Ekspedisi Sejarah Indonesia (Exsara)

Exsara merupakan organisasi terbesar di Jurusan Sejarah Unnes. Aku dirikan bersama teman-teman jurusan sejarah Unnes angkatan 2008. Mereka semakin maju

Catatan Hidupku

Aku sangat suka menulis. Termasuk membuat catatan hidupku. Biar nanti aku mati, tapi pikiranku seolah terus hidup sampai anak cucuku

Petualangan Hidup

Setiap hidup, pasti menyempatkan berkunjung ke tempat unik, berkenalan dengan orang baru. Semua itu akan mendidik kita jadi manusia besar

Sejarah Nasional dan Dunia

Basis pendidikanku Sejarah. Aku sangat menyukai kisah masa lalu. Ada yang kuanggap sebagai sastra ada yang kuanggap sebagai guru kehidupan

Pola Hidup Sehat

Sejak SMP aku sudah punya bakat pemerhati gizi. Aku sangat mencintai pola hidup sehat. Tanpa kita sehat, semua yang kita miliki tak ada gunannya

Showing posts with label Pembelajaran Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Pembelajaran Sejarah. Show all posts

Wednesday, February 1, 2017

Aura Purbakala di Kembaran Banyumas



Warisan budaya masa lalu berupa bangunan atau situs mungkin begitu mudah dikenali. Namun warisan budaya sebuah sistem yang mungkin tidak terpahat atau tidak terpoles masih begitu sulit untuk dinyatakan warisan budaya. Saya memang tertarik dengan cerita-cerita dari Mas Agus Suyono. Kawan yang berumah di Desa Kedungwuluh, Kalimanah Purbalingga ini sering menceritakan tatanan aneh di sebuah persawahan antara perbatasan Desa Sambeng Kulon dan Desa Kramat Kecamatan Kembaran, Banyumas. Cerita itupun juga ia dapatkan dari penuturan kawannya dari desa setempat. Lebih membuat penasaran lagi ketika ia mengatakan lokasi itu wingit. Citra yang langsung terkesan dalam benak bahwa disitu banyak dikuasai makhluk halus, harus hati-hati dan jangan sembarangan, untuk datang kesitu konon harus menentukan hari pasaran yang tepat agar tidak apes.

Mas Agus menceritakan dengan persuasi agar aku bisa melihatnya secara langsung. Kamis 15 Desember 2016, rasa penasaran itu coba saya buktikan. Pilihan hari itu memang tidak kami tentukan dengan metode magis, karena saya orang yang realistis bahwa apes untung tidaklah ditentukan oleh makhluk halus, akan tetapi oleh Sang Pencipta.

Kurang lebih 1 kilometer dari rumah Mas Agus tepatnya setelah masuk tugu gerbang Desa Kramat. Kita perlu berhenti di kompleks beberapa rumah yang berada di tepi  barat Jl. Sambeng Wetan – Kramat. Hanya sekedar memarkirkan motor. Selebihnya kami harus berjalan ke sawah-sawah dan tidak ada jalan lain selain menapaki galengan sawah.

Tatanan unik pertama yang kami dapati adalah gundukan batu di tengah petak sawah. Sayangnya kami tidak memotretnya dari kejauhan. Namun intinya ini seperti sebuah dataran lingkaran lebih tinggi dari permukaan sebuah petak sawah. Tepi dataran ini tersusun dari tumpukan batu yang tidak direkatkan selain dengan tanah diatasnya. Salah satu tepi daratan tersebut terdapat tumpukan batu ukuran lebih kecil yang disusun kerucut dan saat ini kondisinya tertutupi oleh semak perdu.

Melangkahkan kaki ke barat lagi dan menyebrangi sebuah sungai. Disini kami mendapati hal yang tidak biasa lagi. Tebing-tebing kecil terasering sawah disini umumnya dilapisi tumpukan batu. Ini berlaku sebagian besar petak sawah di sekitar sini. Menurut warga tatanan batu tersebut sudah ada sejak zaman dulu. Jika membandingkan dengan sawah-sawah yang pernah saya jumpai umumnya tidak menggunakan sistem penguatan pondasi susunan batu seperti ini.







