Ekspedisi Sejarah Indonesia (Exsara)

Exsara merupakan organisasi terbesar di Jurusan Sejarah Unnes. Aku dirikan bersama teman-teman jurusan sejarah Unnes angkatan 2008. Mereka semakin maju

Catatan Hidupku

Aku sangat suka menulis. Termasuk membuat catatan hidupku. Biar nanti aku mati, tapi pikiranku seolah terus hidup sampai anak cucuku

Petualangan Hidup

Setiap hidup, pasti menyempatkan berkunjung ke tempat unik, berkenalan dengan orang baru. Semua itu akan mendidik kita jadi manusia besar

Sejarah Nasional dan Dunia

Basis pendidikanku Sejarah. Aku sangat menyukai kisah masa lalu. Ada yang kuanggap sebagai sastra ada yang kuanggap sebagai guru kehidupan

Pola Hidup Sehat

Sejak SMP aku sudah punya bakat pemerhati gizi. Aku sangat mencintai pola hidup sehat. Tanpa kita sehat, semua yang kita miliki tak ada gunannya

Wednesday, December 28, 2016

Review Tas Kalibre Predator 03



Sedikit cerita, beberapa waktu lalu sebuah tas selempang miliku terputus selempangnya. Maklum lah tas tersebut memang tidak memiliki merek, atau hanya sebuah souvenir/kenang-kenangan yang saya dapat dari salah satu kantor pajak di kotaku. Sehingga kali ini saya membutuhkan sebuah tas pengganti.

Sebelum membelinya, saya mencari-cari informasi tas brand berkualitas dengan harga yang tidak terlalu tinggi. Selain menilai kualitas brand, saya juga memilih-milih model-model yang bagus. Tiba-tiba mata saya kepincut dengan tas brand Kalibre tipe Predator 03, ini adalah jenis tas selempang atau travel pouch bukan tas punggung. Saya memang membutuhkan tas praktis seperti ini.

Dengan penasaran, saya mencari tahu, siapa sih sebenarnya produsen Tas Kalibre. Cukup membuka websitenya di www.iamkalibre.com ternyata ini adalah produksi tas dalam negeri yang mermarkas di Jl Cihampelas No 4 Bandung. Toko-toko khusus produk Kalibre ini umumnnya dijual di Ramayana atau di Toko Buku Gramedia. Meski demikian, saya memutuskan membelinya secara online.

Begitu barang datang, saya tidak langsung membukanya. Saya perhatikan kemasannya terlebih dahulu. Tas ini dikemas dengan plastik segel resmi Kalibre yang juga terdapat silica di dalamnya. Di plastik bagian bawah terdapat tulisan WARNING yang terdiri dari berbagai bahasa negara diantaranya Bahasa Inggris, Bahasa Jerman, Bahasa Prancis, Bahasa China, Bahasa Belanda dan Bahasa Korea. Pada intinya tulisan tersebut memperingatkan agar jangan membuang plastik ini sembarangan khususnya agar dijauhkan dari bayi dan anak-anak dikhawatirkan salah dimasukan ke kepalanya dan menyebabkan kehabisan nafas.

Kondisi tas saat masih segel

Begitu saya buka segel itu, bisa langsung ku sentuh bahan-bahan rancangannya. Demikian langsung aku cek bolak-balik untuk memastikan tidak ada sisi cacat produksi apakah ada benang menjulur keluar, ukuran yang tidak presisi, resleting rusak atau kekurangan item. Ternyata tidak ku temukan semua itu, dengan demikian sisi luar tas yang saya beli ini memang sempurna. Masih tergantung sebuah Price Tag dengan banderol harga Rp 299.000 berhologram Geniune dan ISO, serta sebuah Kartu Garansi 1 Tahun dan stiker.

Tas dari depan

Price tag dan kartu garansi

Tampak paling luar ada semacam cangkang yang sangat elegan khas tipe "Predator" mirip seperti punggung kalajengking dan berlapis karet. Sedangkan sisi-sisinya berbalut dengan bahan sintetis yang tidak terlalu tebal. Namun demikian bahan tersebut telah berlapis karet yang berfungsi sebagai water resistant.

Sekilas tas ini berbentuk seperti segitiga terbalik. Dengan lebar atas berukuran 26 Cm dan lebar bawah berukuran 20 Cm. Sedangkan tinggi/panjang 30 Cm dan tas atau mampu direnggangkan hingga ketebalan 11 Cm. Selain itu bagian atas tas terdapat penjinjing yang cukup tebal.
Lebar atas 26 Cm

Panjang 30 Cm

Resleting yang digunakan juga terdapat tulisan Kalibre atau tidak menggunakan brand pihak ketiga. Jenis resletingnyapun juga menggunakan tipe tertutup yang juga berfungsi mencegah masuknya air. Tas ini hanya memiliki 2 resleting luar yakni depan dan belakang. Keduanya bisa membuka sepanjang 270 derajat lingkar tas dari atas ke bawah.

