Ekspedisi Sejarah Indonesia (Exsara)

Exsara merupakan organisasi terbesar di Jurusan Sejarah Unnes. Aku dirikan bersama teman-teman jurusan sejarah Unnes angkatan 2008. Mereka semakin maju

Catatan Hidupku

Aku sangat suka menulis. Termasuk membuat catatan hidupku. Biar nanti aku mati, tapi pikiranku seolah terus hidup sampai anak cucuku

Petualangan Hidup

Setiap hidup, pasti menyempatkan berkunjung ke tempat unik, berkenalan dengan orang baru. Semua itu akan mendidik kita jadi manusia besar

Sejarah Nasional dan Dunia

Basis pendidikanku Sejarah. Aku sangat menyukai kisah masa lalu. Ada yang kuanggap sebagai sastra ada yang kuanggap sebagai guru kehidupan

Pola Hidup Sehat

Sejak SMP aku sudah punya bakat pemerhati gizi. Aku sangat mencintai pola hidup sehat. Tanpa kita sehat, semua yang kita miliki tak ada gunannya

Saturday, June 4, 2011

Catatan seorang Pendiam 4 Juni 2011


Hari-hari yang hitam dan penuh dosa. .
Telingaku tak peka mendengar kokok ayam diwaktu subuh….
Jam-jam pagi paling puitis itupun kulalui begitu saja
dengan mimpi mimpi dan dengkuran kemalasan..
jiwa-jiwa kesepian inipun bangun tanpa ada yang menyapa.
Kemudian haripun menjadi malam. . . .
Yah begitulah hari ini, begitu cepat.
secepat bandwith internet WiFi di Kampus yang berhasil ku bobol. . . .!!!
rasanya opium-opium ini makin nikmat saja ku sedot.
benar Opium, karena siapa saja pasti ketagihan dengan internet.

Friday, June 3, 2011

Catatan seorang Pendiam 3 Juni 2011


Pagi ini rasanya aku malas untuk bangun. Ditambah lagi MagicCom ku kosong, belum menanak nasi. Rasanya bakal banyak tanggungan harian ketika ku terbangun. Tapi apa boleh buat aku harus menyambut sang pagi.

Menunggu nasi matang adalah hal yang kurang nyaman. Perut terasa lapar dan biasanya aku meluangkannya untuk membaca buku. Asal mengambil saja di rak, aku dapati kukuku yang berjudul “Membedah Tokoh Sejarah -Hidup atau Mati”. Aku ingat sekali buku ini adalah buku copyan dari penerbit Ombak, ketika aku mengadakan Bazar satu setengah tahun yang lalu bersama anak-anak HIMA. Winarso sengaja membuka segelnya untuk difotocoy bersama.

Salah satu tokoh yang ku dapati dalam buku ini adalah sosok Hoegeng Imam Santoso, seorang purnawirawan Jenderal Polisi. Idealismenya sangat patut dicontoh. Ketika dia baru menjadi kepala reskrim dia ditempatkan di Sumut, suatu daerah yang marak dengan penyelundupan. Disana ia disambut secara unik, rumah pribadi dan mobil telah disediakan oleh beberapa cukong perjudian. Ia menolak dan memilih di hotel sebelum dapat rumah dinas. Masih ngotot, rumah dinas itu juga kemudian dipenuhi perabot oleh tukang suap itu. Kesal, ia mengultimatum agar barang-barang itu diambil kembali oleh pemberi dan karena tidak dipenuhi akhirnya perabot itu dikeluarkan secara paksa oleh Hoegeng dari rumahnya dan ditaruh di pinggir jalan. Maka gemparlah Kota Medan karena ada seorang kepala polisi yang tidak mempan disogok.

Tahun 1968 ia menjadi panglima angkatan kepolisian. Banyak kasus menarik lainnya dimasa tugasnya. Keuletan menuntaskan kasus besar dan menjadi tokoh yang tegas anti korupsi (mengingat orde baru juga banyak KKN) menyebabkan Hoegeng diberhentikan oleh Presiden Soeharto. Pendirian yang begitu kuat itu mungkin ditanamkan oleh ayahnya bahwa “yang penting dalam kehidupan manusia adalah kehormatan. Jangan merusak nama baik dengan perbuatan yang mencemarkan”.

