Ekspedisi Sejarah Indonesia (Exsara)

Exsara merupakan organisasi terbesar di Jurusan Sejarah Unnes. Aku dirikan bersama teman-teman jurusan sejarah Unnes angkatan 2008. Mereka semakin maju

Catatan Hidupku

Aku sangat suka menulis. Termasuk membuat catatan hidupku. Biar nanti aku mati, tapi pikiranku seolah terus hidup sampai anak cucuku

Petualangan Hidup

Setiap hidup, pasti menyempatkan berkunjung ke tempat unik, berkenalan dengan orang baru. Semua itu akan mendidik kita jadi manusia besar

Sejarah Nasional dan Dunia

Basis pendidikanku Sejarah. Aku sangat menyukai kisah masa lalu. Ada yang kuanggap sebagai sastra ada yang kuanggap sebagai guru kehidupan

Pola Hidup Sehat

Sejak SMP aku sudah punya bakat pemerhati gizi. Aku sangat mencintai pola hidup sehat. Tanpa kita sehat, semua yang kita miliki tak ada gunannya

Thursday, August 1, 2013

Dari Setanjung ke Kalimasada [Part 23]


Tidak ada alasan lagi untuk meninggalkan Semarang, aku akan melewati babak semi final wisuda. Menyerahkan berkas kelengkapan di pojok gedung H, mengambil Samir serta membayar member Ikatan Alumni, membayar sewa Toga, membayar tiket pesta wisuda jurusan, dan membayar tiket agung wisuda untuk paripura dari UNNES.

Aku banyak menyempatkan hari-hari terakhirku di sini bersama Aris, Eko dan Heraldi. Nanang, harry dan Aji tengah diklat SM3T. Winarso juga kadang sedang tekun menggarap skripsi pesanan orang. Feby tengah asyik dengan pacar barunya, Pinky. Ya sudah, tinggal mereka bertiga. Pembayaran Wisuda aku sempatkan bersama Eko, mengantri di BNI hingga kami duduk di teras. Ketika nomor antri masih lama, Eko menancapkan modemnya ke netbooknya. Browsing lowongan pekerjaan. Entah guyon atau serius, tapi Eko menanyaakanku dengan tawa “ono lowongan dadi gigolo po ora yo Gan ihiihihie”. Dicarilah, ternyata ada, “kiro-kiro iki tenanan po ora yo”. “Nek gelem iku yo tenanan ko” jawabku, sepintas canda untuk mengalihkan kejenuhan dalam antrian siang itu.

Mungkin dulu pernah kuceritakan tentang Eko Nurrohmad, yang topengnya mengalami pelapukan hingga terlihat wajah aslinya. Aku tetap setia bersahabat dengannya dalam bentuk kamuflase apapun. Dalam fitrahnya ia sangat mencintai wanita dengan segala lekuk tubuhnya yang indah. Maka pikirannya pun sulit dibendung jika sudah dikaitkan tentng acara silaturahmi tubuh antara kelelekian dengan kewanitaan. Akupun tidak pernah pura-pura polos ketika membicarakan tentang itu. Hingga menjadi diskusi menarik, dan juga menambah kecintaan ku terhadap tubuh wanita. Sehari penuh aku bersama Eko si pemuda multidimensi ini. Mengurus administrasi wisuda bersama-sama ke BNI, BRI, Bank Jateng.

Esoknya Heraldi, kemudian Aris. Jarang ada yang menyangka kalau Aris akan lulus tepat waktu, teman-teman yang mengejeknya justru tertinggal di belakang. Ketika Aris kesulitan melengkapi SISkripsinya aku juga turut membantunya membobol akun milik Pak Jimmy, agar semua bisa dipercepat. Tibalah waktunya ketika aku menemaninya membayar sewa Toga di Bank Jateng Unnes. Vera, sahabatku sejurusan juga datang kesana dengan maksud yang sama. Dan akupun terkejut buset naudzubilah himindalik dibelakangnya diikuti sodaranya sendiri yaitu Sodikin. Orang sekampus tahu tentang mahasiswa BK yang satu ini, Sodikin. Ingin rasanya tiba-tiba aku menghilang “tuing!!” dari tempat itu.

