Ekspedisi Sejarah Indonesia (Exsara)

Exsara merupakan organisasi terbesar di Jurusan Sejarah Unnes. Aku dirikan bersama teman-teman jurusan sejarah Unnes angkatan 2008. Mereka semakin maju

Catatan Hidupku

Aku sangat suka menulis. Termasuk membuat catatan hidupku. Biar nanti aku mati, tapi pikiranku seolah terus hidup sampai anak cucuku

Petualangan Hidup

Setiap hidup, pasti menyempatkan berkunjung ke tempat unik, berkenalan dengan orang baru. Semua itu akan mendidik kita jadi manusia besar

Sejarah Nasional dan Dunia

Basis pendidikanku Sejarah. Aku sangat menyukai kisah masa lalu. Ada yang kuanggap sebagai sastra ada yang kuanggap sebagai guru kehidupan

Pola Hidup Sehat

Sejak SMP aku sudah punya bakat pemerhati gizi. Aku sangat mencintai pola hidup sehat. Tanpa kita sehat, semua yang kita miliki tak ada gunannya

Monday, March 11, 2013

Dari Setanjung ke Kalimasada [Part 17]


Tak ada urusan maka tak kenal. Ketika ada urusan maka saling kenal meski tak harus saling akrab. Begitulah sepertinya awal perkenalanku dengan sosol Muhammad “Aniq” Afif Fuddin. Sepanjang 4 tahun sebelumnya aku tak pernah mengenal siapa namanya meski teman seangkatan dan sering berjumpa. Yang ku tahu kami beda teman pergaulan juga beda prodi, dia dari prodi ilmu sejarah, sedang aku dari prodi pendidikan sejarah. Semanjak dulu aku kadang sesekali mengamati dia bahwa mukanya mirip sekali dengan Rapper legendais Amerika idolaku: Tupac Amaru Shakur (2Pac). Aku menjadi kenal dengannya cuma sebab satu hal kecil yaitu sama-sama berurusan dengan pak Karyono. Kami sama-sama anak bimbing pak Karyono dan ujian di hari yang sama. Saat itu urusan kami hanya soal sepele; “bagaimana caranya mengantar snack ujian ke tangan pak Karyono pada hari itu”. Hari itu Pak Karyono tidak menguji kami tapi setiap penguji baik yang hadir maupun tidak, wajib diberi snack yang telah dipesan oleh jurusan.

Siangnya Aniq hendak mengirimkan snack itu langsung ke rumahnya pak Karyono, aku hanya nitip saja. Tapi oleh suatu hal rencana itu gagal. Aniq menelfonku (entah dapat nomorku dari siapa), dia menawarkanku sebuah saran “bagaimana kalau kita beli snack yang baru lagi esok atau lusa ketika Pak Karyono hadir ke kampus, sementara snack yang ditangan ini dikonsumsi sendiri saja??” aku menyetujui saja dan dia bersedia menerima titipan pembelian snack nanti. Ketika suatu saat dia sudah di toko roti dia menelfonku “gan kamu titip roti yang serupa dengan snack jurusan atau yang beda”. “Aku pilih yang serupa” jawabku. Kalau yang serupa harganya Rp 12000 sementara Aniq memilih jenis roti yang berbeda dan lebih mahal yang harganya Rp 25000.

Usai sudah hari-hari tersulit dalam studiku disini. Sekarang aku sudah bisa mengendorkan dasi yang mencekikku selama sidang tadi. Beberapa teman hari itu menyalamiku, termasuk mas Banu. Aris mengantarkanku pulang ke Ar[t]my. Suasana sepi jadi tak ada yang menyambutku. Dari sekian anak kontrakan mungkin hanya mas Santo yang tahu kalau aku ujian hari itu. Langsung aku terkapar begitu saja di kamar

Esoknya Pak Karyono hadir, Aniq juga telah menyerahkan snack kami kepadanya. Hari itu kami ujian susulan, Aniq diuji pertama kali di ruang kerja pak Karyono kutunggu ternyata cukup lama. Aku jadi sedikit panik jangan-jangan Pak Karyono sedang menguji sungguh-sungguh. Jangan-jangan kenyataan berbeda dengan isu-isu yang beredar di kalangan teman-teman kalau Pak Karyono tidak akan menguji kalau ujian susulan. Aku belum belajar ulang seandainya hendak diuji sungguh-sungguh. Sedikit resah aku menyandarkan keningku ke jari-jariku. Menunggu di teras paling bersejarah di jurusan sejarah. Teras keresahan yang terbiasa untuk mematung mahasiswa-mahasiswa menunggu dosen hadir setelah perjanjian untuk bimbingan skripsi. Namun kali ini akulah yang sedang mematungkan diri berpose seperti patung filsuf paling terkenal karya Aguste Rodin.

