Ekspedisi Sejarah Indonesia (Exsara)

Exsara merupakan organisasi terbesar di Jurusan Sejarah Unnes. Aku dirikan bersama teman-teman jurusan sejarah Unnes angkatan 2008. Mereka semakin maju

Catatan Hidupku

Aku sangat suka menulis. Termasuk membuat catatan hidupku. Biar nanti aku mati, tapi pikiranku seolah terus hidup sampai anak cucuku

Petualangan Hidup

Setiap hidup, pasti menyempatkan berkunjung ke tempat unik, berkenalan dengan orang baru. Semua itu akan mendidik kita jadi manusia besar

Sejarah Nasional dan Dunia

Basis pendidikanku Sejarah. Aku sangat menyukai kisah masa lalu. Ada yang kuanggap sebagai sastra ada yang kuanggap sebagai guru kehidupan

Pola Hidup Sehat

Sejak SMP aku sudah punya bakat pemerhati gizi. Aku sangat mencintai pola hidup sehat. Tanpa kita sehat, semua yang kita miliki tak ada gunannya

Showing posts with label Petualangan. Show all posts
Showing posts with label Petualangan. Show all posts

Wednesday, February 1, 2017

Aura Purbakala di Kembaran Banyumas



Warisan budaya masa lalu berupa bangunan atau situs mungkin begitu mudah dikenali. Namun warisan budaya sebuah sistem yang mungkin tidak terpahat atau tidak terpoles masih begitu sulit untuk dinyatakan warisan budaya. Saya memang tertarik dengan cerita-cerita dari Mas Agus Suyono. Kawan yang berumah di Desa Kedungwuluh, Kalimanah Purbalingga ini sering menceritakan tatanan aneh di sebuah persawahan antara perbatasan Desa Sambeng Kulon dan Desa Kramat Kecamatan Kembaran, Banyumas. Cerita itupun juga ia dapatkan dari penuturan kawannya dari desa setempat. Lebih membuat penasaran lagi ketika ia mengatakan lokasi itu wingit. Citra yang langsung terkesan dalam benak bahwa disitu banyak dikuasai makhluk halus, harus hati-hati dan jangan sembarangan, untuk datang kesitu konon harus menentukan hari pasaran yang tepat agar tidak apes.

Mas Agus menceritakan dengan persuasi agar aku bisa melihatnya secara langsung. Kamis 15 Desember 2016, rasa penasaran itu coba saya buktikan. Pilihan hari itu memang tidak kami tentukan dengan metode magis, karena saya orang yang realistis bahwa apes untung tidaklah ditentukan oleh makhluk halus, akan tetapi oleh Sang Pencipta.

Kurang lebih 1 kilometer dari rumah Mas Agus tepatnya setelah masuk tugu gerbang Desa Kramat. Kita perlu berhenti di kompleks beberapa rumah yang berada di tepi  barat Jl. Sambeng Wetan – Kramat. Hanya sekedar memarkirkan motor. Selebihnya kami harus berjalan ke sawah-sawah dan tidak ada jalan lain selain menapaki galengan sawah.

Tatanan unik pertama yang kami dapati adalah gundukan batu di tengah petak sawah. Sayangnya kami tidak memotretnya dari kejauhan. Namun intinya ini seperti sebuah dataran lingkaran lebih tinggi dari permukaan sebuah petak sawah. Tepi dataran ini tersusun dari tumpukan batu yang tidak direkatkan selain dengan tanah diatasnya. Salah satu tepi daratan tersebut terdapat tumpukan batu ukuran lebih kecil yang disusun kerucut dan saat ini kondisinya tertutupi oleh semak perdu.

Melangkahkan kaki ke barat lagi dan menyebrangi sebuah sungai. Disini kami mendapati hal yang tidak biasa lagi. Tebing-tebing kecil terasering sawah disini umumnya dilapisi tumpukan batu. Ini berlaku sebagian besar petak sawah di sekitar sini. Menurut warga tatanan batu tersebut sudah ada sejak zaman dulu. Jika membandingkan dengan sawah-sawah yang pernah saya jumpai umumnya tidak menggunakan sistem penguatan pondasi susunan batu seperti ini.







Terasering dari tatanan batu






Saya memang bukan seorang arkeolog sehingga saya tidak bisa menterjemahkan betul makna tatanan seperti ini. Apakah merupakan peninggalan sistem dari model persawahan zaman kuno ataukah buatan dari era moderen saat ini, tentu butuh kajian lebih dalam. Jika itu dilakukan zaman moderen, namun apalah kegunaan mengeluarkan banyak tenaga menata batu tersebut jika membuat terasering model biasa sudah cukup. Bahkan ada yang ditemukan dengan ketinggian hingga 2 meter. Pemandangan seperti ini jelas tidak pernah saya jumpai di daerah lain. Ditambah lagi jika menanyakan kepada masyarakat setempat mereka hanya bisa menjawab bahwa tatanan seperti itu sudah ada sejak dulu, mereka juga mengakui tidak memiliki kebiasaan mengumpulkan batu-batu lalu sengaja disusun seperti itu.




Masih di kompleks persawahan yang termasuh dalam Dusun Cikokrok Desa Sambeng Kulon ini kami menemukan sebuah batu, yang sejauh saya kenal ini adalah Arca Yoni. Ini merupakan benda warisan budaya dari zaman Hindu - Budha. Sayangnya benda yakni retak hingga terbelah, serta sisi-sisinya sudah terpecah.


"Batu ini sudah ada sejak lama, hanya saja masyarakat tidak tahu kalau ini benda bersejarah. Masyarakat malah menyebutnya ini pondasi tiang bendera,” kata Mas Agus diamini oleh Pak Jasim salah satu petani yang sedang memeriksa sawahnya disekitar situ.




Padahal tidak logis ada pondasi itu di tengah sawah yang jauh dari pemukiman. Kami meyakini ini sebuah Yoni dilihat dari bentuk. Diperkirakan Yoni yang terbuat dari batu andesit ini berasal antara abad 9 - 15 Masehi atau ketika agama Hindu tengah berjaya di tanah Jawa. Yoni tersebut memiliki luas sisi atas 60 x 60 cm dan tinggi 75 cm. Agus juga menjelaskan posisi Yoni ini sudah berubah dari posisi asalnya.




"Konon kata masyarakat, dulu Yoni ini berposisi di atas permukaan tanah sawah. Lalu karena dianggap mengganggu, sekitar tahun 1990 Yoni ini dipindah sekitar 20 meter dengan posisi setengah terkubur di tepi parit kecil," katanya.

Bongkahan batu Yoni


Ia menjelaskan, benda bersejarah dan sakral berupa Yoni ini juga bisa dijumpai di Desa Kedungbenda, Kecamatan Kemangkon (Purbalingga) dan di Situs Lembuayu, Desa Susukan, Kecamatan Sumbang (Banyumas). Biasanya sebuah Yoni ditemukan bersamaan dengan Lingga, namun kali ini baru Yoni saja yang tampak.






"Oleh masyarakat terdahulu, Lingga-Yoni biasanya digunakan untuk ritual kesuburan pertanian. Oleh karena itu, benda seperti ini pasti ditemukan di wilayah yang subur dan biasanya dekat dengan pertemuan dua sungai, melihat topografi disini memang sudah sesuai, sebelah timur ini ada sungai dan sebelah baratnya malah lurus dengan pertemuan dua sungai," paparnya.


