Ekspedisi Sejarah Indonesia (Exsara)

Exsara merupakan organisasi terbesar di Jurusan Sejarah Unnes. Aku dirikan bersama teman-teman jurusan sejarah Unnes angkatan 2008. Mereka semakin maju

Catatan Hidupku

Aku sangat suka menulis. Termasuk membuat catatan hidupku. Biar nanti aku mati, tapi pikiranku seolah terus hidup sampai anak cucuku

Petualangan Hidup

Setiap hidup, pasti menyempatkan berkunjung ke tempat unik, berkenalan dengan orang baru. Semua itu akan mendidik kita jadi manusia besar

Sejarah Nasional dan Dunia

Basis pendidikanku Sejarah. Aku sangat menyukai kisah masa lalu. Ada yang kuanggap sebagai sastra ada yang kuanggap sebagai guru kehidupan

Pola Hidup Sehat

Sejak SMP aku sudah punya bakat pemerhati gizi. Aku sangat mencintai pola hidup sehat. Tanpa kita sehat, semua yang kita miliki tak ada gunannya

Saturday, February 13, 2016

Wirasaba : Dari Pusat Kadipaten Hingga Pembangunan Bandara II*


Wirasaba Dipecah Menjadi 4 Kabupaten

Oleh : Ganda Kurniawan

Pemerintahan Kadipaten Wirasaba yang dipegang oleh Adipati Anom Wirahutama I atau yang bernama asli Jaka Katuhu sebagai adipati ke II Wirasaba selanjutnya digantikan oleh keturunannya. Hingga pada generasi ke-5, Kadipaten Wirasaba terjadi persoalan hingga akhirnya wilayah pemerintahannya dibagi 4 kabupaten demi azas keadilan.

Mkam Adipati Wargautama I

Generasi ke-5 atau wareng dari Adipati Anom Wirahutama I adalah Kiai Adipati Wargahutama I (sebagai adipati Wirasaba ke-VI). Saat itu telah memasuki zaman Jawa-Islam sedangkan poros pemerintahan bukan lagi Majapahit, melainkan Kerajaan Pajang yakni pada periode 1546 - 1586 dengan Sultan Hadiwijaya sebagai raja dan memiliki nama asli Jaka Tingkir.

Adipati Wargahutama I memiliki lima orang putera, diantaranya Raden Ayu Kartimah, Ngabehi Wargawijaya, Ngabehi Wrakusuma, Ngabehi Wirayuda, dan Raden Rara Sukartiyah. "Raden Ayu Kartimah dikawinkan dengan Raden Jaka Kahiman yag berasal dari trah keturunan Kadipaten Pasirbatang dari silsilah Pangeran Senapati Mangkubumi II yang juga dangkat anak dan juga sebagai murid Ki Tolih," tulis Sugeng Priyadi dalam  bukunya Sejarah Intelektual Banyumas (2007).

Adipati Wargahutama I memiliki pengalaman tragis yang kini tetap diyakini seluruh masyarakat ekskaresidenan Banyumas, yaitu dibunuhnya adipati oleh Gandhek Pajang tahun 1582 atas wewenang Sultan Hadiwijaya. Pembunuhan ini terjadi ketika sang adipati pulang dari Kerajaan Pajang setelah menghaturkan glondhng pangarem-arem (tanda kesetiaan dan hormatnya demi kepuasan sang raja). Yaitu dengan menghaturkan puteri bungsunya bernama Raden Rara Sukartiyah yang masih perawan sebagai selir sang raja.

Keiasaan ini sudah menjadi tradisi karaton Jawa demi meperkuat hubungan raja dengan adipati-adiatinya, demikian juga tradisi ini untuk membanggakan adipati yang memiliki cucu keturunan raja. Sepeninggal Adipati Wargahutama pulang dari keraton, Ki Demang Toyareka yang juga adik kandung adipati melapor pada Sultan bahwa Raden Rara Sukartiyah adalah seorang randa-kabla. Mendengar hal itu SUltan amat marah lalu mengutus gandhek untuk mengejar Adipati Wargahutama yang masih di perjalanan untuk dibunuh.