Soal idealisme, aku juga melihat figurnya di kampus. Dia adalah Bu Putri Agus Wijayanti (ahli dalam soal kearsipan dan Sejarah Indonesia abad 18-19, ilmu sejarah murni). Beliau kurang disukai mahasiswa, lantaran tuntutannya terlampau tinggi. Bahkan konon ia adalah salah satu dosen yang perneh tidak meluluskan mahasiswanya dalam ujian skripsi.

Memang tuntutan yang tinggi itu setidaknya sebanding dengan kualitas personal yang menuntutnya. Misalkan seorang guru yang menuntut muridnya untuk dapat menguasai soal Perang Koalisi Napoleon Bonaparte, padahal gurunya itu soal Revolusi Prancis saja kurang menguasai. Tapi jika melihat kualitas penyampaian materi oleh Bu Putri, ia masih tergolong professional. Dan pantas untuk menuntut mahasiswanya untuk setinggi itu. Tyo sempat agak mencela, dan kurang menyenanginya dengan berbicara kepadaku dibelakang, aku yakin sebenarnya dari dalam hati Tyo menganggap tindakan Bu Putri seperti itu sebenarnya sangat positif dan konstruktif demi kemajuan Indonesia. Tyo tidak menyukainya karena dia sendiri takut dan merasa sangat terbebani dengan tuntutan yang tinggi dari bu putrid itu. Tapi pada intinya jika mendapat peryataan yang jujur dari teman-teman, dosen karakter semacam ini kurang disukai.

Sekitar idealism murni, tidak boleh terlepas dari tokoh sejarah yang paling saya idolakan (bukan berarti mengkultusindividukan) yaitu Soe Hok-Gie. Ia benar-benar melihat kebobrokan para pemimpin Indonesia  masa demokrasi terpimpin yang cenderung korup. Dan masyarakat yang semakin susah.  Sungguh GAP semakin lebar diantara mereka. makanya ia menggerakan demonstrasi besar-besaran dalam KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) menuntut untuk melakukan ritul birokrat, serta membubarkan PKI (TRITURA). Setelah Soekarno jatuh, para aktivis kebanyakan giliran diangkat menjadi pejabat. Tapi GIe tidak mau, dia tetap ingin menjadi pengontrol mereka. sehingga seringkali kritikan pedas kepada pemerintah muncul darinya. Tidak hanya pemerintah, para mahasiswa dan rekan dosennya pun turut kena kritik yang ditulisnya dalam wacana “Wadjah Mahasiswa UI yang Bopeng Sebelah”. Banyak yang menganggapnya keras kepala dan selalu mencari masalah. Karena tulisan itu ia menjadi semakin banyak musuh dibenci mahasiswa, dibenci para rekan dosennya. Keberaniannya soal mengkritik membuat orang tua pacarnya tidak ingin anaknya punya pacar seperti dia. Hingga pada suatu saat dia merasa terasingkan. Bagi Gie “Biarlah, lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan”. Ia sempat mendapat surat dari kawannya di Amerika “Gie…. seorang Intelektual bebas adalah seorang pejuang yang sendirian, selalu. Mula-mula, kau membantu menggulingkan suatu kekuasaan yang korup untuk menegakan kekuasaan lain yang lebih bersih. Tapi sesuadah kekuasaaan baru ini berkuasa, orang seperti kau akan terasing lagi dan akan terlempar keluar dari system kekuasaan. Ini akan terjadi terus menerus. Bersedialah menerima nasib ini, kalau kau mau bertaha sebagai seorang intelektual yang merdeka: sendirian, kesepian, penderitaan”.

