Ekspedisi Sejarah Indonesia (Exsara)

Exsara merupakan organisasi terbesar di Jurusan Sejarah Unnes. Aku dirikan bersama teman-teman jurusan sejarah Unnes angkatan 2008. Mereka semakin maju

Catatan Hidupku

Aku sangat suka menulis. Termasuk membuat catatan hidupku. Biar nanti aku mati, tapi pikiranku seolah terus hidup sampai anak cucuku

Petualangan Hidup

Setiap hidup, pasti menyempatkan berkunjung ke tempat unik, berkenalan dengan orang baru. Semua itu akan mendidik kita jadi manusia besar

Sejarah Nasional dan Dunia

Basis pendidikanku Sejarah. Aku sangat menyukai kisah masa lalu. Ada yang kuanggap sebagai sastra ada yang kuanggap sebagai guru kehidupan

Pola Hidup Sehat

Sejak SMP aku sudah punya bakat pemerhati gizi. Aku sangat mencintai pola hidup sehat. Tanpa kita sehat, semua yang kita miliki tak ada gunannya

Sunday, February 24, 2013

Dari Setanjung ke Kalimasada [Part 16]


Imsyak telah terlewat, dalam detik subuh aku menyatu ke dalam keEsaan-Nya, menyembah kepada Sang Penggawe Urip. Aku tak percaya Dewa apapun, juga Dewi Fortuna, karena mereka hanya hidup dalam bayang seni. Sang Penggawe Urip Lebih berhak atas segalanya untuk tempat berharap. Selama aku masih selalu dalam dekat-Nya, aku tak mengenal lagi apa itu “Hoki”. Bejo-Apes itu tak ada bedanya, sama dengan Sugih-Mlarat keduanya masih dalam ranah Ujian. Yang kuharap bahwa aku tidak akan menjadi pendusta atas apa yang telah diberikan-Nya nanti.

Aku bangkit menuju jendela depan, memegang gagang handphone dan menekan tombol Call pada nama kontak “Bapake”. Sejenak kubiarkan suara dengung sedang menyambung. Aku mencari secercah cahaya dari luar dengan membuka gorden. Suasana masih biru fajar, lekuk bukit-bukit pun belum terlihat jelas. Masih sunyi, puluhan pohon rambutan di depan kos masih tampak seperti gadis-gadis yang sedang melamun.

Handphone belum juga tersambung, membuatku sedikit melamun memandang ke luar. Beruntungnya aku melihat pemandangan seindah ini dalam keadaan tidak kedinginan. Kos tempat tinggal Nanang ini memang kuakui seperti sebuah villa mini di ujung gang Cempakasari timur. Pandangan lepas tak terhalang dinding, terlihat bukit-bukit yang belum tersentuh beton, dari bukit Banyumanik hingga bukit Ungaran, melingkar. Aku hangat bersama sahabat-sahabat yang telah membuat skenario dengan baik atas kepedulian kepadaku untuk persiapan menjelang ujian. Entah bagaimana jika aku masih di Dian-Ratna Setanjung, aku bisa bangun subuh dalam keadaan kesepian tak ada penyemangat hidup dan melihat pemandangan kos yang kumuh. Atau jika aku sedang di kontrakan Ar[t]my Kalimasada, seluruh orang di kontrakan tidak pernah tahu kalau hari itu aku akan ujian, mereka masih tidur.

Warna biru fajar itu menenangkan fikirku, karena masih menandakan jam-J ujianku masih lama. Biru fajar itu membuatku dari kejauhan seperti gerhana bulan parsial. Separuh tubuhku tampak tersinari cahaya dari jendela panjang itu, separuhnya lagi masih gelap gulita oleh ruangan. Suasana terlukis sebuah siluet dua warna: Biru dan Hitam.