Aniq keluar giliranku masuk. Sudah terpasang jas gagah parlente ditubuhku kemudian aku menyerahkan form penilaian dan berita acara. Langsung skripsiku dibukanya lembar perlembar, nampaknya tidak ada masalah dengan skripsiku oleh Pak Karyono. Kemudian ditunjuk satu kesalahan saja dalam skripsiku, dan itu sangat kecil yaitu singkatan SPSS yang lupa tidak ku beri kepanjangannya Statistic Programs for the Social Science, sepertinya sepele tapi bila tidak dicantumkan akan menyesatkan. Pak Karyono kemudian melontarkan satu pertanyaan yang membahagiakan. Bayangkan, pertanyaan ini bagiku mampu menekan hormon kortisol (penyebab stres) seketika dan kemampuan memproduksi hormon endorfinnya (hormon kebahagiaan) SETARA dengan pertanyaan jika seorang kekasih kita menanyakan “Apakah kau siap menikah denganku??” dengan pipi merona dan senyum menggoda. Yah Pak Karyono bertanya kepadaku “Apakah kau siap lulus??”. Dengan senyum terlebih dahulu kemudian aku menjawab “Ya siap paKK!” dengan nada logat mBanyumasan dimana melafalkan kata “pak” dengan huruf K sangat jelas.

Aku pikir memang setara antara pertanyaan “Apakah kau siap menikah denganku??” dengan “Apakah kau siap lulus??”. Aku sadar seandainya menjawab “Ya” dari pertanyaan itu akan membawa sebuah konsekuensi. Namun itu bukanlah konsekuensi buruk akan tetapi konsekuensi bahwa aku harus siap naik ke tangga atau babak baru dalam kehidupan, inilah yang membuatku senang.

Sore itu aku memilih pulang jalan kaki, melepaskan dasi. Aku melewati lapangan voli FIS dan berbelok ke trotoar tepi lapangan bola FE. Musim hujan belum jua datang, lapangan masih kering. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Mungkin hewan-hewan kecil tengah estivasi menyembunyikan diri dengan dormansi di bawah tanah menjaga kelembaban tubuhnya agar tidak pernah kehabisan cadangan airnya. Di seberang jalan bising desingan tukang bangunan dan alat berat yang tengah merampungkan bangunan megah bernilai puluhan milyar yang kelak aku tidak ikut turut menikmatinya. Debu beterbangan, namun langkahku tetap lurus menuju pertigaan REM FM bernaung sebentar di bawah pohon pinus kemudian menyebrang jalan dengan elegan. Lekuk demi lekuk jalan ku lawati dan aku tidak akan pernah lupa akan jalanan tadi Gang Goda, Gang Cokro, masuk ke Gang Kalimasada dan sampailah di ar[t]my.

Padamara, 11 maret 2013

Sunday, February 24, 2013

Dari Setanjung ke Kalimasada [Part 16]


Imsyak telah terlewat, dalam detik subuh aku menyatu ke dalam keEsaan-Nya, menyembah kepada Sang Penggawe Urip. Aku tak percaya Dewa apapun, juga Dewi Fortuna, karena mereka hanya hidup dalam bayang seni. Sang Penggawe Urip Lebih berhak atas segalanya untuk tempat berharap. Selama aku masih selalu dalam dekat-Nya, aku tak mengenal lagi apa itu “Hoki”. Bejo-Apes itu tak ada bedanya, sama dengan Sugih-Mlarat keduanya masih dalam ranah Ujian. Yang kuharap bahwa aku tidak akan menjadi pendusta atas apa yang telah diberikan-Nya nanti.

Aku bangkit menuju jendela depan, memegang gagang handphone dan menekan tombol Call pada nama kontak “Bapake”. Sejenak kubiarkan suara dengung sedang menyambung. Aku mencari secercah cahaya dari luar dengan membuka gorden. Suasana masih biru fajar, lekuk bukit-bukit pun belum terlihat jelas. Masih sunyi, puluhan pohon rambutan di depan kos masih tampak seperti gadis-gadis yang sedang melamun.