 Aris, Vera dan Sodikin adalah sama-sama orang Rembang ketika bertemu mereka bersatu dalam canda. Aku berusaha diam tidak memandang mereka dan pura-pura bukan sebagai teman Aris. Namun hari naasku tidak bisa dihindari, tiba-tiba Aris mengatakan pada Sodikin “dik diki, koncoku ono sing pengin kenalan karo kowe ki” sambil aris mengacungkan jarinya ke arahku. Wasem asu buntung! Makiku dalam hati, ingin rasanya aku menjambak rambut Aris hingga kepalanya lepas, menunjuk aku dari Sodikin. Akhirnya datang juga tuh Sodikin sepaket dengan bahasa tubuhnya yang bencong dan menjulurkan tangan minta bersalam kenalan, “kenaliiin aku Dikii”. Untung jiwa malaikatku belum terbang meninggalkan jasadku sehingga aku masih mau membalasnya ramah “Ganda”. Orang bencong masih mending daripada Gay. Meski sama-sama suka sesama jenis tapi bencong tidaklah misterius dan masih bisa diajak becanda, beda dengan Gay yang misterius, bahkan ada yang psikopat, layaknya masih seperti lelaki tulen tetapi kenyataanya ia tidak nafsu dengan kaum hawa tapi ia merindukan kasih sayang dari sesama lelaki bahkan bila perlu ia bisa minta disodomi. Aku masih dalam posisi elegan bahkan sedikit takut sebenarnya tapi Sodikin malah merayunya sambil memegang-megang tanganku “waduh kowe grogi yha neng jejerku, waaah pipine dadi abang, duh jan”. Arsi dan Vera terkekeh menertawaiku. Sebelahku lagi sebenarnya ada wanita cantik, mereka juga sedang menertawaiku yang sedang dirayu Sodikin, aku pasti akan jadi bahan pembicaraan mereka di kos mereka nanti, dan itu akan terdengar dari telinga ke telinga untung saja mereka tidak mengenalku sehingga siklus dari telinga ke telinga itu otomatis akan terputus di jalan.

Tragedi Bank Jateng tadi membari pelajaran bagiku, jika bertemu bencong segeralah menjauh. Seandainya aku sahabatnya Hitler di Nazi Jerman maka aku akan setuju sekali dengan tindakan pasukan “SS” yang menangkap orang Gipsi, Yahudi, Cacat termasuk orang Homoseksual untuk dimasukan dalam kamp dikunci rapat dan dialiri gas beracun, matilah semua. Perjumpakan dengan sodikin bukan kali pertamaku berinteraksi dengan sosok Gay Oriented. Pertama dengan Om Rudy di Pasar Bandarjo Ungaran dan yang kedua adalah Sodikin atau Diki dan yang ketiga FBku kadang dicolek oleh orang laki-laki yang belum berteman dan jika ditelusuri diyakini dia juga pengidap Gay Oriented.

Apapun pertanyaanya, aku adalah lelaki normal, aku adalah lelaki yang tidak berlebihan, aku adalah lelaki yang masih punya kadar ketaatan dalam agama. Dan berkat teman-temanku, aku adalah laki-laki yang sangat mencintai lekuk tubuh wanita sebagai mahakarya indah dari sang Masterpiece al khaliq.


Padamara, 1 Agustus 2013 (memperingati 1 tahun ujian skripsiku)

Wednesday, June 12, 2013

Dari Setanjung ke Kalimasada [Part 22]


Menghindari tarif lebaran aku berangkat lagi ke Semarang H+8. Pagi benar aku menghadang bus disebuah halte ilegal di tepi jalan menuju Kalikabong. Tapi menurutku ini lebih baik daripada menghadang bus di timur patung Jend. Sudirman dekat terminal Purbalingga, dan itu adalah hal bodoh yang pernah kulihat mereka manaikkan dan menurunkan penumpang di tepi traffic light.