Sekitar 50 meter sebelah barat dari lokasi penemuan Yoni juga ditemukan batu berukir yang tampak timbul dari permukaan tanah setinggi 3 cm. Kata Agus, masyarakat disini menyebutnya "Batu Banteng". Namun batu tersebut sudah tidak berwujud utuh atau sudah pecah dan terpisah di berbagai tempat katanya.




"Batu ini sekilas mirip punggung sapi dengan ekor menekuk ke depan. Diperkirakan ini adalah pecahan Arca Nandi. Namun saya belum bisa memastikan, karena sebagian tubuhnya masih terkubur, dibutuhkan ekskavasi dan perlu izin ke pemilik lahan," katanya.


Pak Jasim menunjuki sesuatu lagi kepada kami agar berjalan sedikit ke arah utara. Disana ada candi dan batu lumpang. Kami pun semakin penasaran membayangkan bagaimana bisa disini ada sebauh candi padahal seumur hidup saya belum pernah menjumpai candi di wilayah Banyumas  -  Purbalingga. Saya dan mas Agus berjalan menuju tempat tersebut, sementara Pak Jasim memilih tetap berada di gubuk.


Setelah kami datangi yah ternyata ini candinya. Definisi candi bagi masyarakat setempat ternyata bukanlah sebuah bangunan tatanan batu yang dibentuk balok dan berukir seperti candi Borobudur atau Prambanan dsb melainkan ya hanya susunan batu yang ditata melingkar. Batu tersebut batu utuh dan tidak dibentuk menjadi kubus atau balok.
Uniknya candi ini secara tersendiri ditumbuhi beraneka macam pohon seperti pohon kelapa, pohon pisang, dan ada juga pohon merica perdu. Kondisi seperti ini seolah-olah tidak ada orang yang berani mengutak atik keadaan, sepertinya ini adalah sebuah tempat yang sakral. Letaknya pula juga berada di tengah-tengah sebuah petak sawah. Saya mencoba naik ke tengah candi tersebut. Ternyata di tengahnya seperti ada sebuah kuburan. Namun saya masih ragu apakan ini benar sebuah kuburan atau hanya dua batu nisan yang dipasang menyerupai kuburan. Selain itu juga tidak menyerupai gundukan.



Add caption





Puas menjelajahi persawahan Dusun Cikokrok ini kami kembali pulang. Mitos mistis seperti yang diceritakan orang memang tidak kami rasakan sama sekali. Perjalanan ini berlangsung dengan lancar. Hanya saja kami masih dirundung penasaran dan masih menganggap bahwa kawasan tersebut adalah benar sebuah kawasan sistem persawahan purba. Ditambah lagi ditemukan adanya batu Yoni yang juga merupakan alat ritual kesuburan. Kami harap akan ada arkeolog yang menanggapi tulisan saya ini. SEKIAN




Wednesday, December 28, 2016

Inilah Rahasia Body Hack Wolverine Project OCD 2.0



Buku seri kedua dari Obessive Corbuzier Diet (OCD) ini, saya pahami ini merupakan prosedur tingkat lanjut dalam menjalankan diet OCD di buku pertama. Jadi jika buku pertama banyak memberitahukan teori dasar OCD serta penerapannya, maka misi utamannya adalah membentuk tubuh ideal. Yakni bagaimana yang punya tubuh obesitas bisa turun lemaknya dan mendapatkan tubuh ideal. Sementara bagi yang kurus bisa berkembang ototnya menjadi lebih ideal. Jadi jika pembaca sudah merasa puas dengan hasil yang diinstruksikan di buku OCD seri pertama, maka tidak wajib untuk mengikuti OCD 2.0 ini.



Sebelum saya menjelaskan tentang rahasia Body Hack ini, rasanya perlu memberitahu mengapa buku seri kedua ini diberi sub judul "Wolverine Project". Setelah dipahami, ternyata diet ala Deddy yang katanya meniru diet ala Shaolin juga ternyata hampir sama dengan diet yang dilakukan oleh aktor Hugh Jackman saat membintangi film Wolverine, khususnya seri Wolverine saat seting filmnya di Jepang itu loh (lupa seri berapa). Silahkan cek saja di www.thewolverinediet.com (itu web berbahasa inggris). Prinsipnya sama-sama menerapkan Intermittent Fasting alias puasa.

Disitu problem dari Hugh Jackman sendiri adalah usianya yang sudah tidak lagi muda, produksi hormon pertumbuhannya sudah rendah, sementara bodinya masih standar banget. Saking standarnya, pada film-film wolverine sebelumnya dia masih pakai kostum dan jarang memamerkan tubuhnya. Silahkan tonton filmnya saat dia masih main film X-men. Bagaimana caranya Jackman agar bisa menumbuhkan lagi otot-ototnya maka digunakan diet ini. Saat kita nonton The Wolverine (2014) saat seri di Jepang itu, bodinya udah beda banget. Sempurna pokoknya.

Dengan kata lain buku OCD 2.0 ini tidak cukup memberi trik mendapatkan tubuh ideal saja. Tapi bagaimana menghubungkan OCD 2.0 ini untuk keperluan Bodybuilder alias binaragawan. Lihat saja cover OCD seri pertama hanya menampilkan Deddy dengan tubuh yang slim terdefinisi. Tapi di buku kedua ini banyak menampilkan tubuh Deddy tingkat advance lebih besar dan tetap terdefinisi.

Body Hack

Disinilah yang membedakan buku pertama dengan yang kedua. Istilah Hack sering digunakan dalam dunia komputer atau IT. "Hack" biasanya sering diartikan membajak suatu sistem sehingga yang tadinya sistem itu "tidak mau" mematuhi apa yang kita inginkan menjadi "mau". Namun mengherankan, kali ini Deddy menerapkan Hack untuk tubuh kita. Lebih singkatnya, bagaimana tubuh di Hack yang tadinya sulit atau tidak mau gede karena keterbatasan hormon atau umur, menjadi mau menjadi gede, kayak dipompa terus, tentunya dengan cara alami.


  • Bulking

Untuk membentuk tubuh ala Wolverine, pertama kita harus melakukan bulking atau penggemukan. Loh saya kan sudah gemuk, berarti saya tidak perlu bulking dong??. Mau bulking baik untuk si kurus dan si gemuk ada aturannya, yaitu kadar lemak harus dibawah 15% baru boleh bulking. Teknik bulking ala Deddy hampir sama dengan bulking pada umumnya yang sering dilakukan para bodybuilder, yakni surplus kalori.

Hanya saja disini Deddy lebih banyak menekankan ke makanan alami bukan suplemen atau makanan prosesan. Selain itu sumber karbohidrat yang digunakan sebaiknya yang menyehatkan. Tentunya 100 kalori apel hasilnya akan lebih baik daripada 100 kalori kue. Silahkan pahami sendiri.