Terasering dari tatanan batu






Saya memang bukan seorang arkeolog sehingga saya tidak bisa menterjemahkan betul makna tatanan seperti ini. Apakah merupakan peninggalan sistem dari model persawahan zaman kuno ataukah buatan dari era moderen saat ini, tentu butuh kajian lebih dalam. Jika itu dilakukan zaman moderen, namun apalah kegunaan mengeluarkan banyak tenaga menata batu tersebut jika membuat terasering model biasa sudah cukup. Bahkan ada yang ditemukan dengan ketinggian hingga 2 meter. Pemandangan seperti ini jelas tidak pernah saya jumpai di daerah lain. Ditambah lagi jika menanyakan kepada masyarakat setempat mereka hanya bisa menjawab bahwa tatanan seperti itu sudah ada sejak dulu, mereka juga mengakui tidak memiliki kebiasaan mengumpulkan batu-batu lalu sengaja disusun seperti itu.




Masih di kompleks persawahan yang termasuh dalam Dusun Cikokrok Desa Sambeng Kulon ini kami menemukan sebuah batu, yang sejauh saya kenal ini adalah Arca Yoni. Ini merupakan benda warisan budaya dari zaman Hindu - Budha. Sayangnya benda yakni retak hingga terbelah, serta sisi-sisinya sudah terpecah.


"Batu ini sudah ada sejak lama, hanya saja masyarakat tidak tahu kalau ini benda bersejarah. Masyarakat malah menyebutnya ini pondasi tiang bendera,” kata Mas Agus diamini oleh Pak Jasim salah satu petani yang sedang memeriksa sawahnya disekitar situ.




Padahal tidak logis ada pondasi itu di tengah sawah yang jauh dari pemukiman. Kami meyakini ini sebuah Yoni dilihat dari bentuk. Diperkirakan Yoni yang terbuat dari batu andesit ini berasal antara abad 9 - 15 Masehi atau ketika agama Hindu tengah berjaya di tanah Jawa. Yoni tersebut memiliki luas sisi atas 60 x 60 cm dan tinggi 75 cm. Agus juga menjelaskan posisi Yoni ini sudah berubah dari posisi asalnya.




"Konon kata masyarakat, dulu Yoni ini berposisi di atas permukaan tanah sawah. Lalu karena dianggap mengganggu, sekitar tahun 1990 Yoni ini dipindah sekitar 20 meter dengan posisi setengah terkubur di tepi parit kecil," katanya.

Bongkahan batu Yoni


Ia menjelaskan, benda bersejarah dan sakral berupa Yoni ini juga bisa dijumpai di Desa Kedungbenda, Kecamatan Kemangkon (Purbalingga) dan di Situs Lembuayu, Desa Susukan, Kecamatan Sumbang (Banyumas). Biasanya sebuah Yoni ditemukan bersamaan dengan Lingga, namun kali ini baru Yoni saja yang tampak.






"Oleh masyarakat terdahulu, Lingga-Yoni biasanya digunakan untuk ritual kesuburan pertanian. Oleh karena itu, benda seperti ini pasti ditemukan di wilayah yang subur dan biasanya dekat dengan pertemuan dua sungai, melihat topografi disini memang sudah sesuai, sebelah timur ini ada sungai dan sebelah baratnya malah lurus dengan pertemuan dua sungai," paparnya.


Sekitar 50 meter sebelah barat dari lokasi penemuan Yoni juga ditemukan batu berukir yang tampak timbul dari permukaan tanah setinggi 3 cm. Kata Agus, masyarakat disini menyebutnya "Batu Banteng". Namun batu tersebut sudah tidak berwujud utuh atau sudah pecah dan terpisah di berbagai tempat katanya.




