Ekspedisi Sejarah Indonesia (Exsara)

Exsara merupakan organisasi terbesar di Jurusan Sejarah Unnes. Aku dirikan bersama teman-teman jurusan sejarah Unnes angkatan 2008. Mereka semakin maju

Catatan Hidupku

Aku sangat suka menulis. Termasuk membuat catatan hidupku. Biar nanti aku mati, tapi pikiranku seolah terus hidup sampai anak cucuku

Petualangan Hidup

Setiap hidup, pasti menyempatkan berkunjung ke tempat unik, berkenalan dengan orang baru. Semua itu akan mendidik kita jadi manusia besar

Sejarah Nasional dan Dunia

Basis pendidikanku Sejarah. Aku sangat menyukai kisah masa lalu. Ada yang kuanggap sebagai sastra ada yang kuanggap sebagai guru kehidupan

Pola Hidup Sehat

Sejak SMP aku sudah punya bakat pemerhati gizi. Aku sangat mencintai pola hidup sehat. Tanpa kita sehat, semua yang kita miliki tak ada gunannya

Wednesday, June 12, 2013

Dari Setanjung ke Kalimasada [Part 22]


Menghindari tarif lebaran aku berangkat lagi ke Semarang H+8. Pagi benar aku menghadang bus disebuah halte ilegal di tepi jalan menuju Kalikabong. Tapi menurutku ini lebih baik daripada menghadang bus di timur patung Jend. Sudirman dekat terminal Purbalingga, dan itu adalah hal bodoh yang pernah kulihat mereka manaikkan dan menurunkan penumpang di tepi traffic light.

Aku terus menunggu duduk di tepi jalan dan kerap kali masih ditemani bapakku. Pandanganku terlepas pada ratusan bahkan ribuan Prawan Pabrik berkendara menuju industrinya masing-masing. Kecantikan dan pesona mereka tidak kalah dengan mahasiswi yang pernah ku lihat di kampus, bahkan menurutku mereka lebih sederhana atau nrimoandengan menaiki minibus, angkot atau motor yang agak ketinggalan jaman. Kawasan Kalikabong – Mewek hingga Kedungmenjangan adalah kawasan Industri di Purbalingga. Tepikir betapa hebatnya angka pengangguran yang ada di Purbalingga jika investor Korea Selatan tidak menanamkannya disini. PT. Indo-Kores, BooYang, Yuro, BMT, Sung-Cang, Sung-Shim, Sin-Han, Interwork, dll  mereka banyak menghidupi kami jarang ada yang berdemonstrasi menuntut kenaikan gaji, kecuali soal asosial dan ketidak adilan penetapan tarif lembur.
 Lamunan semua itu pecah kala bus Maju Makmur datang dan petualangan ke Semarangpun dimulai. Penumpang tampan, penumpang cantik, penumpang kaya, penumpang miskin, penumpang manja ada dalam satu bus yang tergolong pernah mewah di tahun 90an ini. Jarang ada bus Patas untuk rute Purwokerto-Semarang via Wonosobo. Meskipun ada namun tidak bisa adu balap cepat dengan bis ekonomi karena jalan berliku dan sempit.

Maju Makmur: Armada Bus Sederhana Purwokerto - Semarang
Maju Makmur: Armada Bus Sederhana Purwokerto - Semarang


Kadang aku hafal dimana dan orang seperti apa pengamen yang datang. Dari empat tahun silam pertama ke Semarang hingga kini wajah-wajah mereka tetap. Di sekitar Mrican Banjarnegara pengamen yang datang adalah pemuda berkulit gelap dan berkuncir agak panjang bertampang preman, lagu-lagu yang sering dinyanyikan adalah tembang campursari, atau entah lagu apa tapi berbahasa mbanyumasan. Antara tampang dengan lagu, benar-benar tak cocok.

Ketika bus berhenti lama di alun-alun Wonosobo, pengamennya adalah sosok tunanetra tapi bisa bermain gitar, menekan chord nya pun tidak pernah salah, aneh memang. Ia juga punya asisten yang fungsinya sebagai penuntun arah. Kadang jika tak dikasih ia suka menyindir.