Kebutuhan kalori juga ditingkatkan secara drastis. Jika biasanya hanya mengkonsumsi 2500 kalori kali ini ditingkatkan menjadi 3500 kalori. Karena suplai kalori banyak, maka disarankan untuk menggunakan teknik OCD jendela makan 8 Jam, jangan kurang dari itu. Komposisi yang kita makan yaitu 40% karbohidrat dan 60% protein. Apa saja yang dimakan? lebih detail baca bukunya.


  • Cutting

Cutting diartikan mencukur lemak-lemak hasil dari bulking. Tujuannya agar tubuh yang sudah besar akan terlihat terdefinisi dan kering. Perbandingan Karbohidrat : Protein yang tadinya 40:60 kini diubah menjadi 20:80. Jangan lupa turunkan juga jumlah kalorinya pelan pelan dari 3500 - 500 - 500 - 500. Demikian jendela makannya juga diturunkan menjadi 4 jam. Apa saja yang dimakan? apa saja olah raga yang diperlukan? lebih detail baca bukunya.

Pada intinya saya mencermati, baik pada tahap Bulking maupun Cutting di OCD 2.0 ini sudah tidak lagi menggunakan aturan yang ada dalam OCD pertama. Khususnya dalam hal apa yang dimakan. Di OCD pertama membolehkan makan apa saja setelah puasa, namun di OCD 2.0 ini harus betul-betul diperhatikan kualitas makanannya. Namanya saja level Advance

The Secret : Body Hack

Apa yang Deddy tulis di bagian ini, jujur saja saya baru pernah mendengarnya dalam hal teori diet ataupun body building. Saya jelaskan sederhanannya saja. Hack Body ini dimulai dari komitmen tidak mensuplai protein sama sekali ke tubuh kita dalam beberapa hari. Sementara otot wajib ditempa terus dengan latihan angkat beban. Disinilah tahap Hack berlangsung yang istilahnya tubuh "dirusak" dalam arti yang baik.

Tubuh akan haus berat akan protein pada tahap itu. Baru kemudian kita asup protein tinggi. Disini kita akan dapati pertumbuhan otot yang sangat pesat dibanding dengan tanpa body hack ini.

Tulisan ini hanyalah ringkasan saja. Bagi yang ingin mengetahui lebih detail disarankan membaca bukunya. Diantaranya akan banyak mengutarakan bagaimana penjelasan ilmiahnya?, berapa lamanya body hack dan berapa kali bisa dilakukan?, makanan apa saja yang sebaiknya dimakan? bagaimana proses memasaknya?

Suplemen?
Dalam buku ini, Deddy sama seperti buku sebelumnya yaitu tidak membahas soal suplemen. Hanya saja disini Deddy lebih sering menyebut suplemen Creatine yang digunakan. Itu saja.

Review Tas Kalibre Predator 03



Sedikit cerita, beberapa waktu lalu sebuah tas selempang miliku terputus selempangnya. Maklum lah tas tersebut memang tidak memiliki merek, atau hanya sebuah souvenir/kenang-kenangan yang saya dapat dari salah satu kantor pajak di kotaku. Sehingga kali ini saya membutuhkan sebuah tas pengganti.

Sebelum membelinya, saya mencari-cari informasi tas brand berkualitas dengan harga yang tidak terlalu tinggi. Selain menilai kualitas brand, saya juga memilih-milih model-model yang bagus. Tiba-tiba mata saya kepincut dengan tas brand Kalibre tipe Predator 03, ini adalah jenis tas selempang atau travel pouch bukan tas punggung. Saya memang membutuhkan tas praktis seperti ini.

Dengan penasaran, saya mencari tahu, siapa sih sebenarnya produsen Tas Kalibre. Cukup membuka websitenya di www.iamkalibre.com ternyata ini adalah produksi tas dalam negeri yang mermarkas di Jl Cihampelas No 4 Bandung. Toko-toko khusus produk Kalibre ini umumnnya dijual di Ramayana atau di Toko Buku Gramedia. Meski demikian, saya memutuskan membelinya secara online.

Begitu barang datang, saya tidak langsung membukanya. Saya perhatikan kemasannya terlebih dahulu. Tas ini dikemas dengan plastik segel resmi Kalibre yang juga terdapat silica di dalamnya. Di plastik bagian bawah terdapat tulisan WARNING yang terdiri dari berbagai bahasa negara diantaranya Bahasa Inggris, Bahasa Jerman, Bahasa Prancis, Bahasa China, Bahasa Belanda dan Bahasa Korea. Pada intinya tulisan tersebut memperingatkan agar jangan membuang plastik ini sembarangan khususnya agar dijauhkan dari bayi dan anak-anak dikhawatirkan salah dimasukan ke kepalanya dan menyebabkan kehabisan nafas.

Kondisi tas saat masih segel

Begitu saya buka segel itu, bisa langsung ku sentuh bahan-bahan rancangannya. Demikian langsung aku cek bolak-balik untuk memastikan tidak ada sisi cacat produksi apakah ada benang menjulur keluar, ukuran yang tidak presisi, resleting rusak atau kekurangan item. Ternyata tidak ku temukan semua itu, dengan demikian sisi luar tas yang saya beli ini memang sempurna. Masih tergantung sebuah Price Tag dengan banderol harga Rp 299.000 berhologram Geniune dan ISO, serta sebuah Kartu Garansi 1 Tahun dan stiker.

Tas dari depan

Price tag dan kartu garansi

Tampak paling luar ada semacam cangkang yang sangat elegan khas tipe "Predator" mirip seperti punggung kalajengking dan berlapis karet. Sedangkan sisi-sisinya berbalut dengan bahan sintetis yang tidak terlalu tebal. Namun demikian bahan tersebut telah berlapis karet yang berfungsi sebagai water resistant.

Sekilas tas ini berbentuk seperti segitiga terbalik. Dengan lebar atas berukuran 26 Cm dan lebar bawah berukuran 20 Cm. Sedangkan tinggi/panjang 30 Cm dan tas atau mampu direnggangkan hingga ketebalan 11 Cm. Selain itu bagian atas tas terdapat penjinjing yang cukup tebal.
Lebar atas 26 Cm

Panjang 30 Cm

Resleting yang digunakan juga terdapat tulisan Kalibre atau tidak menggunakan brand pihak ketiga. Jenis resletingnyapun juga menggunakan tipe tertutup yang juga berfungsi mencegah masuknya air. Tas ini hanya memiliki 2 resleting luar yakni depan dan belakang. Keduanya bisa membuka sepanjang 270 derajat lingkar tas dari atas ke bawah.

Resleting Kalibre

Bagian dalam tas juga tampak cukup elegan. Penggunaan warna orange terang tentu berfungsi untuk mempermudah pencarian benda yang ada di dalam. Ruang bagian belakang merupakan ruangan terluas. Diantaranya ada bagian untuk meletakan tablet atau netbook. Sementara resleting bagian depan terdapat banyak saku diantaranya 2 saku tipis besar dan terdapat resleting, satu saku berukuran setengah tanpa resleting serta 3 saku kecil.

