Ekspedisi Sejarah Indonesia (Exsara)

Exsara merupakan organisasi terbesar di Jurusan Sejarah Unnes. Aku dirikan bersama teman-teman jurusan sejarah Unnes angkatan 2008. Mereka semakin maju

Catatan Hidupku

Aku sangat suka menulis. Termasuk membuat catatan hidupku. Biar nanti aku mati, tapi pikiranku seolah terus hidup sampai anak cucuku

Petualangan Hidup

Setiap hidup, pasti menyempatkan berkunjung ke tempat unik, berkenalan dengan orang baru. Semua itu akan mendidik kita jadi manusia besar

Sejarah Nasional dan Dunia

Basis pendidikanku Sejarah. Aku sangat menyukai kisah masa lalu. Ada yang kuanggap sebagai sastra ada yang kuanggap sebagai guru kehidupan

Pola Hidup Sehat

Sejak SMP aku sudah punya bakat pemerhati gizi. Aku sangat mencintai pola hidup sehat. Tanpa kita sehat, semua yang kita miliki tak ada gunannya

Wednesday, June 18, 2014

Pergowokan: Kekayaan Budaya Banyumas yang Hilang

Satu kekayaan kebudayaan dari leluhurku ini hampir hilang. Pergowokan namanya. Pertama aku dengar dan baca istilah itu dari novel Ronggeng Dukuh Paruk, karya novelis kebanggan orang Banyumas, Ahmad Tohari.

Makna Pergowokan kurang lebih memang sangat mengesankan. Disitu diceritakan Srintil dipinjam oleh salah seorang juragan boled. Disitu ia disuguhkan kepada putra juragan tadi untuk 'latihan'.

Namun sayang anak itu tak mengerti makna kehadiran Srintil. Sebagai anak lelaki yang belum belum begitu dewasa, ia masih begitu polos. Belum mengerti apa dan bagaimana itu bercinta.

Disinilah peran Srintil sebagai gowok hadir. Srintil mengajari anak laki-laki tadi tentang bagaimana mengapresiasi rasa cinta kepada wanita. Hingga pada titik tertingginya yaitu berhubungan intim. Srintilah sebagai gowok ia harus menjadi media latihan anak itu dalam berhubungan intim.

Sejatinya Srintil sebagai Ronggeng dan tercitra sebagai wanita yang tercantik kala itu. Tapi ia tidak lagi jadi wanita yang anggun nan suci melainkan separuh sundal, yang bisa 'dipakai' lelaki dengan harga tertentu. Karena kecantikannya maka hanya skala juragan saja yang mampu. Dan kali ini diperankan sebagai gowok.

Pergowokan adalah soal gengsi dari juragan itu untuk putranya. Beharap nanti ketika sudah masanya menikah anak itu sudah tidak canggung lagi dan sudah mahir di ranjang. Karena pengalaman dan pelajaran yang diberikan gowok tadi. Benar-benar menjadi lelaki yang beruntung ketika sang orang tua bisa menunjukan gengsinya mengundang gowok untuknya.

Tapi lantas pandanganku banyak berubah tentang pergowokan ini setelah aku ngobrol dengan pak Kasirun selaku kepala seksi seni budaya di Dinporabudpar Banyumas sabtu (14/6) kemarin. Dia membubarkan bayangan indah cita penuh seni tentang pergowokan tadi. Intinya ia menyangkal pergowokan ini rupanya sama dengan apa yang diinterpretasi Ahmad Tohari.

"Aslinya tidak seperti yang diceritakan itu. Malah nuwun sewunya itu mengesankan citra negatif menurunkan norma kesopanan budaya leluhur kita," katanya.

Lalu ia ceritakan tentang bagaimana pergowokan yang sebenarnya. Pergowokan itu layaknya sebuah terapi untuk calon pengantin baru pihak laki-laki.

"Jadi bukan wanita cantik seperti Srintil yang didatangkan, akan tetapi biasanya adalah orang sepuh yang ahli meracik herbal," lanjutnya.

Mengapa sepuh? Ini berarti memang belum ada generasi penerus yang ahli meracik herbal itu. Yaitu herbal untuk kagagahan dan kejantanan vitalitas pria.

Sayangnya pak Kasirun tak menjalaskan, apakah ini hanya berupa ramuan saja atau mungkin juga ada semacam pijatan. Tapi aku yakin ini adalah keahlian yang langka, dan tidak banyak orang bisa. Pak Kasirun akhirnya bisa lanjutkan cerita.