Ada lagi pengamen wanita masih agak muda, seksi pula, yang sudah berpoles kosmetik bermodalkan microphone yang disambungkan minitape dan speaker bertenaga accu dibungkus dalam kotak kayu berukuran 30x30x30 Cm. Memutar lagu-lagu karaoke. Teknologinya memang ketinggalan jaman, suaranya cukup keras tapi kualitas kejernihan audionya masih sekelas format (.amr). Satu lagi pengamen yang nampaknya ia memang asli Wonosobo dan juga paling sering muncul di alun-alun Wonosobo ini. Kulit dan potongan rambutnya garang, tapi mukanya kalem. Alat musiknya adalah gitar listrik bikinan sendiri dari kayu mungkin juga menggunakan tenaga accu speakernya entah ditaruh sebalah mana yang jelas gitarnya sudah bisa mengeluarkan suara elektik, lengkap dengan microphone kecil yang mencongok mengarah ke bibirnya, sehingga pengamen yang satu ini cukup menarik perhatian. Hanya saja mungkin dia Cuma hafal satu lagu itu saja, yang kurang lebih liriknya begini: “kau, slalu jaga hatiku . . . . saat aku kembaliii”   

Ketimur sedikit lagi, tepatnya di terminal Mandala Wonosobo. Yang masuk adalah pengamen bapak kurus berkisar 50 tahunan. Berkacamata bulat mengenakan topi diputar ke belakang, kancing baju paling atas biasanya dibuka sehingga dada kerempengnya cukup kelihatan. Umumnya pengamen lain menggunakan alat musik Gitar, atau Ukulele alias Kencrung namun dia menggunakan Guitarlele. Cara memainkannya pun cukup kukagumi, karena dia menggabungkan 2 metode bermain gitar yaitu Chord dan Fingerstyle. Apalagi ketika kumelihatnya sedang fingerstyle, jarinya menari-nari menekan string bak permainan gitar ala Carlos Santana atau Antonio Banderas pokonya lah. Tapi sayang sungguh disayangkan. Lagu-lagu yang ia nyanyikan hanya lagu dangdut saja, terutama lagunya Bang Haji. Seandainya saja dia bisa cukup berakustik dengan fingerstyle nya untuk lagunya Richard Marx – Right here waiting, atau More than word nya Westlife pastilah ku kasih Rp2000 lah untuk dia.

Di Tamanggung hampir-hampir tidak ada pengamen. Meskipun ada tapi ia bukan pengamen langganan yang tetap dan khas seperti pengamen-pengamen diatas. Biasanya adalah pengamen yang asal masuk saja karena ada kesempatan.

Begitu juga di terminal Bawen kab. Semarang, pengamennya tidak bisa dihafalkan karena terus berganti-ganti. Menurutku terminal Bawen memang gudangnya para pengamen, karena Bawen lokasinya cukup strategis berada di pertigaan besar, simpang Utara menuju Kota semarang dan kota-kota di Pantura, sementara ke selatan adalah arah menuju Solo sedangkan simpang ke barat adalah jalan menuju Jogja dan Purwokerto. Namun yang unik dari pengamen-pengamen di Bawen ini adalah semacam ada lagu khas atau mungkin lagu wajib. Hampir dipastikan pengamen disini pasti menyanikan lagu itu. Aku tak tahu judulnya apa tapi aku hafal sedikit potongan liriknya, seperti ini:
. . . . . . . Rodo papat rupo menungso, jujugane omah tuwo,
Tanpo lawang tanpo jendelo, tanpo bantal tanpo kloso,
Ditutupi anjang-anjang, siramane banyu kembang,
Tonggo tonggo podo nyawang, podo nangis koyo wong nembang,
Sing neng ngomah rebutan warisan, direwangi paten-patenan.
. . . . . . tondo-tondone wong pelit, wong ngamal wae yo ora tau.
paribasan weruh pengamen, lha koq deweke etok-etok turu
eto-etok turu, ben duwite ora metu. Dst

Perjalanan selama 200 Km itu tidak selesai hanya keluar dari pintu bus, masih harus naik angkutan umum warna hijau yang biasa berkoloni di pojok luar terminal Ungaran. Paling sering mayoritas penumpangnya adalah mahasiswi, semuanya juga tidak pernah kukenal. Jadinya saling diam, saling lempar pandang. Atau minimal kadang melihat Kirana, atau Kristin.