Resleting Kalibre

Bagian dalam tas juga tampak cukup elegan. Penggunaan warna orange terang tentu berfungsi untuk mempermudah pencarian benda yang ada di dalam. Ruang bagian belakang merupakan ruangan terluas. Diantaranya ada bagian untuk meletakan tablet atau netbook. Sementara resleting bagian depan terdapat banyak saku diantaranya 2 saku tipis besar dan terdapat resleting, satu saku berukuran setengah tanpa resleting serta 3 saku kecil.

Ruang bagian belakang
Ruang bagian depan

Bagian luar-belakang tas ini terbuat dari busa yang empuk berwarna hitam. Sedangkan pengkait/carabiner selempang terbuat dari plastik yang kokoh. Mengingat ini bahan baru, maka saya belum tahu seberapa kuat daya tahan pelapis karet ini, terutama jika sering terkena hujan dan panas. Bagi yang sudah memiliki pengalaman, bisa menuliskan komentar di bawah ini.
Bagian luar-belakang
Pengait dari plastik padat dan kokoh
Ketebalan daya tampung tas 11 Cm

Monday, December 26, 2016

HUT-17 SMAN 1 Kutasari Pamerkan Kreatifitas Siswa



KUTASARI - Perayan ulang tahun sekolah yang ke-17, SMA Negeri 1 Kutasari menggelar sejumlah rangkaian acara menarik. Kemarin (14/1) beberapa ruang kelas dipakai sebagai wadah galeri hasil kreatifitas siswa, mulai dari galeri dan perlengkapan ekstrakulikuler (ekskul) dan pameran Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Ketua Panitia Perayaan HUT SMAN 1 Kutasari yang ke 17, Bambang Yuniarto SPd menjelaskan perayaan ini merupakan agenda tahunan sekolah. Dari produk ekskul misalnya berbagai hasil seni lukis yang diaplikasikan di selain kanvas, misal di talenan bisa untuk hiasan dinding. "Seni rupa pesertanya sedikit, karena seni hanya dimiliki beberapa siswa tapi ekstrakulikuler ini tetap berjalan," katanya.

Sejumlah galeri juga dimaperkan oleh ekskul lain seperti Pramuka, Pecinta alam, Palang Merah Remaja, PArtoli Keselamatan Sekolah (PKS), Futsal, Pencak Silat Merpati Putih, Basket, Sinematografi Papringan Pictures dan bahasa Jepang. Ekskul Jurnalistik turut memamerkan berita-berita seputar sekolahan karya siswa. Umumnya berisi kritik saran saran seputar sekolah dan infrastruktur sekolah.

"Yang tidak kalah menariknya juga ada sejumlah miniatur bangunan adat serta peralatan bersejarah pertama kali yang digunakan di sekolah ini seperti, mesin tik pertama, tape pertama, pengeras suara, perabot dan alat multimedia lain yang pertama kali digunakan sekolah ini pada tahun 1999 lalu," paparnya.

Perkakas dan perabot yang dimiliki SMAN 1 Kutasari Pertama Kali
Miniatur rumah adat tradisional
Pameran Kuliner buatan siswa


Rangkaian acara ulang tahun dimulai sejak Selasa (5/1) lalu. Yakni dimulai dari upacara bendera yang dikemas dengan pemaparan sejarah SMA, Pemberian penghargaan atas prestasi.

"Kami juga menelenggarakan pelepasan balon harapan, yaitu setiap peserta didik dan guru menuliskan cita citanya dalam satu kertas lalu digantungkan tali balon lalu diterbangkan bersama, totalnya ada 500 balon.

Acara perayaan ini juga masih berlanjut hingga Sabtu (16/1) mendatang. Khusus hari ini (15/1) rencananya akan diselenggarakan jalan sehat bareng siswa dan alumni. Sedangkan pada Sabtu (16/1) akan diselengagrakan acara pentas seni. "Kami harap seluruh alumni SMAN 1 Kutasari bisa hadir dalam dua agenda terakhir ini," katanya.

Suwanto : Pelopor Pertanian Organik Purbalingga

PURBALINGGA – Meskipun bukan berstatus PNS, Suwanto memiliki dedikasi yang tidak jauh berbeda. Bahkan lebih baik dibanding pegawai yang ada, khususnya dalam bidang pertanian. Bapak kelahiran 12 Desember 1971 ini bekerja sebagai tenaga harian lepas (THL) yang memperbantukan tenaga Penyuluh Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan di kecamatan Kaligondang, khususnya di desa Penolih.

