Ekspedisi Sejarah Indonesia (Exsara)

Exsara merupakan organisasi terbesar di Jurusan Sejarah Unnes. Aku dirikan bersama teman-teman jurusan sejarah Unnes angkatan 2008. Mereka semakin maju

Catatan Hidupku

Aku sangat suka menulis. Termasuk membuat catatan hidupku. Biar nanti aku mati, tapi pikiranku seolah terus hidup sampai anak cucuku

Petualangan Hidup

Setiap hidup, pasti menyempatkan berkunjung ke tempat unik, berkenalan dengan orang baru. Semua itu akan mendidik kita jadi manusia besar

Sejarah Nasional dan Dunia

Basis pendidikanku Sejarah. Aku sangat menyukai kisah masa lalu. Ada yang kuanggap sebagai sastra ada yang kuanggap sebagai guru kehidupan

Pola Hidup Sehat

Sejak SMP aku sudah punya bakat pemerhati gizi. Aku sangat mencintai pola hidup sehat. Tanpa kita sehat, semua yang kita miliki tak ada gunannya

Showing posts with label Warta Panginyongan. Show all posts
Showing posts with label Warta Panginyongan. Show all posts

Monday, December 26, 2016

HUT-17 SMAN 1 Kutasari Pamerkan Kreatifitas Siswa



KUTASARI - Perayan ulang tahun sekolah yang ke-17, SMA Negeri 1 Kutasari menggelar sejumlah rangkaian acara menarik. Kemarin (14/1) beberapa ruang kelas dipakai sebagai wadah galeri hasil kreatifitas siswa, mulai dari galeri dan perlengkapan ekstrakulikuler (ekskul) dan pameran Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Ketua Panitia Perayaan HUT SMAN 1 Kutasari yang ke 17, Bambang Yuniarto SPd menjelaskan perayaan ini merupakan agenda tahunan sekolah. Dari produk ekskul misalnya berbagai hasil seni lukis yang diaplikasikan di selain kanvas, misal di talenan bisa untuk hiasan dinding. "Seni rupa pesertanya sedikit, karena seni hanya dimiliki beberapa siswa tapi ekstrakulikuler ini tetap berjalan," katanya.

Sejumlah galeri juga dimaperkan oleh ekskul lain seperti Pramuka, Pecinta alam, Palang Merah Remaja, PArtoli Keselamatan Sekolah (PKS), Futsal, Pencak Silat Merpati Putih, Basket, Sinematografi Papringan Pictures dan bahasa Jepang. Ekskul Jurnalistik turut memamerkan berita-berita seputar sekolahan karya siswa. Umumnya berisi kritik saran saran seputar sekolah dan infrastruktur sekolah.

"Yang tidak kalah menariknya juga ada sejumlah miniatur bangunan adat serta peralatan bersejarah pertama kali yang digunakan di sekolah ini seperti, mesin tik pertama, tape pertama, pengeras suara, perabot dan alat multimedia lain yang pertama kali digunakan sekolah ini pada tahun 1999 lalu," paparnya.

Perkakas dan perabot yang dimiliki SMAN 1 Kutasari Pertama Kali
Miniatur rumah adat tradisional
Pameran Kuliner buatan siswa


Rangkaian acara ulang tahun dimulai sejak Selasa (5/1) lalu. Yakni dimulai dari upacara bendera yang dikemas dengan pemaparan sejarah SMA, Pemberian penghargaan atas prestasi.

"Kami juga menelenggarakan pelepasan balon harapan, yaitu setiap peserta didik dan guru menuliskan cita citanya dalam satu kertas lalu digantungkan tali balon lalu diterbangkan bersama, totalnya ada 500 balon.

Acara perayaan ini juga masih berlanjut hingga Sabtu (16/1) mendatang. Khusus hari ini (15/1) rencananya akan diselenggarakan jalan sehat bareng siswa dan alumni. Sedangkan pada Sabtu (16/1) akan diselengagrakan acara pentas seni. "Kami harap seluruh alumni SMAN 1 Kutasari bisa hadir dalam dua agenda terakhir ini," katanya.

Suwanto : Pelopor Pertanian Organik Purbalingga

PURBALINGGA – Meskipun bukan berstatus PNS, Suwanto memiliki dedikasi yang tidak jauh berbeda. Bahkan lebih baik dibanding pegawai yang ada, khususnya dalam bidang pertanian. Bapak kelahiran 12 Desember 1971 ini bekerja sebagai tenaga harian lepas (THL) yang memperbantukan tenaga Penyuluh Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan di kecamatan Kaligondang, khususnya di desa Penolih.

Suwanto

Orang seperti Suwanto tergolong langka. Di Purbalingga ia paling terkenal sebagai pelopor pertanian organik. Baik dari sisi sistim penanaman maupun hasil tanamnya yang berupa bahan pangan. Pengabdiannya yang paling mendasar adalah berinovasi dengan Mikro Organisme Lokal (MOL) yang berguna untuk menyuburkan lagi tanah yang rusak dang mengeras akibat penggunaan pupuk kimia.
“Jadi kalau pupuk kimia itu sifatnya instan, pertumbuhan cepat. Namun dalam jangka panjang ia merusak. Nah dengan sistim organik ini ibaratnya mengobati kerusakan tanah tadi. Dalam jangka panjang bukannya bertambah rusak, namun bertambah subur hasil panen meningkat,” kata Wanto.
Pertama ia menggeluti bidang pertanian di sekitar tahun 2005. Ketika itu ia bergaul dengan tokoh senior pupuk organik di Purbalingga. Tahap selanjutnya ia mulai mengembangkan sendiri. Tak luput juga melibatkan para akademisi. Termasuk dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) khususnya dalam bereksperimen meningkatkan produktivitas mikroorganisme dalam pupuk cair organik (POC) yang dibuatnya.
Hasilnya ia ujicobakan ke laboratorium pertanahan Universitas Jenderal Soedirman, bagaimana untuk menumbuhkan padi. Terbukti, pupuk hasil inovasinya terbukti sangat baik. Selain itu biaya produksi juga jauh lebih murah.
“Pupuk organik buatan sendiri paling hanya menghabiskan biaya Rp 100 – 150 ribu untuk 7 liter pupuk organik cair  dan untuk 1 hektar sawah. Sementara jika pupuk organik yang dibeli di pasaran bisa menghabiskan Rp 120 ribu hanya satu liter untuk 150 meter persegi,” ungkapnya.
Hasil inovasinya ini belum ia perjual belikan. Ia justru lebih mengedepankan penyuluhan kepada para petani untuk bisa membuat pupuk tersebut. Harapannya biaya produksi petani menurun namun hasil produksi tetap meningkat. Sehingga kesejahteraan petani bisa tercapai.
Karena keunggulannya, ia juga sempat diundang ke berbagai daerah guna mentransferkan ilmunya agar bisa diterapkan kepada petani. Diantaranya pernah diundang ke Pemalang, Batang, Pemalang, banjarnegara, Wonosobo, Banyumas, Cilacap dan di Purbalingga sendiri. Di desa Penolih, tempat ia mangabdi sudah menyediakan lahan eksperimen.
Hasil uji cobanyapun memuaskan. Jika lahan 100 ubin menggunakan pupuk kimia hanya mampu menghasilkan 9-10 kwintal. Sementara jika menggunakan pupuk organik buatannya bisa menghasilkan 10-13 kwintal. Hasilnya pun terus meningkat. Ketika tahun 2008 menghasilkan 6,3 ton/ha, sedangkan tahun 2012 sudah bisa menghasilkan 8,4 ton/ha.
Sementara bukti-bukti tersebut, sayangnya belum banyak dipahami oleh para petani. Di desa Penolih sendiri yang sudah mengaplikasikan sistim organik ini baru 25 persen petani yang ada. Kebanyakan masih menggunakan cara konvensional yaitu pupuk kimia.
“Untuk organik memang cenderung ribet, sementara petani penginnya yang instan. Faktor kedua mungkin sudah menjadi naluri petani melakukan apa yang biasa dilakukan. Padahal kebiasaan mereka nantinya bisa merusak,” kata pria alumni Agro Teknologi UMP.
Posluhdes Desa Penolih ala laboratorium organik
Hasil pertanian organiknyapun ia akomodir untuk dijual menjadi beras sehat. Ia membeli beras tersebut dari petani dengan harga yang cukup tinggi yaitu Rp 10.000/kg. Kemudian ia menjualnya dengan harga Rp 13.000/kg. Itupun kata dia, profit yang didapat masih sedikit.
Karena kehebatannya ini ia sempat dipanggil oleh pemerintah Purbalingga khususnya oleh Badan Perencanaan Pembangunan daerah (Bappeda) dan membuat organisasi yang dinamai Pamorbangga atau paguyuban masyarakat organik Purbalingga. Suwanto dikukuhkan menjadi ketuannya. (Ganda Kurniawan) 