Suasana capek dan panas belum berhenti menyiksa, karena kami harus mengetem atau menunggu hingga angkutan penuh penumpang, kira-kira selama 30 menit. Bagiku mengetem mungkin berasal dari kata inggris: steam, yang artinya “dikukus”, karena ketika mengetem kami serasa sedang dikukus, keringat semua penumpang mengucur. Inilah spa alami. Bau parfum berubah menjadi bau ketek. Yang tidak pakai parfum baunya berubah menjadi bau kain kafan yang telah terkubur bersama jenazah selama 1 tahun. Ingin muntah rasanya.

Penumpang laki-laki paling sering mengalah ditempatkan di tepi pintu, dimana ketika sedang berada di tikungan, kocokan penumpang menekan ke arah ke luar pintu, jadi yang di tepi pintu harus selalu siaga menahan tekanan penumpang yang ada di dalam, otot yang digunakan untuk menahan penumpang adalah otot deltoid (lengan atas) dan otot quadriceps (paha). Sekali lengah saja mungkin yang di tepi kedorong keluar jatuh tersungkur, apalagi jalan Ungaran – Sekaran ada sekitar 10 titik tikungan. Belum lagi ditambah kalau lagi nyalip kendaraan lain.  

Ini adalah kepulangan pertamaku semenjak tinggal di Kalimasada. Ada rasa yang berbeda ketika angkutan sudah memasuki Jl.Taman Siswa, biasanya aku bilang “KIRI PAK!!” tepat ketika angkutan sedang melewati depan Gang Setanjung. Namun kali ini aku hanya terdiam saja, melewatkan gang Setanjung. Seperti tereinkarnasi di jaman yang berbeda, antara jaman hidup di Setanjung dan Kalimasada. Seperti Ken Arok yang dalam legenda Pararaton merupakan penduduk Kampung Jiput. Karena kelakuannya yang tidak senonoh, ia dijadikan tumbal oleh pendeta sakti Tawapangkeng sebagai pengganti kambing. Ia kemudian lahir kembali di desa Pangkur sebagai anak Ni Ndok. Mungkin saja bagaimana Ken Arok melihat Kampung Jiput, sama saja bagaimana aku melihat gang Setanjung.

 Tak perlu bilang “Kiri” sekalipun. Aku mengikutinya hingga berhenti, tepat di bawah pohon Waru sebelah timur laut  Masjid Ulul Albab. Aku turun, langsung masuk ke gang Cokro, turun belok ke Utara, ini adalah jalan yang paling sering ku tempuh ketimbang langsung lewat depan gang Kalimasada karena jalan ini langsung mem by-pass ke Kontrakan Ar[t]my. Suasananya juga lebih rindang dan sejuk oleh pohon-pohon bambu spasies Schizotachyum caudatum ini. Tibalah aku di ar[t]my, dan bersalaman dengan mas-mas senior disini.


Padamara, 12 Juni 2013

Thursday, April 25, 2013

Dari Setanjung ke Kalimasada [Part 21]


. . . . . jingga,kelelawar kemudian gelap.

Hingga segelap itu aku belum berganti baju, meletakan tas apalagi melepas sepatu pantofelku. Terlalu asyik ngobrol dan hotspotan di samping gedung C5 bersama mas Khikam. Hingga gelap menyatukan kami tuk berbuka puasa bersama, berboncengan dan berhenti di sebuah penjual es buah depan Masjid Ulul Albab. Lanjut makan di angkringan Kalimasada depan, digratisi pula. Hari itu adalah titik terdekatku dalam sebuah persahabatan dengan sosok Mas Khikam kakak kelas. Aku dulu sempat digembleng olehnya saat KEMAS 2008, kemarin kami menjadi teman seperjuangan menghadapi bimbingan pak sodiq dan kini tak terasa kami malah hampir lulus bersama. Kawan-kawan seangkatannya sudah tak disini lagi. Seringkali ia jadi sering bertandang kekontrakan ar[t]my, hanya untuk ngobrol.