Sesampailah di suatu tempat istirahat, mereka akhirnya bertemu. Tanpa basa basi sang gandhek langsung menusukan tombak kerajaan ke dada adipati. Setelah itu ia menjelaskan bahwa ini utusan Sultan. Tak disangka gandhek kedua datang melaporkan bahwa setelah amarah Sultan mereda dan kemudian meneliti kebenaran laporan Ki Demang Toyareka. Sultan baru memahami bahwa makna randha-kabla adalah janda yang perawan, masih suci hanya baru sempat ditunangkan). Sultan menyesal dan adipati tewas karena fitnah adiknya sendiri. Ki Demang Toyareka diduga memiliki dendam dengan adipati karena sempat menjanjikan agar putera-putera adipati untuk mengkawinkan dengan anaknya.

"Dikisahkan sebelum menghembuskan nafas terakhirya, adipati mewasiatkan 3 wewaler (pamali/pantangan) yaitu. Aja lunga dina Setu Pahing, Aja mangan daging Banyak, Aja nunggang jarang klawu jongkla, Aja manggon umah sunduk sate," tulis Budiono Herusatoto dalam buku Banyumas: Sejarah, Budaya dan Watak (2008). Jasad adipati akhirnya dibawa ke Wirasaba disambut dengan kaget dan haru oleh keluarga.

putera-puteri adipati tidak tahu harus berbuat apa. Selama ii tidak pernah ada pesan maupun wasiat mengenai siapa yang akan menjadi penggantinya. Sultan HAdiwijaya sendiri masih merasa gundah penuh penyesalan, hingga mengutus Tumenggung Tambakbaya untuk menejlaskan persoalan yang terjadi untuk meredakan.

Hingga pada saatnya ada yang diminta untuk menghadap Sultan. Sesuai tradisi keraton Jawa seharusnya anak laki-laki tertualah yang datang. Namun tak satupun putera adipati berani karena diselimuti takut teguran dan alasan masih berduka. Hingga atas kesepakatan keluarga disaksikan Tumenggung Tambakbaya, diputuslah satu orang sebagai utusan untuk menghadap Sultan, yaitu Jaka Kahiman yang juga menantu Adipati Wargautama.

Sesampainya di keraton, Sultan marah karena keluarga adipati telah melanggar tradisi keraton dimana putera kandung adipatilah yang seharusnya datang karena dialah yang akan diberi purba wasesa (wewenang kekuasaan). Akhirnya tanpa rasa ragu Sultan membaiat Jaka Kahiman sebagai adipati Wirasaba pada Pisowanan Ageng yang dilaksanakan saat itu juga. Jaka Kahiman mendapatkan gelar Adipati Wargautama II (adipati Wirasaba ke-VII).

Adipati Wargautama II mendapatkan keberuntungan tak terdugda dan mereka pulang ke Wirasaba dikawal pasukan Manggalayudha. Sementara keluarga Adipati Wargautama I harus merasa ikhlas. Namun demi keadilan dan keharmonisan, Adipati Wargautama II alias Jaka Kahiman memutuskan untuk membagi Kadipaten menjadi 4 wilayah Kabupaten. Sedangkan dirinya menyatakan dan ditetapkan sebagai Wedana Bupati (kordinator).

Daerah pusat Wirasaba diserahkan ke adik iparnya yang tertua, Ngabehi Wargawijaya, yang kemudian dibangun menjadi Kabupaten Purbalingga. daerah Merden atau pesisir diserahkan ke adik iparnya yang kedua, Ngabehi Wirakusuma yang emudia dibangun menjadi Kabupaten Cilacap. Wilayah Banjar-Pertambakan diserahkan ke adik ipar paling muda, Ngabehi Wirayudha yang kemudian dibangun manjadi Kabupaten Banjarnegara. Sedangkan wilayah Kejawar mulai dari selatan Gunung Perahu sampai Tambak menjadi wewenang kekuasaannya sendiri yang kemudian menjadi Kabupaten Banyumas. (bersambung)  

*)Dimuat di surat kabar Harian Banyumas, Tanggal 6 Februari 2016

Wirasaba : Dari Pusat Kadipaten Hingga Pembangunan Bandara I*



Oleh : Ganda Kurniawan

BUKATEJA - Nama Wirasaba sering disebut-sebut akhir-akhir ini dalam pemberitaan rencana pembangunan bandara. Namun belum banyak diketahui bahwa Wirasaba juga sebuah nama kadipaten yang membawahi sejarah 4 kabupaten sekaligus (Purbalingga, Banjarnegara, Banyumas dan Cilacap) dengan pusat pemerintahan di Desa Wirasaba, Kecamatan Bukateja.