Telfon tersambung, aku mengambil duduk di kursi terdekat.
“Haloo, Assalamu’alaikum. . . . .Mamak & Bapak sedang apa?”, sapa awalku. “Waalaikumsalam. Kami sedang mempersiapkan pagi, . . .bagaimana gan apa semua sudah dipersiapkan?, tanya mamakku.
 “Sudah Mak, aku sedang bersama kawan terbaikku tinggal di Jalan Cempakasari, akan lebih berat jika aku masih sendirian di Kalimasada. Jas hitam aku dipinjami Nanang disini, buku-buku referensi juga sudahku bawa. Masalah berangkat sudah tidak perlu khawatir Aris akan mengantarkanku meluncur ke kampus ribuan detik lebih awal dari tepat waktu”.  
“baguslah, waktu ujian sudah tidak diundur lagi seperti kemarin kan?”
“Tidak mak, hari ini sudah pasti. Hanya satu dosen yang takkan hadir. Tapi tenang, menurut pengalaman dosen yang itu tidak akan repot menyusul menguji. Hanya menerima form penilaian dan menandatangani berita acara”.
“Semoga sukses gan, kami semua mendo’akanmu”
“Ya mak, semoga diberi kelancaran, karena setelah ujian perjuanganku belum selesai. Terimakasih mak, aku segera bersiap-siap. Wasalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Seumur hidupku baru kali ini aku memakai pakaian khas pejabat negara. Hem putih dibalut jas hitam dan dasi merah yang flamboyan ku pinjam dari Anggoro. Tampil meyakinkan dan bergaya intelektual. Hanya dengan pakaian seperti ini, banyak hal yang berubah secara tiba-tiba dalam tingkahku: gaya berjalan sangat ideal seperti berjalan di catwalk, santai tapi meyakinkan, dada sedikit dibusungkan dan bahu diluruskan. Dalam kesempatan langka itu, aku sempat difoto oleh Nanang di salah satu sudut kamar. Itulah foto yang bersejarah bagiku, bagai foto seorang pilot Kamikaze Jepang sebelum detik-detik memberangkatkan pesawatnya untuk menabrakkan diri ke kapal milik Sekutu. Senyum-senyum pilu dalam foto itu detik-detik menjelang Jam-J ujianku. Alih-alih Nanang menyarankan agar foto itu diupload dijadikan sebagai foto profil buku wisudawan kelak. Namun urung mengcopy, urung mencetak foto itu Nanang sudah keburu pergi dikirim ke Aceh, sehingga foto itu belum sampai ke tanganku.

Tepat hari itu tanggal 1 Agustus 2012 atau tanggal 13 Ramadhan. Tanggal itu memang melenceng dari yang tertulis di SK Ujianku yang tertera tanggal 25 Juli 2012. Jadwal yang membias disebabkan setelah terjadi cerita tebal penuh perdebatan dalam rapat jurusan di kalangan dosen. Perdebatan itu memecah dua blok yaitu antara dosen yang idealis versus dosen pragmatis. Dosen pragmatis patuh pada peraturan universitas dan tetap ingin melaksanakan ujian sesuai dengan SK tak peduli betapa mepetnya waktu. Sementara dosen idealis menginginkan waktu tenggang dengan dalih ingin bisa mendalami skripsinya dulu baru bisa menguji. Kedua pengujiku antara pak Harso dan pak Sodiq adalah satu sekutu sebagai dosen idealis, sehingga aku menurut saja dengan jadwal yang ditentukan pada mereka.  

Ruang ujian terletak di C2. R108. Dulu ruang ini penuh kenangan bagiku saat KEMAS 2008 menjadi peserta dan KEMAS 2009, naik pangkat jadi panitia, antara menjadi mahasiswa yang digembleng menjadi mahasiswa penggembleng. Ruang ini dulu juga biasa digunakan sebagai tempat bentrok antara mahasiswa dengan dosen dalam dialog jurusan. Setiap akhir semester genap tempat ini menjadi ajang uji kebolehan mahasiswa paling pintar dari setiap kelasnya untuk menseminarkan hasil kerja Kajian Peninggalan Sejarah. Namun kenangan terakhirku dalam ruangan ini adalah saksiku ketika Micro-teaching sebelum diterjunkan saat  PPL. Itupun suasana ruangan sudah berubah total: ruangan yang cukup luas ini disekat menjadi dua dan dinding-dindingnya dilapisi dengan peredam suara dan cahaya menggunakan karpet warna abu-abu. Suasana menjadi sangat ekslusif mirip tempat rapat di sebuah perusahaan besar. Namun bagiku ketiadaan pemandangan luar dalam ruangan itu membuat terlihat pucat lebih sempit dan menegangkan. Seolah sebuah persegi itu hanya milik mata orang yang ada di ruangan saja.Aku dan Aris menyetting ruang ini sebagai ruang presentasiku. Dan Nanang menjadi relawan sebagai operator laptopku untuk menjalankan PPT yang telah q buat.

Waktu semakin dekat, namun aku tak gentar. Aku tak ingin mengecewakan saat ujian itu. Jauh berminggu-minggu semua tlah kupersiapkan, beberapa referensi kubaca termasuk buku Catatan Seorang Demonstran, juga telah mengkatamkan buku “Soe Hok-Gie sekali lagi” yang begitu tebal itu, buku-buku pendidikan, jurnal-jurnal ilmiah, rumus-rumus statistik, langkah langkah menggunakan software SPSS tak luput. Bahkan buku-buku MS Excel dan PowerPoint juga kupelajari.