"Jadi jelang menikah lelaki itu dibawa ke rumah yang persis menghadap ke laut. Dia tinggal disitu hanya bersama ahli ramuan tadi. Konon juga angin laut ini jadi salah satu elemen untuk menambah vitalitas pria itu juga. Mereka disitu dalam jangka waktu beberapa hari saja,"  ungkapnya.

Tapi sayang ia sudah tidak bisa bicara lebih detail lagi tentang pergowokan tadi. Seperti racikannya itu apa saja, cara konsumsinya bagaimana. Tak dipungkiri ini adalah kekayaan budaya yang hilang. Seandainya ada yang bisa bangkitkan kembali maka pria Banyumas termasuk aku akan terkenal kejantanannya, oleh wanita-wanita dari berbagai penjuru.

Tapi siapakah lagi yang mewarisi?? Aku ingin ada orang yang angkat bicara soal ini. Pak Kasirun berbisik bahwa masih ada orang yang sedang mendalami istilah pergowokan ini. Tapi sayang aku tak hafal namanya. Sedikit clue yang kuingat bahwa dia adalah salah satu pemilik dari tempat wisata pemandian Tirta Husada Kalibacin, Rawalo, Banyumas. . .

By: Ganda Kurniawan, Jurnalis JPNN

Wednesday, June 11, 2014

Tak ada puasnya

Semua orang ingin enaknya saja, tanpa ingin merasakan pahitnya awal perjuangan. Hari ini akhirnya teman lamaku jujur, dia ingin kembali jadi wartawan. Janwar Priadi.

Dia dulu keluar tak tahan betapa pahitnya masa-masa pendidikan awal jadi wartawan. Berangkat pagi, pulang jam 11 malam.Akhirnya ia sesekali mbolos, dan gajinya dikurangi. Dia keluar, sedikit marah dengan tidak mengembalikan caz kamera titipan perusahaan. Dia tak tau, selepas beberapa hari kemudian bos Feldi yang feodalis itu selesai mendidik kami. Kemudian kami bebas lepas jadi wartawan, bebas tentukan tema berita sendiri. BanPres sudah minimalisir impor berita dari RadarMas.

Janwar tengah kesulitan lagi bekerja di tempat lain. Ingin jadi wartawan lagi, tapi kali ini ingin jadi koresponden Banjarnegara, biar tak bertemu Feldi lagi mungkin. Wartawan biasanya harus betul-betul punya SDM tinggi dan berkarakter. Dia mungkin sudah tak dipercaya lagi. Kenangan lama.

Aku dengar pepatah. "Kau putuskan berhenti di tengah jalan, tak tahu padahal selangkah lagi ada kebahagiaan". Ini doktrin, agar kita pantang menyerah. Ada nyatanya ada tidaknya.

Betul apa kata kawanku, Fajar. Kerja di swasta seperti dikebiri tak lagi berminat wirausaha. Hilang semangat tuk mandiri. Aku jadi bingung, mau usaha apa yang sekiranya bisa ungguli gajiku sekarang.

Orang tua selalu sepelekan wirausaha untukku. Padahal mereka wirausaha bisa punya penghasilan lebih dariku. Apa mereka inginkan aku lebih rendah daripada mereka?.LUCU!!!

Dua elemen itu telah mengkebiri aku dari kewirausahaan. Sebenarnya yang paling dibutuhkan adalah melawan arus. Salah satu ikhtiarnya adalah semangat subuh dan jauhi maksiat. Aku yakin itu pintunya. Tapi sekali lagi itu butuh doktrin dan asupan sugesti-sugesti hypnosis yang masuk ke pikiran kita. Siapa yang bisa???

Hidayah

Tuesday, June 10, 2014

Sejarah Bali dengan Budaya Asing

Oleh: IDG Windhu Sancaya, Fakultas Sastra Unud


SETELAH membahas tentang subak secara mendalam dan sistematis, Clifford Geertz dalam bukunya yang berjudul “Negara, The Theatre State in Nineteenth Century Bali” (1980) sampai pada suatu kesimpulan, bahwa di seluruh dunia tidak ada organisasi sosial pengairan yang seefektif subak. Demikian pula halnya dengan V.E. Korn dalam bukunya “Het Adat Recht van Bali” (1938) menyatakan kekagumannya kepada kepandaian dan kehebatan orang Bali dalam membuat saluran-saluran air di bawah tanah (bhs. Bali: aungan). Korn menyebut mereka sebagai para insinyur Bali. Kehebatan orang Bali dalam bidang arsitektur bangunan tradisional juga sudah diakui luas oleh para ahli arsitektur modern.