Mantan Danlanud Wirasaba TNI AU Letkol Pnb Andreas A Dhewo meresmikan pemugaran makam Adipati Wirasaba

Cerita sejarah Kadipaten Wirasaba telah diabadikan dalam Babad Wirasaba I & II, serta sering dijadikan naskah skenario Pagelaran Seni Dalang Jemblung. Tahun 1429 Kadipaten Wirasaba termasuk dalam kekuasaan wilayah Kerajaan Majapahit II. Kisah paling fenomenal dalam Kadipaten Wirasaba terjadi pada masa pemerintahan Adipati Wirahudaya atau saat Majapahit dipimpin Prabu Kertabumi Brawijaya V (1468 - 1478).

Kala itu muncul tokoh pengembara yang datang ke Wirasaba bernama Jaka Katuhu yang dijadikan anak angkat oleh Lurah Buwara (Sekarang Desa Bukateja). Jaka Katuhu terkenal rajin melakukan babad alas untuk lahan pertanian. Malamnya ranting bekas babadan dibakar hingga dari kejauhan langit tampak sebuah teja (pelangi). Adipati Wirahudaya yang terkagum melihat pemandangan itu mengutus prajuritnya untuk memanggil siapa yang menciptakannya.

Jaka Katuhu akhirnya menghadap sang Adipati dan ditanya keturunan siapa. "Jaka Katuhu akhirnya berterus terang bahwa ayahnya bernama Raden Arya Baribin menantu raja Parahiyangan Sri Prabu Linggawastu. Mendengar hal itu Adipati merasa mendapatkan karunia ilahi menemukan anak muda yang patut dijadikan penggantinya kelak," tulis Budiono Herusatoto dalam bukunya 'Banyumas: Sejarah, Budaya dan Watak,'(2008).

Sejak itu Jaka Katuhu dijadikan anak angkat Adipati Wirahudaya mengingat sang adipati belum dikaruniai putera. Hingga pada momentum Pisowanan Ageng Keraton Majapahit, adipati mengutus Jaka Katuhu ke Majapahit untuk menghadap Prabu Kertabumi Brawijaya V dan menyerahkan upeti mewakili sang adipati yang tengah sakit. Keberangkatan diantar oleh Patih Wirasaba, Raden Bawang.

Sesampainya di keraton Majapahit, Jaka Katuhu kembali ditanyai tentang asal-usul dirinya, kali ini oleh sang Raja. Ia kembali menceritakan bahwa ia putera Raden Harya Baribin yang ternyata juga adik kandung sang raja. Dikisahkan saat itu Raden Baribin kabur dari keraton lantaran difitnah hendak menggulingkan sang raja. Sadar hal itu fitnah, Prabu Brawijaya Menyesal, sebagai ganti atas kelalaiannya Jaka Katuhu langsung dinaikan derajatnya dan dibaiat menjadi Adipati Anom Wirasaba dengan gelar Adipati Anom Wirahutama, demikian juga dihadiahi seorang isteri, Putrisari, puteri Mapatih Majapahit. "Ia juga diizinkan memperluas wilayah Kadipaten Wirasaba hingga lereng barat Sindoro Sumbing di wilayah Kedu," tulis Budiono.

Hingga 40 hari sejak pernikahan, ia berniat kembali ke Wirasaba bersama keluarganya dan dikawal oleh sebregada (pasukan) yang dikawal oleh Manggalayudha. Sehari sebelum sampai Wirasaba mereka beristirahat, sementara Raden Bawang lebih dahulu menemui sang adpati agar tidak kaget atas kedatangan Jaka Katuhu yang telah diangkat sebagai Adipati Anom Wirasaba. Raden Bawang yang merasa iri berusaha memfitnah dan berusaha agar menyiapkan pasukan untuk melawan pasukan Adipati Anom Wirasaba. Sang adipati tetap tidak percaya, namun Raden Bawang bersikukuh mengirim pasukan untuk menghadang pasukan Adipati Anom.