Pak Sodiq akhirnya datang, Pak Harso sudah menunggu di kantor dan mereka akhirnya duduk di hadapanku di R.108. Pak Harso tampil standar-standar saja, meskipun sudah tergolong tua namun aura-aura seorang pujangga sastrawan sekaligus kritikus masih sangat kental. Sedangkan pak Sodiq menggunakan jas abu-abu tampil kalis dan percaya diri sekali sepertinya jas itu memang tidak terlihat kaku dipakainya karena beliau memang seorang Konglomerat, sedikit keturunan ningrat, kritikus politik, sekaligus seorang kyai berpemikiran Islam Ortodoks (Muhammadiyah) namun juga kadang menyukai sepak terjang orang-orang Islam Fundamentalis di Timur-Tengah sana.

Tak pernah disangka, bahkan tatapan mata merekapun tidak dapat kubaca ternyata Pak Harso menginginkanku presentasi hanya 5 menit. Cukup menyentak fikirku tuk bertanya dalam benak “ada apa ini? Umumnya mahasiswa dipersilahkan untuk presentasi selama 10-15 menitan, tapi aku?”. Ah iya, sambil aku presentasi kilat itu tapi aku juga telah menemukan jawabannya: Umumnya dosen-dosen sudah super bosan melihat mahasiswa presentasi yang pembawaanya sambil membaca lagipula nadanya datar lagi sehingga mereka tidak ingin momen menjenuhkan ini terlalu panjang.

Ada rasa kecewaku tentang pemotongan waktu ini. Bukan hendak aku ingin sok brilian saat presentasi, tapi aku sadar bahwa bagiku skripsiku ini isinya tidak akan begitu berharga kelak atau pantas dinilai kecil, sehingga aku akan membuat sebuah tipu daya kepada dosen-dosen agar terpesona melihat Powerpoint yang telah ku buat itu. Karena aku sangat yakin bahwa garapan powerpointku sangat menakjubkan, aku bahkan memuji diri sendiri bahwa ini adalah powerpoint terbaik yang pernah ku lihat selama empat tahun di kampus, bahkan lebih bagus daripada yang dibuat oleh para “tukang”. (bisa didownload di blogku). Aku mempelajari ppt selama seminggu, bahkan aku juga sempat mempelajari macromediaflash player untuk lebih memodifikasi.

Apa boleh buat aku seperti anak kecil yang iseng berkarya tapi tak diperhatikan orang tua. Pemotongan waktu juga telah membuatku yang telah mempersiapkan penjelasan cukup lengkap menjadi terpotong-potong tidak jelas seperti sedang mengraji dengan gergaji tumpul, tersendat-sendat. Pak Harso sempat melirik slide ku tapi hanya beberapa detik saja, sisanya dia sedang membolak-balik copy skripsiku mencari-cari kelemahan. Sementara pak Sodiq cukup memperhatikan, sayangnya ia adalah komentator nomor dua disini.

Tipu dayaku gagal total, sudah, dan senjata ke duaku adalah survival. Survival dalam strategi sepak bola dikenal dengan strategi Defensive. Begitu juga dalam ilmu perang, “Defensive” ini adalah sebuah kesadaran akan kekalahan dari berbagai lini, tapi ia harus mempertahankan sampai titik penghabisan. Teknik survival inipun terbukti berhasil karena kritikan-kritikan dari mereka tidak membuatku tewas atau menurunkan mental. Meskipun aku tahu apa yang mereka kritikan itu cukup benar dan aku setuju tapi yang bisa kulakukan dalam strategi defensive adalah “mengeyel” atau mempertahankan pendapat, dan aku juga tahu bahwa aku sedang mengeyelkan sesuatu yang salah. Sehingga rasanya serba salah, seperti aku ikut menjadi crusader (tentara salib) memerangi umat muslim padahal aku sendiri seorang islam. Ah tapi tidak dink justru “mengeyel” adalah sesuatu yang paling diinginkan dari dosen penguji, karena jika tidak mengeyel kita akan dicap sebagai tentara yang lemah. “Mengeyel” dalam ujian skripsi ini bagiku cukup menyimpan banyak harapan: Pertama aku berharap semoga aku seperti serdadu Jepang yang sedang memepertahankan Pulau Iwo Jima dari Amerika yang meskipun kalah tapi itu menjadi perang terberat orang Amerika. Kedua, syukur syukur aku bisa seperti revolusioner komunis Kuba, Fidel Castro yang hanya memiliki 280 laskar namun justru menang melawan rejim Batista yang sebanyak 10.000 laskar.

Aku ingat kritikan-kritikan dari mereka dan kemudian kujadikan quotes di otakku ini. Pak Harso sempat beranalogi begini “Ibaratnya skripsimu ini seperti mencoba mengobati kanker menggunakan Paramex Gan. . . . .”, dan aku mengeyel “ya betul pak tapi kan yang ini gak ada efek sampingnya pak. . . .”.