Aku terus menunggu duduk di tepi jalan dan kerap kali masih ditemani bapakku. Pandanganku terlepas pada ratusan bahkan ribuan Prawan Pabrik berkendara menuju industrinya masing-masing. Kecantikan dan pesona mereka tidak kalah dengan mahasiswi yang pernah ku lihat di kampus, bahkan menurutku mereka lebih sederhana atau nrimoandengan menaiki minibus, angkot atau motor yang agak ketinggalan jaman. Kawasan Kalikabong – Mewek hingga Kedungmenjangan adalah kawasan Industri di Purbalingga. Tepikir betapa hebatnya angka pengangguran yang ada di Purbalingga jika investor Korea Selatan tidak menanamkannya disini. PT. Indo-Kores, BooYang, Yuro, BMT, Sung-Cang, Sung-Shim, Sin-Han, Interwork, dll  mereka banyak menghidupi kami jarang ada yang berdemonstrasi menuntut kenaikan gaji, kecuali soal asosial dan ketidak adilan penetapan tarif lembur.
 Lamunan semua itu pecah kala bus Maju Makmur datang dan petualangan ke Semarangpun dimulai. Penumpang tampan, penumpang cantik, penumpang kaya, penumpang miskin, penumpang manja ada dalam satu bus yang tergolong pernah mewah di tahun 90an ini. Jarang ada bus Patas untuk rute Purwokerto-Semarang via Wonosobo. Meskipun ada namun tidak bisa adu balap cepat dengan bis ekonomi karena jalan berliku dan sempit.

Maju Makmur: Armada Bus Sederhana Purwokerto - Semarang
Maju Makmur: Armada Bus Sederhana Purwokerto - Semarang


Kadang aku hafal dimana dan orang seperti apa pengamen yang datang. Dari empat tahun silam pertama ke Semarang hingga kini wajah-wajah mereka tetap. Di sekitar Mrican Banjarnegara pengamen yang datang adalah pemuda berkulit gelap dan berkuncir agak panjang bertampang preman, lagu-lagu yang sering dinyanyikan adalah tembang campursari, atau entah lagu apa tapi berbahasa mbanyumasan. Antara tampang dengan lagu, benar-benar tak cocok.

Ketika bus berhenti lama di alun-alun Wonosobo, pengamennya adalah sosok tunanetra tapi bisa bermain gitar, menekan chord nya pun tidak pernah salah, aneh memang. Ia juga punya asisten yang fungsinya sebagai penuntun arah. Kadang jika tak dikasih ia suka menyindir.

Ada lagi pengamen wanita masih agak muda, seksi pula, yang sudah berpoles kosmetik bermodalkan microphone yang disambungkan minitape dan speaker bertenaga accu dibungkus dalam kotak kayu berukuran 30x30x30 Cm. Memutar lagu-lagu karaoke. Teknologinya memang ketinggalan jaman, suaranya cukup keras tapi kualitas kejernihan audionya masih sekelas format (.amr). Satu lagi pengamen yang nampaknya ia memang asli Wonosobo dan juga paling sering muncul di alun-alun Wonosobo ini. Kulit dan potongan rambutnya garang, tapi mukanya kalem. Alat musiknya adalah gitar listrik bikinan sendiri dari kayu mungkin juga menggunakan tenaga accu speakernya entah ditaruh sebalah mana yang jelas gitarnya sudah bisa mengeluarkan suara elektik, lengkap dengan microphone kecil yang mencongok mengarah ke bibirnya, sehingga pengamen yang satu ini cukup menarik perhatian. Hanya saja mungkin dia Cuma hafal satu lagu itu saja, yang kurang lebih liriknya begini: “kau, slalu jaga hatiku . . . . saat aku kembaliii”   