Akhirnya terjadi pertempuran, hngga menewaskan Patih Bawang itu sendiri. Patih Bawang akhirnya dimakamkan di suatu tempat yang kini dinamai desa Bawang, Kecamatan Bawang (Banjarnegara). Sedangkan Adipati Anom Wirasaba akhirnya selamat sampai Wirasaba dan disambut baik oleh Adipati Wirahudaya. Adipati Anom dan asukan yang dibawa dari Majapahit dibuatkan pesangggrahan di sebelah Timur Laut Wirasaba, yakni kini disebut Desa Majasari.

Hingga wafatnya Wirahudaya, Wirasaba dipimpin oleh Adipati Anom Wirautama yang tidak lain adalah Jaka Katuhu. Kasi Sejarah Museum dan Kepurbakalaan Dinas Kebudayaan, Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Dinbudparpora) Purbalingga mengatakan Rien Anggraeni, salah satu peninggalan sejarah yang masih ada tentang WIrasaba adalah makam Adipati Wirasaba IV yang bernama asli Raden Warga dan diberi gelar Raden Warga Utama I. "Makamnya masih di sekitar area Lanud (Pangkalan Udara Wirasaba. Terakhir dipugar tahun 2014 oleh pihak TNI AU ," katanya. (bersambung)

*)Dimuat dalam surat kabar Harian Banyumas, Tanggal 5 Februari 2016

Friday, May 15, 2015

Menganti, Penantianpun Berakhir

Menganti, Penantianpun Berakhir

KARANGDHUWUR - Pantai Menganti, hampir selalu disebut dalam tiap juguran  Alumni Pelita 2005, dan selalu berulang hanya sebuah frasa dan penantian. Namun, juguran di rumah Fajariah, Kalitinggar (18/4) banyak mengubah segalanya, keinginan untuk ke Pantai Menganti terproklamirkan dengan tegas  untuk direalisasikan.

Pantas untuk diberitakan guna mengkawal langkah menuju janji itu. Hingga semakin nyata ketika Presiden Alumni Pelita 2005 membuat Perpres tentang teknis keberangkatan. Faktor informasi juga semakin berpengaruh ketika muncul berita 'Peserta Plesir Tembus 21 Orang'. Berita itu menjadi dorongan para teman-teman alumni untuk ikut. Bak info penguatan adanya bullish yang  mendorong seorang pengusaha membeli saham dalam bursa efek.

Buah komitmen akhirnya terealisasi, kemarin (14/5). Beberapa wajah baru akhirnya menampakan batang hidungnya menyatakan ikut plesir seperti Rudy, Titis, Evi, dan Sobihan.Di sisi lain kami juga kehilangan beberapa konstituen seperti Siti dan Novi karena lembur, Wagio ada kendala mendadak dan Nita yang terlambat akibat delay dari bus yang ditumpanginya menuju Purbalingga.

Total konstituen plesir kali ini akhirnya tembus 24, melebihi target yang terdaftar sebelumnnya yaitu 21. Mereka yang ikut diantaranya Suminto + pacarnya, Kholis, Eva, Ganda, Feri, Ari, Rudy + Pacarnya, Daryati, Evi, Aziz, Maryono, Teguh, Umi + Adiknya, Sugeng, Nova, Titis + Pacarnya, Fajariyah, Sobihan, Amelia dan Anna.

Start keberangkatan dari rumah Eva pukul 08:30, mulur 30 menit dari yang ditetapkan. Awal keberangkatan, masih terkendala adanya rute yang akan dilalui. Hal itu disebabkan belum adanya satu presepsi dan masih banyak pendapat rute sendiri-sendiri.

Sebelum berangkat di Rumah Eva Karangjambe


Saat melintas di jalan provinsi mulai dari Kalimanah hingga perempatan buntu masih satu pemikiran. Namun saat melintas jalan Nasional beberapa rombongan terpecah total, sebagian besar rombongan memilih jalur dari Pasar Sumpiuh (Banyumas) ke selatan, melintasi desa Kemiri. Kemudian masuk ke Kecamatan Nusawungu Kabupaten Cilacap yakni melewati desa Nusawungkal, Purwadadi, Karangsembung, di perempatan wisata Karangpakis ambil kiri lurus hingga masuk Kabupaten Kebumen. Sebagian kecil rombongan ada yang lewat via Jatijajar.