Knalpot Indra Jadi Incaran Importir Malaysia



PURBALINGGA - Menilik industri knalpot di Purbalingga bisa ditemukan ada ratusan pengrajin, namun demikian keberadaan mereka tidak mesti berdomisili di Kampung Sayangan yang selama ini terkenal menjadi sentralnya. Industri alat peredam suara dan penyaring gas buang kendraan ini juga bisa ditemukan di radius 1 kilometer dari patung lelaki kekar yang sedang memperagakan pembuatan knalpot. Dari perempatan Wirasana ambil ke arah timur sejauh 200 meter kita kembali menemukan sebuah industri knalpot yang masih menyatu dengan rumah.

 Indra, owner IIJ memamerkan knalpot-knalpot buatan industrinya


Penulis mencoba mendatangi rumah tersebut yang dari depan terpajang aneka silencer dan header knalpot motor dan mobil beraneka motif, seperti pelangi, karbon dan chrome dengan bentuk-bentuk yang cukup berkelas dibanding model silencer standar asli kendaraan. Sebuah industri yang tertulis Indra Indo Jaya (IIJ) ini terdengar bunyi mesin yang dihidupkan dari salah satu tukang yang sedang memotong pelat stainless anti korosi sebagai bahan pembuat knalpot, sedang tukang yang lain tampak sedang mengebor sisi-sisi knalpot untuk dipasangi frame agar terlihat menarik.

Kedatangan penulis sengaja ingin mengupas seputar industri knalpot yang satu ini. Tampak ada anak pemuda yang sedang nongkrongi, memperhatikan para tukang yang sedang bekerja. Penulis menyapa dan menyatakan ingin menemui pemilik industri ini kepadanya. Namun tak disangka, ternyata anak muda itulah mengaku sebagai owner industri kecil rumahan ini. Setelah banyak ngobrol soal perkenalan, lebih terheran lagi ketika anak muda itu mengaku kelahiran tahun 1994, tiga tahun lebih muda dari penulis namun ia sudah memimpin dan mengelola sebuah industri produk otomotif ini.

Indra Nur Arbianto, nama lengkap pemuda pemilik IIJ ini. Ia baru membuka industri knalpotnya ini sekitar satu tahun yang lalu, namun ia sudah banyak berpengalaman menggeluti pemasaran knalpot Purbalingga sejak 4 tahun yang lalu. Knalpot Purbalingga memiliki pemasaran yang begitu luas mulai level nasional hingga internasional. Contohnya saja knalpot hasil industri IIJ milik pengusaha berusia 21 tahun, ini sanggup tembus ke pasaran Malaysia.

Diakui, Kabupaten Purbalingga dikenal dengan surganya knalpot handmade alias buatan tangan bukan buatan mesin, namun dengan kualitas yang baik dengan harga yang terjangkau. Wajar saja para pecinta otomotif jelas kepincut dengan produk buatan putra kreatif Purbalingga ini. Bahkan diantara ratusan pengrajin knalpot yang ada di Purbalingga sempat menjadi suplier perusahaan mobil yang sangat terkenal di Jerman. Nama knalpot Purbalingga booming dan diakui kota-kota lain sebagai produk knalpot paling berkualitas. Booming knalpot Purbalingga bertahan bertahun-tahun hingga sekarang, tidak seperti tren batu akik yang cepat tenggelam.

Industri knalpot yang beralamat di Jalan Tentara Pelajar no 31, Kelurahan Kembaran Kulon atau kompleks depan RSUD Goeteng Taroendibrata ini mampu memproduksi silencer knalpot dengan tipe mirip produk kelas dunia. Untuk merek knalpot racing mobil, IIJ sudah tergolong mahir membuat dan menduplikasi aneka tipe knalpot berkelas, seperti tipe HKS, Tanabe, Fujitsubo, Gronel, dan Kapsul.

Selain itu, untuk knalpot khusus sepeda motor, home industri ini juga bisa meniru knalpot merek beken yang sudah tak asing lagi di telinga penggemar otomotif  seperti Akaprovic, Yoshimura, Scorpion, Termignoni, M4, Leovince, Remus, Akrapovic Garda, Akrapovic GP dan berbagai jenis knalpot untuk mesin 2-tak. Knalpot-knalpot jenis tersebut sering digunakan dalam ajang balap motor kelas dunia.

Indra menuturkan harga jual knalpot biasanya ditentukan dari kualitas dan bahan bakunya, selain itu juga pembelian dalam jumlah banyak bisa mendapatkan harga khusus. Karena ini buatan lokal, tentunya harga jual tak seperti merek aslinya.

 "Nilai jual knalpot biasanya dari kualitas suara dan materialnya. Buatan kami bisa menymainya, namun jika membeli merek yang asli tentu mahal, bisa sampai Rp 4 jutaan. Tapi dengan knalpot buatan kami harganya hanya Rp 450 ribu untuk eceran dan Rp 350 ribu untuk harga grosir," kata pemuda yang masih berstatus pacaran ini kepada Harmas, Sabtu (5/3).

Dari sekian tipe tersebut, paling digemari konsumen atau best seller adalah tipe HKS untuk knalpot mobil dan Akrapovic GP untuk sepeda motor. Sebab tipe itu disebut-sebut mampu meningkatkan performa mesin dan menghasilkan bunyi yang prestisius seperti mobil/motor sport yang mahal.

Indra, sapaan akrab owner IIJ mengaku knalpotnya sudah tembus ke berbagai kota di Indonesia bahkan ke luar negeri khususnya Malaysia. Untuk pemasaran dalam negeri, produknya banyak tersebar di Jakarta, Bali, Aceh, Kalimantan, Sumatra dan Bogor. Untuk sebaran di berbagai kota dalam negeri mencapai 100 hingga 200 unit per bulannya, tergantung permintaan, belum lagi permintaan dari pembeli eceran. "Untuk pasaran di Malaysia, kami rutin mensuplai 200 unit knalpot per bulan ke empat toko disana. Para penjual disana sangat suka karena harga dari sini murah dan disana mereka bisa menjual dan meraup keuntungan sampai Rp 1 juta per unit jika dirupiahkan," jelas Mahasiswa semester 6 Fakultas Hukum Unwiku Purwokerto ini.

Ia mengaku memulai bisnisnya setelah ia lulus SMA, sempat berpengalaman memasarkan knalpot-knalpot buatan Purbalingga di luar kota. Sebelum banyak menggeluti bisnis ini lebih jauh, ia justru terdorong untuk melanjutkan profesi ayahnya yang menjadi anggota Polri. Namun karena tersandung suatu hal yang menyebabkan keinginan menjadi polisinya itu tertunda, ia memutuskan untuk kembali berkecimpung dalam bisnis knalpot.

