Ekspedisi Sejarah Indonesia (Exsara)

Exsara merupakan organisasi terbesar di Jurusan Sejarah Unnes. Aku dirikan bersama teman-teman jurusan sejarah Unnes angkatan 2008. Mereka semakin maju

Catatan Hidupku

Aku sangat suka menulis. Termasuk membuat catatan hidupku. Biar nanti aku mati, tapi pikiranku seolah terus hidup sampai anak cucuku

Petualangan Hidup

Setiap hidup, pasti menyempatkan berkunjung ke tempat unik, berkenalan dengan orang baru. Semua itu akan mendidik kita jadi manusia besar

Sejarah Nasional dan Dunia

Basis pendidikanku Sejarah. Aku sangat menyukai kisah masa lalu. Ada yang kuanggap sebagai sastra ada yang kuanggap sebagai guru kehidupan

Pola Hidup Sehat

Sejak SMP aku sudah punya bakat pemerhati gizi. Aku sangat mencintai pola hidup sehat. Tanpa kita sehat, semua yang kita miliki tak ada gunannya

Tuesday, June 10, 2014

Awá, Suku Hutan Amazon Terancam Punah

Kampanye internasional oleh kelompok advokasi Survival International berharap untuk menyelamatkan suku yang "paling terancam di dunia" — suku Awá di Brasil — dari orang luar yang berusaha mengambil tanah mereka.



Orang-orang suku Awá hidup dari berburu dan berkumpul. Mereka berperjalanan dalam keluarga besar sekitar 30 orang. Mereka akan pergi berburu dalam ekspedisi selama beberapa minggu. Meski begitu, kelompok kecil ini menjadi rentan terhadap serangan orang-orang bersenjata yang disewa oleh para pembuka hutan dan penebang kayu.



Pria-pria Awá adalah pemburu yang membuat sendiri panah serta busur mereka. Kehidupan suku ini sangat tergantung pada hutan dan gaya hidup berburu-berkumpul mereka.




Hemokoma'á berdiri di antara hutan yang terbakar di teritori suku Awá territory - 31% persen kawasan mereka sudah dibakar dan dirusak oleh pembuka hutan ilegal.



Apãranã ("Kupu-kupu kecil") berayun dari akar liana melewati sungai tempat anak-anak mandi dan bermain. Orang-orang suku Awá memancing ikan di sungai di kawasan mereka dan menyukai daging kura-kura.



Seperti banyak suku Indian lain di Amazon, Awá menggendong bayi mereka - biasanya gendongan ini terbuat dari serat palem namun kini terbuat dari kain.



Suku Awá di Brasil kini terlibat dalam proses hukum untuk melindungi tanah mereka dari pembalakan liar dan pembuka hutan. Amerintxia kemungkinan adalah orang Awá tertua. Dia hidup sendiri dinaungi pohon palem, bersama dengan banyak hewan peliharaannya. Dia masih mengumpulkan sendiri makanannya di hutan.









Sumber: Viva

Hanya ada di Novel dan Film

Surya Esa, berambut gondrong


"dr Istanto itu orangnya lurus. Tapi lurusnya kemana dulu, kalau menyimpang ya salah sasaran. Lebih baik kita tempuh jalan berliku tapi tepat sasaran," kata bapak Keluarga Kembang Cahaya (KCa), Surya Esa

Itu yang akan selalu aku ingat dari wawancara tadi siang dengan dia. dr Istanto, dinkes dikecam olehnya karena dinilai mendiskreditkan para pecandu narkoba yang ingin sembuh. Mereka disamakan dengan perilaku bunuh diri sehingga pemerintah tak sudi membantu, bahkan katanya tarif IPWL justru dimahalkan khusus mereka.

Hari ini pak Esa nampak puas. dr Istanto jadi kena tegur Bupati. Dan kedamaianpun kembali mengalir. Kita harus terima berlikunya jalan. Seribu satu orang seperti pak Esa ini. Dia terlalu disegani karena mau sukarela membantu rehab sos pasca pemulihan para pecandu narkoba, yang kini terus bertambah menjadi 30 orang.
Kusebut dia Lokal Hero. Hanya baru ku temui orang seperti dia di novel, atau film. Tak ada yang sia-sia pengabdian dari orang orang seperti itu.