Ruang bagian belakang
Ruang bagian depan

Bagian luar-belakang tas ini terbuat dari busa yang empuk berwarna hitam. Sedangkan pengkait/carabiner selempang terbuat dari plastik yang kokoh. Mengingat ini bahan baru, maka saya belum tahu seberapa kuat daya tahan pelapis karet ini, terutama jika sering terkena hujan dan panas. Bagi yang sudah memiliki pengalaman, bisa menuliskan komentar di bawah ini.
Bagian luar-belakang
Pengait dari plastik padat dan kokoh
Ketebalan daya tampung tas 11 Cm

Monday, December 26, 2016

HUT-17 SMAN 1 Kutasari Pamerkan Kreatifitas Siswa



KUTASARI - Perayan ulang tahun sekolah yang ke-17, SMA Negeri 1 Kutasari menggelar sejumlah rangkaian acara menarik. Kemarin (14/1) beberapa ruang kelas dipakai sebagai wadah galeri hasil kreatifitas siswa, mulai dari galeri dan perlengkapan ekstrakulikuler (ekskul) dan pameran Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Ketua Panitia Perayaan HUT SMAN 1 Kutasari yang ke 17, Bambang Yuniarto SPd menjelaskan perayaan ini merupakan agenda tahunan sekolah. Dari produk ekskul misalnya berbagai hasil seni lukis yang diaplikasikan di selain kanvas, misal di talenan bisa untuk hiasan dinding. "Seni rupa pesertanya sedikit, karena seni hanya dimiliki beberapa siswa tapi ekstrakulikuler ini tetap berjalan," katanya.

Sejumlah galeri juga dimaperkan oleh ekskul lain seperti Pramuka, Pecinta alam, Palang Merah Remaja, PArtoli Keselamatan Sekolah (PKS), Futsal, Pencak Silat Merpati Putih, Basket, Sinematografi Papringan Pictures dan bahasa Jepang. Ekskul Jurnalistik turut memamerkan berita-berita seputar sekolahan karya siswa. Umumnya berisi kritik saran saran seputar sekolah dan infrastruktur sekolah.

"Yang tidak kalah menariknya juga ada sejumlah miniatur bangunan adat serta peralatan bersejarah pertama kali yang digunakan di sekolah ini seperti, mesin tik pertama, tape pertama, pengeras suara, perabot dan alat multimedia lain yang pertama kali digunakan sekolah ini pada tahun 1999 lalu," paparnya.

Perkakas dan perabot yang dimiliki SMAN 1 Kutasari Pertama Kali
Miniatur rumah adat tradisional
Pameran Kuliner buatan siswa


Rangkaian acara ulang tahun dimulai sejak Selasa (5/1) lalu. Yakni dimulai dari upacara bendera yang dikemas dengan pemaparan sejarah SMA, Pemberian penghargaan atas prestasi.

"Kami juga menelenggarakan pelepasan balon harapan, yaitu setiap peserta didik dan guru menuliskan cita citanya dalam satu kertas lalu digantungkan tali balon lalu diterbangkan bersama, totalnya ada 500 balon.

Acara perayaan ini juga masih berlanjut hingga Sabtu (16/1) mendatang. Khusus hari ini (15/1) rencananya akan diselenggarakan jalan sehat bareng siswa dan alumni. Sedangkan pada Sabtu (16/1) akan diselengagrakan acara pentas seni. "Kami harap seluruh alumni SMAN 1 Kutasari bisa hadir dalam dua agenda terakhir ini," katanya.

Knalpot Indra Jadi Incaran Importir Malaysia



PURBALINGGA - Menilik industri knalpot di Purbalingga bisa ditemukan ada ratusan pengrajin, namun demikian keberadaan mereka tidak mesti berdomisili di Kampung Sayangan yang selama ini terkenal menjadi sentralnya. Industri alat peredam suara dan penyaring gas buang kendraan ini juga bisa ditemukan di radius 1 kilometer dari patung lelaki kekar yang sedang memperagakan pembuatan knalpot. Dari perempatan Wirasana ambil ke arah timur sejauh 200 meter kita kembali menemukan sebuah industri knalpot yang masih menyatu dengan rumah.

 Indra, owner IIJ memamerkan knalpot-knalpot buatan industrinya


Penulis mencoba mendatangi rumah tersebut yang dari depan terpajang aneka silencer dan header knalpot motor dan mobil beraneka motif, seperti pelangi, karbon dan chrome dengan bentuk-bentuk yang cukup berkelas dibanding model silencer standar asli kendaraan. Sebuah industri yang tertulis Indra Indo Jaya (IIJ) ini terdengar bunyi mesin yang dihidupkan dari salah satu tukang yang sedang memotong pelat stainless anti korosi sebagai bahan pembuat knalpot, sedang tukang yang lain tampak sedang mengebor sisi-sisi knalpot untuk dipasangi frame agar terlihat menarik.

Kedatangan penulis sengaja ingin mengupas seputar industri knalpot yang satu ini. Tampak ada anak pemuda yang sedang nongkrongi, memperhatikan para tukang yang sedang bekerja. Penulis menyapa dan menyatakan ingin menemui pemilik industri ini kepadanya. Namun tak disangka, ternyata anak muda itulah mengaku sebagai owner industri kecil rumahan ini. Setelah banyak ngobrol soal perkenalan, lebih terheran lagi ketika anak muda itu mengaku kelahiran tahun 1994, tiga tahun lebih muda dari penulis namun ia sudah memimpin dan mengelola sebuah industri produk otomotif ini.

Indra Nur Arbianto, nama lengkap pemuda pemilik IIJ ini. Ia baru membuka industri knalpotnya ini sekitar satu tahun yang lalu, namun ia sudah banyak berpengalaman menggeluti pemasaran knalpot Purbalingga sejak 4 tahun yang lalu. Knalpot Purbalingga memiliki pemasaran yang begitu luas mulai level nasional hingga internasional. Contohnya saja knalpot hasil industri IIJ milik pengusaha berusia 21 tahun, ini sanggup tembus ke pasaran Malaysia.

Diakui, Kabupaten Purbalingga dikenal dengan surganya knalpot handmade alias buatan tangan bukan buatan mesin, namun dengan kualitas yang baik dengan harga yang terjangkau. Wajar saja para pecinta otomotif jelas kepincut dengan produk buatan putra kreatif Purbalingga ini. Bahkan diantara ratusan pengrajin knalpot yang ada di Purbalingga sempat menjadi suplier perusahaan mobil yang sangat terkenal di Jerman. Nama knalpot Purbalingga booming dan diakui kota-kota lain sebagai produk knalpot paling berkualitas. Booming knalpot Purbalingga bertahan bertahun-tahun hingga sekarang, tidak seperti tren batu akik yang cepat tenggelam.

Industri knalpot yang beralamat di Jalan Tentara Pelajar no 31, Kelurahan Kembaran Kulon atau kompleks depan RSUD Goeteng Taroendibrata ini mampu memproduksi silencer knalpot dengan tipe mirip produk kelas dunia. Untuk merek knalpot racing mobil, IIJ sudah tergolong mahir membuat dan menduplikasi aneka tipe knalpot berkelas, seperti tipe HKS, Tanabe, Fujitsubo, Gronel, dan Kapsul.

Selain itu, untuk knalpot khusus sepeda motor, home industri ini juga bisa meniru knalpot merek beken yang sudah tak asing lagi di telinga penggemar otomotif  seperti Akaprovic, Yoshimura, Scorpion, Termignoni, M4, Leovince, Remus, Akrapovic Garda, Akrapovic GP dan berbagai jenis knalpot untuk mesin 2-tak. Knalpot-knalpot jenis tersebut sering digunakan dalam ajang balap motor kelas dunia.