Ketika menjalani bisnis ini, ia memutuskan ikut dengan saudaranya untuk memasarkan knalpot Purbalingga di Jakarta. Ia mendapatkan pengalaman meraih berbagai jaringan toko-toko ataupun konsumen di berbagai kota. Dengan jaringan kenalan dan profit yang cukup baik ia akhirnya membuka home industri knalpot sendiri di rumah. Modal awal yang ia gelontorkan untuk membangun industri ini hanya Rp 50 juta saja yang juga uang tabungan pribadinya. Tanpa berfikir panjang ia membelanjakan uang tersebut untuk membangun shelter yang cukup tinggi di depan rumahnya sebagai area kerja dan showroom-nya. Modalnya juga untuk membelanjakan aneka mesin untuk membantu keperluan produksi, serta bahan baku seperti pipa baja, plat stainless, galvanis dan plat besi biasa. Keterampilan membuat knalpot-pun tak harus ia miliki, Indra tinggal merekrut para tukang-tukang warga sekitar yang sudah cukup mahir dan faham soal pembuatan knalpot sebagai karyawannya.

Dari industrinya itu dalam satu hari mampu memproduksi 20 unit knalpot per-harinya. Ia melayani pemesanan level partai juga eceran. Untuk pemesanan level partai minimal 20 unit sekali pesan dan akan mendapatkan harga spesial yang jauh lebih murah dbanding eceran. Banyak kemajuan yang didapat dalam bisnis ini. Perbulannya ia bisa berpenghasilan bersih mencapai Rp 20 juta. "Paling sepi hanya Rp 3 juta per bulan. Tapi dari usaha ini dengan modal Rp 50 juta sudah balik modal, tinggal menikmati profitnya," kata pria alumni SMAN 1 Padamara ini.

Saat ini juga rutin mensuplai knalpot di berbagai toko di Purbalingga, atau melayani pemesan eceran yang seringkali datang dari media sosial khususnya Facebook, atau forum jual beli secara online seperti olx, tokopedia, bukalapak dan kaskus. Indra mengaku penjualan di dunia maya sangat membantu dan sangat efektif guna melayani pembeli yang malas atau terlalu jauh untuk datang langsung ke industrinya.

Jalan Tentara Pelajar no 31, Kelurahan Kembaran Kulon


Sebagai pelayanan after service buatan IIJ ini, ia berani memberi garansi selama 3 tahun pemakaian untuk knalpotnya yang berbahan stainless. Selain itu, untuk keunggulannya ia juga mengutamakan kualitas bagian sarangan dalam silencer yang ia buat, tentunya dengan lubang yang rapi dan tidak rapuh. Karena performa dan tampilannya yang baik, tak jarang para komunitas fansclub otomotif sering membeli darinya. "Yang sering ambil dari sini biasanya komunitas Kawasaki Ninja Bogor, Kawasaki KLX Jogja, dan komunitas mobil Grade Corola. Untuk keperluan balap roadrace tim dari Semarang, juga balap Grasstrack juga ambil dari sini," papar anak bungsu dari empat bersaudara ini.(Ganda Kurniawan)

Sistem Bioflok, Hasilkan 2000 Lele Per Meter Persegi


BUKATEJA - Forum Pemuda Bukateja Bersatu (FPBB) menggunakan teknik yang unik dalam membuidayakan ikan lele. Sekumpulan pemuda yang membentuk pesantren kewirausahaan ini memilih menggunakan sistim bioflok dan akuaponik. Dengan cara teresebut, mereka bisa membesarkan sebanyak 2000-2500 ekor ikan lele siap konsumsi per lahan seluas 1 meter persegi dalam satu kali masa panen (1 bulan).

"Jadi cara ini memang berbasis intensifikasi lahan, atau memaksimalkan fungsi lahan untuk mendapatkan hasil yang sebanyak-banyaknya," kata Ketua Divisi Litbang dan Sumber Daya Manusia FPBB, Agung Suseno.

Cara ini bisa dibilang tidak konvensiaonal, atau tidak seperti yang dilakukan para peternak ikan pada umumnya, karena menggunakan instalasi tertentu dan konstruksi kolam yang bundar. Instalasi yang digunakan adalah berupa blower yang berada di dasar kolam.



Sekretaris Dinnakkan Purbalingga meresmikan kolam lele Bioflok milik FPBB




"Sebisa mungkin air di kolam selalu berputar. Mikroorganisme di dalamnya akan mengubah kotoran ikan menjadi flock atau pakan alami ikan, otomatis akan menghemat pakan ikan," kata Agung.

Dengan teknik ini, Feed Conversion Rate (FCR), bisa mencapai 0,8, artinya untuk menghasilkan 1 Kg ikan, hanya membutuhkan 0,8 Kg pakan utama. Penghematan ini bisa meningkatkan keuntungan yang didapat.

Sebagian kolam milik FPBB menggunakan sistem ini secara penuh, sebagian digabungkan dengan sistem akuaponik, yakni melibatkan tanaman meningkatkan kualitas air kolam. "Air kolam dari ikan disedot dan dialirkan ke pot-pot tanaman hidroponik. Disitu terjadi penyaringan kandungan nitrit nitrat dari kotoran ikan yang beracun, namun sebagai pupuk bagi tanaman. Dari itu, air sudah ternetralisir dan kembali dialirkan ke kolam," imbuhnya.

Bioflok sekaligus aquaponik


Agung mengungkapkan, teknik ini sebenarnya sudah diterapkan oleh beberapa peternak ikan lele di Indonesia, bahkan di luar negeri. Hanya saja masih asing diaplikasikan. FPBB saat ini memiliki puluhan kolam bioflok yang dikelola, diantaranya di Desa Karangcengis, dan di Desa Bukateja, Kecamatan Bukateja.




Aquaponik memanfaatkan air dalam proses penyemaian padi

"Kami memanfaatkan buku-buku referensi dan pengalaman yang ada tentang Bioflok di Pekalongan. Lalu kami ujicobakan, melewati proses trial and error hingga akhirnya berhasil," tuturnya.

Keberadaan pesantren kewirausahaan ini merupakan kegiatan pilot project pemberdayaan pemuda yang nantinya akan dikembangkan dengan berbagai kegiatan lainnya. Diantaranya pengembangan budidaya lahan padi dengan metode SRI (System of Rice Intensification-red), sentra industry kreatif, sentra tanaman hias, volley centre, dan perpustakaan saung.

"Pesantren kewirausahaan ini diharapkan bisa menjadi tempat belajar bagi pemuda-pemuda yang lain serta menginspirasi para petani atau peternak ikan untuk meningkatkan hasil produksinya," pungkasnya.(Ganda Kurniawan)  

Menaikan Air Tanpa Mesin dan Listrik


Warga Desa Talagening Andalkan Hidram

BOBOTSARI - Situasi yang mendesak seringkali memaksa kita untuk berfikir kreatif memecahkan solusi. Seperti halnya yang dialami oleh warga Desa Talagening Kecamatan Bobotsari, desa ini bertahun-tahun kesulitan mendapatkan air bersih. Namun kini sudah tidak lagi dirasakannya berat upaya kreatif warga yang mampu menaikan air dari bawah ke atas tanpa mesin atau listrik, melainkan membuat alat sederhana yang disebut hirdaulik ram alias hidram.

