Saturday, August 11, 2012

Dari Setanjung ke Kalimasada [Part 5]


Tidak ada liburan panjang untuk akhir semester ini. PPL adalah sebuah beban yang dipikul untuk mahasiswa semester 7 membuatku mengurungkan niat untuk bersenang senang, bersantai-santai di rumah. Kontrakku di Dian Ratna masih ku perpanjang dan Noval selalu positif thinking padaku sehingga ia masih mempercayakanku menjadi teman sekamarnya. Amin, pindah entah kemana. Aku belum sampai berjumpa dengan maba calon-calon penghuni Dian Ratna yang baru. Rombongan PPL Unnes menarikku tanpa belas kasihan kemudian menerjunkanku begitu saja di SMP Negeri 2 Tengaran (sebelah selatan Kota Salatiga).

Terpaksa dalam tiga bulan ini aku harus berpisah dengan Dian-Ratna, dan mendapat lingkungan hidup yang baru yaitu di Desa Bener, persis di belakang Terminal bus Tingkir Kota Salatiga. Desa yang begitu dingin. Untuk beberapa minggu aku merindukan Dian Ratna dan kembali kesana. Aku merasakan perbedaan temperatur yang cukup tajam antara Salatiga dengan Gunungpati, membuat kulit ariku seperti hendak mengelupas. Di minggu kedua aku baru melihat maba di Dian Ratna. Sebelah kamarku adalah orang Batak, mereka memenuhi segala fasilitas untuk dirinya di kamarnya sendiri, termasuk TV dan PS. Sebelah kiri kamarku masih ada Ulin, hanya saja dia sudah kehilangan Amin, namun ia terlihat lebih mantap dan mandiri dalam menjalani hidup hingga mencalonkan diri menjadi Ketua HIMA geografi.

Gilang telah pindah dengan damai entah kemana, dalam waktu dekat Agung juga pindah atau lebih tepatnya diusir ibu kos karena tagihan tahun lalu belum lunas. Marham masih bertahan, aku bingung kepada siapa lagi aku akan bersahabat. Maba memandangiku sedikit menaruh rasa curiga, aku memaklumi, mungkin memang karena kita sama-sama putra Dian Ratna tapi aku adalah orang yang menghilang sejenak ketika mereka lahir disini. Bisa saja mereka berprasangka bahwa aku adalah orang luar, orang asing, orang yang seharusnya tidak tinggal disini. Hampir setiap minggu aku pulang ke Dian Ratna dari Salatiga, namun rasanya mereka tak kunjung akrab denganku. Teman lain suku memang lebih sulit untuk diakrabi, samping kananku adalah orang Batak, sampingnya lagi orang Minangkabau, depanku Orang Batak, sampingnya dia orang Sunda. Hanya sesama orang Jawa yang masih terlihat ramah kepadaku.

KKN membuatku terpental semakin jauh dari Dian Ratna, tapi aku mendapat kebahagiaan di tempat KKNku di desa Kubangwungu, Brebes. Empat puluh lima hari aku meninggalkan Semarang tanpa kembali, tak tahu kabar dari Setanjung.

Ketika PPL dan KKN telah menjadi sejarahku, lembaran baru di Setanjung kembali dimulai. Semester delapan mareka masih berlarut-larut kurang mengenalku, mungkin hanya sebatas tahu kalau aku adalah mahasiswa semester atas. Noval juga telah menjadi senior di kos sekaligus senior di HIMA geografi. Marham telah dinyatakan lulus di semester 7 kemarin, dia tinggal mondar-mandir di kos atau ke kota tuk mencari informasi lapangan pekerjaan, dan pertengahan semester 8 dia pulang ke Kalimantan. Tak kusangka inilah akhir persahabatan 4 tahunku bersamanya, entah kapan lagi aku bisa bertemu dengannya.

Aku sadar ini adalah bulan-bulan, hari-hari, minggu-minggu, jam-jam kemudian menjadi detik-detik terakhirku di Dian Ratna. Memang tak ada yang menarik, tapi aku telah memutuskan tanggal 13 Juli 2012 menjadi hari bersejarahku meninggalkan Dinasti Dian Ratna Jl.Setanjung, dinasti yang cukup untuk menguji idealismeku selama 4 tahun.
Gazebo C5 FIS, 11 Agustus 2012    

0 comments:

Post a Comment