Handphone belum juga tersambung, membuatku sedikit melamun memandang ke luar. Beruntungnya aku melihat pemandangan seindah ini dalam keadaan tidak kedinginan. Kos tempat tinggal Nanang ini memang kuakui seperti sebuah villa mini di ujung gang Cempakasari timur. Pandangan lepas tak terhalang dinding, terlihat bukit-bukit yang belum tersentuh beton, dari bukit Banyumanik hingga bukit Ungaran, melingkar. Aku hangat bersama sahabat-sahabat yang telah membuat skenario dengan baik atas kepedulian kepadaku untuk persiapan menjelang ujian. Entah bagaimana jika aku masih di Dian-Ratna Setanjung, aku bisa bangun subuh dalam keadaan kesepian tak ada penyemangat hidup dan melihat pemandangan kos yang kumuh. Atau jika aku sedang di kontrakan Ar[t]my Kalimasada, seluruh orang di kontrakan tidak pernah tahu kalau hari itu aku akan ujian, mereka masih tidur.

Warna biru fajar itu menenangkan fikirku, karena masih menandakan jam-J ujianku masih lama. Biru fajar itu membuatku dari kejauhan seperti gerhana bulan parsial. Separuh tubuhku tampak tersinari cahaya dari jendela panjang itu, separuhnya lagi masih gelap gulita oleh ruangan. Suasana terlukis sebuah siluet dua warna: Biru dan Hitam.

Telfon tersambung, aku mengambil duduk di kursi terdekat.
“Haloo, Assalamu’alaikum. . . . .Mamak & Bapak sedang apa?”, sapa awalku. “Waalaikumsalam. Kami sedang mempersiapkan pagi, . . .bagaimana gan apa semua sudah dipersiapkan?, tanya mamakku.
 “Sudah Mak, aku sedang bersama kawan terbaikku tinggal di Jalan Cempakasari, akan lebih berat jika aku masih sendirian di Kalimasada. Jas hitam aku dipinjami Nanang disini, buku-buku referensi juga sudahku bawa. Masalah berangkat sudah tidak perlu khawatir Aris akan mengantarkanku meluncur ke kampus ribuan detik lebih awal dari tepat waktu”.  
“baguslah, waktu ujian sudah tidak diundur lagi seperti kemarin kan?”
“Tidak mak, hari ini sudah pasti. Hanya satu dosen yang takkan hadir. Tapi tenang, menurut pengalaman dosen yang itu tidak akan repot menyusul menguji. Hanya menerima form penilaian dan menandatangani berita acara”.
“Semoga sukses gan, kami semua mendo’akanmu”
“Ya mak, semoga diberi kelancaran, karena setelah ujian perjuanganku belum selesai. Terimakasih mak, aku segera bersiap-siap. Wasalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Seumur hidupku baru kali ini aku memakai pakaian khas pejabat negara. Hem putih dibalut jas hitam dan dasi merah yang flamboyan ku pinjam dari Anggoro. Tampil meyakinkan dan bergaya intelektual. Hanya dengan pakaian seperti ini, banyak hal yang berubah secara tiba-tiba dalam tingkahku: gaya berjalan sangat ideal seperti berjalan di catwalk, santai tapi meyakinkan, dada sedikit dibusungkan dan bahu diluruskan. Dalam kesempatan langka itu, aku sempat difoto oleh Nanang di salah satu sudut kamar. Itulah foto yang bersejarah bagiku, bagai foto seorang pilot Kamikaze Jepang sebelum detik-detik memberangkatkan pesawatnya untuk menabrakkan diri ke kapal milik Sekutu. Senyum-senyum pilu dalam foto itu detik-detik menjelang Jam-J ujianku. Alih-alih Nanang menyarankan agar foto itu diupload dijadikan sebagai foto profil buku wisudawan kelak. Namun urung mengcopy, urung mencetak foto itu Nanang sudah keburu pergi dikirim ke Aceh, sehingga foto itu belum sampai ke tanganku.

Tepat hari itu tanggal 1 Agustus 2012 atau tanggal 13 Ramadhan. Tanggal itu memang melenceng dari yang tertulis di SK Ujianku yang tertera tanggal 25 Juli 2012. Jadwal yang membias disebabkan setelah terjadi cerita tebal penuh perdebatan dalam rapat jurusan di kalangan dosen. Perdebatan itu memecah dua blok yaitu antara dosen yang idealis versus dosen pragmatis. Dosen pragmatis patuh pada peraturan universitas dan tetap ingin melaksanakan ujian sesuai dengan SK tak peduli betapa mepetnya waktu. Sementara dosen idealis menginginkan waktu tenggang dengan dalih ingin bisa mendalami skripsinya dulu baru bisa menguji. Kedua pengujiku antara pak Harso dan pak Sodiq adalah satu sekutu sebagai dosen idealis, sehingga aku menurut saja dengan jadwal yang ditentukan pada mereka.  