Ada lagi dari pak Harso, “Para pejabat yang koruptor itu juga orang-orang yang rajin upacara, jadi upacara tidak bisa dijadikan indikasi nasionalisme”, ungkap pak Harso. “Wah di skripsi saya itu kan gak mencantumkan upacara pak” eyelanku datar. Rupanya pak Harso tidak membaca skripsiku secara komperhensif dan mengira skripsiku seperti skripsi skripsi nasionalisme yang lain. Jadi waktu itu apa gunannya ujianku diundur yang konon alasannya untuk membaca skripsiku dulu?. Apalagi memang betul setelah ku buka lagi file skripsiku melalui MS Word kemudian ku tekan tombol Ctrl+F ternyata memang tidak ada satupun kata “Upacara” dalam skripsiku. Bukanya merasa tidak adil tapi aku justru benar-benar bangga beliau mengkritik skripsiku sedalam ini (meski salah sangka), pasalnya skripsinya Nanang yang dipuji oleh Prof. Wasino atau skripsinya Nadia yang dipuji Bu Ufi keduanya sama-sama bertemakan nasionalisme tapi mereka tetap mencantumkan rajin “Upacara” sebagai indikasi nasionalisme.  

Satu lagi quotes yang ku ingat, dari Pak Sodiq “Hanya ada satu kata untuk meningkatkan nasionalisme: PERANG !!!!”. Aku dan seluruh audienspun tertawa mendengar ungkapan ini. Aku tertawa sambil mengangguk-angguk dan tidak mengeyelnya karena sudah jelas ini bukan bagian dari kritikan untukku, atau mungkin beliau sedang membuat semacam joke.Ketika beliau berseru kata “PERANG!” otakku langsung pergi ke Afghanistan-Pakistan teringat akan Taliban yang memang hobby perang disana, dan pak Sodiq adalah salah satu fans Islam Fundamentalis macam Taliban. Untung saja pak Karyono sedang tidak ikut menguji disini, pasalnya kalo ia sebagai umat Katholik mendengar kata-kata pak Sodiq itu tadi, ia jadi tambah percaya bahwa Islam adalah agama Perang. Apalagi Pak Sodiq adalah seorang kyai, pak Karyono bisa-bisa tambah mengakui eksistensi Islamofobia.

Sesuatu yang sebenarnya tidak kumaksudkan untuk tipu daya tapi mereka malah menganggapnya sebagai tipu daya yaitu metode kuantitatifku. Aku pikir memang penelitian survei pantas-pantas saja menggunakan kuantitatif. Tapi mereka menganggap ada yang salah jika nasionalisme bisa diukur dengan angka. Kuakui memang kurang tepat, tapi aku memang waktu itu sudah terlanjur mendalami metode kuantitatif jadi biar bagaimanapun juga aku ingin mempertahankannya. Aku sudah siap seandainya mereka menanyakan suatu rumus di skripsiku, di luar dugaan mereka malah tidak membahasnya satupun. Pak Harso, beliau adalah dosen mata kuliah Metode Penelitian Pendidikan seharusnya bisa saja dia menyentilku dengan pengetahuan rumus-rumusnya. Tapi sayangnya pak Harso adalah generasi lama, sehingga mungkin beliau masih mengusung rumus-rumus telanjang manual ala yang ditulis Prof Suharsimi Arikunto atau Prof Dewanto. Sementara skripsiku sudah menggunakan teknologi SPSS dimana aku dapat mengetahui hasil beserta nilai residualnya tanpa menulis rumus dalam keakuratan yang sangat tinggi dalam waktu satu detik. Tinggal kita membaca angka-angka isyarat yang telah tertulis di tabel.

Semenjak kecil aku memang benci hitung-hitungan matematika. Ketika SD aku seringkali dimarahi ibuku ketika aku sering sekali mendapat nilai matematikanya berupa tongkat (1), cawang (2), kuntul (3) atau kursi (4). Namun soal skripsi aku memberanikan diri mengambil mahzab kauntitatif setelah mengerti SPSS selain irit halaman isinya juga lebih minim omong kosong ketimbang skripsi-skripsi bermahzab kualitatif. SPSS adalah cara yang sangat instant, aku senang mempelajarinya kemudian berkembang dalam pikirku sebagai seorang sejarawan kuprediksikan suatu saat ilmu matematika pasti akan musnah di muka bumi ini. Beberapa software ciptaan manusia akan menggantikan matematika menjadi alat yang begitu mudah macam SPSS, menghitung tanpa menulis rumus, menghitung tanpa membuat coretan rincian. Anak kecil tidak lagi diajari menghitung tapi diajari mengoperasikan software.

 Pak Sodiq yang gelar sarjanannya maupun gelar magisternya adalah ilmu sejarah murni. Sudah pasti beliau tidak berani mengungkit-ungkit rumus-rumus yang kupakai. Karena biar bagaimanapun manusia telah diharamkan Tuhannya untuk tidak sok yes mengkritik atau mengajarkan sesuatu yang tidak ia kuasai.