Di bidang ilmu pengobatan tradisional (usada) misalnya, Wolfgang Weck (1976), seorang ahli kedokteran berkebangsaan Jerman, memberikan perhatian yang khusus tentang usada. Dalam bukunya yang berjudul “Heilkunde und Volkstum auf Bali”, disebutkan bahwa tata cara pengobatan tradisional Bali memberi sumbangan yang penting bagi metode pengobatan dalam ilmu kedokteran modern, yang perlu mendapatkan perhatian kita. 

Semua penyataan tersebut di atas menunjukkan adanya landasan yang kuat dan segi-segi positif dari kemampuan orang Bali dengan kebudayaannya yang masih bersifat tradisional, untuk maju dan dikembangkan dalam dunia modern serta globalisasi saat ini. Memang tidak semua nilai-nilai budaya tersebut dapat hidup dan berkembang dengan baik dalam kemajuan zaman saat ini, dan tidak semua nilai-nilai yang bersifat tradisional bersifat positif. Namun seringkali nilai-nilai budaya tradisional yang positif tersebut justru terdesak oleh kuatnya arus modernisasi dan globalisasi, karena kurangnya pemahaman terhadap makna tradisi dan modernisasi. Dunia pendidikan modern misalnya, seringkali “menyingkirkan” nilai-nilai budaya tradisional tersebut, sehingga tidak mendapatkan tempat yang sepantasnya dalam sistem pengajaran dan pendidikan, sehingga proses transmisi dan transformasi budaya sering mengalami hambatan. Meskipun arus modernisasi dan globalisasi melanda begitu kuat, sejumlah pengamat dan ahli mengakui bahwa Bali sampai saat ini masih diakui sebagai tempat di mana tradisinya masih hidup dan berkembang dengan baik.

Dualitas tradisi dan modernitas Bali misalnya dikatakan oleh MacRrae (2005:5), “Bali sudah terkenal sebagai pulau yang sangat tradisional, akan tetapi kenyataannya Bali juga menjadi pulau yang sangat modern bila dibandingkan dengan wilayah Indonesia pada umumnya”. Di sisi lain Michel Picard (2006) mengemukakan: dalam sejarahnya orang Bali tampaknya telah memperlihatkan suatu bakat istimewa dalam menyerap secara selektif pengaruh-pengaruh luar, dengan hanya memilih unsur-unsur yang cocok dengan nilai yang ada pada mereka, kemudian dipadukan dengan selaras dalam sistem budaya mereka. Hasilnya bukanlah pelapisan berbagai strata budaya yang terpisah-pisah melainkan suatu perpaduan yang orisinal dari benda-benda dan citra-citra dari parktik-praktik dan kepercayaan yang meskipun berbeda asalnya, namun lambat laun mengambil wujud menjadi sesuatu yang bersifat khas Bali.

Dalam kaitannya dengan kebudayaan Bali pada umumnya dan sastra Bali pada khususnya, setidak-tidaknya untuk saat ini, tradisi dan modernitas dapat hidup saling berdampingan dan saling melengkapi, sebagaimana diungkapkan Diana Askovic, seorang antropolog berkebangsaan Amerika. Pandangan Askovic tersebut dengan jelas menyebutkan bahwa di satu sisi Bali tetap bisa menjaga kebudayaan tradisional yang dilestarikan selama berabad-abad di tengah cepatnya arus modernisasi yang sedang berlangsung saat ini, namun di sisi lain kehidupan kesenian Bali menunjukkan suatu dinamik perubahan bentuk artistik dan gaya yang konstan (terus-menerus). Pernyataan Askovic memang lebih ditujukan untuk menyebutkan tradisi dan modernitas dalam kaitannya dengan seni pertunjukan Bali (Balinese Performing Arts). Meskipun demikian, konsep dan kerangka pemikirannya tersebut dapat juga digunakan untuk memahami aspek realitas sosio-kultural kehidupan masyarakat Bali yang lebih luas, yang tidak dapat dilepaskan dari persoalan tradisi dan modernitas. Walaupun masyarakat Bali telah mengalami gelombang terpaan kebudayaan yang datang dari Timur dan Barat, yang telah menimbulkan terjadinya perubahan-perubahan, menurut Prof. Ngurah Bagus (1995) pada hakikatnya perubahan yang diakibatkan oleh pertemuan budaya tersebut belum begitu berarti, karena masyarakat Bali masih bercorak kolektif, komunal dan ritualistik. Namun seiring dengan makin kuatnya terpaan konsumerisme dan materialisme, kini orang Bali juga sudah menjadi semakin individualistis dan asosial.