Ketimur sedikit lagi, tepatnya di terminal Mandala Wonosobo. Yang masuk adalah pengamen bapak kurus berkisar 50 tahunan. Berkacamata bulat mengenakan topi diputar ke belakang, kancing baju paling atas biasanya dibuka sehingga dada kerempengnya cukup kelihatan. Umumnya pengamen lain menggunakan alat musik Gitar, atau Ukulele alias Kencrung namun dia menggunakan Guitarlele. Cara memainkannya pun cukup kukagumi, karena dia menggabungkan 2 metode bermain gitar yaitu Chord dan Fingerstyle. Apalagi ketika kumelihatnya sedang fingerstyle, jarinya menari-nari menekan string bak permainan gitar ala Carlos Santana atau Antonio Banderas pokonya lah. Tapi sayang sungguh disayangkan. Lagu-lagu yang ia nyanyikan hanya lagu dangdut saja, terutama lagunya Bang Haji. Seandainya saja dia bisa cukup berakustik dengan fingerstyle nya untuk lagunya Richard Marx – Right here waiting, atau More than word nya Westlife pastilah ku kasih Rp2000 lah untuk dia.

Di Tamanggung hampir-hampir tidak ada pengamen. Meskipun ada tapi ia bukan pengamen langganan yang tetap dan khas seperti pengamen-pengamen diatas. Biasanya adalah pengamen yang asal masuk saja karena ada kesempatan.

Begitu juga di terminal Bawen kab. Semarang, pengamennya tidak bisa dihafalkan karena terus berganti-ganti. Menurutku terminal Bawen memang gudangnya para pengamen, karena Bawen lokasinya cukup strategis berada di pertigaan besar, simpang Utara menuju Kota semarang dan kota-kota di Pantura, sementara ke selatan adalah arah menuju Solo sedangkan simpang ke barat adalah jalan menuju Jogja dan Purwokerto. Namun yang unik dari pengamen-pengamen di Bawen ini adalah semacam ada lagu khas atau mungkin lagu wajib. Hampir dipastikan pengamen disini pasti menyanikan lagu itu. Aku tak tahu judulnya apa tapi aku hafal sedikit potongan liriknya, seperti ini:
. . . . . . . Rodo papat rupo menungso, jujugane omah tuwo,
Tanpo lawang tanpo jendelo, tanpo bantal tanpo kloso,
Ditutupi anjang-anjang, siramane banyu kembang,
Tonggo tonggo podo nyawang, podo nangis koyo wong nembang,
Sing neng ngomah rebutan warisan, direwangi paten-patenan.
. . . . . . tondo-tondone wong pelit, wong ngamal wae yo ora tau.
paribasan weruh pengamen, lha koq deweke etok-etok turu
eto-etok turu, ben duwite ora metu. Dst

Perjalanan selama 200 Km itu tidak selesai hanya keluar dari pintu bus, masih harus naik angkutan umum warna hijau yang biasa berkoloni di pojok luar terminal Ungaran. Paling sering mayoritas penumpangnya adalah mahasiswi, semuanya juga tidak pernah kukenal. Jadinya saling diam, saling lempar pandang. Atau minimal kadang melihat Kirana, atau Kristin.

Suasana capek dan panas belum berhenti menyiksa, karena kami harus mengetem atau menunggu hingga angkutan penuh penumpang, kira-kira selama 30 menit. Bagiku mengetem mungkin berasal dari kata inggris: steam, yang artinya “dikukus”, karena ketika mengetem kami serasa sedang dikukus, keringat semua penumpang mengucur. Inilah spa alami. Bau parfum berubah menjadi bau ketek. Yang tidak pakai parfum baunya berubah menjadi bau kain kafan yang telah terkubur bersama jenazah selama 1 tahun. Ingin muntah rasanya.

Penumpang laki-laki paling sering mengalah ditempatkan di tepi pintu, dimana ketika sedang berada di tikungan, kocokan penumpang menekan ke arah ke luar pintu, jadi yang di tepi pintu harus selalu siaga menahan tekanan penumpang yang ada di dalam, otot yang digunakan untuk menahan penumpang adalah otot deltoid (lengan atas) dan otot quadriceps (paha). Sekali lengah saja mungkin yang di tepi kedorong keluar jatuh tersungkur, apalagi jalan Ungaran – Sekaran ada sekitar 10 titik tikungan. Belum lagi ditambah kalau lagi nyalip kendaraan lain.  