Malamnya kami berpisah. Ini adalah Ramadhan ke-empat yang ku alami di Semarang. Kala di Setanjung teringat Marham dan Mas Wahid kami adalah orang-orang yang paling survive Sholat Tarawih hingga menjelang liburan. Perlu perjuangan mental untuk melaluinya, jika ke Ulul Albab terlalu jauh maka kami lebih sering ke Al-Mutaqien gang Waru. Di tahun pertama malam-malam kami harus melewati pematang kuburan di belakang kos ku. Tahun ketiga lebih terang karena sampingnya dibangun rumah dan pematang berubah menjadi paving batu ubin.

Tak terbiasa hidup di lingkungan mayoritas NU, aku canggung membiasakannya. Awal Jum’atan diAl-Mutaqien aku harus bingung mengapa Adzannya dua kali dan solat sunahnya juga dua kali. Ditambah bingung pula saat Khatib khotbah harus sambil memegang semacam “tongkat sakti”, tapi aku tak tahu itu untuk apa dan dengar dari teman lain juga memang biasanya masjid NU memiliki tradisi serupa. Saat Tarawih pola rakaatnya 2(10)+2+1=23 tanpa Khotbah. Bagaimana mungkin jamaah betah sholat 23 rakaat dengan imam membaca suratan yang tartil (pelan), jadi imamnya pasti ngebut. Seandainya boleh saja mungkin aku akan sholat sambil geleng-geleng kepala kagum mendengar imam yang super ngebut seperti ini. Mungkin saja kecepatan bacaannya setara dengan Snoop Doog, seorang Rapper dengan rekor mimik tercepat didunia. Aku dan mungkin saja teman-teman Muhammadiyah yang tarawih disitu, biasanya cukup mengambil 8 rakaat saja dan pulang.

Kala di Kalimasada aku hampir merasakan hal yang sama. Mushola terdekat yang cukup 20 langkah saja dari ar[t]my juga mushola NU dengan segala kulturnya aku hanya sekali dua kalisaja tarawih disitu (kecuali fardhu). Mushola terdekat kedua juga NU. Untungnya Masjid Ulul Albab dengan kultur Muhammadiyah tidak terlalu jauh dari Kalimasada, aku paling sering kesana. Disini mudah saja membedakan masjid Muhammadiyah dengan Masjid NU secara sepintas. Masjid Muhammadiyah biasanya pasca Adzan tidak terdengar suara puji-pujian, diam saja tau-tau beberapa menit kemudian terdengar Iqamah. Masjid NU sebaliknya sehabis Adzan hampir dipastikan selalu ada suara puji-pujian, sholawatan atau lagu-lagu. Aku memilih Masjid Ulul Albab semata bukan karena sentimen aliran, tentu beralasan. Pertama, Tarawih pasti disisipi kultum yang mencerahkan, biasanya kultum diisi oleh dosen-dosen agamis umumnya bergelar master, doktor kadang juga tokoh sekaliber Prof Masrukhi. Materi-materi yang sama sekali tidak membosankan, paling sering mengkaitkan antara ilmiah dengan agama. Kedua, meski pola rakaat menganut 4+4+3 namun aku banar-banar merasakan sensasi ibadah yang sesungguhnya. Imamnya tidak sekedar tartil tapi makhrajnya juga jelas dan dibaca secara qira’ah dengan improvisasi menggaung sangat indah, kualitas audionya juga sudah sekelas lah dengan masjid agung. Bisa dirasakan,masjid atau mushola kebanyakan biasanya menggunakan speaker stereo atau bahkan mungkin mono, namun untuk masjid besar biasanya sudah sekelas DTS. Lebih enakan mana, dengar lagu pakai speaker biasa atau pakai home theater?. Volume ruangan Masjid Ulul Albab tentu cukup luas, meski sof rapat namun suhunya tetap nyaman. Karpet sajadahnya juga dipilih dengan sangat tepat yaitu warnanya yang kalem dan tidak bergambar atau bercorak apapun. Semuanya seolah diciptakan untuk mendukung kekhusukan dalam sholat. Bukan jumlah rakaat yang dikejar, tapi kualitas sholatlah yang paling utama. Karena ada sebuah as-sunah berbunyi “Shalat dua rakaat dengan penuh khusyuk, labih baik daripada shalat semalam suntuk, namun hati tidak konsentrasi (kacau balau)”.