Pertemuan dengan Budaya Asing

Hubungan dan interaksi orang Bali dengan kebudayaan asing bukanlah merupakan sesuatu yang baru. Jauh sebelum bangsa Eropa menginjakkan kakinya di Nusantara masyarakat Bali sudah dipengaruhi secara mendalam oleh pengaruh-pengaruh luar, khususnya yang dibawa oleh kebudayaan India dan Jawa—tanpa melupakan pengaruh lebih tersamar dari kebudayaan China (Gde Agung, 1987; Picard, 2006). Berdasarkan pengamatan dan penelitian yang dikemukakan oleh Hildred Geertz (1988), bahwa orang Bali telah sejak dahulu kala berkenalan dengan budaya asing dan sudah bersifat internasional. Hildred Geertz selanjutnya mengatakan, masyarakat desa-desa di Bali pada zaman kuno bukan tertutup dan terpencil, malah bersifat ‘internasional’. Hal itu terbukti dari adanya lalu lintas orang-orang dari luar desa (malah mungkin dari luar Bali), adanya beberapa bahasa dan sastra, adanya orang-orang terpelajar, adanya perbedaan sosial yang ditunjukkan dari gelar-gelar, adanya pembuatan perahu dan layangan, adanya emas, perak dan lain-lain barang-barang diimpor dari luar Bali. Semua ciri-ciri itu berarti bahwa dari zaman purbakala sampai sekarang ini penduduk Bali sudah biasa dan lancar mengadakan hubungan-hubungan dengan pendatang dari luar lingkungannya sendiri (Geertz, 1988).

Proses Indianisasi misalnya telah melahirkan sejumlah kerajaan yang pada mulanya betul-betul menjadi negeri-negeri serupa dengan di India, kemudian berubah mengikuti lokal jenius tersendiri akibat kebudayaan setempat (Coedés, 2010). Berkat pengaruh agama Hindu, berkembanglah sistem pertanian yang tangguh, sistem sosial-politik, bahasa dan sastra, serta seni lainnya sehingga mencapai tingkat yang tinggi (Bagus, 1995). Melalui pertemuan dengan kebudayaan-kebudayaan luar tersebut Bali diperkaya dengan berbagai ciri yang selanjutnya digabungkan dalam subtrat Austronesia melalui suatu proses sinkretis yang khas dan mempesona (Picard, 2006).

Pada abad ke-7 Masehi orang-orang Cina telah mengenal Bali dan memberi nama pulau ini dengan sebutan Dva-pa-Tan (Gde Agung, 1989). Pernyataan-pernyataan tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa hubungan kebudayaan Bali dengan kebudayaan asing bukan baru terjadi pada abad ke-18, melainkan jauh sebelum itu. Akibat adanya hubungan kebudayaan tersebut menyebabkan kebudayaan Bali juga mengalami perkembangan dan perubahan. Selain mendapat pengaruh dari kebudayaan India dan China, kebudayaan Bali juga mendapatkan pengaruh yang sangat intensif dari kebudayaan Jawa, terutama setelah ditaklukkan oleh kerajaan Majapahit. Sebelum ditaklukkan oleh kerajaan Singhasari tahun 1284 Masehi, dan oleh Majapahit tahun 1343 Masehi, Bali telah mengalami masa keemasannya. Raja Bali Kuna terakhir yang gilang-gemilang adalah Jaya Pangus, yang membuat tiga puluh buah prasasti, prasasti terbanyak dari raja-raja Bali Kuna yang lain (Goris, 1974). Setelah Bali ditaklukkan oleh Majapahit, dan Sri Astasura Ratnabhumi Banten, raja Bali terakhir dikalahkan, menurut Zoetmulder (1984),

Kraton-kraton di Bali sejak saat itu mengalami suatu proses “Jawanisasi� yang sistematis; demikian juga masyarakatnya. Para Brahmin dari Jawa kemudian menetap di Bali dengan membawa serta ajaran dan praktek keagamaan Hindu-Jawa yang berbeda dengan Hindu-Bali, memperkuat pengaruh India yang telah aktif sejak berabad-abad sebelumnya. Sejak pertengahan abad XIV Bali telah masuk ke dalam lingkup pengaruh “Hindu-Jawa� seperti terasa lewat berbagai pusat kebudayaan dan religi, di mana bahasa dan sastra Jawa Kuna dipelajari, ditiru, dan dikembangkan. Sejak saat itu Bali harus dipandang sebagai bagian dari dunia kebudayaan Hindu-Jawa.