Ruang ujian terletak di C2. R108. Dulu ruang ini penuh kenangan bagiku saat KEMAS 2008 menjadi peserta dan KEMAS 2009, naik pangkat jadi panitia, antara menjadi mahasiswa yang digembleng menjadi mahasiswa penggembleng. Ruang ini dulu juga biasa digunakan sebagai tempat bentrok antara mahasiswa dengan dosen dalam dialog jurusan. Setiap akhir semester genap tempat ini menjadi ajang uji kebolehan mahasiswa paling pintar dari setiap kelasnya untuk menseminarkan hasil kerja Kajian Peninggalan Sejarah. Namun kenangan terakhirku dalam ruangan ini adalah saksiku ketika Micro-teaching sebelum diterjunkan saat  PPL. Itupun suasana ruangan sudah berubah total: ruangan yang cukup luas ini disekat menjadi dua dan dinding-dindingnya dilapisi dengan peredam suara dan cahaya menggunakan karpet warna abu-abu. Suasana menjadi sangat ekslusif mirip tempat rapat di sebuah perusahaan besar. Namun bagiku ketiadaan pemandangan luar dalam ruangan itu membuat terlihat pucat lebih sempit dan menegangkan. Seolah sebuah persegi itu hanya milik mata orang yang ada di ruangan saja.Aku dan Aris menyetting ruang ini sebagai ruang presentasiku. Dan Nanang menjadi relawan sebagai operator laptopku untuk menjalankan PPT yang telah q buat.

Waktu semakin dekat, namun aku tak gentar. Aku tak ingin mengecewakan saat ujian itu. Jauh berminggu-minggu semua tlah kupersiapkan, beberapa referensi kubaca termasuk buku Catatan Seorang Demonstran, juga telah mengkatamkan buku “Soe Hok-Gie sekali lagi” yang begitu tebal itu, buku-buku pendidikan, jurnal-jurnal ilmiah, rumus-rumus statistik, langkah langkah menggunakan software SPSS tak luput. Bahkan buku-buku MS Excel dan PowerPoint juga kupelajari.

Pak Sodiq akhirnya datang, Pak Harso sudah menunggu di kantor dan mereka akhirnya duduk di hadapanku di R.108. Pak Harso tampil standar-standar saja, meskipun sudah tergolong tua namun aura-aura seorang pujangga sastrawan sekaligus kritikus masih sangat kental. Sedangkan pak Sodiq menggunakan jas abu-abu tampil kalis dan percaya diri sekali sepertinya jas itu memang tidak terlihat kaku dipakainya karena beliau memang seorang Konglomerat, sedikit keturunan ningrat, kritikus politik, sekaligus seorang kyai berpemikiran Islam Ortodoks (Muhammadiyah) namun juga kadang menyukai sepak terjang orang-orang Islam Fundamentalis di Timur-Tengah sana.

Tak pernah disangka, bahkan tatapan mata merekapun tidak dapat kubaca ternyata Pak Harso menginginkanku presentasi hanya 5 menit. Cukup menyentak fikirku tuk bertanya dalam benak “ada apa ini? Umumnya mahasiswa dipersilahkan untuk presentasi selama 10-15 menitan, tapi aku?”. Ah iya, sambil aku presentasi kilat itu tapi aku juga telah menemukan jawabannya: Umumnya dosen-dosen sudah super bosan melihat mahasiswa presentasi yang pembawaanya sambil membaca lagipula nadanya datar lagi sehingga mereka tidak ingin momen menjenuhkan ini terlalu panjang.

Ada rasa kecewaku tentang pemotongan waktu ini. Bukan hendak aku ingin sok brilian saat presentasi, tapi aku sadar bahwa bagiku skripsiku ini isinya tidak akan begitu berharga kelak atau pantas dinilai kecil, sehingga aku akan membuat sebuah tipu daya kepada dosen-dosen agar terpesona melihat Powerpoint yang telah ku buat itu. Karena aku sangat yakin bahwa garapan powerpointku sangat menakjubkan, aku bahkan memuji diri sendiri bahwa ini adalah powerpoint terbaik yang pernah ku lihat selama empat tahun di kampus, bahkan lebih bagus daripada yang dibuat oleh para “tukang”. (bisa didownload di blogku). Aku mempelajari ppt selama seminggu, bahkan aku juga sempat mempelajari macromediaflash player untuk lebih memodifikasi.