Ujian terasa cepat dan hampir berakhir, karena hanya ada 2 orang penguji. Tinggal pada fase antiklimaks, Pak Harso sedikit memuji, biar skripsiku metodenya kurang tepat tapi susunannya sudah cukup baik dan rapi. Revisinya hanya satu hal saja perbaiki bagian “pendahuluan” disesuaikan lagi dengan karakter pendahuluan ala penelitian Ex-Post Facto. Pak Sodiq mengikut saja dengan pak Harso meski wajahnya masih tergambar belumbombong.

Aku dipersilahkan meninggalkan ruangan. Mereka mendiskusikan nilai. Nilai tidak diumumkan langsung mereka hanya memberitahuku bahwa aku seperti yang lain “Lulus” dengan syarat menyelesaikan revisi. Hari itu terasa lebih lega. Gunung yang ganas seolah berhenti bererupsi pada hari itu. Luluh lantah kerusakan ada dimana-mana. Tapi aku cukup senang mereka mengujiku dengan sangat kritis tidak seperti penguji-penguji lain yang pernah ku lihat. Semoga mereka sadar akan kerusakan-kerusakan itu, selain ada pada skripsiku, skripsi-skripsi garapan mahasiswa program studi pendidikan yang lainpun banyak yang berisi bullshit dan manipulasi data. Akupun merasa ikut menjadi korban didalamnya, tidak lain semuanya tersirat makna protes. Tidak seharusnya mahasiswa jurusan sejarah prodi pendidikan dikekang hanya boleh membuat skripsi tentang pendidikan, tatapi biarkanlah ia lepas bersama kupu-kupu pemikirannya menghisap juga madu-madu ilmu sejarah.

Meskipun skripsiku tentang pendidikan kurang baik tapi beberapa para pejabat di jurusan juga sudah tahu bahwa aku pernah membuat sebuah karya tulisan sejarah yang diterima pihak Dikti (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi) dan dipajang di jurnal ilmiah nasional. Semoga semua akan tersimpul bahwa aku secara pribadi bukanlah sosok yang berbakat dalam hal pendidikan, guru ataupun pengajar tapi aku adalah sosok yang spesial dalam hal mengabadikan sebuah peristiwa. Dan catatan “Dari Setanjung ke Kalimasada” adalah sepicis bukti.

Padamara, 24 Februari 2013

Monday, February 4, 2013

Dari Setanjung ke Kalimasada [Part 15]


Tibalah pada suatu saat ketika kuliah selama empat tahunku dipertaruhkan dalam satu hari itu. Hari yang paling dinantikan bagi mereka yang telah mencukupi SKS untuk lulus. Apalagi bagi para mahasiswa yang ndongklakmoment ini ibarat telah memegang kunci untuk lolos dari penjara. Namun bagi mahasiswa yang telah memenuhi syarat, momen ini akan terkesan seperti mendekati hari-hari untuk disunat, mendebarkan. Satu sisi akan merasa keharusan kerja keras bahkan siap-siap mental tuk disakiti namun setelah itu akan menemui hal yang luar biasa lega. Yah, hari itu adalah UJIAN SKRIPSI.

Kerja keras selama empat tahun akan dipertanggungjawabkan melalui segepok tumpukan kertas seratus lebih halaman. Tumpukan kertas itu telah melewati filter pahit manisnya semasa dibimbing, peluh dan mungkin rasa keterpaksaan dalam penelitian. Ya memang terpaksa, paradigma dewasa ini memang tak seperti sepuluh tahun silam dimana dosen sangat tegas meminta mahasiswa lulus di waktu yang tepat, bukan tepat waktu, artinya karyanya memang harus berbobot, kalo belum berbobot ya lulusnya nanti dulu. Jadi jaman sekarang tentu berbeda dengan yang diucapkan Amien Rais tentang reformasi 1998 yaitu “Melangkah karena dipaksa sejarah”, melangkah karena memang sudah saatnya kita menggebrak menciptakan sejarah baru. Sedangkan mahasiswa sekarang paradigmanya “Melangkah karena aji mumpung”. Instant, cepat, rakus.

Banyak ku rasakan atmosfer aji mumpung di akhir aku kuliah disini. Beberapa ada yang bisa menyelesaikan skripsi selama 3 bulan saja, pasca KKN hingga wisuda april. Juga ada yang menyerahkan BAB IV dan V nya kepada “tukang”. Memanipulasi data dan merekayasanya sekiranya bernilai “Korelatif” jadi tidak perlu penelitian ulang. Penelitian eksperimen di sekolahan dilaksanakan satu hari saja, hemat waktu. Sekali bimbingan langsung acc, sekali bimbingan langsung acc. Mahasiswa yang buru-buru meminta tanda tangan siap diujikan, wadul karo wong tuwa. Hari ini menyerahkan SK Ujian dua hari berselang dosen penguji ya mau-mau saja diajak untuk ujian tanpa perlu mempelajari skripsinya dulu. Ujian hanya 15 menit saja, dalihnya karyanya jelek tak sudi menguji tapi anehnya diberi nilai A. Ada yang ujian cukup revisi tata tulis saja. Semua ini adalah tanda, bahwa antara mahasiswa dengan dosen mengakui perlu adanya hubungan mutualisme didalamnya. Mahasiswa yang ingin cepat-cepat lulus, dosen juga memudahkan acc dengan begitu pekerjaanya jadi lebih ringan. Isu bertambahnya mahasiswa baru th 2012 maka universitas juga harus mewisuda banyak pula, jika tidak maka sistem sudah bagaikan orang menahan nafas, memasukan tanpa mengeluarkan, mustahil. Jadi jangan khawatir, dijamin pasti mudah mencari lulus.