Sabtu (19/3) kemarin penulis mencoba menelusuri bagaimana warga Desa Talagening ini mendapatkan air. Jika melihat kondisi alamnya, desa ini termasuk dalam wilayah tadah hujan, perlu dibuat sumur yang sangat dalam untuk menembus cadangan air, namun hal itu jarang dilakukan warga lantaran sulit dilakukan. Di sisi lain ada sebuah mata air deras, berupa curug sayanganya berada di desa sebelah yakni Desa Serayu Larangan, Kecamatan Mrebet, kedua desa ini dipisahkan oleh Sungai Soso dengan ketinggian tebing mencapai 50 meter. Curug yang jatuh ke Sungai Soso inilah yang kemudian dimanfaatkan agar bisa dinaikan ke Desa Talagening dengan teori yang dipantulkan dari dasar jurang.

Kami harus turun tebing setinggi 50 meter menggunakan tangga besi vertikal

Untuk melihat cara kerjanya penulis diajak turun dari tebing menuju tepian sungai Soso dan sebuah curug yang dinamakan Curug Jampit. Di tepian sungai ramai terdengar decitan suara katup hidram yang naik turun, bekerja mengangkat air dari bawah ke atas. Salah satu tokoh masyarakat Desa Talagening yang mempelopori penggunaan hidram ternyata adalah seorang kakek petani berusia 75 tahun bernama Rusmanto. Dia mengajak penulis melihat dan menjelaskan cara kerja hidram ini.

Di dasar jurang yang juga di tepi Sungai Soso ini setidaknya terdapat 50 hidram yang bekerja mengaliri ratusan rumah warga Desa Talagening. Rusmanto menjelaskan air tersebut diambil dari atas curug ditampung dalam tong sebagai penstabil arus yang kemudian disalurkan sebuah pipa besi diameter 5 Cm sebagai inlet masuk ke hidram. "Panjang pipa paling tidak 18 meter, dipasang dengan kemiringan yang curam ke hidram. Semakin panjang dan semakin curam kemiringannya semakin bagus air terdorong ke atas oleh hidram. Jika pipa semakin panjang tapi tidak diimbangi pemasangan pipanya yang curam maka hidram tidak bekerja," katanya.

Ia menjelaskan cara kerja hidram sendiri adalah menerima air bertekanan tinggi dari pipa inlet tadi, air langsung terpantul ke pipa pengeluaran untuk mengalirkan keatas. Hidram berfungsi mengubah tekanan air masuk menjadi hentakan-hentakan ritmis dan setiap hentakan diakhiri katup yang menutup sehingga air tidak kembali turun. Sehingga air terus terdorong ke atas. Kinerja itu berlangsung terus menerus secara otomatis sehingga tidak memakan beaya listrik atau bahan bakar mesin.

Penggunaan Hidram ini mulai diterapkan warga Desa Talagening sejak tahun 2005 yang dipelopori oleh Rusmanto. Ia mengaku mempelajari hal ini dari penerapan serupa yang dilakukan oleh mahasiswa KKN UGM di Desa Pengalusan Mrebet, lalu ia menerapkan hidram ini di Desa Talagening dengan kapasitas yang lebih banyak. Hidram-hidram yang terpasang di desa inipun seluruhnya adalah barang rakitan dari bahan bekas dan memintakan ke tukang las untuk merakitnya. Namun demikian untuk memanfaatkan air yang diangkat dari hidram ini tidaklah murah.

Hidram terus berdecit ritmik teratur dan memuncratkan sedikit air

"Untuk satu saluran paling tidak bisa habis Rp 10 juta. Yang membuat mahal adalah untuk pembelian pipa-pipa, mulai dari pipa yang menangkap air dari atas curug ke tong penstabil, kemudian pipa besi dari tong ke hidram, lalu pipa yang menyalurkan air naik lalu tersalur ke rumah warga," kata kakek yang hanya menamatkan pendidikan di Sekolah Rakyat (SR) ini.

Ada sekita 50 titik Hidram untuk menyalurkan ke rumah warga

Tampak banyak pipa menangkap air dari atas (desa sebelah)


Sementara itu, Kepala Desa Talagening Nila Eka Ningsih mengatakan berkat penggunaan hidram ini desanya sudah tidak banyak meminta lagi dropping air dari BPBD ketika musim kemarau datang. Dari 50 hidram yang terpasang bisa tersalur ke 200 rumah atau hampir separuh dari warga Desa Talagening. "Sebagian kecil dusun masih ada yang rutin harus dropping air, karena lokasinya lebih jauh dan lebih tinggi, tapi belum kami terapkan juga hidram disana," katanya.

Semua hidram tersebut dipasang sendiri oleh warga secara perseorangan, sehingga tidak ada pentarifan atau meterisasi. Semua biaya operasional perawatan dibebankan oleh pemasang sendiri. Atas beberapa kelebihan yang dimiliki desa, saat ini Desa Talagening sedang berkonsentrasi menjadi desa wisata.

"Kita bisa manfaatkan kompleks hidram tadi sebagai wisata teknologi. Masih di sekitar situ juga  ada Curug Jampit dan Curug Ciputut," katanya.

Hanya saja berdasaran pantauan Harmas saat ini untuk menuju lokasi tersebut tidaklah mudah. Untuk menuruni tebing disitu menggunakan tangga besi setinggi 20 meter yang disandarkan secara vertikal dan sudah agak keropos. Untuk menuju kompleks hidram dan curug Jampit harus kembali turun dengan medan batu cadas. sedangkan untuk menuju Curug Ciputut perlu menyusuri tepian sungai sekitar 200 meter.

Saat ini kedua curug ramai dikunjungi para remaja, terutama ketika hari Sabtu dan Minggu. Karena masih belum ada peraturan desa (perdes), para pengunjung masih dibebaskan dari semua tarikan retribusi. Pemerintah desa akan segera mengelola keberadaan dua curug tersebut dengan mempersiapakan Peraturan Desa (Perdes) yang didalamnya akan memuat pengelolaan curug beserta pengelolaan parker dan tiket masuk. "Semua pendapatan dari retribusi ini akan dijadikan sebagai pendapatan asli desa (PADes)," katanya. (Ganda Kurniawan)

Thursday, February 25, 2016

KYAI WILAH : Pahlawan Lokal Purbalingga



Desa Karangjambe, Kecamatan Padamara
Oleh : Ganda Kurniawan
Makam Adipati Wilah atau sering disebut Kyai Wilah terletak di wilayah barat daya kabupaten Purbalingga. Makam seorang sosok karismatis yang masih menyimpan misteri bagi banyak orang termasuk di sekitar areal pemakamannya di tengah persawahan antara dukuh Kedungwringin, Desa Karangjambe, Kecamatan Padamara dan dukuh Wilangan Desa Klapasawit Kecamatan Kalimanah.
Kyai Wilah semasa hayatnya adalah mantan seorang Panglima perang dari Kadipaten Pasir Luhur. Ia menantu dari Adipati Pasir Luhur Raden Kandha Daha. Kadipaten Pasir Luhur terletak di wilayah Kelurahan Pasir, Tamansari dan sekitarnya kecamatan Karanglewas dan Kecamatan Purwokerto Barat.
Makam Kyai Wilah