Setelah melewati pantai Logending/Ayah, trek perjalanan secara mendadak memasuki kawasan perbukitan kapur yang cukup tinggi. Secara ilmu geografi daerah ini disebut juga perbukitan Karst. Secara marfostruktur aktif daerah kecamatan Ayah terbentuk karena adanya pengaruh tenaga endogen. Kecamatan Ayah terbentuk karena proses pengangkatan dasar laut oleh aktivitas tektonisme lempeng yaitu lempeng samudra Hindia-Australia yang saling bertumbukan yang terjadi jutaan tahun yang lalu.

Butuh jarak sekitar 5 kilometer dari perbukitan karst menuju objek wisata Pantai Menganti. Cukup melelahkan melewati perbukitan karst ini. Butuh kontrol gas yang tepat saat mendakinya dengan motor agar mesin tidak 'ngeden'. Apalagi jika kapasitas mesin dibawah 110 CC. Begitu juga saat turunan tajam, selain rem, engine brake juga sangat penting dimanfaatkan agar tidak kebablas ke jurang.



Meski rombongan terpisah, namun akhirnya bisa kembali bersatu di titik puncak Desa Karangdhuwur, Kecamatan Ayah, Kebumen ini pada pukul 11:00. Dengan demikian total lama perjalanan kurang lebih 2,5 jam, dan jarak sesuai Google Map adalah 67,5 Km.

"Sementara konsumsi bahan bakar saya hitung untuk bebek manual 110 CC karbu menghabiskan Rp 20.000 atau 2,7 liter untuk pulang pergi, itu artinya 135 Km (67,5 x 2) dibagi 2,7 liter = 50 Km/liter. Hal ini wajar cukup boros sebab medan sering melewati jalan menanjak saat di Kecamatan Ayah," kata Kepala bidang Penerangan Ganda Kurniawan.

Pemerintah daerah setempat nampaknya cukup serius menggarap wisata yang sering disebut dengan hidden paradise (surga tersembunyi) ini. Akses jalan banyak melibatkan pemaprasan tebing dan pembuatan jalan yang halus oleh Bidang Bina Marga Pemkab Kebumen. Diperkirakan telah menghabiskan puluhan Miliar pagu anggaran.



Bantuan pemerintah hanya sampai pada pembuatan jalan dan pembuatan pintu gerbang loket. Pemanfaatan tempat wisata sendiri diserahkan kepada Kelompok masyarakat Sadar Wisata (Pokdarwis) dari Desa Setempat. "Terbukti dalam karcis masuk yang dikenakan tarif Rp 5000/orang ini tertulis berdasarkan Perdes bukan Perda. Penghasilan banyak masuk ke Kas Desa. Sementara pemerintah sepertinya belum ikut kebagian hasilnya terbukti tarif parkir masih Rp0," imbuhnya.

Kamipun masuk ke lokasi wisata pantai ini. Sudah kami prediksi wisata pantai ini dominan berkarakter wisata landscape, dan lebih sedikit wisata air. Terlihat juga puluhan kamar ganti terlihat mangkrak, rusak tak terpakai.  Pantas saja ketika kami nongkrong di pinggir pantai tampak sepi pengunjung.  Padahal kalau melihat tempat parkir, kendaraan padat merayap. Jadi, kemanakah sebenarnya para pengunjung?



Alkisah, seorang panglima perang Kerajaan Majapahit melarikan diri ke pesisir selatan Jawadwipa karena hubungannya dengan pujaan hati tidak direstui sang raja. Mereka berjanji bertemu di tepi samudra berpasir putih nan indah. Sepanjang hari, sang panglima pun terus menanti pujaan hati yang  ternyata tak kunjung tiba di atas bukit kapur sambil memandang laut lepas. Ia menanti dan terus menanti. Sedangkan Menganti adalah bermakna menanti. "Begitulah mitos masyarakat setempat," kata Ganda.

Rombongan Alumni Pelita 2005 tetap menyempatkan diri bermain air dengan ombak yang rendah karena posisi menyerupai teluk. Pantai lebih banyak karang daripada pasir, sehingga permainan tidak bisa leluasa. Lebih banyak berfoto diatas karang. Kemudian sebagian juga memilih wisata jelajah lautan dengan perahu milik nelayan dengan tarif Rp 15.000 bolak-balik.



Setelah itu rombongan naik ke bukit sebelah timur atau yang disebut dengan Bukit Sigatel. Tanpa disangka disinilah titik kunci keindahan wisata Pantai Menganti ini. Disinilah kebanyakan wisatawan hadir. Bukit dipadukan dengan pohon cemara yang masih belum begitu tinggi. Mirip perbukitan di Wisata Gucci Tegal.