"Batu ini sekilas mirip punggung sapi dengan ekor menekuk ke depan. Diperkirakan ini adalah pecahan Arca Nandi. Namun saya belum bisa memastikan, karena sebagian tubuhnya masih terkubur, dibutuhkan ekskavasi dan perlu izin ke pemilik lahan," katanya.


Pak Jasim menunjuki sesuatu lagi kepada kami agar berjalan sedikit ke arah utara. Disana ada candi dan batu lumpang. Kami pun semakin penasaran membayangkan bagaimana bisa disini ada sebauh candi padahal seumur hidup saya belum pernah menjumpai candi di wilayah Banyumas  -  Purbalingga. Saya dan mas Agus berjalan menuju tempat tersebut, sementara Pak Jasim memilih tetap berada di gubuk.


Setelah kami datangi yah ternyata ini candinya. Definisi candi bagi masyarakat setempat ternyata bukanlah sebuah bangunan tatanan batu yang dibentuk balok dan berukir seperti candi Borobudur atau Prambanan dsb melainkan ya hanya susunan batu yang ditata melingkar. Batu tersebut batu utuh dan tidak dibentuk menjadi kubus atau balok.
Uniknya candi ini secara tersendiri ditumbuhi beraneka macam pohon seperti pohon kelapa, pohon pisang, dan ada juga pohon merica perdu. Kondisi seperti ini seolah-olah tidak ada orang yang berani mengutak atik keadaan, sepertinya ini adalah sebuah tempat yang sakral. Letaknya pula juga berada di tengah-tengah sebuah petak sawah. Saya mencoba naik ke tengah candi tersebut. Ternyata di tengahnya seperti ada sebuah kuburan. Namun saya masih ragu apakan ini benar sebuah kuburan atau hanya dua batu nisan yang dipasang menyerupai kuburan. Selain itu juga tidak menyerupai gundukan.



Add caption





Puas menjelajahi persawahan Dusun Cikokrok ini kami kembali pulang. Mitos mistis seperti yang diceritakan orang memang tidak kami rasakan sama sekali. Perjalanan ini berlangsung dengan lancar. Hanya saja kami masih dirundung penasaran dan masih menganggap bahwa kawasan tersebut adalah benar sebuah kawasan sistem persawahan purba. Ditambah lagi ditemukan adanya batu Yoni yang juga merupakan alat ritual kesuburan. Kami harap akan ada arkeolog yang menanggapi tulisan saya ini. SEKIAN




Thursday, February 25, 2016

Ibu Kandung Sejarah Purbalingga Perlu Dicari

Para narasumber memberikan pemaparan bertajuk menelusuri ibu kandung sejarah Purbalingga, Rabu (24/2/2016) di RM Bale Apoeng Bojongsari.

Purbalingga Ingin Menjadi Kabupaten Monarkhi???

BOJONGSARI - Kabupaten Purbalingga dianggap telah mengubur tatanan sejarahnya terutama pilar terakhir tatanan kebudayaan dalam bentuk keraton. Sejak berdirinya NKRI tahun 1945 tatanan keraton yang saat itu berupa kerajaan, kadipaten, kademangan seluruhnya dilenyapkan menjadi negara. Nyatanya konsep budaya leluhur berupa keraton ini sempat dirindukan untuk kembali dimunculkan di lingkungan Kabupaten Purbalingga. Bukan sebagai penanding pemerintah, melainakn sebagai simbol leluhur bahkan dianggap sebagai orang tua/ibu kandung waga Purbalingga.

Hal tersebut sempat dibahas dalam acara saresehan yang diselenggarakan oleh Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) NU Purbalingga. Saresehan yang diselenggarakan di RM Bale Apoeng Bojongsari tersebut menghadirkan narasumber Agus Sukoco selaku ketua Lakpesdam NU Purbalingga sekaligus pemerhati budaya lokal, Drs Akhmad Khotib MPdI selaku sesepuh budayawan Purbaingga serta KH Ir Sallahudin Wahid atau Gus Sholah selaku budayawan nasional.

