Ekspedisi Sejarah Indonesia (Exsara)

Exsara merupakan organisasi terbesar di Jurusan Sejarah Unnes. Aku dirikan bersama teman-teman jurusan sejarah Unnes angkatan 2008. Mereka semakin maju

Catatan Hidupku

Aku sangat suka menulis. Termasuk membuat catatan hidupku. Biar nanti aku mati, tapi pikiranku seolah terus hidup sampai anak cucuku

Petualangan Hidup

Setiap hidup, pasti menyempatkan berkunjung ke tempat unik, berkenalan dengan orang baru. Semua itu akan mendidik kita jadi manusia besar

Sejarah Nasional dan Dunia

Basis pendidikanku Sejarah. Aku sangat menyukai kisah masa lalu. Ada yang kuanggap sebagai sastra ada yang kuanggap sebagai guru kehidupan

Pola Hidup Sehat

Sejak SMP aku sudah punya bakat pemerhati gizi. Aku sangat mencintai pola hidup sehat. Tanpa kita sehat, semua yang kita miliki tak ada gunannya

Saturday, June 9, 2012

Candi Khajuraho: Candi Kamasutra (Terlengkap)




Riwayat Penemuan Candi Khajuraho

Seratus enam puluh tahun yang lalu di hutan sebelah utara India, reruntuhan dari kota besar yang hilang ditemukan. Ditengahnya, ada komplek Kuil paling rumit yang pernah ditemukan di India. Meski dielu-elukan sebagai karya terbesar dalam seni dan arsitektur, namun kuil tersebut melanggar sopan santun masyarakat yang telah beradab.




sebab tembok kuil dipenuhi dengan gambaran seks paling eksplisit di dunia. Di tempat bangunan itu berdiri, tepatnya di bukit sebelah Utara India, dimana sungai membelah di tengahnya, dahulu pernah berdiri dinasti yang besar. Selama 300 tahun mereka hidup makmur.



Di suatu tempat yang disebut Khajuraho inilah mereka membangun gedung pemerintahan dan beberapa kuil terbesar yang pernah ada di India. Yang membuat Khajuraho ini sangat menarik wisatawan mancanegara adalah susunan mengagumkan dari ukiran-ukiran erotik. Sangat jelas ditampilkan setiap posisi seks yang dapat dibayangkan yaitu pertunjukan seks di abad pertengahan. Meski diukir ribuan tahun yang lalu, ukiran-ukiran ini masih memiliki kekuatan untuk membuat malu dan membangkitkan gairah. Dunia arkeologi hingga saat ini belum benar-benar mendapat jawaban yang memuaskan mengenai asal-usul pembuatan kuil-kuil ini. Mengapa di tempat suci kepercayaan mereka bisa terpasang relief-relief seperti ini?
apakah tujuan dari itu semua?

Seratus tahun yang lalu, saat kuil-kuil ini ditemukan, karya erotisme India yang kedua dipamerkan di dunia Barat. Tahun 1883 adalah publikasi rahasia pertama dari Kama Sutra, Prinsip Dasar Cinta. Dengan perhitungan yang sangat teliti, bahkan klinis buku itu memuat semua jenis hubungan seksual.Kama Sutra disusun pada abad 4 M oleh Malinaga Vatsayana. Ia mengajarkan anak muda tentang masalah universal mengenai bagaimana memiliki kehidupan memuaskan dan penuh secara seksual. Ia mengajarkan bagaimana menjadi suami yang baik dan pada wanita bagaimana menjadi istri yang baik. Ia menulis secara sensitif tentang menciptakan kepercayaan diri pada seorang gadis. Memperkenalkannya pada seks. “Wanita, memiliki sifat lembut, dan menginginkan awal yang lembut”. Di Inggris, Ratu Victoria yang menekan kehidupan seksual, Kama Sutra dikutuk secara terbuka. Tapi segera ia jadi salah satu buku bajakan terbesar dalam bahasa inggris. Jika buku Kama Sutra hanya mendeskripsikan hubungan seksual, lain ukiran di Khajuraho yang menapilkannya pada umum, untuk dilihat semua orang.