Apa boleh buat aku seperti anak kecil yang iseng berkarya tapi tak diperhatikan orang tua. Pemotongan waktu juga telah membuatku yang telah mempersiapkan penjelasan cukup lengkap menjadi terpotong-potong tidak jelas seperti sedang mengraji dengan gergaji tumpul, tersendat-sendat. Pak Harso sempat melirik slide ku tapi hanya beberapa detik saja, sisanya dia sedang membolak-balik copy skripsiku mencari-cari kelemahan. Sementara pak Sodiq cukup memperhatikan, sayangnya ia adalah komentator nomor dua disini.

Tipu dayaku gagal total, sudah, dan senjata ke duaku adalah survival. Survival dalam strategi sepak bola dikenal dengan strategi Defensive. Begitu juga dalam ilmu perang, “Defensive” ini adalah sebuah kesadaran akan kekalahan dari berbagai lini, tapi ia harus mempertahankan sampai titik penghabisan. Teknik survival inipun terbukti berhasil karena kritikan-kritikan dari mereka tidak membuatku tewas atau menurunkan mental. Meskipun aku tahu apa yang mereka kritikan itu cukup benar dan aku setuju tapi yang bisa kulakukan dalam strategi defensive adalah “mengeyel” atau mempertahankan pendapat, dan aku juga tahu bahwa aku sedang mengeyelkan sesuatu yang salah. Sehingga rasanya serba salah, seperti aku ikut menjadi crusader (tentara salib) memerangi umat muslim padahal aku sendiri seorang islam. Ah tapi tidak dink justru “mengeyel” adalah sesuatu yang paling diinginkan dari dosen penguji, karena jika tidak mengeyel kita akan dicap sebagai tentara yang lemah. “Mengeyel” dalam ujian skripsi ini bagiku cukup menyimpan banyak harapan: Pertama aku berharap semoga aku seperti serdadu Jepang yang sedang memepertahankan Pulau Iwo Jima dari Amerika yang meskipun kalah tapi itu menjadi perang terberat orang Amerika. Kedua, syukur syukur aku bisa seperti revolusioner komunis Kuba, Fidel Castro yang hanya memiliki 280 laskar namun justru menang melawan rejim Batista yang sebanyak 10.000 laskar.

Aku ingat kritikan-kritikan dari mereka dan kemudian kujadikan quotes di otakku ini. Pak Harso sempat beranalogi begini “Ibaratnya skripsimu ini seperti mencoba mengobati kanker menggunakan Paramex Gan. . . . .”, dan aku mengeyel “ya betul pak tapi kan yang ini gak ada efek sampingnya pak. . . .”.

Ada lagi dari pak Harso, “Para pejabat yang koruptor itu juga orang-orang yang rajin upacara, jadi upacara tidak bisa dijadikan indikasi nasionalisme”, ungkap pak Harso. “Wah di skripsi saya itu kan gak mencantumkan upacara pak” eyelanku datar. Rupanya pak Harso tidak membaca skripsiku secara komperhensif dan mengira skripsiku seperti skripsi skripsi nasionalisme yang lain. Jadi waktu itu apa gunannya ujianku diundur yang konon alasannya untuk membaca skripsiku dulu?. Apalagi memang betul setelah ku buka lagi file skripsiku melalui MS Word kemudian ku tekan tombol Ctrl+F ternyata memang tidak ada satupun kata “Upacara” dalam skripsiku. Bukanya merasa tidak adil tapi aku justru benar-benar bangga beliau mengkritik skripsiku sedalam ini (meski salah sangka), pasalnya skripsinya Nanang yang dipuji oleh Prof. Wasino atau skripsinya Nadia yang dipuji Bu Ufi keduanya sama-sama bertemakan nasionalisme tapi mereka tetap mencantumkan rajin “Upacara” sebagai indikasi nasionalisme.  

Satu lagi quotes yang ku ingat, dari Pak Sodiq “Hanya ada satu kata untuk meningkatkan nasionalisme: PERANG !!!!”. Aku dan seluruh audienspun tertawa mendengar ungkapan ini. Aku tertawa sambil mengangguk-angguk dan tidak mengeyelnya karena sudah jelas ini bukan bagian dari kritikan untukku, atau mungkin beliau sedang membuat semacam joke.Ketika beliau berseru kata “PERANG!” otakku langsung pergi ke Afghanistan-Pakistan teringat akan Taliban yang memang hobby perang disana, dan pak Sodiq adalah salah satu fans Islam Fundamentalis macam Taliban. Untung saja pak Karyono sedang tidak ikut menguji disini, pasalnya kalo ia sebagai umat Katholik mendengar kata-kata pak Sodiq itu tadi, ia jadi tambah percaya bahwa Islam adalah agama Perang. Apalagi Pak Sodiq adalah seorang kyai, pak Karyono bisa-bisa tambah mengakui eksistensi Islamofobia.