Ini adalah kepulangan pertamaku semenjak tinggal di Kalimasada. Ada rasa yang berbeda ketika angkutan sudah memasuki Jl.Taman Siswa, biasanya aku bilang “KIRI PAK!!” tepat ketika angkutan sedang melewati depan Gang Setanjung. Namun kali ini aku hanya terdiam saja, melewatkan gang Setanjung. Seperti tereinkarnasi di jaman yang berbeda, antara jaman hidup di Setanjung dan Kalimasada. Seperti Ken Arok yang dalam legenda Pararaton merupakan penduduk Kampung Jiput. Karena kelakuannya yang tidak senonoh, ia dijadikan tumbal oleh pendeta sakti Tawapangkeng sebagai pengganti kambing. Ia kemudian lahir kembali di desa Pangkur sebagai anak Ni Ndok. Mungkin saja bagaimana Ken Arok melihat Kampung Jiput, sama saja bagaimana aku melihat gang Setanjung.

 Tak perlu bilang “Kiri” sekalipun. Aku mengikutinya hingga berhenti, tepat di bawah pohon Waru sebelah timur laut  Masjid Ulul Albab. Aku turun, langsung masuk ke gang Cokro, turun belok ke Utara, ini adalah jalan yang paling sering ku tempuh ketimbang langsung lewat depan gang Kalimasada karena jalan ini langsung mem by-pass ke Kontrakan Ar[t]my. Suasananya juga lebih rindang dan sejuk oleh pohon-pohon bambu spasies Schizotachyum caudatum ini. Tibalah aku di ar[t]my, dan bersalaman dengan mas-mas senior disini.


Padamara, 12 Juni 2013

Thursday, April 25, 2013

Dari Setanjung ke Kalimasada [Part 21]


. . . . . jingga,kelelawar kemudian gelap.

Hingga segelap itu aku belum berganti baju, meletakan tas apalagi melepas sepatu pantofelku. Terlalu asyik ngobrol dan hotspotan di samping gedung C5 bersama mas Khikam. Hingga gelap menyatukan kami tuk berbuka puasa bersama, berboncengan dan berhenti di sebuah penjual es buah depan Masjid Ulul Albab. Lanjut makan di angkringan Kalimasada depan, digratisi pula. Hari itu adalah titik terdekatku dalam sebuah persahabatan dengan sosok Mas Khikam kakak kelas. Aku dulu sempat digembleng olehnya saat KEMAS 2008, kemarin kami menjadi teman seperjuangan menghadapi bimbingan pak sodiq dan kini tak terasa kami malah hampir lulus bersama. Kawan-kawan seangkatannya sudah tak disini lagi. Seringkali ia jadi sering bertandang kekontrakan ar[t]my, hanya untuk ngobrol.

Malamnya kami berpisah. Ini adalah Ramadhan ke-empat yang ku alami di Semarang. Kala di Setanjung teringat Marham dan Mas Wahid kami adalah orang-orang yang paling survive Sholat Tarawih hingga menjelang liburan. Perlu perjuangan mental untuk melaluinya, jika ke Ulul Albab terlalu jauh maka kami lebih sering ke Al-Mutaqien gang Waru. Di tahun pertama malam-malam kami harus melewati pematang kuburan di belakang kos ku. Tahun ketiga lebih terang karena sampingnya dibangun rumah dan pematang berubah menjadi paving batu ubin.

Tak terbiasa hidup di lingkungan mayoritas NU, aku canggung membiasakannya. Awal Jum’atan diAl-Mutaqien aku harus bingung mengapa Adzannya dua kali dan solat sunahnya juga dua kali. Ditambah bingung pula saat Khatib khotbah harus sambil memegang semacam “tongkat sakti”, tapi aku tak tahu itu untuk apa dan dengar dari teman lain juga memang biasanya masjid NU memiliki tradisi serupa. Saat Tarawih pola rakaatnya 2(10)+2+1=23 tanpa Khotbah. Bagaimana mungkin jamaah betah sholat 23 rakaat dengan imam membaca suratan yang tartil (pelan), jadi imamnya pasti ngebut. Seandainya boleh saja mungkin aku akan sholat sambil geleng-geleng kepala kagum mendengar imam yang super ngebut seperti ini. Mungkin saja kecepatan bacaannya setara dengan Snoop Doog, seorang Rapper dengan rekor mimik tercepat didunia. Aku dan mungkin saja teman-teman Muhammadiyah yang tarawih disitu, biasanya cukup mengambil 8 rakaat saja dan pulang.