Indra menuturkan harga jual knalpot biasanya ditentukan dari kualitas dan bahan bakunya, selain itu juga pembelian dalam jumlah banyak bisa mendapatkan harga khusus. Karena ini buatan lokal, tentunya harga jual tak seperti merek aslinya.

 "Nilai jual knalpot biasanya dari kualitas suara dan materialnya. Buatan kami bisa menymainya, namun jika membeli merek yang asli tentu mahal, bisa sampai Rp 4 jutaan. Tapi dengan knalpot buatan kami harganya hanya Rp 450 ribu untuk eceran dan Rp 350 ribu untuk harga grosir," kata pemuda yang masih berstatus pacaran ini kepada Harmas, Sabtu (5/3).

Dari sekian tipe tersebut, paling digemari konsumen atau best seller adalah tipe HKS untuk knalpot mobil dan Akrapovic GP untuk sepeda motor. Sebab tipe itu disebut-sebut mampu meningkatkan performa mesin dan menghasilkan bunyi yang prestisius seperti mobil/motor sport yang mahal.

Indra, sapaan akrab owner IIJ mengaku knalpotnya sudah tembus ke berbagai kota di Indonesia bahkan ke luar negeri khususnya Malaysia. Untuk pemasaran dalam negeri, produknya banyak tersebar di Jakarta, Bali, Aceh, Kalimantan, Sumatra dan Bogor. Untuk sebaran di berbagai kota dalam negeri mencapai 100 hingga 200 unit per bulannya, tergantung permintaan, belum lagi permintaan dari pembeli eceran. "Untuk pasaran di Malaysia, kami rutin mensuplai 200 unit knalpot per bulan ke empat toko disana. Para penjual disana sangat suka karena harga dari sini murah dan disana mereka bisa menjual dan meraup keuntungan sampai Rp 1 juta per unit jika dirupiahkan," jelas Mahasiswa semester 6 Fakultas Hukum Unwiku Purwokerto ini.

Ia mengaku memulai bisnisnya setelah ia lulus SMA, sempat berpengalaman memasarkan knalpot-knalpot buatan Purbalingga di luar kota. Sebelum banyak menggeluti bisnis ini lebih jauh, ia justru terdorong untuk melanjutkan profesi ayahnya yang menjadi anggota Polri. Namun karena tersandung suatu hal yang menyebabkan keinginan menjadi polisinya itu tertunda, ia memutuskan untuk kembali berkecimpung dalam bisnis knalpot.

Ketika menjalani bisnis ini, ia memutuskan ikut dengan saudaranya untuk memasarkan knalpot Purbalingga di Jakarta. Ia mendapatkan pengalaman meraih berbagai jaringan toko-toko ataupun konsumen di berbagai kota. Dengan jaringan kenalan dan profit yang cukup baik ia akhirnya membuka home industri knalpot sendiri di rumah. Modal awal yang ia gelontorkan untuk membangun industri ini hanya Rp 50 juta saja yang juga uang tabungan pribadinya. Tanpa berfikir panjang ia membelanjakan uang tersebut untuk membangun shelter yang cukup tinggi di depan rumahnya sebagai area kerja dan showroom-nya. Modalnya juga untuk membelanjakan aneka mesin untuk membantu keperluan produksi, serta bahan baku seperti pipa baja, plat stainless, galvanis dan plat besi biasa. Keterampilan membuat knalpot-pun tak harus ia miliki, Indra tinggal merekrut para tukang-tukang warga sekitar yang sudah cukup mahir dan faham soal pembuatan knalpot sebagai karyawannya.

Dari industrinya itu dalam satu hari mampu memproduksi 20 unit knalpot per-harinya. Ia melayani pemesanan level partai juga eceran. Untuk pemesanan level partai minimal 20 unit sekali pesan dan akan mendapatkan harga spesial yang jauh lebih murah dbanding eceran. Banyak kemajuan yang didapat dalam bisnis ini. Perbulannya ia bisa berpenghasilan bersih mencapai Rp 20 juta. "Paling sepi hanya Rp 3 juta per bulan. Tapi dari usaha ini dengan modal Rp 50 juta sudah balik modal, tinggal menikmati profitnya," kata pria alumni SMAN 1 Padamara ini.

Saat ini juga rutin mensuplai knalpot di berbagai toko di Purbalingga, atau melayani pemesan eceran yang seringkali datang dari media sosial khususnya Facebook, atau forum jual beli secara online seperti olx, tokopedia, bukalapak dan kaskus. Indra mengaku penjualan di dunia maya sangat membantu dan sangat efektif guna melayani pembeli yang malas atau terlalu jauh untuk datang langsung ke industrinya.

Jalan Tentara Pelajar no 31, Kelurahan Kembaran Kulon


Sebagai pelayanan after service buatan IIJ ini, ia berani memberi garansi selama 3 tahun pemakaian untuk knalpotnya yang berbahan stainless. Selain itu, untuk keunggulannya ia juga mengutamakan kualitas bagian sarangan dalam silencer yang ia buat, tentunya dengan lubang yang rapi dan tidak rapuh. Karena performa dan tampilannya yang baik, tak jarang para komunitas fansclub otomotif sering membeli darinya. "Yang sering ambil dari sini biasanya komunitas Kawasaki Ninja Bogor, Kawasaki KLX Jogja, dan komunitas mobil Grade Corola. Untuk keperluan balap roadrace tim dari Semarang, juga balap Grasstrack juga ambil dari sini," papar anak bungsu dari empat bersaudara ini.(Ganda Kurniawan)

Sistem Bioflok, Hasilkan 2000 Lele Per Meter Persegi


BUKATEJA - Forum Pemuda Bukateja Bersatu (FPBB) menggunakan teknik yang unik dalam membuidayakan ikan lele. Sekumpulan pemuda yang membentuk pesantren kewirausahaan ini memilih menggunakan sistim bioflok dan akuaponik. Dengan cara teresebut, mereka bisa membesarkan sebanyak 2000-2500 ekor ikan lele siap konsumsi per lahan seluas 1 meter persegi dalam satu kali masa panen (1 bulan).

"Jadi cara ini memang berbasis intensifikasi lahan, atau memaksimalkan fungsi lahan untuk mendapatkan hasil yang sebanyak-banyaknya," kata Ketua Divisi Litbang dan Sumber Daya Manusia FPBB, Agung Suseno.

Cara ini bisa dibilang tidak konvensiaonal, atau tidak seperti yang dilakukan para peternak ikan pada umumnya, karena menggunakan instalasi tertentu dan konstruksi kolam yang bundar. Instalasi yang digunakan adalah berupa blower yang berada di dasar kolam.



Sekretaris Dinnakkan Purbalingga meresmikan kolam lele Bioflok milik FPBB




"Sebisa mungkin air di kolam selalu berputar. Mikroorganisme di dalamnya akan mengubah kotoran ikan menjadi flock atau pakan alami ikan, otomatis akan menghemat pakan ikan," kata Agung.