Sesuatu yang sebenarnya tidak kumaksudkan untuk tipu daya tapi mereka malah menganggapnya sebagai tipu daya yaitu metode kuantitatifku. Aku pikir memang penelitian survei pantas-pantas saja menggunakan kuantitatif. Tapi mereka menganggap ada yang salah jika nasionalisme bisa diukur dengan angka. Kuakui memang kurang tepat, tapi aku memang waktu itu sudah terlanjur mendalami metode kuantitatif jadi biar bagaimanapun juga aku ingin mempertahankannya. Aku sudah siap seandainya mereka menanyakan suatu rumus di skripsiku, di luar dugaan mereka malah tidak membahasnya satupun. Pak Harso, beliau adalah dosen mata kuliah Metode Penelitian Pendidikan seharusnya bisa saja dia menyentilku dengan pengetahuan rumus-rumusnya. Tapi sayangnya pak Harso adalah generasi lama, sehingga mungkin beliau masih mengusung rumus-rumus telanjang manual ala yang ditulis Prof Suharsimi Arikunto atau Prof Dewanto. Sementara skripsiku sudah menggunakan teknologi SPSS dimana aku dapat mengetahui hasil beserta nilai residualnya tanpa menulis rumus dalam keakuratan yang sangat tinggi dalam waktu satu detik. Tinggal kita membaca angka-angka isyarat yang telah tertulis di tabel.

Semenjak kecil aku memang benci hitung-hitungan matematika. Ketika SD aku seringkali dimarahi ibuku ketika aku sering sekali mendapat nilai matematikanya berupa tongkat (1), cawang (2), kuntul (3) atau kursi (4). Namun soal skripsi aku memberanikan diri mengambil mahzab kauntitatif setelah mengerti SPSS selain irit halaman isinya juga lebih minim omong kosong ketimbang skripsi-skripsi bermahzab kualitatif. SPSS adalah cara yang sangat instant, aku senang mempelajarinya kemudian berkembang dalam pikirku sebagai seorang sejarawan kuprediksikan suatu saat ilmu matematika pasti akan musnah di muka bumi ini. Beberapa software ciptaan manusia akan menggantikan matematika menjadi alat yang begitu mudah macam SPSS, menghitung tanpa menulis rumus, menghitung tanpa membuat coretan rincian. Anak kecil tidak lagi diajari menghitung tapi diajari mengoperasikan software.

 Pak Sodiq yang gelar sarjanannya maupun gelar magisternya adalah ilmu sejarah murni. Sudah pasti beliau tidak berani mengungkit-ungkit rumus-rumus yang kupakai. Karena biar bagaimanapun manusia telah diharamkan Tuhannya untuk tidak sok yes mengkritik atau mengajarkan sesuatu yang tidak ia kuasai.

Ujian terasa cepat dan hampir berakhir, karena hanya ada 2 orang penguji. Tinggal pada fase antiklimaks, Pak Harso sedikit memuji, biar skripsiku metodenya kurang tepat tapi susunannya sudah cukup baik dan rapi. Revisinya hanya satu hal saja perbaiki bagian “pendahuluan” disesuaikan lagi dengan karakter pendahuluan ala penelitian Ex-Post Facto. Pak Sodiq mengikut saja dengan pak Harso meski wajahnya masih tergambar belumbombong.

Aku dipersilahkan meninggalkan ruangan. Mereka mendiskusikan nilai. Nilai tidak diumumkan langsung mereka hanya memberitahuku bahwa aku seperti yang lain “Lulus” dengan syarat menyelesaikan revisi. Hari itu terasa lebih lega. Gunung yang ganas seolah berhenti bererupsi pada hari itu. Luluh lantah kerusakan ada dimana-mana. Tapi aku cukup senang mereka mengujiku dengan sangat kritis tidak seperti penguji-penguji lain yang pernah ku lihat. Semoga mereka sadar akan kerusakan-kerusakan itu, selain ada pada skripsiku, skripsi-skripsi garapan mahasiswa program studi pendidikan yang lainpun banyak yang berisi bullshit dan manipulasi data. Akupun merasa ikut menjadi korban didalamnya, tidak lain semuanya tersirat makna protes. Tidak seharusnya mahasiswa jurusan sejarah prodi pendidikan dikekang hanya boleh membuat skripsi tentang pendidikan, tatapi biarkanlah ia lepas bersama kupu-kupu pemikirannya menghisap juga madu-madu ilmu sejarah.