Sebelum ujian seringkali rasa takut mulai mengental. Namun bagiku masih ada waktu tuk mengatasi viskositas ketakutan yang begitu tinggi ini. Aku tak ingin terburu-buru, bahkan mulur dari jadwal SK pun tak masalah yang penting aku siap, dosen siap. Jauh dari masa tanggang ini aku mencermati kawan-kawan yang tengah disidang termasuk kakak semester. Sungguh tak menentu, kadang aku lihat  ada yang tak serumit yang dibayangkan, menjawab sederet pertanyaan tanpa perlu didebat, habis itu sudah tinggal revisi tata tulis. Ada yang sidang bukannya menegangkan tetapi malah penuh guyon, seperti sidangnya Harry yg diuji oleh Pak Arif, Pak Cahyo dan pak Sodiq. Sama halnya dengan nasib Nanang kala diuji hampir semua pertanyaan dari dosen penguji malah dijawab oleh dosen pembimbingnya.

Keberuntungan orang memang berbeda-beda. Entah apa yang menjadi faktor. Antara azab ataukah cobaan, kita tidak bisa mendiagnosanya. Tapi keduanya justru bagus, karena sama-sama menekan kita untuk menjadi orang yang bertobat. Kisahnya memang seperti tidak mulus, beberapa teman-temanku ada yang harus menerima kritikan sadis dari dosen penguji, tidak bisa mendebatnya. Hanya bersikap pasif, atau dalam bahasa mbanyumasan tiba-tiba mahasiswa tersebut menjadi “Lengob”. Gerakanya mencerminkan seperti orang sakit, suaranya meredup sedikit gemetar. Telinganya semakin sakit. Kritikan yang terus menekan bagai tertusuk tusuk ribuan peluru dari senapan serbu macam AK-47. Terbeban rasa malu apa lagi jika disaksikan audiens banyak. Seolah peristiwa tadi adalah aibnya.

Melihat mereka semua, membuatku semakin mempersiapkan mental untuk keadaan yang paling buruk sekalipun. Apakah nanti, suasana ujian akan indah seperti bukit berbunga ataukah seperti gedung-gedung yang runtuh berlangit gelap dan penuh halilintar. Kita tawakal saja.

SK ujian telah keluar, aku mendapat dosen penguji bapak R. Suharso. Sedikit lega, teman-teman juga ada yang menganggap aku akan menjadi orang beruntung ketika ujian nanti. Karena umumnya sudah tahu karakter beliau yang “mudah”. Beliau memang doyan mengkritik tapi sifatnya “dalam” tidak “pedas”. Artinya bahwa kritikannya memang terlampau kritis (dibanding dosen-dosen lain) tapi ia tidak menyakitkan. Tinggal yang ku takutkan adalah pak Ibnu Sodiq, beliau memang bukan ahlinya dalam skripsi berbau pendidikan, tapi ia juga suka mengkritik apa bila dosen penguji I sudah terlanjur mengkritik. Beda lagi jika dosen penguji 1 tidak mengkritik maka beliaupun juga tidak mengkritik (pengalaman saat menguji Harry). Sementara pak Karyono? Sudah dipastikan beliau tidak bisa ikut sidangku (ada kepentingan lain), kalau sudah begitu sudah tidak ada mesalah lagi untuk berurusan lagi dengan beliau.

Sehari menjelang ujian aku dibujuk Nanang untuk lebih baik tinggal di kosnya satu hari itu, daripada tetap di kontrakan ar[t]my. Meskipun aku juga bisa belajar dengan tenang di ar[t]my tapi aku tidak akan mendapatkan bumbu-bumbu motivasi dari kawan-kawan. Aku akan tetap dingin di ar[t]my, sementara jika aku tinggal di kosnya Nanang aku juga akan bertemu dengan Harry, Aris dan juga Marwan suasana akan lebih mendukung dan hangat.