Tak jarang aku berbuka dikosnya Aris, bersama Nanang, Marwan dan Harry. Meski terlihat abangan namun tak disangka mereka juga disiplin berangkat Tarawih. Banyak mushola terdekat tapi seringkali mereka memilih Ulul Albab, atau Mushola At Taqwa Patemon. At Taqwa juga penganut kultur Muhammadiyah, terletak di tikungan Patemon samping sawah atau depan eks kontrakan seniorku Mas Fatkhan. Mushola ini tidak lain juga kediamannya kawan seangkatanku, Muhammad Burhan Hidayat yang merangkap sebagai takmir dan guru ngaji.

Ramadhan dua tahun lalu aku punya kenangan disini, bersama Eko Nurrohmad dan Burhan pergi ke belakang mushola eksplorasi rimba dan bermain senapan angin membidik burung. Saat itupula aku mengenal Eko sebagai seorang kawan yang sangat multidimensional. Dia memiliki pemahaman agama yang luas, jika disatukan dengan pemuda-pemuda yang agamis sekelas Burhanpun sangat pantas. Jika digabungkan dengan mahasiswa smart dan pandai debatpun bisa. Pernah juga suka bergaul dengan anak-anak cupu macam Jojo dan Yoyok dan menularkan kecerdasannya. Tapi jangan salah diapun juga mahir dan mampu menyesuaikan diri bersahabat dengan kawan yang berwatak preman, suka miras dan berpemikiran cabul. Inilah kawanku yang pernah menjadi orang nomor 1 di sejarah angkatan 2008 sebelum kuda hitam macam: Nadia, Revita, Erika, Artha dll bermunculan.

Malam-malam lain dalam kelegaan ini angkatan 2008 yang telah dinyatakan lulus “mengocok soda” sensasi kemenangan dengan berbuka bersama di salah satu RM di Patemon. Beberapa teman yang belum ujian pun turut menghiasi seperti: Dony, Erika, Winarso, Nung dan Ririn. Malamnya bersenang-senang mongkrong di Jl. Pemuda tepatnya di depan gedung Telkom. Bercengkrama dan berfoto-foto di bawah lampu kota megapolitan Semarang. Aku mendapati foto unik disini, dimana aku bersebelahan dengan dua orang yang pernah bermusuhan “perang dingin”, yaitu Winarso dan Eko Nurrohmad. Diawal semester mereka berdua adalah orang yang saling benci, saling mengumpat dan saling menggunjing, aku tahu karena aku adalah sahabat dekat kedua orang ini. Dan di akhir cerita kini mereka justru bersahabat, satu hal yang menyatukan mereka adalah sebuah “kegilaan”. Jika mereka masih dalam ego kelurusannya masing-masing, maka bagaikan dua rel yang sejajar, tak pernah ada titik temu. Namun karena mereka sama-sama bisa menggila akhirnya mereka menemukan persamaan: dangdut, pemikiran-pemikiran yang terlampau liberal dan lain-lain.