Pasirluhur bukan daerah bawahan, baik Majapahit maupun Pajajaran. Berbeda dengan Kadipaten Wirasaba yang berkedudukan sebagai kerajaan bawahan atau daerah Majapahit. Beliau memiliki tubuh yang gagah perkasa, dan keberanian luar biasa, Kyai Wilah sering unggul dalam pertempuran. Banyak tanda jasa dan penghargaan yang ia terima.
Suatu waktu Adipati Kandha Daha meneima surat dari Adipati Bonjok (Rawalo) yang isinya adalah bentuk lamaran pada salah seorang putrinya yang ternyata sudah menjadi istri Kyai Wilah. Mengetahui surat tersebut, Kyai Wilah merasa terhina dan segera menemui Adipati Bonjok.
Mereka keduanya akhirnya bertempur, kuda Adipati Bonjok roboh terkena tombak Kyai Wilah sehingga menyulitkan tuannya menagkis serangan. Sementara Kyai Wilah sendiri juga terluka parah, sehingga pincang. Ditengah kondisi fisiknya yang tengah melemah, Kyai Wilah mendengar kabar jika jabatannya akan digantikan orang lain. Karena merasa malu, maka secara diam-diam Kyai Wilah melarikan diri ke Purbalingga bersama putrinya. Mereka menetap di dukuh Wilangan Klapasawit sampai akhir hayat mereka.
Sekitar  tahun 1700-an berdirilah sebuah kadipaten di sisi selatan gunung Slamet. Kadipaten Wilahan namanya dan Kyai Wilah sebagai adipatinya. Dalam menjalankan pemerintahannya Kyai Wilah memerintah dengan bijaksana, adil dan penuh wibawa, sehingga rakyat pada masa itu merasakan ketentraman dan kemakmuran
Kadipaten ini juga sempat menjadi pelarian tokoh Kerajaan Mataram Islam yang sedang terpecah antara Pangeran Mangkubumi dengan Kasultanan Yogyakarta. Akibat adanya dua kubu yang memperebutkan kekuasaan atas Kasultanan Mataram tersebut banyak kerabat keraton yang tidak menyukai pergolakan politik, lebih baik  menyingkir dan keluar dari lingkungan keraton untuk tujuan menyiarkan agama Islam.
Keluarga Kasultanan Mataram yang menyingkir ke mancanegara kulon dan menetap di Kadipaten Wilahan adalah Syech Jangkung, R. Suryo Permana Sakti  dan seorang ponggawa keraton dengan jabatan bekel yaitu Ki Probo Saketi. Tentu saja Adipati Wilah sangat bersuka cita, atas kedatangan ketiga bangsawan tersebut ke Kadipaten Wilahan. Ketiga bangsawan Kasultanan Mataram ini secara bergiliran mengajarkan ilmu-ilmu agama kepada para muridnya.
Para murid tidak hanya diajarkan ilmu – ilmu tauhid dan akhlak  tetapi juga diajarkan ilmu-ilmu kanuragan. Di atas batu-batu Kali Ponggawa biasanya digunakan untuk mengajarkan ilmu-ilmu agama dan kanuragan.
Makam Kyai Wilah ini tidak jauh dari makam puterinya yaitu Mas Ajeng Lanjar. Berdekatan dengan makam Mas Ajeng Lanjar terdapat makam Kyai Yudantaka, kakak dari Kyai Arsantaka.
Kondisi makan Kyai Wilah saat ini semakin tahun tidak terawat. Hal ini karena sudah tidak ada lagi juru kunci yang menjaganya. Juru kunci yang terakhir adalah bapak Martareja alamat Dukuh Kedungringin, Desa Karangjambe. Namun sepeninggalnya pada tahun 1994 sudah tidak ada lagi yang menjaganya. Saat masih terawat, makam Kyai Wilah diberi penaung atau kijing, namun saat ini kijing tersebut sudah tidak ada. Makam dipenui lumut dan dirayapi akar belukar. Namun demikian, kopleks makam ini masih disegani oleh masyarakat baik Kedungringin maupun Wilangan, mulai larangan bertingkah sembarangan juga untuk kegiatan pertapaan.
Nama Kyai Wilah kini juga diabadikan sebagai nama bendungan Kali Ponggawa Desa Karangjambe. Bendungan ini dibangun pada tahun 1987 dan masih bertahan hingga kini.
Narasumber : Mahlani, Alamat Dukuh Kedungringin Desa Karangjambe RT 05 RW 04, Kecamatan Padamara

Tiwi, Dari Jakarta Untuk Membangun Purbalingga

Dyah Hayuning Pratiwi SE BECon
Wakil Bupati Purbalingga 2016-2021
PURBALINGGA - Nama Dyah Hayuning Pratiwi SE BEcon awalnya cukup asing oleh masyarakat Purbalingga. Namun begitu ia dikenal sebagai puteri pertama dari mantan bupati Purbalingga Drs Triyono Budi Sasongko MSi, maka masyarakat baru paham bahwa ia digadang-gadang titisan dari mantan bupati cukup fenomenal di Purbalingga itu.

Triono Budi Sasongko. Tokoh fenomenal yang mengubah wajah Purbalingga. Tangan dinginnya berhasil mengubah stigma Purbalingga dari kabupaten kecil di lereng Gunung Slamet, menjadi kabupaten yang diperhitungkan di tingkat nasional dan internasional. Bupati yang memerintah selama dua periode (2000-2005, 2005-2010) itu bisa menyulap APBD yang kecil sekitar Rp 750 miliar menjadi kabupaten yang berkembang pesat dan pro investasi.

Kini salah satu putrinya, Dyah Hayuning Pratiwi, resmi menjadi wakil bupati Purbalingga bersama BUpati H Tasdi SH MM, setelah perhitungan resmi dalam Pilkada Serentak 2015, Tasdi-Tiwi berhasil unggul dari pasangan Sugeng-Sutjipto.

Tiwi, begitu ia biasa disapa, lahir di Jakarta 28 tahun silam, tepatnya 11 April 1987. Meskipun lahir di ibu kota, namun keterikatannya dengan Purbalingga sangat kuat. "Memang bukan kelahiran Purbalingga, tapi orang tua saya lahir dan besar di Purbalingga, sehingga saya mempunyai keinginan untuk membangun kabupaten tercinta Purbalingga," kata wanita yang memiliki alamat asli di Jl Pengadegan Timur No 8 RT 001/001 Kelurahan Pengadegan, Kecamatan Pancoran – Jakarta Selatan ini.

Ia menuturkan, alasan lain motivasinya untuk ikut andil dalam pembangunan Purbalingga adalah untuk melanjutkan perjuangan ayahnya. Menurutnya, sang ayah yakni Triyono Budi Sasongko mungkin masih memiliki ide-ide dan gagasan yang belum terealisasikan sewaktu menjabat sebagai bupati. "Sehingga saya memiliki keinginan untuk meneruskan apa yang beluai perjuangkan," lanjut kakak dari Anggota DPRD Banyumas, Dyah Handayani Nastiti ini.

Sejauh ini Tiwi menganggap ayahnya adalah mentor, sehingga apapun itu ia banyak belajar dari sang ayah. Namun ia yakin memiliki kemampuan sendiri bahwa Dyh Hayuning Pratiwi dengan Triyono Budi Sasongko adalah orang yang berbeda sehingga tidak bisa disamakan.

"Background pendidikan saya adalah ekonomi sementara ayah saya adalah politik. Oleh karena itu saya memiliki strategi memimpin tersendiri. Dalam pengambilan keputusan, tentunya nanti membutuhkan  pertimbangan dari komponen masyarakat, atau kepemimpinan yang dialogis," tutur wanita lulusan International Trade and Finance University of Queensland Australia ini.

Dalam memandang Purbalingga, Tiwi justru bisa melihat bahwa Purbalingga memiliki sumber daya yang melimpah, baik sumber daya alamnya, manusianya dan sumber daya buatan. Sumber daya tersebut menurutnya sudah diberdayakan namun belum maksimal, sehingga potensi tersebut mau tidak mau, suka tidak suka harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Seperti yang diketahui, terlahir dari sosok intelektual pasangan Triyono Budi Sasongko dan Hj Ina Ratnawati, Tiwi memiliki riwayat pendidikan yang prestisius.
Setelah lulus dari SMA Negeri 8 Jakarta Selatan, tahun 2005 ia melanjutkan pendidikan Sarjana Ilmu Ekonomi Kelas Internasional, Universitas Indonesia.