Suwanto

Orang seperti Suwanto tergolong langka. Di Purbalingga ia paling terkenal sebagai pelopor pertanian organik. Baik dari sisi sistim penanaman maupun hasil tanamnya yang berupa bahan pangan. Pengabdiannya yang paling mendasar adalah berinovasi dengan Mikro Organisme Lokal (MOL) yang berguna untuk menyuburkan lagi tanah yang rusak dang mengeras akibat penggunaan pupuk kimia.
“Jadi kalau pupuk kimia itu sifatnya instan, pertumbuhan cepat. Namun dalam jangka panjang ia merusak. Nah dengan sistim organik ini ibaratnya mengobati kerusakan tanah tadi. Dalam jangka panjang bukannya bertambah rusak, namun bertambah subur hasil panen meningkat,” kata Wanto.
Pertama ia menggeluti bidang pertanian di sekitar tahun 2005. Ketika itu ia bergaul dengan tokoh senior pupuk organik di Purbalingga. Tahap selanjutnya ia mulai mengembangkan sendiri. Tak luput juga melibatkan para akademisi. Termasuk dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) khususnya dalam bereksperimen meningkatkan produktivitas mikroorganisme dalam pupuk cair organik (POC) yang dibuatnya.
Hasilnya ia ujicobakan ke laboratorium pertanahan Universitas Jenderal Soedirman, bagaimana untuk menumbuhkan padi. Terbukti, pupuk hasil inovasinya terbukti sangat baik. Selain itu biaya produksi juga jauh lebih murah.
“Pupuk organik buatan sendiri paling hanya menghabiskan biaya Rp 100 – 150 ribu untuk 7 liter pupuk organik cair  dan untuk 1 hektar sawah. Sementara jika pupuk organik yang dibeli di pasaran bisa menghabiskan Rp 120 ribu hanya satu liter untuk 150 meter persegi,” ungkapnya.
Hasil inovasinya ini belum ia perjual belikan. Ia justru lebih mengedepankan penyuluhan kepada para petani untuk bisa membuat pupuk tersebut. Harapannya biaya produksi petani menurun namun hasil produksi tetap meningkat. Sehingga kesejahteraan petani bisa tercapai.
Karena keunggulannya, ia juga sempat diundang ke berbagai daerah guna mentransferkan ilmunya agar bisa diterapkan kepada petani. Diantaranya pernah diundang ke Pemalang, Batang, Pemalang, banjarnegara, Wonosobo, Banyumas, Cilacap dan di Purbalingga sendiri. Di desa Penolih, tempat ia mangabdi sudah menyediakan lahan eksperimen.
Hasil uji cobanyapun memuaskan. Jika lahan 100 ubin menggunakan pupuk kimia hanya mampu menghasilkan 9-10 kwintal. Sementara jika menggunakan pupuk organik buatannya bisa menghasilkan 10-13 kwintal. Hasilnya pun terus meningkat. Ketika tahun 2008 menghasilkan 6,3 ton/ha, sedangkan tahun 2012 sudah bisa menghasilkan 8,4 ton/ha.
Sementara bukti-bukti tersebut, sayangnya belum banyak dipahami oleh para petani. Di desa Penolih sendiri yang sudah mengaplikasikan sistim organik ini baru 25 persen petani yang ada. Kebanyakan masih menggunakan cara konvensional yaitu pupuk kimia.
“Untuk organik memang cenderung ribet, sementara petani penginnya yang instan. Faktor kedua mungkin sudah menjadi naluri petani melakukan apa yang biasa dilakukan. Padahal kebiasaan mereka nantinya bisa merusak,” kata pria alumni Agro Teknologi UMP.
Posluhdes Desa Penolih ala laboratorium organik
Hasil pertanian organiknyapun ia akomodir untuk dijual menjadi beras sehat. Ia membeli beras tersebut dari petani dengan harga yang cukup tinggi yaitu Rp 10.000/kg. Kemudian ia menjualnya dengan harga Rp 13.000/kg. Itupun kata dia, profit yang didapat masih sedikit.
Karena kehebatannya ini ia sempat dipanggil oleh pemerintah Purbalingga khususnya oleh Badan Perencanaan Pembangunan daerah (Bappeda) dan membuat organisasi yang dinamai Pamorbangga atau paguyuban masyarakat organik Purbalingga. Suwanto dikukuhkan menjadi ketuannya. (Ganda Kurniawan)