Eko, Winarso, dan Aku: pemandangan langka
Eko, Winarso, dan Aku: pemandangan langka



Hari-hari berikutnya tak lagi menegangkan seperti kemarin dalam misi meretas akun. Agendanya tinggal Burning CD, mengurus bebas perpus, upload file bersama Paemo. Masalah nilai konon telah beres. Aku menunggu Bu Retno memproses Surat Kelulusan hingga sore bersama Paemo, Dila, Novi, Heny, Lisa dan Ratri. Ada sesi mendebarkan diantara kami kala menunggu hasil print out transkrip nilai, kami menanti ingin tahu berapa IPK yang didapat. Akhirnya hari itu tertanggal 13 Agustus 2012, sebuah transkrip nilaiku keluar dari printer lab Komputer atas handle bu Retno, aku dinyatakanlulus dengan IPK 3,41. Meski Skripsiku memperoleh nilai AB tapi itu tak menghalangi kembang senyumku mendapatkan IPK 3,41 dengan predikat sangat memuaskan, tertinggi diantara sekelompok teman yang menunggu di situ.

Lagi-lagi aku harusmeng artiskan dosen. Kali ini aku mengejar tanda tangan pak Dekan untuk SKL ku. Pagi-pagi bolak-balik ke dekanat, pak dekannya malah sedang pergi kesana lah sedang itu lah intinnya beliau sedang tidak ada disitu. Hari-hari sebelumnya aku sudah ditagih orang tua tuk pulang ke rumah, karena sebentar lagi lebaran tiba. Aku telah berjanji akan pulang hari selasa itu, karena menurut perhitungan deadline seharusnya ini adalah waktu yang tepat. Kutunggu hingga pukul 13:00 pak Dekan belum juga datang. Bersama Paemo aku mondar-mandir seperti orang menahan kencing. Berharap trinitas akan terpenuhi sebelum lebaran ini Lulus – SKL – Liburan.

Jam 14:00 aku menyatakandiri untuk pulang ke Purbalingga. . . .

Padamara, 25 April 2013

Tuesday, April 9, 2013

Dari Setanjung Ke Kalimasada [Part 20]


Kalo boleh dibilang,seharusnya pihak Universitas perlu belajar tentang apa yang ku perbuat ini. Nampaknya sudah menjadi hukum alam kalau kita survival apapun akan kita cobe demi menyambung hidup. Aku pernah menahan seekor tikus yang terjebak diantara buku-buku dalam kardus, urung kubunuh niatku esok pagi saja. Tanpa disangka tikus itu berhasil lolos dengan menggrigiti bagian buku semalam demi sebuah celah untuk keluar. Siapakah yang rugi? Akulah yang rugi justru rugi dua kali,pertama: tikus yang lolos kemungkinan bisa berkembang biak lagi d rumahku,kedua: buku-bukuku rusak. Sebenarnya tikus tadinya sama-sekali tidak ingin merusak bukuku, tapi karena aku menghalangi jalannya akhirnya dia merusaknya.

Sekiranya kalau program SISkripsi yang digencarkan universitas terjadi ketidakstabilan sinergi antara dosen dengan mahasiswa dalam menjalankannya maka salah satu yang merasa dirugikan akan terpaksa merusaknya untuk jalan keluar. Jadi kalau SISkripsi justru mempersulit mahasiswa apalagi dalam keadaan mepet maka jangan ditanyakalau muncul potensi besar mahasiswa akan memburu user & password milik dosen demi kelancaran SISkripsi.

Manusia seperti aku misalnya, mengalami hal yang terceritakan dalam catatan sebelumnya. Perkara SISkripsi kerap mengganggu tidurku. Jika dilihat SISkripsi adalah persoalan sibernetika, maka pertama yang ada di pikirku pemecahannya juga dengan sibernetika. Meski ada cara pemecahan lain yang lebih halus misalnya dengan cara sosial. Dipikir-pikir tetap saja tidak efisien misal aku harus jauh-jauh ke rumahnya Pak Sodiq di Sukorejo hanya minta confirm SISkripsi padahal beliau punya segudang kesibukan sebagai konglomerat apakah itu mengurusi toko Materialnya, Toko Emasnya atau bahkan sedang diundang acara Pondok Pesantren miliknya. Ah susah kayaknya, ibarat aku datang jauh-jauh kesitu minta SATU buahkue bolu spesial bikinan Pak Sodiq. Kecil, tidak produktif, menyita waktu lagi. Belum pak Karyono, dilihat saat melayani kami untuk mengconfirm saja rasanya ia cepat jenuh dan merepotkan bagi beliau. Jadi otomatis: sebuah Proposal diajukan dari FBI yang menugaskanku untuk meretas akun mereka dengan metode sibernetika akhirnya ku tandatangani. Oret-oret-oret-oret Jret titik!!!!