Hubungan Bali dengan kebudayaan Barat baru mulai lebih mendalam sejak abad ke-18. Meskipun demikian, hingga awal abad XX hubungan kebudayaan Barat dengan kebudayaan Bali belum banyak membawa pengaruh perubahan terhadap kebudayaan Bali, karena hubungan tersebut lebih banyak diwarnai dengan peperangan dan penaklukan. Pengaruh intensif kebudayaan Barat terhadap kebudayaan Bali baru terjadi ketika Bali telah dikuasai sepenuhnya oleh Pemerintah Kolonial Belanda sejak awal abad XX, ketika seluruh kerajaan di Bali telah dikuasai pada tahun 1908. 

Semakin dikenalnya Bali sebagai daerah tujuan wisata menyebabkan hubungan Bali dengan dunia Barat menjadi semakin intensif masuk ke dalam berbagai aspek kebudayaan Bali. Interaksi dengan dunia luar melalui pariwisata tersebut di satu sisi dapat memperkaya, namun juga memperlemah posisi kebudayaan Bali, tergantung dari kemampuannya menyaring masuknya pengaruh budaya luar. Ida Bagus Mantra (1995) mencatat bahwa dalam periode modern ketika Bali belum lama mendapat pengaruh dari budaya Barat, pada tahun 1930-an generasi pada saat itu telah berhasil menyaring unsur-unsur yang baik dari kebudayaan luar, sehingga seni dan budaya Bali mendapatkan potensi yang lebih besar untuk memperkaya masyarakatnya, baik dari segi rohani maupun rohani.

Diskusi-diskusi tentang modernisasi masyarakat Bali tergambar dalam tema-tema yang dikenal dengan baik dalam perdebatan akademis yang lebih luas. Pusat pembicaraan mereka tentang modernitas saat ini telah bergeser dari pembahasan tentang pengaruh budaya Barat yang dibawa oleh bangsa Eropa yang diidentifikasikan sebagai subalter dari modenisasi yang bersifat plural, sebagaimana dikemukakan Picard (1996), Vickers (1996), Vickers dan Darma Putra (2000). Diskusi-diskusi tersebut kini secara keseluruhan berkisar pada pertempuran serta perdebatan mengenai pengaruh modernisasi pada zaman Kolonial sebelum Perang Dunia II, atau ketegangan-ketegangan yang terjadi pada abad XX, yaitu ketegangan antara keinginan untuk berpatisipasi dalam realita kehidupan modern dan rasa kepedulian masyarakat Bali terhadap pelestarian tradisi dan budaya, serta kehidupan keagamaan mereka. Bagi masyarakat Bali sendiri, menjadi modern, sebagaimana halnya dengan masyarakat lain yang pernah dijajah, lebih merupakan sebuah proses daripada sebuah perwujudan final. Sebagaimana pernah dikhawatirkan oleh Vickers (1996), perkembangan modernisasi tidak dapat dilihat sebagai sesuatu yang terhubung secara mudah antara budaya Barat dengan budaya Bali. Vickers mengakui bahwa perubahan dan modernisasi telah terjadi dalam masyarakat Bali sebelum mereka bersentuhan dengan Kolonial Belanda, yang telah mengambil alih kehidupan sosial, politik dan kebudayaan masyarakat Bali. Meskipun demikian, banyak ahli berpendapat bahwa proses modernisasi yang terjadi dalam masyarakat Bali tidak dapat dilepaskan dari pengaruh datangnya dan intervensi kolonial Belanda di Bali. Sebuah periode perubahan kehidupan sosial dan budaya yang signifikan telah terjadi dalam masyarakat Bali setelah Bali ditaklukkan sepenuhnya oleh Belanda tahun 1906 melalui Puputan Badung dan 1908 melalui Puputan Klungkung.



Sumber: Bali Post


Gadis Bali apa adanya di masa lalu ...