Dengan teknik ini, Feed Conversion Rate (FCR), bisa mencapai 0,8, artinya untuk menghasilkan 1 Kg ikan, hanya membutuhkan 0,8 Kg pakan utama. Penghematan ini bisa meningkatkan keuntungan yang didapat.

Sebagian kolam milik FPBB menggunakan sistem ini secara penuh, sebagian digabungkan dengan sistem akuaponik, yakni melibatkan tanaman meningkatkan kualitas air kolam. "Air kolam dari ikan disedot dan dialirkan ke pot-pot tanaman hidroponik. Disitu terjadi penyaringan kandungan nitrit nitrat dari kotoran ikan yang beracun, namun sebagai pupuk bagi tanaman. Dari itu, air sudah ternetralisir dan kembali dialirkan ke kolam," imbuhnya.

Bioflok sekaligus aquaponik


Agung mengungkapkan, teknik ini sebenarnya sudah diterapkan oleh beberapa peternak ikan lele di Indonesia, bahkan di luar negeri. Hanya saja masih asing diaplikasikan. FPBB saat ini memiliki puluhan kolam bioflok yang dikelola, diantaranya di Desa Karangcengis, dan di Desa Bukateja, Kecamatan Bukateja.




Aquaponik memanfaatkan air dalam proses penyemaian padi

"Kami memanfaatkan buku-buku referensi dan pengalaman yang ada tentang Bioflok di Pekalongan. Lalu kami ujicobakan, melewati proses trial and error hingga akhirnya berhasil," tuturnya.

Keberadaan pesantren kewirausahaan ini merupakan kegiatan pilot project pemberdayaan pemuda yang nantinya akan dikembangkan dengan berbagai kegiatan lainnya. Diantaranya pengembangan budidaya lahan padi dengan metode SRI (System of Rice Intensification-red), sentra industry kreatif, sentra tanaman hias, volley centre, dan perpustakaan saung.

"Pesantren kewirausahaan ini diharapkan bisa menjadi tempat belajar bagi pemuda-pemuda yang lain serta menginspirasi para petani atau peternak ikan untuk meningkatkan hasil produksinya," pungkasnya.(Ganda Kurniawan)  

Saturday, February 13, 2016

Sroto Klamud, Gurihnya Bikin Ketagihan



PURBALINGGA - Sroto Kelapa Muda (Klamud) menjadi khasanah kuliner baru di Purbalingga. Sesuai namanya, kuliner ini bukan memadukan makanan soto yang disandingkan dengan minuman es kelapa muda. Tapi menyatukan antara kelapa muda dengan makanan sroto menjadi Sroto Klamud.

Terdengar janggal, namun bagi yang penasaran tidak usah khawatir karena kombinasi itu justru membuat rasa sroto ini menjadi lebih "buket", nikmat dan berbeda daripada sroto pada umumnnya. Sang chef sekaligus owner Soto Klamud Toyareja, Hadiah Rubi Wahyuni mengatakan kelapa muda yang digunakan sebagai bahan ini, tidak secara mentah langsung dicampurkan dengan sroto.

"Kelapa muda kita ambil kelapanya saja, lalu kita kukus dengan kaldu baru dicampurkan dengan srotonya, sehingga kesan rasa mentah kelapanya hilang," ungkap perempuan yang akrab disapa Yuni ini.

Ide kreatif ini terinspirasi dari kelapa bakar di Jawa Timur, dari situ ia berkesimpulan bahwa kelapa tidak hanya cocok sebagai minuman tapi juga rasa kelapa yang dimatangkan bisa diaplikasikan ke dalam masakan. Ia juga nyaris menggunakan kelapa muda bakar sebagai bahan sebab dirasa lebih enak, namun karena prosesnya yang lebih lama maka kelapa muda cukup dikukus.

Sedangkan bahan baku srotonya ia pilih sama dengan sroto khas Purbalingga atau Sokaraja pada umumnnya. Didalamnnya ada bawang goreng, potongan ketupat, daun bawang, potongan daging ayam kampung, sambal kacang kemudian disiram dengan kuah.

"Yang membedakan adalah kelapa muda tadi dimasukan sebagai pengganti mie bihun yang biasa digunakan. Pilihan kelapa muda justru lebih enak, lebih kenyal dan ada cita rasa yang berbeda," katanya.

Bagi yang penasaran, Sroto Klamud ini satu-satunya hanya bisa ditemukan di Jl Raya Toyareja, Kelurahan Toyareja RT 05 RW 01 Kecamatan Purbalingga. Untuk menjangkaunya, bisa melewati jalan di depan Pengadilan Negeri Purbalingga, atau dari perempatan Kedungmenjangan masuk ke timur.

Harga yang dipatok untuk Sroto Klamud ini cukup murah sesuai dengan tempatnya yang masih berskala Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Untuk Sroto Klamud yang disajikan di mangkuk biasa dihargai Rp 15000 per porsi, sedangkan Sroto Klamud yang disajikan di batok kelapa dihargai Rp 18000 per porsi, sedikit lebih mahal karena sensasi rasa sedikit berbeda. Disini juga tersedia sroto original dengan daging ayam potong seharga Rp 10000 per porsi.

Sroto Klamud Toyareja juga menyediakan sejumlah inovasi minuman, salah satunya yakni es Jondol, yakni es cendol namun bahan pembuat cendol telah dicampurkan ekstrak kajang hijau, sedangkan santannya diganti dengan susu. Jelas tercipta rasa yang lebih enak, es ini dihargai Rp 5000 per gelasnya.(mg05)

Thursday, June 19, 2014

MSI KOMISARIAT PURBALINGGA TERBENTUK

Kadinbudparpora Purbalingga memberikan sambutan

PURBALINGGA- Siang tadi, 19/6/2014 menjadi hari yang bersejarah bagi sekumpulan pegiat sejarah dari Purbalingga. Bersama dengan Bidang Budaya Dinbudparpora Kabupaten Purbalingga mereka bekerjasama mendirikan sebuah organisasi yang bernama Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) khususnya untuk komisariat Purbalingga.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinbudparpora Kabupaten Purbalingga, Sri Kuncoro mengungkapkan bahwa MSI Komisariat Purbalingga ini anggotanya terdiri mayoritas dari guru-guru mata pelajaran sejarah maupun IPS, guru SD dan beberapa pegiat sejarah. Arah terbentuknya organisasi ini adalah menciptakan masyarakat yang sadar sejarah, mencoba mengungkap kembali khususnya sejarah lokal yang ada di Purbalingga.

"Karena dengan MGMP saja tidak cukup, oleh karena itu dengan terbentuknya MSI komisariat Purbalingga ini diharapkan banyak mengungkap sejarah lokal tentunya untuk keperluan pendidikan bagi guru sejarah maupun juga memiliki kontribusi untuk para peneliti sejarah," ungkap Sri Kuncoro dalam sambutannya kemarin (19/6).

Acara disambung dengan pelantikan pengurus MSI komisariat Purbalingga, yang secara langsung dilakukan oleh Ketua MSI Jawa Tengah Prof Dr Singgih Tri Sulistiyono MHum dan Kepala Dinbudparpora Kabupaten Purbalingga Drs Akhmad Khotib MPd. Pengurus yang dilantik dengan ketua umum dari Guru sejarah SMA Negeri 1 Kejobong, Arifin SPd, selain itu juga ada dari guru sejarah dan beberapa Jurnalis surat kabar juga diharapkan bisa membantu berperan.

