan jimat yang terbuat dari perunggu, perak, karang atau plastik merah. Ia menggantikan gambar atau patung Phallus (kelamin laki-laki, red) bangsa Pagan, yang dilarang oleh Gereja Katolik Roma.

Menurut symboldictionary.net, jimat itu digunakan untuk melawan kekuatan jahat dengan keyakinan bahwa kecabulan berfungsi sebagai pengalih perhatian kejahatan; bahkan setan menolak gagasan seks dan reproduksi sehingga melarikan diri dari tanda itu.

Mano in fica pada meriam Si Jagur pun pernah dianggap dapat memberikan kesuburan. Banyak perempuan mendatangi meriam berbobot 24 pound atau 3,5 ton itu. Mereka menaburkan bunga di muka meriam itu setiap hari Kamis. “Mereka mengakhiri ‘upacara’ dengan duduk di atas meriam itu supaya kelak dapat menjadi hamil,” tulis Heuken.

1946 Seorang lelaki tampak mengelus bagian ujung meriam si Jagur, dengan beberapa sesajen di sekelilingnya




Untuk membuang takhayul itu, meriam dipindahkan ke ruang bawah Museum Wayang; sumber lain menyebut ke Museum Nasional. Museum tetap dikunjungi banyak perempuan yang ingin mendapatkan anak. Ada kisah lucu: seorang ibu dari Jawa Timur beserta dua anak perempuannya datang ke museum untuk meminta pertolongan Si Jagur. Setahun kemudian, dia kembali dengan marah-marah. Sebab, yang hamil malah putrinya yang belum menikah, bukan yang sudah bersuami.   

Pada masa Gubernur Jakarta Ali Sadikin, meriam Si Jagur dipindahkan ke halaman utara Museum Fatahillah. Kendati sudah sejak lama tak ada lagi yang meminta kesuburan kepada Si Jagur, yang membekas di ingatan banyak orang adalah simbol sanggama: mano in fica. (Sumber: Majalah Historia)
 

Thursday, June 19, 2014

MSI KOMISARIAT PURBALINGGA TERBENTUK

Kadinbudparpora Purbalingga memberikan sambutan

PURBALINGGA- Siang tadi, 19/6/2014 menjadi hari yang bersejarah bagi sekumpulan pegiat sejarah dari Purbalingga. Bersama dengan Bidang Budaya Dinbudparpora Kabupaten Purbalingga mereka bekerjasama mendirikan sebuah organisasi yang bernama Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) khususnya untuk komisariat Purbalingga.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinbudparpora Kabupaten Purbalingga, Sri Kuncoro mengungkapkan bahwa MSI Komisariat Purbalingga ini anggotanya terdiri mayoritas dari guru-guru mata pelajaran sejarah maupun IPS, guru SD dan beberapa pegiat sejarah. Arah terbentuknya organisasi ini adalah menciptakan masyarakat yang sadar sejarah, mencoba mengungkap kembali khususnya sejarah lokal yang ada di Purbalingga.

"Karena dengan MGMP saja tidak cukup, oleh karena itu dengan terbentuknya MSI komisariat Purbalingga ini diharapkan banyak mengungkap sejarah lokal tentunya untuk keperluan pendidikan bagi guru sejarah maupun juga memiliki kontribusi untuk para peneliti sejarah," ungkap Sri Kuncoro dalam sambutannya kemarin (19/6).

Acara disambung dengan pelantikan pengurus MSI komisariat Purbalingga, yang secara langsung dilakukan oleh Ketua MSI Jawa Tengah Prof Dr Singgih Tri Sulistiyono MHum dan Kepala Dinbudparpora Kabupaten Purbalingga Drs Akhmad Khotib MPd. Pengurus yang dilantik dengan ketua umum dari Guru sejarah SMA Negeri 1 Kejobong, Arifin SPd, selain itu juga ada dari guru sejarah dan beberapa Jurnalis surat kabar juga diharapkan bisa membantu berperan.

Singgih mengungkapkan bahwa selama ini belum ada atau masih jarang ada organisasi dari bidang ilmu lain yang seperti MSI. Umumnnya maksimal hanya pada dalam bentuk MGMP yang dibawah naungan Dinas Pendidikan. "Kita harapkan MSI ini suatu saat akan menjadi seperti IDI (Ikatan Dokter Indonesia). Mereka menerapkan standar-standar tertentu bagaimana menjadi dokter seharusnya. Begitu juga dengan MSI yang suatu saat bisa saling menetapkan standar profesionalisme manjadi seorang guru Sejarah," terangnya.

Pihaknya juga berharap bahwa MSI bisa membawa muatan profesionalisme yang lebih memadai. Bisa menyentuh filosofi, tentunya untuk kepentingan nasional. Kata dia, potensi MSI adalah peluang besar untuk memperkaya pengalaman dan kinerja guru sejarah dan juga bisa membantu para peneliti sejarah. MSI diharapkan bisa bersinergi dengan pemerintah daerah baik kepada Dinas Pendidikan, Dinbudparpora agar bisa mendapatkan dukungan dalam menjalankan setiap program kerjannya nanti.

Selain dibentuk panitia kepengurusan juga dibumbui dengan Seminar Nasional yang bertajuk Revitalisasi Nasionalisme Indonesia dalam Rangka menghadapi Era Globalisasi dan Pasar Bebas dengan pembicara Ketua MSI Jawa Tengah, Prof Dr Singgih Tri Sulistiyono MHum. Kepala Dinbudparpora Kabupaten Purbalingga, Drs Akhmad Khotib MPd dalam sambutannya mengungkapkan bahwa nasionalisme dalam era kekinian sedang loyo. menurutnya bahwa sumber kebangkitan kembali nasionalisme yaitu terletak dari pendidikannya.