Menurut Agus Sukoco dalam satu kabupaten diibaratkan rumah, sementara pemerintah sesuai dengan undang-undang adalah pelayan/pembantu, sedangkan rakyat adalah anak-anaknya, sedangkan yang menjadi pertanyaan adalah siapa orang tua rakyat Purbalingga. "Seringkali masih dianggap pemerintah yang sebenarnya sosok pembantu sebagai orang tua. Kita masih terkurung pada pemikiran yang keliru itu. Lalu siapa orang tua yang memiliki ikatan batin dengan masyarakat Purbalingga?," kata Agus dalam paparannya, Rabu (24/2).

Menurutnya orang tua yang sebenarnya adalah institusi sejarah. Dijelaskan institusi sejarah adalah sebuah Keraton simbolisme tatanan Kabupaten Purbalingga pra NKRI, yakni dinasti Kyai Arsantaka yang merupakan pendiri Kabupaten Purbalingga. Keraton dan dinasti Kyai Arsantaka dinilai perlu dihidupkan kembali dan kembali diakui eksistensinya kembali sebagai ibu kandung sejarah dan perintis peradaban Kabupaten Purbalingga.

"Masyarakat dan pemerintah Kabupaten Purbalingga, harus bekerjasama untuk setidaknya memberikan hak kultural kepada trah Kyai Arsantaka. Bukankah UUD'45 Pasal 32 mengamanatkan kita sebagai bangsa untuk melestarikan nilai-nilai budayanya?," ucapnya.

Menurutnya Keraton Kadipaten diharapkan bisa diberdayakan kembali menjadi pusat kebudayaan untuk menjadi pusat kebudayaan yang berfngsi menjaga nilai otentik dan adat istiadat masyarakat Purbalingga yang sudah mulai tenggelam oleh globalisasi dan modernitas. Hanya saja saat ini perlu dilakukan kembali kajian akademis dan genetika untuk mencari siapakah yang masih memiliki garis keturunan atau trah Kyai Arsantaka (Dipayuda III) atau kelanjutan dari trah Dipokusumo IV.

"Jika Yogyakarta punya Keraton Kasultanan, Purbalingga juga memiliki potensi historis untuk membangun Keraton Kadipaten. Negara maju seperti Inggris masih memposisikan Ratu Elisabeth sebagai ibu sejarah  dan Jepang masih menjunjung tinggi Kaisar, mereka saja masih serius mengapresiasi sesepuh kebangsaannya," tegasnya.

Sementara, Drs Akhmad Khotib MPdI selaku sesepuh budayawan Purbalingga mengatakan pihaknya setuju dengan prinsip kembali mencari ibu kandung sejarah Purbalingga ini, namun tetap harus melewati kajian ilmiah dan kematangan filosofis untuk menggugah kembali kultur yang terpendam itu. "Secara prinsip saya setuju, tapi kajian ilmiah perlu dibuktikan. Untuk mengetahui ibu kandung sejarah perlu ahli sejarah. Kalau kita tahu, misalnya saja penetapan hari jadi Purbalingga saat ini hanya mengandalkan kebenaran hukum saja, belum kebenaran sejarah," tuturnya.

Berikut ini modul lebih lengkap saresehan, silahkan didownload. Semoga bermanfaat

Menelusuri Ibu Kandung Sejarah Purbalingga
Oleh : Agus Sukoco




Friday, August 24, 2012

Inilah Skripsiku,Semoga Bermanfaat

Pengaruh Film GIE Terhadap Pemahaman Nilai-Nilai Nasionalisme Pada Siswa Kelas XII IPS SMA Negeri 1 Kutasari dalam Pembelajaran Sejarah Tahun Ajaran 2011/2012






Klik DISINI judul untuk mendownload skripsinya