Singgih mengungkapkan bahwa selama ini belum ada atau masih jarang ada organisasi dari bidang ilmu lain yang seperti MSI. Umumnnya maksimal hanya pada dalam bentuk MGMP yang dibawah naungan Dinas Pendidikan. "Kita harapkan MSI ini suatu saat akan menjadi seperti IDI (Ikatan Dokter Indonesia). Mereka menerapkan standar-standar tertentu bagaimana menjadi dokter seharusnya. Begitu juga dengan MSI yang suatu saat bisa saling menetapkan standar profesionalisme manjadi seorang guru Sejarah," terangnya.

Pihaknya juga berharap bahwa MSI bisa membawa muatan profesionalisme yang lebih memadai. Bisa menyentuh filosofi, tentunya untuk kepentingan nasional. Kata dia, potensi MSI adalah peluang besar untuk memperkaya pengalaman dan kinerja guru sejarah dan juga bisa membantu para peneliti sejarah. MSI diharapkan bisa bersinergi dengan pemerintah daerah baik kepada Dinas Pendidikan, Dinbudparpora agar bisa mendapatkan dukungan dalam menjalankan setiap program kerjannya nanti.

Selain dibentuk panitia kepengurusan juga dibumbui dengan Seminar Nasional yang bertajuk Revitalisasi Nasionalisme Indonesia dalam Rangka menghadapi Era Globalisasi dan Pasar Bebas dengan pembicara Ketua MSI Jawa Tengah, Prof Dr Singgih Tri Sulistiyono MHum. Kepala Dinbudparpora Kabupaten Purbalingga, Drs Akhmad Khotib MPd dalam sambutannya mengungkapkan bahwa nasionalisme dalam era kekinian sedang loyo. menurutnya bahwa sumber kebangkitan kembali nasionalisme yaitu terletak dari pendidikannya.

"Yang saya khawatirkan Indonesia yang besar, terkenal memiliki budaya yang besar ini namanya ada tapi jiwanya sudah tidak Indonesia lagi. Untuk membangkitkan nasionalisme ini subernya yaitu dari pendidikan kita. Selama ini mata pelajaran sejarah yang ada itu terkesan tidak nyambung antara tujuan dengan materinya, dan di kurikulum 2013 ini akan menjadi tantangan sendiri bagi para guru sejarah," terangnya. (gan)

Wednesday, June 18, 2014

Pergowokan: Kekayaan Budaya Banyumas yang Hilang

Satu kekayaan kebudayaan dari leluhurku ini hampir hilang. Pergowokan namanya. Pertama aku dengar dan baca istilah itu dari novel Ronggeng Dukuh Paruk, karya novelis kebanggan orang Banyumas, Ahmad Tohari.

Makna Pergowokan kurang lebih memang sangat mengesankan. Disitu diceritakan Srintil dipinjam oleh salah seorang juragan boled. Disitu ia disuguhkan kepada putra juragan tadi untuk 'latihan'.

Namun sayang anak itu tak mengerti makna kehadiran Srintil. Sebagai anak lelaki yang belum belum begitu dewasa, ia masih begitu polos. Belum mengerti apa dan bagaimana itu bercinta.

Disinilah peran Srintil sebagai gowok hadir. Srintil mengajari anak laki-laki tadi tentang bagaimana mengapresiasi rasa cinta kepada wanita. Hingga pada titik tertingginya yaitu berhubungan intim. Srintilah sebagai gowok ia harus menjadi media latihan anak itu dalam berhubungan intim.

Sejatinya Srintil sebagai Ronggeng dan tercitra sebagai wanita yang tercantik kala itu. Tapi ia tidak lagi jadi wanita yang anggun nan suci melainkan separuh sundal, yang bisa 'dipakai' lelaki dengan harga tertentu. Karena kecantikannya maka hanya skala juragan saja yang mampu. Dan kali ini diperankan sebagai gowok.

Pergowokan adalah soal gengsi dari juragan itu untuk putranya. Beharap nanti ketika sudah masanya menikah anak itu sudah tidak canggung lagi dan sudah mahir di ranjang. Karena pengalaman dan pelajaran yang diberikan gowok tadi. Benar-benar menjadi lelaki yang beruntung ketika sang orang tua bisa menunjukan gengsinya mengundang gowok untuknya.

Tapi lantas pandanganku banyak berubah tentang pergowokan ini setelah aku ngobrol dengan pak Kasirun selaku kepala seksi seni budaya di Dinporabudpar Banyumas sabtu (14/6) kemarin. Dia membubarkan bayangan indah cita penuh seni tentang pergowokan tadi. Intinya ia menyangkal pergowokan ini rupanya sama dengan apa yang diinterpretasi Ahmad Tohari.

"Aslinya tidak seperti yang diceritakan itu. Malah nuwun sewunya itu mengesankan citra negatif menurunkan norma kesopanan budaya leluhur kita," katanya.

Lalu ia ceritakan tentang bagaimana pergowokan yang sebenarnya. Pergowokan itu layaknya sebuah terapi untuk calon pengantin baru pihak laki-laki.

"Jadi bukan wanita cantik seperti Srintil yang didatangkan, akan tetapi biasanya adalah orang sepuh yang ahli meracik herbal," lanjutnya.

Mengapa sepuh? Ini berarti memang belum ada generasi penerus yang ahli meracik herbal itu. Yaitu herbal untuk kagagahan dan kejantanan vitalitas pria.

Sayangnya pak Kasirun tak menjalaskan, apakah ini hanya berupa ramuan saja atau mungkin juga ada semacam pijatan. Tapi aku yakin ini adalah keahlian yang langka, dan tidak banyak orang bisa. Pak Kasirun akhirnya bisa lanjutkan cerita.

"Jadi jelang menikah lelaki itu dibawa ke rumah yang persis menghadap ke laut. Dia tinggal disitu hanya bersama ahli ramuan tadi. Konon juga angin laut ini jadi salah satu elemen untuk menambah vitalitas pria itu juga. Mereka disitu dalam jangka waktu beberapa hari saja,"  ungkapnya.

Tapi sayang ia sudah tidak bisa bicara lebih detail lagi tentang pergowokan tadi. Seperti racikannya itu apa saja, cara konsumsinya bagaimana. Tak dipungkiri ini adalah kekayaan budaya yang hilang. Seandainya ada yang bisa bangkitkan kembali maka pria Banyumas termasuk aku akan terkenal kejantanannya, oleh wanita-wanita dari berbagai penjuru.

Tapi siapakah lagi yang mewarisi?? Aku ingin ada orang yang angkat bicara soal ini. Pak Kasirun berbisik bahwa masih ada orang yang sedang mendalami istilah pergowokan ini. Tapi sayang aku tak hafal namanya. Sedikit clue yang kuingat bahwa dia adalah salah satu pemilik dari tempat wisata pemandian Tirta Husada Kalibacin, Rawalo, Banyumas. . .