Setelah wisuda tahun 2010, Tiwi juga berkesempatan kembali menuntut ilmu Bachelor of Economics, With Major In International Trade and Finance, The University of Queenland Australia. Saat ini ia sedang  Menyelesaikan Tahap Akhir (Penyusunan Tesis) Magister Bidang Manjemen Keuangan Pada PPM Manajemen Jakarta.

Tiwi juga sempat mendapatkan pendidikan informal di berbagai instansi, diantaranya di Academic English Pathway, University Technology of Sydney (UTS) Insearch, Sydney Australia, Tahun 2005 – 2006; Bridging English Program, Institute of Continuing & Tesol Education University of Queenland, Brisbane Australia, Tahun 2008; dan Training Brevet A Pajak Ikatan Akuntan Indonesia– Jakarta, Tahun 2013.

"Perjalanan karir saya sempat bekerja di perusahaan BUMN antara lain BRI dan terakhir di PT Pegadaian pusat," pungkasnya.

Tasdi, Rela Jual Truk Demi Karir Politik

H Tasdi SH MM
Bupati Purbalingga 2016-2021
PURBALINGGA - Bupati Purbalingga H Tasdi SH MM telah lama dikenal masyarakat Purbalingga sebagai politisi dan birokrat, baik dalam partai, DPRD maupun Pemkab Purbalingga. Namun tak bisa disangkal bapak kelahiran 11 April 1968 (47 tahun) ini juga sempat meniti karir pebisnis kecil dalam perjuangan masa mudanya.

Pria yang lahir Dusun Bayeman Kidul, Desa Tlahab Lor Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga, ini patut menjadi suri tauladan siapapun yang memiliki motivasi kuat untuk maju dan menjadi pengayom masyarakat. Sebelum meniti karir politik sebagai anggota DPRD Purbalingga tahun 1999, ia sama pada umumnya sebagai kalangan wong cilik yang berwiraswasta.

"Sebelum menjadi anggota dewan, saya berwiraswasta. Pernah menjadi pengusaha disel kecil-kecilan di desa atau istilahnya PLTD (Perusahaan Listrik Tenaga Disel), berkembang dari tingkat dusun, kemudian tingkat desa dan antar desa. Namun begitu PLN masuk, bangkrut," kata bapak yang memiliki tempat tinggal di kompleks belakang Puskesmas Karangreja dan di Jalan Jumiran Purbalingga depan GOR Samiaji ini.

Begitu bangkrut, Tasdi beralih usaha di bidang niaga dengan kredit Suzuki Carry 1000 sebagai jasa pengangkutan berbagai keperluan. Setelah kredit pertama lunas, Tasdi ambil lagi mobil niaga Cyclone (Pickup Mitsubishi L300 Diesel), dan setelah lunas ambil lagi engkel. Setelah lunas Tasdi kredit lagi membeli truk.

"Tahun 1999 truk saya jual untuk mencalonkan diri dalam Pileg dan terpilih sebagai anggota DPRD Purbaingga tahun 1999-2004. Tahun 2004-2009 nyalon lagi dan terpilih lagi sekaligus terpilih menjadi ketua DPRD. Untuk menjadi ketua dewan saat itu pilihan, bukan tunjukan seperti sekarang ini," paparnya.

Sementara dalam karir politik, ia sempat menjadi tokoh sentral Partai Demokrasi Perjuangan (PDIP), mulai dari karir tingkat bawah, hingga menjadi Ketua DPC. Tahun 1996 Bendahara PAC PDIP Karangreja, 1997 Ketua PAC PDIP Karangreja, tahun 1999-2005 Ketua PAC PDIP Karangeja sekaligus Wakil Sekretaris DPC PDIP Purbalingga. Tahun 2005 terpilih menjadi Ketua DPC PDIP untuk pertama kalinya dan berlangsung selama 3 kali hingga 2020 nanti.

Demikian dalam karirnya sebagai anggota dewan juga berlangsung mulus. Pileg tahun 2009 terpilih lagi dan kembali menjadi ketua DPRD untuk periode 2010-2015. "Pileg 2014 saya terpilih lagi sebagai anggota dewan, namun saya mengundurkan diri dan memilih menjadi Wakil Bupati Purbalingga, posisi saya di DPRD digantikan rekan saya dari satu dapil yakni Munji Wibowo," katanya.

Tasdi menggantikan jabatan Wakil Bupati Purbalingga yang ditinggalkan Drs H Sukento Ridho Marhaendrianto MM karena menjadi Bupati Purbalingga. Hal ini setelah bupati sebelumnya Heru Sudjatmoko terpilih sebagai Wakil Gubernur Jawa Tengah. Bisa disimpulkan, Tasdi telah mendapat pengetahuan dan pengalaman politiknya sejak tahun 1996 atau saat ia berumur 28 tahun, sedangkan ia dapat mengaplikasikannya dari tahun 1999 saat menjadi anggota DPRD selama 15 tahun dan menjadi ketua DPRD selama 10 tahun.

Sebagai kader parpol terbesar dari partainya wong cilik di Purbalingga, suami dari Erny Widyawati SSos, wanita asal Karangreja, ia dikaruniai tiga orang anak. Masing-masing Sena Akbar Kartika Dewantara, Mega Putri Yusiantika Dewanti, Bima Satria Dewantara (alm).

Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH melantik Wakil Bupati Purbalingga H Tasdi SH dalam Paripurna Istimewa DPRD Kabupaten Purbalingga, di Pendapa Kabupaten Purbalingga, Jumat, 16 Mei 2014. Pilkada Tahun 2015 ia resmi memenangkan sebagai calon Bupati terpilih dengan unggul dari lawannya yakni H Sugeng SH MSi - H Sutjipto SH.

Ibu Kandung Sejarah Purbalingga Perlu Dicari

Para narasumber memberikan pemaparan bertajuk menelusuri ibu kandung sejarah Purbalingga, Rabu (24/2/2016) di RM Bale Apoeng Bojongsari.

Purbalingga Ingin Menjadi Kabupaten Monarkhi???

BOJONGSARI - Kabupaten Purbalingga dianggap telah mengubur tatanan sejarahnya terutama pilar terakhir tatanan kebudayaan dalam bentuk keraton. Sejak berdirinya NKRI tahun 1945 tatanan keraton yang saat itu berupa kerajaan, kadipaten, kademangan seluruhnya dilenyapkan menjadi negara. Nyatanya konsep budaya leluhur berupa keraton ini sempat dirindukan untuk kembali dimunculkan di lingkungan Kabupaten Purbalingga. Bukan sebagai penanding pemerintah, melainakn sebagai simbol leluhur bahkan dianggap sebagai orang tua/ibu kandung waga Purbalingga.

Hal tersebut sempat dibahas dalam acara saresehan yang diselenggarakan oleh Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) NU Purbalingga. Saresehan yang diselenggarakan di RM Bale Apoeng Bojongsari tersebut menghadirkan narasumber Agus Sukoco selaku ketua Lakpesdam NU Purbalingga sekaligus pemerhati budaya lokal, Drs Akhmad Khotib MPdI selaku sesepuh budayawan Purbaingga serta KH Ir Sallahudin Wahid atau Gus Sholah selaku budayawan nasional.