Bangunan kuil ini sepintas memang terlihat serupa dengan konstruksi Katerdal Gothic di Eropa. Sejarawan Seni dari Univ Pennsylvania, Michael Meister, tertarik pada peran ukiran di kuil ini. Menurutnya, Kuil Khajuraho berasal dari abad 10-12 pada masa arsitektur di India. Penambahan ukiran di kuil adalah bagian dari kekhasan kuil yang menjadikan kuil itu model dari kosmos, yaitu bagaimana dunia diciptakan, dan perbedaan dari dunia. Di Khajuraho, kuil besar didirikan di podium tinggi. Lantai podium melambangkan dunia, di lantai bawah dasar podium saat berada di bawahnya ada papan gambar yang menempel di seluruh lantai bawah yang menunjukkan semua aspek dari kehidupan manusia. Ada relief yang menggambarkan prajurit, raja, dan pekerja yang mengukir batu untuk kuil. Dunia abad pertengahan India bukan merupakan dunia yang hebat. Banyak kebudayaan yang memiliki simbol untuk mewakili alam semesta, tapi hanya di India yang punya penekanan pada erotisme. Beberapa tahun kemudian, banyak ditemukan penjelasan lebih lanjut. Apakah tujuan dari ini semua merupakan murni agama, yaitu ujian bagi pendeta yang hidup selibat mengejek mereka dengan kesenagan duniawi? atau untuk tujuan komersial yang digunakan untuk menarik peziarah dengan mengiklankan prostitusi kuil? atau ukiran itu dijadikan pedoman?

Mungkinkah Kuil dibangun pada saat populasi menurun? Satu hal yang pasti, di India, seks dan agama selalu berjalan bersama. Hingga saat ini di Khajuraho hal tersebut masih tetap berlangung. Setiap tahun di musim gugur, para wanita desa ambil bagian dalam upacara kesuburan kuno. Setiap pagi mereka bangun saat subuh, memakai pakaian terbaiak mereka dan berjalan menuju kuil Chausath Yogini. Di sana, sebelum memasuki kuil, mereka memberi Persembahan bunga dan air. Para gadis berdoa agar pria baik dapat menjadi suaminya, wanita yang telah menikah berdoa agar diberikan anak. Sejarawan seni Devongan Nagasai adalah pemimpin dalam erotisme India. Ia menemukan bahwa Dewi Durga/ Dewi kesuburan memiliki akar kuno dalam aspek seksual dari agama di India. Gambar erotik dari abad 2 SM yang berhasil ditemukan pada seni India pada umumnya dianggap merupakan sesuatu yang dapat membawa keuntungan dan mereka diharapkan dapat mengusir setan. Gambar-gambar erotik telah ada sebelumnya, jauh hingga 2000 SM. Ukiran ini berasal dari pemujaan ibu para dewi. Ia memiliki kekuatan atas masalah dasar kehidupan.

Siapa yang membangun kuil dan dewa lainnya? Peneliti modern mengungkapkan bahwa jawaban itu melibatkan campuran kekuatan, agama dan seks. 40 mil disebelah Utara Khajuraho, terdapat reruntuhan kompleks istana. Dahulu, kompleks istana itu adalah kediaman salah satu pemimpin Dinasti yang sangat kuat di India, Pangeran Chandela. Pada abad 5 pusat perdagangan India mengalami penurunan. Kekuasaan dipindahkan ke pedalaman. Sama halnya di Eropa, India saat itu memasuki jaman kegelapan. Di Perguruan Tinggi Arsitektur dan Ukiran dekat Madras, Selatan India. Para pelajar mempelajari arti dari motif India kuno. Di bawah pengawasan akhli modern, mereka diajarkan memahat batu dengan menggunakan alat pemahat yang digunakan oleh pemahan jaman dulu.

Pada abad 10, dimana saat pembangunan kuil di Khajuraho dimulai keahlian mengukir di India mencapai puncaknya. Namun kompleknya, arti dari seni tersebut menyesatkan karena kebudayaan, penguasa kerajaan dan budak telah membangun takhyul. Ukiran elok di Khajuraho meghidupkan kembali kepercayaan ibu para dewi kuno pada kekuatan magis erotisme. Di Khajuraho, ukiran erotis memiliki peran baru. Kuil itu terdiri dari 2 bagian, area umum dan tempat suci di dalam yang dihubungkan dengan jalan pintas. Jalan itu adalah tempat manusia bertemu dewa dan disinilah letak ukiran erotis itu berada. Tradisi kuno yang menghubungkan manusia dengan Tuhan melalui seks tak mudah diterima di India modern. Menunjukkan kasih sayang yang umum seperti bergandengan tangan tak diperkenankan. 30 tahun yang lalu, saat kama sutra akhirnya diterbitkan dengan sah di barat, langsung menimbulokan kehebohan.