Ada yang nyaris mirip. Sahabatku Winarso juga punya kepedulian yang tinggi kepada mereka yang tersingkirkan. Hanya saja dia terlalu ingin terekspos, dipamerkan, pencitraan. Bahkan kadang ada yang palsu dan dibuat jadi 'seolah-olah'.

Kawan yang lain juga ada yang mirip. Ialah mas Wanto, guru mengaji di kampungku, dia terlampau peduli dengan anak-anak kecil dan pemuda disini. Mendidik tanpa ada imbalan. Hanya saja dia terlalu fanatik dengan keNU-annya.

Mereka punya tujuan mulia, untuk banyak orang dengan cara cara mereka sendiri. Tak seperti aku, meski banyak yang mengenalku. Tapi pergerakanku begitu individu. Hatiku masih keras untuk luluh tapi ketika bertindak reaksioner aku masih kalah telak kerasnya dengan perjuanjuangan mereka.

Dinkes vs BNK

Sunday, June 8, 2014

Mengenal Ratna Sari Dewi Soekarno

Kisah Cinta Soekarno dengan Naoko Nemoto (Ratna Sari Dewi)



"Dewiku tercinta, Saya dalam keadaan baik dan sangat sibuk dengan konferensi bersama semua panglima militer untuk menyelesaikan konflik di kalangan militer. Jangan khawatir, sayang!, Sayang dan 1000 ciuman, Soekarno." 

Untaian kata cinta itu dilayangkan oleh Soekarno kepada pujaan hatinya, Ratna Sari Dewi. Surat singkat itu dikirim melalui kurir Sang Presiden pada 2 Oktober 1965. 

Situasi yang memanas di dalam tubuh militer setelah peristiwa 30 September 1965 nampaknya meluluhkan hati Soekarno yang keras. Cintanya membuat Soekarno tak melupakan Dewi, tak lupa melayangkan seribu ciuman kepada wanita Jepang itu. 


Lahir Dengan Nama Naoko Nemoto Nemoto Naoko Di Tokyo





Naoko Nemoto adalah nama aslinya. Perkenalan dan kisah cintanya dengan Sang Proklamator membawanya ke Indonesia, kemudian menjelma menjadi Ratna Sari Dewi, ketika Indonesia baru saja lahir. 

Naoko dilahirkan dalam keluarga sederhana pada 6 Februari 1940. Keluarganya menetap di Tokyo, Jepang, tepatnya di Shibuya-Ku, Kamiyama-Cho. 
Dialah geisha yang begitu sempurna di mata Sukarno. Kecantikannya begitu mempesona, sehingga tak kuasa Sukarno meredam hasrat cintanya yang berkobar-kobar. Gadis Jepang ini lahir tahun 1940, sebagai anak perempuan ketiga seorang pekerja bangunan di Tokyo. Ia lahir dari keluarga sederhana, sehingga Naoko harus bekerja sebagai pramuniaga di perusahaan asuransi jiwa Chiyoda, sampai ia lulus sekolah lanjutan pertama pada tahun 1955.



Empat tahun kemudian, nasib mengubah hidupnya. 
1956 ia mengundurkan diri, dan menekuni profesio geisha Akasaka’s Copacabana yang megah, salah satu kelab malam favorit yang sering dikunjungi para tamu asing. Ke kelab inilah Sukarno datang pada 16 Juni 1959. Bertemu Naoko, dan jatuhlah hatinya. Setelah itu, Bung Karno masih bertemu Naoko dua kali di hotel Imperial, tempat Bung Karno menginap. Akan tetapi, versi lain menyebutkan, pertemuan keduanya terjadi setahun sebelumnya, di tempat yang sama.
Usai lawatan dua pekan, Bung Karno kembali ke Jakarta. Tapi sungguh, hatinya tertinggal di Tokyo… hatinya melekat pada gadis cantik pemilik sorot mata lembut menusuk, sungging senyum yang lekat membekas. Seperti biasa, Bung Karno mengekspresikan hatinya melalui surat-surat cinta. Cinta tak bertepuk sebelah tangan. Isyarat itu ia tangkap melalui surat balasan Naoko.
Tak lama, Bung Karno segera melayangkan undangan kepada Naoko untuk berkunjung ke Indonesia. Sukarno bahkan menemaninya dalam salah satu perjalanan wisata ke Pulau Dewata. Benih-benih cinta makin subur bersemi di hati keduanya. Terlebih ketika Naoko menerima pinangan Bung Karno, dan mengganti namanya dengan nama pemberian Sukarno. Jadilah Naoko Nemoto menjadi Ratna Sari Dewi. Orang-orang kemudian menyebutnya Dewi Soekarno.
Tanggal pernikahan keduanya, ada dua versi. Satu sumber menyebut, keduanya menikah diam-diam pada tanggal 3 Maret 1962, bersamaan dengan peresmian penggunaan nama baru: Ratna Sari Dewi berikut hak kewarganegaraan Indonesia. Sumber lain menyebut mereka menikah secara resmi bulan Mei 1964. Agaknya, sumber pertamalah yang benar.