Kala di Kalimasada aku hampir merasakan hal yang sama. Mushola terdekat yang cukup 20 langkah saja dari ar[t]my juga mushola NU dengan segala kulturnya aku hanya sekali dua kalisaja tarawih disitu (kecuali fardhu). Mushola terdekat kedua juga NU. Untungnya Masjid Ulul Albab dengan kultur Muhammadiyah tidak terlalu jauh dari Kalimasada, aku paling sering kesana. Disini mudah saja membedakan masjid Muhammadiyah dengan Masjid NU secara sepintas. Masjid Muhammadiyah biasanya pasca Adzan tidak terdengar suara puji-pujian, diam saja tau-tau beberapa menit kemudian terdengar Iqamah. Masjid NU sebaliknya sehabis Adzan hampir dipastikan selalu ada suara puji-pujian, sholawatan atau lagu-lagu. Aku memilih Masjid Ulul Albab semata bukan karena sentimen aliran, tentu beralasan. Pertama, Tarawih pasti disisipi kultum yang mencerahkan, biasanya kultum diisi oleh dosen-dosen agamis umumnya bergelar master, doktor kadang juga tokoh sekaliber Prof Masrukhi. Materi-materi yang sama sekali tidak membosankan, paling sering mengkaitkan antara ilmiah dengan agama. Kedua, meski pola rakaat menganut 4+4+3 namun aku banar-banar merasakan sensasi ibadah yang sesungguhnya. Imamnya tidak sekedar tartil tapi makhrajnya juga jelas dan dibaca secara qira’ah dengan improvisasi menggaung sangat indah, kualitas audionya juga sudah sekelas lah dengan masjid agung. Bisa dirasakan,masjid atau mushola kebanyakan biasanya menggunakan speaker stereo atau bahkan mungkin mono, namun untuk masjid besar biasanya sudah sekelas DTS. Lebih enakan mana, dengar lagu pakai speaker biasa atau pakai home theater?. Volume ruangan Masjid Ulul Albab tentu cukup luas, meski sof rapat namun suhunya tetap nyaman. Karpet sajadahnya juga dipilih dengan sangat tepat yaitu warnanya yang kalem dan tidak bergambar atau bercorak apapun. Semuanya seolah diciptakan untuk mendukung kekhusukan dalam sholat. Bukan jumlah rakaat yang dikejar, tapi kualitas sholatlah yang paling utama. Karena ada sebuah as-sunah berbunyi “Shalat dua rakaat dengan penuh khusyuk, labih baik daripada shalat semalam suntuk, namun hati tidak konsentrasi (kacau balau)”.

Tak jarang aku berbuka dikosnya Aris, bersama Nanang, Marwan dan Harry. Meski terlihat abangan namun tak disangka mereka juga disiplin berangkat Tarawih. Banyak mushola terdekat tapi seringkali mereka memilih Ulul Albab, atau Mushola At Taqwa Patemon. At Taqwa juga penganut kultur Muhammadiyah, terletak di tikungan Patemon samping sawah atau depan eks kontrakan seniorku Mas Fatkhan. Mushola ini tidak lain juga kediamannya kawan seangkatanku, Muhammad Burhan Hidayat yang merangkap sebagai takmir dan guru ngaji.