Meskipun skripsiku tentang pendidikan kurang baik tapi beberapa para pejabat di jurusan juga sudah tahu bahwa aku pernah membuat sebuah karya tulisan sejarah yang diterima pihak Dikti (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi) dan dipajang di jurnal ilmiah nasional. Semoga semua akan tersimpul bahwa aku secara pribadi bukanlah sosok yang berbakat dalam hal pendidikan, guru ataupun pengajar tapi aku adalah sosok yang spesial dalam hal mengabadikan sebuah peristiwa. Dan catatan “Dari Setanjung ke Kalimasada” adalah sepicis bukti.

Padamara, 24 Februari 2013

Monday, February 4, 2013

Dari Setanjung ke Kalimasada [Part 15]


Tibalah pada suatu saat ketika kuliah selama empat tahunku dipertaruhkan dalam satu hari itu. Hari yang paling dinantikan bagi mereka yang telah mencukupi SKS untuk lulus. Apalagi bagi para mahasiswa yang ndongklakmoment ini ibarat telah memegang kunci untuk lolos dari penjara. Namun bagi mahasiswa yang telah memenuhi syarat, momen ini akan terkesan seperti mendekati hari-hari untuk disunat, mendebarkan. Satu sisi akan merasa keharusan kerja keras bahkan siap-siap mental tuk disakiti namun setelah itu akan menemui hal yang luar biasa lega. Yah, hari itu adalah UJIAN SKRIPSI.

Kerja keras selama empat tahun akan dipertanggungjawabkan melalui segepok tumpukan kertas seratus lebih halaman. Tumpukan kertas itu telah melewati filter pahit manisnya semasa dibimbing, peluh dan mungkin rasa keterpaksaan dalam penelitian. Ya memang terpaksa, paradigma dewasa ini memang tak seperti sepuluh tahun silam dimana dosen sangat tegas meminta mahasiswa lulus di waktu yang tepat, bukan tepat waktu, artinya karyanya memang harus berbobot, kalo belum berbobot ya lulusnya nanti dulu. Jadi jaman sekarang tentu berbeda dengan yang diucapkan Amien Rais tentang reformasi 1998 yaitu “Melangkah karena dipaksa sejarah”, melangkah karena memang sudah saatnya kita menggebrak menciptakan sejarah baru. Sedangkan mahasiswa sekarang paradigmanya “Melangkah karena aji mumpung”. Instant, cepat, rakus.

Banyak ku rasakan atmosfer aji mumpung di akhir aku kuliah disini. Beberapa ada yang bisa menyelesaikan skripsi selama 3 bulan saja, pasca KKN hingga wisuda april. Juga ada yang menyerahkan BAB IV dan V nya kepada “tukang”. Memanipulasi data dan merekayasanya sekiranya bernilai “Korelatif” jadi tidak perlu penelitian ulang. Penelitian eksperimen di sekolahan dilaksanakan satu hari saja, hemat waktu. Sekali bimbingan langsung acc, sekali bimbingan langsung acc. Mahasiswa yang buru-buru meminta tanda tangan siap diujikan, wadul karo wong tuwa. Hari ini menyerahkan SK Ujian dua hari berselang dosen penguji ya mau-mau saja diajak untuk ujian tanpa perlu mempelajari skripsinya dulu. Ujian hanya 15 menit saja, dalihnya karyanya jelek tak sudi menguji tapi anehnya diberi nilai A. Ada yang ujian cukup revisi tata tulis saja. Semua ini adalah tanda, bahwa antara mahasiswa dengan dosen mengakui perlu adanya hubungan mutualisme didalamnya. Mahasiswa yang ingin cepat-cepat lulus, dosen juga memudahkan acc dengan begitu pekerjaanya jadi lebih ringan. Isu bertambahnya mahasiswa baru th 2012 maka universitas juga harus mewisuda banyak pula, jika tidak maka sistem sudah bagaikan orang menahan nafas, memasukan tanpa mengeluarkan, mustahil. Jadi jangan khawatir, dijamin pasti mudah mencari lulus.