Menurut Agus Sukoco dalam satu kabupaten diibaratkan rumah, sementara pemerintah sesuai dengan undang-undang adalah pelayan/pembantu, sedangkan rakyat adalah anak-anaknya, sedangkan yang menjadi pertanyaan adalah siapa orang tua rakyat Purbalingga. "Seringkali masih dianggap pemerintah yang sebenarnya sosok pembantu sebagai orang tua. Kita masih terkurung pada pemikiran yang keliru itu. Lalu siapa orang tua yang memiliki ikatan batin dengan masyarakat Purbalingga?," kata Agus dalam paparannya, Rabu (24/2).

Menurutnya orang tua yang sebenarnya adalah institusi sejarah. Dijelaskan institusi sejarah adalah sebuah Keraton simbolisme tatanan Kabupaten Purbalingga pra NKRI, yakni dinasti Kyai Arsantaka yang merupakan pendiri Kabupaten Purbalingga. Keraton dan dinasti Kyai Arsantaka dinilai perlu dihidupkan kembali dan kembali diakui eksistensinya kembali sebagai ibu kandung sejarah dan perintis peradaban Kabupaten Purbalingga.

"Masyarakat dan pemerintah Kabupaten Purbalingga, harus bekerjasama untuk setidaknya memberikan hak kultural kepada trah Kyai Arsantaka. Bukankah UUD'45 Pasal 32 mengamanatkan kita sebagai bangsa untuk melestarikan nilai-nilai budayanya?," ucapnya.

Menurutnya Keraton Kadipaten diharapkan bisa diberdayakan kembali menjadi pusat kebudayaan untuk menjadi pusat kebudayaan yang berfngsi menjaga nilai otentik dan adat istiadat masyarakat Purbalingga yang sudah mulai tenggelam oleh globalisasi dan modernitas. Hanya saja saat ini perlu dilakukan kembali kajian akademis dan genetika untuk mencari siapakah yang masih memiliki garis keturunan atau trah Kyai Arsantaka (Dipayuda III) atau kelanjutan dari trah Dipokusumo IV.

"Jika Yogyakarta punya Keraton Kasultanan, Purbalingga juga memiliki potensi historis untuk membangun Keraton Kadipaten. Negara maju seperti Inggris masih memposisikan Ratu Elisabeth sebagai ibu sejarah  dan Jepang masih menjunjung tinggi Kaisar, mereka saja masih serius mengapresiasi sesepuh kebangsaannya," tegasnya.

Sementara, Drs Akhmad Khotib MPdI selaku sesepuh budayawan Purbalingga mengatakan pihaknya setuju dengan prinsip kembali mencari ibu kandung sejarah Purbalingga ini, namun tetap harus melewati kajian ilmiah dan kematangan filosofis untuk menggugah kembali kultur yang terpendam itu. "Secara prinsip saya setuju, tapi kajian ilmiah perlu dibuktikan. Untuk mengetahui ibu kandung sejarah perlu ahli sejarah. Kalau kita tahu, misalnya saja penetapan hari jadi Purbalingga saat ini hanya mengandalkan kebenaran hukum saja, belum kebenaran sejarah," tuturnya.

Berikut ini modul lebih lengkap saresehan, silahkan didownload. Semoga bermanfaat

Menelusuri Ibu Kandung Sejarah Purbalingga
Oleh : Agus Sukoco




Saturday, February 13, 2016

Sroto Klamud, Gurihnya Bikin Ketagihan



PURBALINGGA - Sroto Kelapa Muda (Klamud) menjadi khasanah kuliner baru di Purbalingga. Sesuai namanya, kuliner ini bukan memadukan makanan soto yang disandingkan dengan minuman es kelapa muda. Tapi menyatukan antara kelapa muda dengan makanan sroto menjadi Sroto Klamud.

Terdengar janggal, namun bagi yang penasaran tidak usah khawatir karena kombinasi itu justru membuat rasa sroto ini menjadi lebih "buket", nikmat dan berbeda daripada sroto pada umumnnya. Sang chef sekaligus owner Soto Klamud Toyareja, Hadiah Rubi Wahyuni mengatakan kelapa muda yang digunakan sebagai bahan ini, tidak secara mentah langsung dicampurkan dengan sroto.

"Kelapa muda kita ambil kelapanya saja, lalu kita kukus dengan kaldu baru dicampurkan dengan srotonya, sehingga kesan rasa mentah kelapanya hilang," ungkap perempuan yang akrab disapa Yuni ini.

Ide kreatif ini terinspirasi dari kelapa bakar di Jawa Timur, dari situ ia berkesimpulan bahwa kelapa tidak hanya cocok sebagai minuman tapi juga rasa kelapa yang dimatangkan bisa diaplikasikan ke dalam masakan. Ia juga nyaris menggunakan kelapa muda bakar sebagai bahan sebab dirasa lebih enak, namun karena prosesnya yang lebih lama maka kelapa muda cukup dikukus.

Sedangkan bahan baku srotonya ia pilih sama dengan sroto khas Purbalingga atau Sokaraja pada umumnnya. Didalamnnya ada bawang goreng, potongan ketupat, daun bawang, potongan daging ayam kampung, sambal kacang kemudian disiram dengan kuah.

"Yang membedakan adalah kelapa muda tadi dimasukan sebagai pengganti mie bihun yang biasa digunakan. Pilihan kelapa muda justru lebih enak, lebih kenyal dan ada cita rasa yang berbeda," katanya.

Bagi yang penasaran, Sroto Klamud ini satu-satunya hanya bisa ditemukan di Jl Raya Toyareja, Kelurahan Toyareja RT 05 RW 01 Kecamatan Purbalingga. Untuk menjangkaunya, bisa melewati jalan di depan Pengadilan Negeri Purbalingga, atau dari perempatan Kedungmenjangan masuk ke timur.

Harga yang dipatok untuk Sroto Klamud ini cukup murah sesuai dengan tempatnya yang masih berskala Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Untuk Sroto Klamud yang disajikan di mangkuk biasa dihargai Rp 15000 per porsi, sedangkan Sroto Klamud yang disajikan di batok kelapa dihargai Rp 18000 per porsi, sedikit lebih mahal karena sensasi rasa sedikit berbeda. Disini juga tersedia sroto original dengan daging ayam potong seharga Rp 10000 per porsi.

Sroto Klamud Toyareja juga menyediakan sejumlah inovasi minuman, salah satunya yakni es Jondol, yakni es cendol namun bahan pembuat cendol telah dicampurkan ekstrak kajang hijau, sedangkan santannya diganti dengan susu. Jelas tercipta rasa yang lebih enak, es ini dihargai Rp 5000 per gelasnya.(mg05)

Wirasaba : Dari Pusat Kadipaten Hingga Pembangunan Bandara III*

Rencana Pembangunan Bandara WIrasaba Terkatung-katung 10 Tahun


Oleh : Ganda Kurniawan

Terpecahnya Kadipaten Wirasaba pada tahun 1582 menjadi 4 kabupaten membuat kiprah dan nama Wirasaba menjadi redup. Disamping itu juga tidak/belum ditemukan kembali historiografi yang menuliskan bagaimana kelanjutan wilayah Wirasaba yang saat itu dipasrahkan kepada Ngabehi Wargawijaya. Adipati Wargautama II (Adipati Wirasaba ke-7) alias Jaka Kahiman lebih memilih pulang ke daerah asalnya yaitu, Kejawar, Banyumas bahkan hingga kini terkenal sebagai tokoh pendiri Kabupaten Banyumas.