Kini India berada dalam transisi kebudayaan. Berjuang untuk mendamaikan masa lalu yang erotis dengan masa kini. Bila sejarah adalah petunjuk, India pada akhirnya akan menemukan cara untuk menggabungkan warisannya yang agung. India modern sangat menentang patung erotis di Khajuraho. Meski bangga dengan kemajuan artistiknya dan senang karena banyak turis yang tertarik untuk berkunjung, namun kini masyarakat modern di India telah berkembang jauh lebih sopan dibanding saat di bawah Raj Inggris. Setelah merdeka pada 1948, India membuat undang-undang yang melarang tigkah laku seksual semacam itu. Bahkan dikatakan, bahwa satu anggota parlemen mantan rekan Mahatma Gandhi dengan sungguh-sungguh menyarankan agar patung-patung di Khajuraho ditimbun. (Sumber: Web World Now)
































Monday, June 4, 2012

Memoar Mikro Budi Utomo di Kubangwungu: Sebuah Kenangan KKN


Untuk kawan-kawan seperjuanganku

"Makhluk kecil, kembalilah. . . .
Dari tiada, ke tiada. . . .
Berbahagialah atas ketiadaanmu. . ." [Soe Hok-Gie]





Kami semua menghela nafas, pertanda paripurna sudah misi mengeluarkan barang-barang dari perut mobil Toyota Avanza E 1022 KR. Diletakan satu per satu barang-barang itu di depan rumah pak Sewa yang juga sudah berjubel Sound System.