Hanya saja pemandangan utama tetaplah karang-karang hitam yang memecah debur ombak Samudera Hindia dan angin laut yang menghilangkan setres. Pokdarwis setempat berinovasi dengan membuat puluhan gubug-gubug mini dengan atap jerami. Gubug di pasang diatas tanah bukit yang ditata secara sengkedan.
Untuk singgah di gubug ini dikenakan tarif Rp 5000/gubug. Selain itu juga terdapat satu rumah yang sepertinya digunakan untuk studio prewedding. Namun rombongan alumni tak ada yang menyewa gubug ini. Kami lebih suka duduk dan tiduran diatas rumput sambil menatap lepas ke laut. Waktu yang menjelang sore membuat tak ada lagi panas terik dan semakin membuat betah terus di bukit Sigatel ini. 




Kami akhirnya memutuskan untuk pulang pada pukul 16:30. Rombongan briefing untuk menentukan jalur pulang. Semuanya sepakat untuk terus melewati jalan raya tepi pantai selatan dan menghindari Jalan Nasional. Sampai kumandang adzan maghrib petang perjalanan masih di sekitar Kabupaten Cilacap. Disinilah akhirnya rombongan terpecah lagi. Sebagian besar lewat
Kecamatan Kemranjen yang tembus ke Jalan Nasional. Sementara sebagian kecil rombongan ada yang terus ke barat hingga Kecamatan Kroya Cilacap lalu ke Utara. Sedangkan salah satu motor pasangan Maryono - Fajariyah tersesat sendirian, di Perempatan Kroya ia tetap ambil arah ke barat. Karena kehilangan jejak semua temannya akhirnya ia pub bertanya kepada orang. "Pak, arah ke Purbalingga si kemana??," kata Maryono.

Di perempatan Buntu, akhirnya Maryono kembali bergabung. Sebagian besar banyak robongan yang mampir di SPBU Buntu. Sebagian kecil sudah ke arah Banyumas. Kamipun melewati tanjakan buntu, tanjakan yang sering disebut sebagai 'jalur tengkorak' karena paling rawan kecelakaan ini akhirnya berhasil di lalui dengan selamat. Catatan kami tanjakan Buntu di sekitar desa Karangmalang lampu penerangan jalan (LPJU) masih terang dan banyak mata kucing di sekitar marka jalan. Namun untuk kawasan Desa Karangrau banyak LPJU yang mati dan sangat gelap dan butuh kehati-hatian.

Kami semua berhenti di SPBU Desa Kejawar Banyumas, untuk istirahat, mengumpulkan rombongan yang terpisah, sekaligus Sholat Maghrib. Pukul 19:00 dari SPBU Kejawar tercetus keinginan makan malam bersama. Rencana akan berhenti untuk makan di alun-alun Banyumas. Namun ketika didatangi ternyata minim pedagang makanan.

Akhirnya berlanjut ke Alun-alun Purbalingga, memilih menikmati mie ayam dan es teh. Tempat singgah yang murah di Centre of Intersest kota Purbalingga ini. Pukul 21:00, kemesraan liburanpun berlalu dan pulang ke rumah masing masing.



Sementara Kepala Bidang SUmber Daya Manusia, Ari Nurani mengungkapkan kegiatan plesiran seperti ini sangat banyak memberi manfaat bagi kami semua. "Plesiran jelas bisa menghilangkan setres dan menambah keakraban. Pengorbanan capek dan uang tidak usah dipikirkan. Yang penting kita sudah melewati pengalaman langka yang tak terlupakan. Target plesir selanjutnya bisa kembali dibahas seusai lebaran," katanya.

Presiden Alumni Pelita 2005, Eva Pratama NF juga mengapresiasi atas suksesnya kegiatan plesir kali ini. "Alhamdulilah selama perjalanan tidak ada yang tersesat, tidak ada yang bocor atau rusak motornya, serta sholat 5 waktu juga tidak ada yang tertinggal. Semuanya berjalan lancar. Agenda selanjutnya menjelang bulan ramadhan segera rencanakan reuni Buka Bersama (Bukber), harus lebih baik dibanding tahun lalu," pungkasnya.(by Humas)