Aku menamakan serangan ini sebagai Operasi “GEMAGUS” atau Gerakan Enam Agustus. Tanggal Enam Agustus 2012kutetapkan sebagai D-Day dan deadline maksimal 48 jam.

Senin pagi pak Sodiq datang, aku telah menunggunya. Cukuplah berpenampilan biasa saja, tak perlu formal seperti James Bond atau dengan trik menyamar ala Sherlock Holmes. Dengan sebuah proses, tanpa pemaksaan, tanpa intimidasi, tanpa meminta atau apa (tidakakan aku jelaskan) akhirnya aku berhasil mendapatkan user & Passwordnya.Sudah lah tinggal log-in klik ini itu dan akhirnya beres. Mas Khikam Fityan Adiyang juga bernasib sama denganku sebagai anak bimbing pak Sodiq, turut memanfaatkan hasil kerjaku ini dengan mangconfirm agenda miliknya namun tidak berani banyak banyak, karena belum ujian. Orang kedua yang kelak juga turut menikmati hasilnya adalah kawanku Heraldi. Misi atas target pak Sodiq telah berhasil. Cepat, tepat dan senyap.

Target selanjutnya adalah pak Karyono. Namun sial kali ini pak Karyono sedang out of control ku, ditambah lagi kondisi beliau yang sedang digerumuti kawan-kawan lain yang sama-sama mengurusi SISkripsi. Ah ini akan sulit sekali dan bahkan mungkin aku tidak akan kebagian hari ini padahal deadline sudah sangat dekat. Apa boleh buat aku harus melakukannya secara manual. Yang aku lakukan disini adalah mencoba memanfaatkan kecepatan mata ketika pak Karyono mengetikkan password di keyboard. Aha sebuah kata yangkudapat adalah : psiwg2. Hari itu benar aku tidak kebagian log-in. Tapi perasaan ini masih dipenuhi rasa penasaran ingin mencoba log in dengan password itu. Soal user, hampir semua dosen usernya adalah NIP lamanya jadi memang yang terpenting dicari adalah passwordnya apakah password itu benar atau salah, ingin segera kucoba. Rasa penasaranku begitu menggebu-gebu bak melihat gadis cantik yang menggodaku dengan melepas bagian busananya satu per satu dengan sangat pelan.

Namun aku bersabar, sorehari aku baru mencoba. Ternyata sial lagi, rasa penasaran itu dibayar dengan kenyataan pahit. Passwordnya salah !!!!. Aku harus coba temukan pokoknya. Untungnya SISkripsi sistem pengamanannya tidak terlalu kuat karena jika bolak-balik log in dengan password yang salah web tersebut tidak menutupnya sementara, tidak seperti SIKADU. Aku masih begitu penasaran mengapa pak Karyono membuat password seperti itu, biasanya orang awam akan membuat passsword yangbisa dilafalkan agar mudah diingat. Aku sempat membuka google siapa tahu ada sebuah kata atau singkatan yang denkat dengan “psiwg2”. Ternyata tidak ada !!.Setelah kuingat-ingat kembali saat menuliskannya pak Karyono juga sempat menekan tombol Shift ini berarti dalam kata itu ada yang di Caps Lock. “Gila!!!” kataku, pak Karyono sudah sesepuh ini ternyata menggunakan password jenis Random Character yang bisa saja didalamnya berisi campuran font, numerik, symbol bahkan Caps Lock. Ini adalah password yang mengerikan menurutku, jenis password yang juga ku pakai di akun FBku.