Malam itu aku dinasehati Nanang, agar aku tidur lebih awal dan nanti bisa bangun subuh banyak berdoa dan menelfon orang tua pagi itu untuk meminta dukungan doan do’a restu. Malam juga sangat mendukung, sepi dan kawan-kawan juga menghormatiku tidur lebih awal. Tianggal ku rebahkan saja badan ini dan menarik selimut, namun masih saja ada secercah keresahan dalam pikiran ini untuk esok hari.
Penantian akan esok hari, membuatku tak bisa tidur.
Perasaan seperti berburu, bagaimana caranya aku tidur.
Misteri pagi hari esok, tak tahu apa yang kan ku dapatkan.
Hari yang mendung penuh guntur,
Ataukah kedamaian bukit berbunga di pegunungan Alpen.

Padamara, 4 Februari 2013


SK ujian skripsiku
SK ujian skripsiku

Wednesday, January 16, 2013

Dari Setanjung ke Kalimasada [Part 14]


Beda peradaban tentu beda kebiasaan. Sebelum kehilangan headset dan sebelum memiliki laptop di Dian Ratna selagi santai aku luangkan untuk mendengarkan radio sambil smsan dengan sosok lawan jenis. Semenjak memiliki laptop aku punya hobby baru suka hotspotan di kampus dikala malam. Kadang di depan jurusan Sos-ant, Gazebo Geografi dan Gazebo FE. Itulah titik segitiga yang paling sering aku singgahi. Pulang agak malam, dan lompat pagar besi setinggi 2 meter di belakang gedung C2. Jika pulang hingga dini hari terkadang juga harus lompat dinding pagar samping kos. Kudapati terakhir dini hari di Dian Ratna sudah begitu sunyi, semua aktivitas telah berhenti, yang terlihat bergerak hanyalah seekor kucing yang sedang mengendus-endus tempat sampah mencoba mengais rejeki. Setiap melewati koridor utama selalu mengingatkanku tiga setengah tahun silam zaman kegelapan Dian Ratna, kala itu dini hari disini adalah jam-jam ketika tikus-tikus kotor beraksi menyetel musik keras-keras sambil mabuk dan suka menggedor-gedor pintu anak-anak untuk memalak. Ah, semua sudah berlalu dan ini adalah akhir yang baik pemandangan terkhirku di Dian Ratna.

Gang Setanjung adalah gang paling pesat perkembangannya dibanding gang-gang lain di Unnes. Layaknya Jepang yang kecil namun amat maju. Setanjung adalah gang yang bisa dilewati hanya sepanjang 150 meter saja, selebihnya adalah jalan off-road atau shortcut. Biar pendek tapi cukup padat. Beberapa orang di Setanjung telah hafal dengan seleraku sebagai konsumen. Toko Wardjo adalah toko pensuplai roti yang baik dan murah bagiku, dulu disini adalah wartel tapi bisnis itu sudah digulung tikar dan menjadikannya menjadi 100% minimarket. Bapak kasir di toko Dinasty hafal kalau aku adalah konsumen yang rajin sekali mencari mie instant, camilan kedelai oven dan susu sachetan. Ibu Kiss lebih hafal lagi, karena aku adalah pelanggan setianya selama 2 setengah tahun untuk membeli rames atau lauknya saja. Selebihnya satu semester sering pula membeli rendang dan lele goreng ke warung Masakan Padang, Setanjung depan.

Untuk mengatasi kebosanan rasa masakan, seringkali aku juga mampir ke WM Pati. Pemiliknya mungkin berasal dari Kabupaten Pati, atau bisa saja mereka dari luar Pati tapi berhasil mencuri dan menjiplak masakan khas Pati. Karena aku juga sering mendapati hal yang tidak sinkron seperti mengatasnamakan “Warteg” tapi penjualnya berasal dari Brebes atau Randudongkal, membuat warung Masakan Padang ternyata penjualnya berasal dari Semarang saja. Kondisi WM Pati sederhana. Aku memang tak terlalu sering kesini, namun acap kali aku mendapati salah satu pelayannya memang terlihat berbeda, cantik maksudku.

Pendiam sungguh bahkan lebih pendiam dari aku, tapi geraknya cepat ketika melayani pembeli. Putih, rambut hitam lurus diikat kuncir ekor kuda. Ibunya sama putih. Juga adiknya, matanya kudup mirip orang Korea. Mereka seperti keturunan suku bangsa Ainu (Jepang), mungkinkah nenek moyang mereka orang Jepang?. Tak pernah aku cari tahu, bahkan berkenalanpun tidak. Dan satu semester beralih di WM bu Issah, terkenal mahal, tapi kualitas maasakannya bagus.