By: Ganda Kurniawan, Jurnalis JPNN

Tuesday, June 10, 2014

Hanya ada di Novel dan Film

Surya Esa, berambut gondrong


"dr Istanto itu orangnya lurus. Tapi lurusnya kemana dulu, kalau menyimpang ya salah sasaran. Lebih baik kita tempuh jalan berliku tapi tepat sasaran," kata bapak Keluarga Kembang Cahaya (KCa), Surya Esa

Itu yang akan selalu aku ingat dari wawancara tadi siang dengan dia. dr Istanto, dinkes dikecam olehnya karena dinilai mendiskreditkan para pecandu narkoba yang ingin sembuh. Mereka disamakan dengan perilaku bunuh diri sehingga pemerintah tak sudi membantu, bahkan katanya tarif IPWL justru dimahalkan khusus mereka.

Hari ini pak Esa nampak puas. dr Istanto jadi kena tegur Bupati. Dan kedamaianpun kembali mengalir. Kita harus terima berlikunya jalan. Seribu satu orang seperti pak Esa ini. Dia terlalu disegani karena mau sukarela membantu rehab sos pasca pemulihan para pecandu narkoba, yang kini terus bertambah menjadi 30 orang.
Kusebut dia Lokal Hero. Hanya baru ku temui orang seperti dia di novel, atau film. Tak ada yang sia-sia pengabdian dari orang orang seperti itu.

Ada yang nyaris mirip. Sahabatku Winarso juga punya kepedulian yang tinggi kepada mereka yang tersingkirkan. Hanya saja dia terlalu ingin terekspos, dipamerkan, pencitraan. Bahkan kadang ada yang palsu dan dibuat jadi 'seolah-olah'.

Kawan yang lain juga ada yang mirip. Ialah mas Wanto, guru mengaji di kampungku, dia terlampau peduli dengan anak-anak kecil dan pemuda disini. Mendidik tanpa ada imbalan. Hanya saja dia terlalu fanatik dengan keNU-annya.

Mereka punya tujuan mulia, untuk banyak orang dengan cara cara mereka sendiri. Tak seperti aku, meski banyak yang mengenalku. Tapi pergerakanku begitu individu. Hatiku masih keras untuk luluh tapi ketika bertindak reaksioner aku masih kalah telak kerasnya dengan perjuanjuangan mereka.

Dinkes vs BNK

Tuesday, May 27, 2014

BLK JADI SECERCAH HARAPAN

Kata bu Lily (Dinsosnakertrans) faktor terbesar pengangguran bukan karena masalah SDM atau kelangkaan lowongan. Tapi pencakernya yang kebanyakan pilah pilih kerja. Berarti jaman sekarang yang paling dibutuhkan itu kenekadan, bukan lagi SDM kesesuaian ijasah atau keterampilan.

Adanya BLK (Balai Latihan Kerja) bagiku itu bisa jadi secercah harapan. Pencaker yang pilah pilih kerja itu karena mereka tak pede dengan keterampilan. Setidaknya jika sudah pede itu bisa menambah kepedean cari kerja. Itu yg bisa kusimpulkan dari kunjungan liputanku ke BLK Dinsosnakertrans di Pabuaran, Purwokerto Senin (26/5).

Aku tahu rasanya menganggur, begitulah seolah cari- cari kerja tidak ada yang cocok. Padahal banyak lowongan, pertimbangan gaji, pertimbangan gengsi. Padahal intinya semua cuma satu, cari duit.

Aku lihat banyak pemuda pemudi seumuranku latihan kerja disini. Servis handphone, servis motor, bikin busana, bikin kue. Tahun depan katanya juga mau ada pelatihan las listrik.

Belajar disini gratis kata pak Eko Yunianto kepala BLK. Peminatnya bisa belasan anak per jurusan, dididik satu bulan selesai. Tapi dia punya prioritas, yang lolos seleksi adalah mereka yang benar-benar butuh keterampilan karena belum punya kerja, bukan untuk menngisi waktu saja, kata dia.

Aku sering ketemu bu Lily tapi baru kali ini aku baru ke BLK, sindir pak Eko. Mengira aku tak punya sifat handarbeni sebagai warga Banyumas. Aku malu sedemikian sempitnya wawasan ini, sampai BLK di Purbalingga pun aku tak tahu dimana tempatnya.

Banyak hal menarik disini, aku kunjungi tiap jurusan. Mereka serius semua. Tak ada yang cengengesan seperti pelajar sekolah. Mungkin mereka sudah sadar betapa pahitnya menganggur, jadi insaf.

Jujur aku juga ingin belajar di BLK. Meski pekerjaanku sekarang cukup bergengsi tapi aku masih milik orang swasta, bukan wirausaha. Ibuku penjahit terkenal, tapi belum ada yang mewarisi, aku ingin punya keterampilan menjahit. Bapakku tukang las berpengalaman, aku ingin punya keterampilan mengelas.

Orang tuaku tak pernah inginkanku seperti mereka. BLK bagiku juga seperti secercah harapan. Ia adalah benih harapan yang kusimpan seandainya aku nanti collapse.

Ganda Kurniawan, reporter Banyumas Ekspres (Jawa Pos Group)

Monday, May 26, 2014

BERKUNJUNG KE KUBE HARAPAN TANI MAKMUR



Sampai aku berkhayal punya usaha pertanian yg serba mandiri seperti ini. Kemarin aku blusukan ke Purbadana, Kembaran Banyumas mnyusuri jalan aspal di tengah hamaran sawah, demi meliput Kube petrnakan pembibitan sapi ini.

Disana bertemu pak Kasun. Ia jelaskan semua. Mulai dari mesin pembuat konsentrat. Fermentasi pakan. Perkembangan sapi. Pengolahan kotoran jd pupuk hingga dimanfaatkan jadi bio gas. Nyaris sempurna. Semua hal bisa dimanfaatkan, tidak terlepas dari bantuan pemerintah.
Yang aku sayangkan, yaitu yang terakhir, Biogas. Sebenarnya bisa dimanfaatkan banyak, hanya saja bocor. Pak Kasun dkk ini mendapat bantuan instalasi biogas ini dari BLH, agar gas methan yang ditimbulkan kotoran sapi ini bisa dimanfaatkan jadi bahan bakar.

Kebocoran ini cukup disayangkan. Mungkin BLH Banyumas harus banyak belajar lagi bagaimana konstruksi biogas yang benar. Sudah diperbaiki masih bocor lagi. Dindingnya retak halus sebesar rambut, tapi ini masalah besar. Sudah satu setengah tahun mangkrak, tak bisa digunakan katanya.
"Dulu kadang bisa dipakai buat masak kalo lagi ronda disini. Bisa bertahan lama, apinya juga tidak berbahaya, mudah dimatikan tidak seperti gas elpiji," kata Kasun.



Kasun juga optimis kalau biogas ini juga nantinya bisa digunakan untuk menggerakkan mesin pembuat konsentratnya. Hanya saja mimpi mereka harus tertunda dulu. Katanya, sejauh ini dia sering ikut Diklat di Semarang soal petrnakan. Dia sedang menggagas agar konstruksi biogas yang dibuat oleh BLH yang terbuat dari beton ini diganti dengan yang berbahan fiber. Mungkin itu akan jadi solusi bagus. Sungguh disayangkan bau kotoran sapi yang menyengat itu tidak dimanfaatkan.


Ganda Kurniawan, jurnalis Banyumas Ekspres (Jawa Pos Group)