"Yang saya khawatirkan Indonesia yang besar, terkenal memiliki budaya yang besar ini namanya ada tapi jiwanya sudah tidak Indonesia lagi. Untuk membangkitkan nasionalisme ini subernya yaitu dari pendidikan kita. Selama ini mata pelajaran sejarah yang ada itu terkesan tidak nyambung antara tujuan dengan materinya, dan di kurikulum 2013 ini akan menjadi tantangan sendiri bagi para guru sejarah," terangnya. (gan)

Wednesday, June 18, 2014

Pergowokan: Kekayaan Budaya Banyumas yang Hilang

Satu kekayaan kebudayaan dari leluhurku ini hampir hilang. Pergowokan namanya. Pertama aku dengar dan baca istilah itu dari novel Ronggeng Dukuh Paruk, karya novelis kebanggan orang Banyumas, Ahmad Tohari.

Makna Pergowokan kurang lebih memang sangat mengesankan. Disitu diceritakan Srintil dipinjam oleh salah seorang juragan boled. Disitu ia disuguhkan kepada putra juragan tadi untuk 'latihan'.

Namun sayang anak itu tak mengerti makna kehadiran Srintil. Sebagai anak lelaki yang belum belum begitu dewasa, ia masih begitu polos. Belum mengerti apa dan bagaimana itu bercinta.

Disinilah peran Srintil sebagai gowok hadir. Srintil mengajari anak laki-laki tadi tentang bagaimana mengapresiasi rasa cinta kepada wanita. Hingga pada titik tertingginya yaitu berhubungan intim. Srintilah sebagai gowok ia harus menjadi media latihan anak itu dalam berhubungan intim.

Sejatinya Srintil sebagai Ronggeng dan tercitra sebagai wanita yang tercantik kala itu. Tapi ia tidak lagi jadi wanita yang anggun nan suci melainkan separuh sundal, yang bisa 'dipakai' lelaki dengan harga tertentu. Karena kecantikannya maka hanya skala juragan saja yang mampu. Dan kali ini diperankan sebagai gowok.

Pergowokan adalah soal gengsi dari juragan itu untuk putranya. Beharap nanti ketika sudah masanya menikah anak itu sudah tidak canggung lagi dan sudah mahir di ranjang. Karena pengalaman dan pelajaran yang diberikan gowok tadi. Benar-benar menjadi lelaki yang beruntung ketika sang orang tua bisa menunjukan gengsinya mengundang gowok untuknya.

Tapi lantas pandanganku banyak berubah tentang pergowokan ini setelah aku ngobrol dengan pak Kasirun selaku kepala seksi seni budaya di Dinporabudpar Banyumas sabtu (14/6) kemarin. Dia membubarkan bayangan indah cita penuh seni tentang pergowokan tadi. Intinya ia menyangkal pergowokan ini rupanya sama dengan apa yang diinterpretasi Ahmad Tohari.

"Aslinya tidak seperti yang diceritakan itu. Malah nuwun sewunya itu mengesankan citra negatif menurunkan norma kesopanan budaya leluhur kita," katanya.

Lalu ia ceritakan tentang bagaimana pergowokan yang sebenarnya. Pergowokan itu layaknya sebuah terapi untuk calon pengantin baru pihak laki-laki.

"Jadi bukan wanita cantik seperti Srintil yang didatangkan, akan tetapi biasanya adalah orang sepuh yang ahli meracik herbal," lanjutnya.

Mengapa sepuh? Ini berarti memang belum ada generasi penerus yang ahli meracik herbal itu. Yaitu herbal untuk kagagahan dan kejantanan vitalitas pria.

Sayangnya pak Kasirun tak menjalaskan, apakah ini hanya berupa ramuan saja atau mungkin juga ada semacam pijatan. Tapi aku yakin ini adalah keahlian yang langka, dan tidak banyak orang bisa. Pak Kasirun akhirnya bisa lanjutkan cerita.

"Jadi jelang menikah lelaki itu dibawa ke rumah yang persis menghadap ke laut. Dia tinggal disitu hanya bersama ahli ramuan tadi. Konon juga angin laut ini jadi salah satu elemen untuk menambah vitalitas pria itu juga. Mereka disitu dalam jangka waktu beberapa hari saja,"  ungkapnya.

Tapi sayang ia sudah tidak bisa bicara lebih detail lagi tentang pergowokan tadi. Seperti racikannya itu apa saja, cara konsumsinya bagaimana. Tak dipungkiri ini adalah kekayaan budaya yang hilang. Seandainya ada yang bisa bangkitkan kembali maka pria Banyumas termasuk aku akan terkenal kejantanannya, oleh wanita-wanita dari berbagai penjuru.

Tapi siapakah lagi yang mewarisi?? Aku ingin ada orang yang angkat bicara soal ini. Pak Kasirun berbisik bahwa masih ada orang yang sedang mendalami istilah pergowokan ini. Tapi sayang aku tak hafal namanya. Sedikit clue yang kuingat bahwa dia adalah salah satu pemilik dari tempat wisata pemandian Tirta Husada Kalibacin, Rawalo, Banyumas. . .

By: Ganda Kurniawan, Jurnalis JPNN