Ramadhan dua tahun lalu aku punya kenangan disini, bersama Eko Nurrohmad dan Burhan pergi ke belakang mushola eksplorasi rimba dan bermain senapan angin membidik burung. Saat itupula aku mengenal Eko sebagai seorang kawan yang sangat multidimensional. Dia memiliki pemahaman agama yang luas, jika disatukan dengan pemuda-pemuda yang agamis sekelas Burhanpun sangat pantas. Jika digabungkan dengan mahasiswa smart dan pandai debatpun bisa. Pernah juga suka bergaul dengan anak-anak cupu macam Jojo dan Yoyok dan menularkan kecerdasannya. Tapi jangan salah diapun juga mahir dan mampu menyesuaikan diri bersahabat dengan kawan yang berwatak preman, suka miras dan berpemikiran cabul. Inilah kawanku yang pernah menjadi orang nomor 1 di sejarah angkatan 2008 sebelum kuda hitam macam: Nadia, Revita, Erika, Artha dll bermunculan.

Malam-malam lain dalam kelegaan ini angkatan 2008 yang telah dinyatakan lulus “mengocok soda” sensasi kemenangan dengan berbuka bersama di salah satu RM di Patemon. Beberapa teman yang belum ujian pun turut menghiasi seperti: Dony, Erika, Winarso, Nung dan Ririn. Malamnya bersenang-senang mongkrong di Jl. Pemuda tepatnya di depan gedung Telkom. Bercengkrama dan berfoto-foto di bawah lampu kota megapolitan Semarang. Aku mendapati foto unik disini, dimana aku bersebelahan dengan dua orang yang pernah bermusuhan “perang dingin”, yaitu Winarso dan Eko Nurrohmad. Diawal semester mereka berdua adalah orang yang saling benci, saling mengumpat dan saling menggunjing, aku tahu karena aku adalah sahabat dekat kedua orang ini. Dan di akhir cerita kini mereka justru bersahabat, satu hal yang menyatukan mereka adalah sebuah “kegilaan”. Jika mereka masih dalam ego kelurusannya masing-masing, maka bagaikan dua rel yang sejajar, tak pernah ada titik temu. Namun karena mereka sama-sama bisa menggila akhirnya mereka menemukan persamaan: dangdut, pemikiran-pemikiran yang terlampau liberal dan lain-lain.

Eko, Winarso, dan Aku: pemandangan langka
Eko, Winarso, dan Aku: pemandangan langka



Hari-hari berikutnya tak lagi menegangkan seperti kemarin dalam misi meretas akun. Agendanya tinggal Burning CD, mengurus bebas perpus, upload file bersama Paemo. Masalah nilai konon telah beres. Aku menunggu Bu Retno memproses Surat Kelulusan hingga sore bersama Paemo, Dila, Novi, Heny, Lisa dan Ratri. Ada sesi mendebarkan diantara kami kala menunggu hasil print out transkrip nilai, kami menanti ingin tahu berapa IPK yang didapat. Akhirnya hari itu tertanggal 13 Agustus 2012, sebuah transkrip nilaiku keluar dari printer lab Komputer atas handle bu Retno, aku dinyatakanlulus dengan IPK 3,41. Meski Skripsiku memperoleh nilai AB tapi itu tak menghalangi kembang senyumku mendapatkan IPK 3,41 dengan predikat sangat memuaskan, tertinggi diantara sekelompok teman yang menunggu di situ.

Lagi-lagi aku harusmeng artiskan dosen. Kali ini aku mengejar tanda tangan pak Dekan untuk SKL ku. Pagi-pagi bolak-balik ke dekanat, pak dekannya malah sedang pergi kesana lah sedang itu lah intinnya beliau sedang tidak ada disitu. Hari-hari sebelumnya aku sudah ditagih orang tua tuk pulang ke rumah, karena sebentar lagi lebaran tiba. Aku telah berjanji akan pulang hari selasa itu, karena menurut perhitungan deadline seharusnya ini adalah waktu yang tepat. Kutunggu hingga pukul 13:00 pak Dekan belum juga datang. Bersama Paemo aku mondar-mandir seperti orang menahan kencing. Berharap trinitas akan terpenuhi sebelum lebaran ini Lulus – SKL – Liburan.

Jam 14:00 aku menyatakandiri untuk pulang ke Purbalingga. . . .

Padamara, 25 April 2013