Biasanya password jenis itu bukanlah pak Karyono yang membuatnya sendiri. Tetapi didapat langsung dari seorang admin, dengan maksud tingkat keamanannya yang tinggi. Nah persis sekali yang ada di film Armagedon, ketika astronot-astronot yang mendarat di asteroid gagal menanamkan nuklir maka pihak FBI atas ijin presiden hendak meledakannyadari jarak jauh. Untuk meledakannya diperlukan sebuah kunci analog kamudian memasukan password dan password itu masih disegel terbungkus amplop. Ya seperti itulah, password bukan semabarang password.

Akhirnya aku harus mencoba satu persatu hipotesis password dengan menambahkan tombol shift didalamnya:pSiwg2, psIWg@, PsiWG2 dst. Dari beratus-ratus percobaan ternyata tidak ada yang berhasil. Akhirnya aku menyerah, masih ada hari esok. Dan besok harus berhasil, aku harus berangkat pagi dan menjadi orang pertama yang menemui pak Karyono.

Rencanaku terealisasi namun urung aku beraksi melanjutkan operasi GEMAGUS, tapi pak Karyono sudah login dulu. Aku pasrah saja, kalo sudah begini berarti pertanda bahwa aku harus menghadapinya dengan safety way. Beruntungnya karena hanya mengurusi aku saja maka saat itu akhirnya dapat diselesaikan juga tanpa meretas akunnya. Ahh sungguh rasanya lega sekali saat itu akhirnya permasalahan SISkripsi terselesaikan juga. Bagaikan merasakan sebuah kemenangan meski tidak mutlak. Operasi GEMAGUS memang berhasil, tapi 50%nya bukan berasal dari metode operasi tersebut. Boleh diibaratkan kerajaanku hendak berperang dengan kerajaan yang ada di seberang pulau sana, namun urung berperang kerajaan musuh malah tenggelam dulu di lautan kala tengah datang ke sini. Jadi kemenangan iturasanya memang kurang genap.

Sesuatu yang pada awalnya hanya ku pakai untuk main-mainan namun hari itu aku menggunakannya dalam kasus real ku. Aris menjadi salah satu saksi atas aksi mengerikanku ini. Ia hanyabisa senyum geleng-geleng sambil menepuk punggungku. Aris hanya tahu niat dan aksiku, namun dia tidak pernah mengerti bagaimana prosesnya. Trik ini juga ku sembunyikan dari si Y.G dan A.D. ku sembunyikan dari teman teman yang lain. Ini adalah ibarat benda pusaka yang tidak boleh sembarang orang tahu.

Hanya 1 orang saja yang kuwarisi tentang trik ini, yaitu sosok Setya Agung Priyatmaja, kawan seangkatanku. Kenapa hanya dia? Karena sepanjang kuliah dan bersahabat dengannya dia memiliki Track Record yang sangat bagus tentang kepribadiannya, ia berwibawa, gagah, bijak, tidak cabul, tidak suka mengumpat, tidak punya musuh, tidak memusuhi orang, ramah, banyak disegani orang, intelektualis. Dari sekian banyak teman-teman jurusan sejarah nampaknya hanya dirinyalah orang yang terlihat paling normal. Aku berharap trik ini akan dipergunakannya untuk kebajikan pula. Ketika Agung juga mengalami hal yang sama denganku soal SISkripsi dia tidak menggunakan trik yangku kasih ini dia malah menggunakan 100% safetyway. Aku sangat yakin, akan ada ratusan atau bahkan ribuan akun yang bobol entah itu FB, email atau yang lain dalam sekejap Seandainya rahasia ini bocor.Catatan 20 kutulis dengan maksud sebuah kejujuran, keterus terangan kalau aku memang memiliki kemampuan ini dan benar-benar kupakai saat itu. Tulisan ini adalah pelunasan atas ketidaksportifanku saat itu. Bukan aib sendiri yang kupaparkan, aku berani menulis karena aku memang tidak menyalah gunakan.

Padamara, 09 April 2013
Agung & Aku
Agung & Aku