Terpecahnya Kadipaten Wirasaba ini juga belum menjadi patokan tentang berdirinya Kabupaten Purbalingga. Kisah mengenai berdirinya Kabupaten Purbalingga justru menggunakan patokan Babad Onje dan Babad Purbalingga yang usianya 2 abad lebih muda dibanding Kadipaten Wirasaba. Hanya saja sejauh ini ada sejumlah peninggalan sejarah yang berkaitan dengan trah WIrasaba. Diantaranya adalah Pendopo Djayadiwangsa. Tokoh Djajadiwangsa terkenal sebagai pengusaha kaya dari hasil bertani dan berkebun, ia dianggap masih memiliki darah keturunan dari Adipati Wirasaba. Tidak kalah menariknya juga adalah pendopo Tirtasena, bangunan kuno ini adalah eks kediaman Eyang Titrasena (1873-1940) menantu dari Ki Djajadiwangsa.

Sementara untuk Bandara Wirasaba, diketahui mulai eksis tahun 1938 Dibangun oleh Belanda sebagai upaya Belanda mempercepat mobilitas ke wilayah Karesidenan Banyumas. Saat itu sudah ada rel kereta api yang menghubungkan Jakarta – Cirebon – Purwokerto – Purbalingga – Banjarnegara – Wonosobo. Juga lintasan Purwokerto – Kroya – Jogjakarta. Namun rupanya belum cukup  bagi Belanda, sehingga di wilayah ini pun dibangun pangkalan udara. Dipilihlah suatu lokasi di Kecamatan Bukateja, Kabupaten Purbalingga, untuk dibangun pangkalan udara.

Tahun 1942-1945 bandara dikuasai oleh Jepang. Tahun 1945-1947 Dengan bertekuk lututnya Jepang, Pangkalan Udara Wirasaba dikuasai oleh pemerintah RI (TNI AU) dengan Komandan yang pertama adalah Sersan Mayor Udara Soewarno. Tahun 1947-1950 Setelah Jepang bertekuk lutut, maka Belanda kembali akan merebut Republik Indonesia. dengan tidak adanya pasukan Pertahanan Pangkalan di Pangkalan Udara Wirasaba, maka dengan mudah Pangkalan dikuasai Belanda.

Tahun 1950, dengan takluknya Belanda pada waktu itu, maka Pangkalan udara Wirasaba diserahkan kembali kepada Pemerintah RI (TNI AU) dengan Komandan yang kedua (yang menerima penyerahan dari Belanda) adalah Opsir Muda Oedara (OMO) Warim. Dalam bulan Juni 1946 Opsir Udara II H.Sujono bersama KASAU Komodor Udara Suryadi Suryadarma terbang ke Wirasaba (Purwokerto) untuk membuka secara resmi lapangan udara tersebut.

Dirintis 2006
Langkah yang telah ditempuh untuk mewujudkan Lanud Wirasaba sebagai bandara komersial sudah dirintis sejak 2006 dengan melakukan studi kelayakan terhadap pengembangan Lanud Wirasaba. Selanjutnya, pada 2007 dilakukan penyusunan rencana induk pengembangan (RIP) "master plan" Lanud Wirasaba dan pada tahun itu pula Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) mengeluarkan izin pemanfaatan Lanud Wirasaba menjadi bandara komersial yang tertuang dalam surat KSAU tertanggal 30 April 2007.

Rencana pengembangan Lanud Wirasaba menjadi bandara komersial berlanjut pada 2008 dengan penyusunan "Detail Engineering Design (DED) yang selanjutnya dituangkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan kemudian ditetapkan dalam Peraturan Daerah Purbalingga Nomor 5 Tahun 2011.Rencana pengembangan Lanud Wirasaba menjadi bandara komersial pun telah dipaparkan di Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan pada Juli 2011.

Tekat Pemerintah Kabupaten Purbalingga untuk mewujudkan rencana pengembangan Lanud Wirasaba menjadi bandara komersial inipun semakin bulat setelah adanya pertemuan 12 bupati/wali kota dari wilayah Jateng bagian selatan dan barat di Purbalingga awal Februari 2012 silam yang dimotori Bupati Banyumas Mardjoko. Pertemuan 12 kabupaten/kota wilayah Jateng bagian selatan dan barat, kita sudah sepakat untuk mengembangkan Lanud Wirasaba, guna menunjang perkembangan ekonomi dan pariwisata. Pengembangan landasan pacu di Lanud Wirasaba dinilai masih sangat memungkinkan, jika dibanding perpanjangan landasan Bandara Tunggul Wulung Cilacap.

Tahun 2013 ketidakjelasan persetujuan dari Kemenhub dimulai. Kabar yang sering beredar bahwa Kemenhub masih mempertimbangkan sudah adanya Bandara Tunggul Wulung. Tahun 2014 izin pemanfaatan Lanud Wirasaba menjadi bandara komersial diperpanjang, karena sudah kadaluarsa, demikian pula DED dari tahun ke tahun terus diperbaharui. Tahun 2015 pihak Pemprov dan lima Pemkab sempat bosan karena belum adanya persetujuan dari Kemenhub, sehingga sempat mewacanakan plan B yakni mengganti lokasi lain sebagai rencana pembangunan Bandara yakni Desa Karangcengis Kecamatan Bukateja.

Masa pemerintahan Penjabat Bupati Purbalingga Budi Wibowo kembali meyakinkan lokasi rencana Bandara tetap di Wirasaba mengingat lokasinya yang strategis dan sudah ditunjang Jambatan Linggamas sebagai penguhubung cepat antar kabupaten. Hingga pada akhir 2015 terbentuk komitmen 5 Kabupaten yakni Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo dan Pemalang untuk menganggarkan dana cadangan masing-masing Rp 30 miliar guna persiapan pembangunan bandara Wirasaba. Dinhubkominfo Purbalingga sempat melelang kagiatan studi kelayakan (AMDAL) untuk Bandara WIrasaba, namun kegiatan tersebut gagal lelang.

Awal tahun 2016 kejelasan persetujuan Kemenhub mulai tampak yakni persetujuan lisan dari Menhub Ignasius Jonan melalui SMS kepada Gubernur Jateng. Namun demikian izin resmi belum diterbitkan dan masih ada beberapa tahapan tahapan yang harus dilaksanakan diantaranya izin dari Dirjen Perbendaharaan Kemenkeu, Izin Prinsip Kemenhub dan MoU antara TNI AU, Pemprov dan Pemkab Pendukung.

Danlanud Wirasaba Letkol Nav Toni ST menjelaskan, kondisi runway yang ada saat ini sepanjang 850 meter dan masih berupa kebalan rumput. Runwai hanya bisa didarati pesawat jenis cassa dengan kapasitas 15 penumpang.Sedangkan dari DED yang telah disusun,runway akan dibangun sepanjang 1300 meter dengan ketebalan memadai untuk pendaratan pesawat jenis ATR 72 yang berkapasitas 70 penumpang."Sebagai langkah awal percepatan,sebaiknya anggaran awal diarahkan untuk pengerjaan runway sesuai standar yang ditetapkan kemehub," kata Danlanud.

?Sementara, Pj Bupati Kabupaten Purbalingga, Budi Wibowo mengatakan agar pengaktifan bandara wirasaba menjadi bandara komersil bisa dipercepat,maka sebaiknya dilakukan pembagian merata. "Supaya lebih enak pembagiannya, Wirasaba menjadi UPT nya Menteri Perhubungan meski secara wilayah aset tersebut milik TNI AU. Jadi secara? total dana untuk membangun dianggarkan dari APBN."katanya.

Sementara,untuk pengelolaanya  diserahkan kepada pemerintah pusat melalui Dirjen Perhubungan Udara yang bekerjasama dengan pihak ketiga seperti Angkasa Pura. Sedangkan Kabupaten pendukung akan mengambil sisi ekternalitasnnya atau multiplayer efeknya, seperti pengadaan perhotelan,jasa Angkutan dan lain-lainnya.(*)

*)Dimuat dalam surat kabar Harian Banyumas, edisi 9 Februari 2016