Mulai tanggal 14 Juli aku sudah tak lagi mengakui Dian Ratna sebagai tempat tinggalku. Ekosistem di seluruh gang setanjung akan mengatakan padaku begitu teganya aku mudah meninggalkan mereka tanpa menangisi perpisahan terlebih dahulu. Berpisah dengan sejarah yang ku rajut sendiri disana. Suatu hari aku ingin meninggalkan sesuatu dalam kamar no.42 milikku sebagai kenang-kenangan, cukup deretan huruf ambigram bertuliskan “Illuminati”. Ku tulis di lemari menggunakan cat Pyloc. Masih jarang orang yang tahu tentang “Illuminati”. Aku harap lewat cap tulisan ini penghuni kamar no.42 kelak akan tahu bahwa kamar ini pernah dihuni oleh sosok pemuda yang juga sedikit tahu tentang cerita konspirasi New World Order.

Selain itu aku juga meninggalkan barang-barang lain yang tak berguna. Setumpuk instrumen penelitian skripsiku juga ku tinggal, tidak penting, karena skripsiku juga skripsi pragmatis yang ku buat asal selesai dengan cepat. Setumpuk skripsi bekas koreksian dosen pembimbing ku tinggal di lemari, kesal melihatnya, berapa ribu uang terbuang percuma karena suatu bagian skripsi yang salah. Sebuah sepatu Piero putih ku tinggal karena sudah rusak, tak peduli ia adalah artefak saksiku menginjak puncak Gunung Gede (TNGP Cianjur).

Hari-hari aku masih sering ke kampus untuk mengurus skripsi, tapi aku tak pernah lupa kalau pulangnya adalah ke Kalimasada tak lagi di Setanjung. Kebiasaanku pun banyak yang berubah. Sekarang tak perlu lagi melompat pagar dan sebagainya. Magnet telah berubah posisi, dan Dian Ratna sudah tidak terdeteksi lagi dalam radar otakku untuk menuntun jalan pulang. Sekarang yang ku tahu adalah Ar[t]my.

Hingga kuliah selama empat tahun aku masih seperti prajurit yang tak berkuda, aku adalah infanteri sejati, alias pejalan kaki. Untuk menuju jalan pulangpun tentu aku perlu mengenal semua jalan-jalan kecil di sekitar kontrakan sebagai shortcut agar tenaga dan waktu lebih efisien. Dari FIS menuju ar[t]my lebih panjang ketimbang dari FIS menuju Dian Ratna. Tapi dengan perjalanan yang cukup panjang ini aku jadi lebih banyak pula mengenal ekosistem selama perjalanan pulang. Ekosistem pertama adalah Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), aku jadi tahu betul tata gedung fakultas ini termasuk spot spot yang nyaman untuk surfing internet dengan menjala sinyal wifi. Musholanya pun sudah beberapa kali ku sujudi dan kamar mandinya sudah beberapa kali kukencingi. Padahal selama empat tahun silam 70% aku tak mengenal FIP. FIP adalah perlintasan pertama untuk menuju jalan pulang, belakangnya masih ada jalan hanya saja berupa sebuah pematang sawah. Ya memang aneh mungkin ini satu-satunya sawah yang masih bisa bertahan di Desa Sekaran ini, tepat berada di belakang megaproyek gedung Parkir Unnes.

Pematang tak lebih dari sepuluh meter panjangnya diakhiri oleh titian kayu diatas parit alam, parit yang sudah sangat bau tercemar limbah rumah tangga. Aku memasuki peradaban baru yaitu sebuah delta yang mempertemukan gang Goda dengan gang Cokro. Dalam pertigaan ini terdapat koskosan cewek yang cukup megah bertingkat. Setidaknya ketika malam suasananya lebih menyemarakkan sawah yang ada di depannya. Air sawahnya memantulkan barisan lampu kos tersebut sehingga tampak seperti samudera malam yang memantulkan cahaya dari lampu-lampu kapal Titanic melintas. Kala dinihari suasana tak berbeda, hanya saja lebih sepi tinggal jemuran-jemuran bergelantungan yang bergerak karena diterpa angin malam.
Tak jarang aku pulang malam, bahkan larut. Hanya kelelawar dan burung hantu saja yang mampu melihat detail gerak langkahku. Dan rembulan yang terang terlihat terus mengikutiku. Kedatanganku bahkan seringkali menggangu kawanan katak yang sedang asik mencari pasangan di malam hari. Mereka bertebaran di tengah jalan ini. Tembusan gang Cokro menuju gang Kalimasada bukanlah jalan yang gelap. Masih banyak pemukiman hanya saja masih terlihat sejuk ketika di siang hari. Dari sisi kanan masih terdengar gemericik air, ia tak tampak karena berada di bawah jurang yang tepinya rindang ditumbuhi hutan bambu. Terus melangkah hingga tiba di suatu perempatan dan disinilah ar[t]my berada.
Tempat untuk melepas segala rasa capekku. Setiap hendak tidur, aku selalu mengevaluasi tentang apa saja yang telah terjadi di hari ini. Baru terpejam, rasa penasaran menghatuiku tentang hari esok. Ada banyak hal yang belum aku lewati saat itu, satu hal yang membuatku risau dalah UJIAN SKRIPSI.