Tuesday, March 6, 2012

Dari Shunga ke Hentai

KETELANJANGAN di masa Tokugawa, atau dikenal juga sebagai era Keshogunan Edo (1603-1868), adalah hal lumrah. Di pemandian umum, lelaki dan perempuan bisa melihat alat kelamin masing-masing dengan jelas. Tak heran jika seni shunga menjadi populer. Dengan tampilan model berpakaian lengkap, ia terasa lebih estetis dan menggoda alih-alih erotis. 
Shunga merupakan karya seni lukis bergaya ukiyo-e yang menggunakan metode printing kuno, dengan papan kayu sebagai plat cetakan. Biasanya menampilkan adegan percintaan lelaki dan perempuan, perempuan dan perempuan, lelaki dewasa dengan lelaki dewasa, atau lelaki dewasa dengan pemudaShunga merupakan istilah Jepang yang merujuk pada “gambar erotis”. Secara harfiah shunga berarti “gambar musim semi” sementara “musim semi” sendiri dalam bahasa Jepang merupakan eufemisme dari seks.
Zhou Fang, pelukis besar erotis Tiongkok yang hidup masa Dinasti Tang (618-907), diduga memberi pengaruh besar. Seperti ditulis G.L. Simon dalam The Illustrated Book of Sexual Records, Zhou biasa menampilkan figur perempuan bertubuh gemuk pada lukisannya, sesuai standar nilai estetis pada era Dinasti Tang. Seperti pelukis erotis oriental pada masanya, Zhou juga memiliki kecenderungan melebih-lebihkan ukuran organ genital dalam karyanya. Inilah yang kemudian menjejak dalam karya-karya shunga.
Belakangan shunga juga terinspirasi ilustrasi di dalam buku pedoman manual pengobatan Tiongkok yang disadur dan terbit pada masa Muromachi (1336-1573). Salah satunya Isho Taizen karya Asaino Sozui yang dirilis pada 1528 dan digarap dengan metode printing, lengkap dengan ilustrasi.
Sekalipun sudah berkembang, shunga baru mencapai popularitas pada masa Edo. Karena jengah, pada 1661 Keshogunan Edo mengeluarkan dekrit pelarangan buku-buku erotis yang dikenal dengan sebutan kōshokubon. Pelarangan demi pelarangan diterapkan, namun tak ada yang benar-benar efektif. Shunga tetap beredar. Bahkan ada sebuah tahayul yang berlaku di masyarakat Jepang kala itu bahwa shunga dapat menjadi jimat keberuntungan bagi samurai untuk menghindar dari kematian. Ia juga dapat dijadikan jimat untuk melindungi rumah dan gudang pedagang dari bahaya kebakaran.
Dalam buku Sex and the Floating World: Erotic Images in Japan, 1700-1820, Timon Screech menulis, pada masa itu perempuan dewasa yang membeli shunga biasa beralasan  menggunakannya sebagai jimat untuk melindungi rumah dari kebakaran. Selain itu, tulis Timon, shunga begitu populer di periode itu karena, tak seperti lukisan yang berharga mahal dan perlu perawatan, shunga yang yang dibuat dengan teknik cetak harganya lebih murah dan terjangkau –meski ada juga shunga yang berharga mahal.
Shunga seringkali dijadikan buku panduan seksual bagi remaja dan gadis dari keluarga-keluarga terhormat. Majella Murno dalam Masterclass: Understanding Shunga. A Guide to Japanese Erotic Art menulis, shunga kerap dijadikan sebagai hadiah pada calon pasangan pengantin sebelum mereka menikah. Isinya petunjuk cara-cara melakukan hubungan seksual.
Di periode awal, shunga dibuat dalam tampilan warna monokrom (berwarna tunggal). Metode pewarnaan mulai dipakai sejak 1744 meski terbatas pada halaman tertentu. Dua dekade kemudian shunga berwarna menjadi marak. Namun lebih banyak karya diproduksi dengan metode lama karena biayanya lebih murah dan menyangkut selera.
Harga dan kualitas karya shunga bervariasi. Para seniman yang sudah memiliki nama dapat menjual karya mereka dengan harga mahal. Di antara seniman ukiyo-eterkemuka adalah Katsushika Hokusai. Karyanya “The Dream of the Fisherman’s Wife” melegenda hingga saat ini. Ada juga Hishikawa Moronabu, Miyagawa, Issho, Yanagawa Shigenobu, dan Chobun Saeshi.
Contoh Shunga
Seni shunga dibuat dan dijual dalam bentuk lembar per lembar tapi seringkali dalam bentuk buku –dinamakan enpon. Shunga juga dibuat dalam bentuk gulungan yang dinamakan kakemono-e. Sebagian besar dicetak di Edo, tapi ada juga yang dibuat di Kamigata (Osaka dan Kyoto). Perbedaan ciri khas antara gaya Edo dan gaya Kamigata terlihat pada permainan warna. Edo lebih suka bermain warna-warna cerah dan berani, sementara Kamigata lebih suka warna kalem.
Karakter-karakter yang tampil dalam shunga umumnya orang-orang biasa, dari petani, pengrajin, dan pedagang, hingga pelacur. Lucunya, terkadang hadir juga karakter orang asing berkebangsaan Jerman atau Portugis. Para penikmat dapat mengenali figur dalam gambar lewat pakaian yang dikenakan. Itulah salah satu alasan kenapa figur dalam shunga, meski digambarkan tengah bercinta, kerap digambarkan berpakaian lengkap. Yang menarik, karakter tokoh sedang bercinta kerap ditampilkan dengan bentuk kelamin esktrabesar, sebesar kepala. Selain untuk mempertegas visibilitas konten seksual secara eksplisit, ini dimaksudkan pula sebagai bunga artistik. Alat kelamin dianggap seniman ukiyo-e sebagai “wajah kedua”, yang mengekspresikan gairah hidup.
Pelarangan terhadap shunga mulai mengendor pada periode Meiji (1868–1912), dengan batasan tak boleh memperlihatkan alat genital. Namun justru pada saat inilah popularitas shunga mulai memudar. Pengaruh Barat dan teknologi, terutama fotografi, membuat shunga kalah bersaing dalam menampilkan gambar erotis. Tapishunga di kemudian hari menjadi inspirasi bagi perkembangan seni anime dan manga yang tumbuh dalam periode modern di Jepang.
Manga atau anime adalah istilah bahasa Jepang yang merujuk pada komik atau kartun. Manga modern mulai populer di beberapa negara selepas Perang Dunia II. Karya manga terkenal saat itu adalah Mighty Atom, yang setelah bermigrasi ke Amerika pada 1951 dikenal dengan komik Astro Boy, karya Osamu Tezuka.
Contoh Shunga
Shunga juga menjejak pada karya manga atau anime bergenre hentai, sebuah kata dalam bahasa Jepang yang memiliki arti “penampilan aneh” atau “abnormalitas”. Dalam percakapan sehari-hari, hentai sering digunakan di banyak negara selain Jepang untuk menyebut gameanime, atau manga yang menampilkan adegan seksual atau pornografi. Selain sama-sama memuat hal berbau erotisme, pengaruh shunga pada hentai terlihat pada tampilan alat kelamin tokoh yang kerapkali digambarkan berukuran ekstrabesar.
Nb: Maaf untuk contoh gambar Hentai, penyunting tidak berani memasang gambarnya. Karena sudah termasuk wilayah pornografi. Namun sekedar untuk menjawab keingintahuan pembaca demi pengetahuan bisa klik DISINI