Sebelum ujian seringkali rasa takut mulai mengental. Namun bagiku masih ada waktu tuk mengatasi viskositas ketakutan yang begitu tinggi ini. Aku tak ingin terburu-buru, bahkan mulur dari jadwal SK pun tak masalah yang penting aku siap, dosen siap. Jauh dari masa tanggang ini aku mencermati kawan-kawan yang tengah disidang termasuk kakak semester. Sungguh tak menentu, kadang aku lihat  ada yang tak serumit yang dibayangkan, menjawab sederet pertanyaan tanpa perlu didebat, habis itu sudah tinggal revisi tata tulis. Ada yang sidang bukannya menegangkan tetapi malah penuh guyon, seperti sidangnya Harry yg diuji oleh Pak Arif, Pak Cahyo dan pak Sodiq. Sama halnya dengan nasib Nanang kala diuji hampir semua pertanyaan dari dosen penguji malah dijawab oleh dosen pembimbingnya.

Keberuntungan orang memang berbeda-beda. Entah apa yang menjadi faktor. Antara azab ataukah cobaan, kita tidak bisa mendiagnosanya. Tapi keduanya justru bagus, karena sama-sama menekan kita untuk menjadi orang yang bertobat. Kisahnya memang seperti tidak mulus, beberapa teman-temanku ada yang harus menerima kritikan sadis dari dosen penguji, tidak bisa mendebatnya. Hanya bersikap pasif, atau dalam bahasa mbanyumasan tiba-tiba mahasiswa tersebut menjadi “Lengob”. Gerakanya mencerminkan seperti orang sakit, suaranya meredup sedikit gemetar. Telinganya semakin sakit. Kritikan yang terus menekan bagai tertusuk tusuk ribuan peluru dari senapan serbu macam AK-47. Terbeban rasa malu apa lagi jika disaksikan audiens banyak. Seolah peristiwa tadi adalah aibnya.

Melihat mereka semua, membuatku semakin mempersiapkan mental untuk keadaan yang paling buruk sekalipun. Apakah nanti, suasana ujian akan indah seperti bukit berbunga ataukah seperti gedung-gedung yang runtuh berlangit gelap dan penuh halilintar. Kita tawakal saja.

SK ujian telah keluar, aku mendapat dosen penguji bapak R. Suharso. Sedikit lega, teman-teman juga ada yang menganggap aku akan menjadi orang beruntung ketika ujian nanti. Karena umumnya sudah tahu karakter beliau yang “mudah”. Beliau memang doyan mengkritik tapi sifatnya “dalam” tidak “pedas”. Artinya bahwa kritikannya memang terlampau kritis (dibanding dosen-dosen lain) tapi ia tidak menyakitkan. Tinggal yang ku takutkan adalah pak Ibnu Sodiq, beliau memang bukan ahlinya dalam skripsi berbau pendidikan, tapi ia juga suka mengkritik apa bila dosen penguji I sudah terlanjur mengkritik. Beda lagi jika dosen penguji 1 tidak mengkritik maka beliaupun juga tidak mengkritik (pengalaman saat menguji Harry). Sementara pak Karyono? Sudah dipastikan beliau tidak bisa ikut sidangku (ada kepentingan lain), kalau sudah begitu sudah tidak ada mesalah lagi untuk berurusan lagi dengan beliau.

Sehari menjelang ujian aku dibujuk Nanang untuk lebih baik tinggal di kosnya satu hari itu, daripada tetap di kontrakan ar[t]my. Meskipun aku juga bisa belajar dengan tenang di ar[t]my tapi aku tidak akan mendapatkan bumbu-bumbu motivasi dari kawan-kawan. Aku akan tetap dingin di ar[t]my, sementara jika aku tinggal di kosnya Nanang aku juga akan bertemu dengan Harry, Aris dan juga Marwan suasana akan lebih mendukung dan hangat.

Malam itu aku dinasehati Nanang, agar aku tidur lebih awal dan nanti bisa bangun subuh banyak berdoa dan menelfon orang tua pagi itu untuk meminta dukungan doan do’a restu. Malam juga sangat mendukung, sepi dan kawan-kawan juga menghormatiku tidur lebih awal. Tianggal ku rebahkan saja badan ini dan menarik selimut, namun masih saja ada secercah keresahan dalam pikiran ini untuk esok hari.
Penantian akan esok hari, membuatku tak bisa tidur.
Perasaan seperti berburu, bagaimana caranya aku tidur.
Misteri pagi hari esok, tak tahu apa yang kan ku dapatkan.
Hari yang mendung penuh guntur,
Ataukah kedamaian bukit berbunga di pegunungan Alpen.

Padamara, 4 Februari 2013


SK ujian skripsiku
SK ujian skripsiku