Lahir Di Tokyo Jepang 6 Februari 1940 Dengan Nama Naoko Nemoto Lahir

Saat itu, Juni 1959, Soekarno melepas lelah di salah satu kawasan kenamaan di negeri Sakura, Akasaka's Copacabana. Sang Presiden merasa perlu melepas penat di sela kunjungan kerjanya yang padat, menguras tenaga dan pikiran. 

Tanpa rencana, pandangan mata Soekarno menghampiri Naoko Nemoto yang anggun dan gemulai. Melalui perantaraan kolega di Jepang, Soekarno akhirnya berhasil bercengkrama dengan sang dara. 

Hari berganti, keduanyapun semakin akrab. Semakin lama Soekarno memandang Naoko, semakin luluh hatinya, dan jatuhlah hati itu dalam dekapan dara Sakura. Bukan Soekarno kalau tidak melakukan hal yang di luar kebiasaan. Dia boyong Naoko ke Tanah Air. Sejumlah literatur menyatakan keduanya sempat berkelana ke Pulau Dewata, hingga akhirnya bersanding di pelaminan pada 1962. 


Jadilah Naoko dara nusantara, Ratna Sari Dewi, lengkap dengan status kewarganegaraan Indonesia. Jadilah dia Ibu Negara, bersama empat Ibu Negara lainnya yang telah disunting oleh Soekarno sebelumnya.

Cinta Soekarno kepada Ratna Sari Dewi meluap-luap. Ia ceritakan semua seluk beluk pekerjaan kepada Dewi. Dalam setiap surat yang dia kirim di tengah sibuknya aktivitas sebagai petinggi negeri, Soekarno selalu menyapa Dewi dengan sebutan "Dewiku" atau "Sayang". Saking dekatnya hati mereka, para wartawanpun berusaha mendekati Dewi dengan satu alasan, hanya Dewi yang mengetahui apa yang dilakukan oleh Soekarno.

Begitupun Dewi. Dia menyayangi suaminya sepenuh hati. Meski kadang fisik mereka terpisah samudera, hati Dewi melayang menghampiri Soekarno di tanah air. Hatinya menyertai Sang Presiden dalam setiap pekerjaan, sampai akhir hayatnya.

Secara fisik, Dewi datang ke Indonesia pada 20 Juni 1970, malam hari, sekitar pukul delapan. Bersama anak buah kasihnya dengan Soekarno, Kartika, yang saat itu masih berumur empat tahun. Dewi langsung menuju Wisma Yaso. Dewi mendampingi suaminya menghembuskan nafas terakhir dalam kekuasaan Orde Baru. 

Kepustakaan Presiden yang diterbitkan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia menyebut Soekarno menambatkan hati kepada Dewi bukan hanya karena kecantikannya, namun karena cita rasa Indonesia yang tertanam dalam diri wanita itu. 

Kepustakaan tentang para presiden Indonesia itu menyebut Dewi fasih melantunkan tembang "Bengawan Solo" saat hati dan mata mereka petama kali bertemu di negeri Sakura. Sampai kini, 65 tahun setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, Dewi tetap merasa sebagai warga negara Indonesia (WNI).


"Saya lebih lama jadi WNI daripada Anda, ya. Dari 1959. 51 tahun saya WNI," kata Dewi ketika ditemui di Istana Merdeka setelah upacara penurunan bendera untuk memperingati Hari Ulang Tahun ke-65 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Foto Masa Tua












Sumber: Cuy Cuya