Thursday, June 2, 2011

Catatan seorang Pendiam 2 Juni 2011


Jauh hari lalu aku sudah merencanakan. Sebelum KKL aku harus merapikan rambutku, selain biar gak kena kritikan sama bu Santi juga biar aku tampak 5 tahun lebih muda. Sekarang sudah terwujud, aku tampak seperti SMA lagi dengan potongan rambut yang sporty, dipotong oleh tukang cukur pemuda rasanya lebih bagus ketimbang dicukur sama seorang bencong.

Sedikit melamun melihat diri sendiri di kaca dengan tubuhku yang tertutup kain dan tukang cukur tampak serius memotong detail kerapian rambutku. Disitulah otak bawah sadarku light on. Sekarang aku paham mengapa dalam salon terdapat tukang cukur bencong. Ternyata bukanlah profesi tukang cukur menjadikan pria normal menjadi banci akan tetapi sosok banci lah yang sangat diperlukan dalam profesi ini. Mengapa harus banci?? Karena orang banci bisa dan mau menggarap hal-hal tentang lelaki dan perempuan sekaligus. Coba bayangkan bila seorang Cewek dicukur sama seorang cowo normal? Tentunya si cewek bakal rikuh dan merasa si tukang cukur ini tidak tahu persis soal selera pelanggan perempuan ini. Begitu pula sebaliknya jika seorang Cewe yang memotong rambut anak cowo? Pasti ada persepsi yang sama dengan tadi dan pencukur cewek juga agak grogi. Tapi seorang bencong bisa menggarap kedua-duanya sehingga waktu lebih efisien, mengatasi antrian panjang mereka yang akan mencukur. Bagitu juga dengan perancang busana, seperti Ivan Gunawan. Bukankah dia berlagak banci? Ya tentu dan dengan banci seperti itu dia menjadi bisa melayani busana untuk pria dan untuk wanita sekaligus. Ternyata orang-orang model banci seperti ini sangat dibutuhkan juga, khususnya dalam bidang merancang penampilan bisa mengerti dua selera sekaligus yaitu selera pria dan selera wanita. Tapi biar bagaimanapun juga aku tetap agak jijik aja melihat mereka, tapi bagiku itu masih mendingan ketimbang dengan mereka kaum Homoseksual/ gay.

Dikampungku dulu juga ada pemuda yang diisukan Homoseksual. Namanya Haliman, tiap sore ia suka ke lapangan untuk bermain bola. Orangnya pendiam dan bagi wanita mungkin ia masih tergolong manis. Dia bisa diisukan begitu karena tingkah lakunya. Ketika ada anak lelaki yang sedang tidak mengenakan baju, atau menggunakan celana pendek mini dia selalu menghampiri, meski tidak mengenal, atau terkadang berhenti pura-pura ada sesuatu tapi dia terus sesekali melirik bagian yang tidak tertutup itu, dan mungkin membuat dia terangsang.

Aku agak ngeri sekaligus takut jika berhadapan dengan sosok Gay. Kadang kesan pertama yang didapat memang dia seperti pria normal. Aku sempat menghadapinya di Pasar Bandarjo Ungaran (tempat biasa aku mencari bus jurusan Semarang-Purwokerto).

Ketika  terik sinar mentari hingga kelopak mata sengaja menyempitkan pandangan. Mondar-mandir dengan posisi tangan seperti sedang hormat, berusaha menghindari silaunya sinar matahari. Bus yang dicari belum juga datang. Tiba tiba seorang bapak-bapak dari dinas DLLAJ perpakaian biru dan celana biru tua mengajakku untuk duduk disebelahnya. Tepatnya dekat pangkalan ojeg yang lumayan teduh. Dia begitu penasaran denganku, menanyakan identitas, alamat, status mahasiswa, nomor HP dan lain-lain. Ia ingin aku memanggilnya “Om Rudy”. Dalam percakapan ini dia sembari sesekali pergi kesana-kemari memungut pajak dari para kernet bus yang singgah di depan pasar ini.
Setelah bus yang kucari datang, akhirnya kami berpisah, sebelum kakiku menginjak lantai bis dia berbisik kepadaku “Hati-hati ya Ganda” sambil menepuk punggungku.

Setelah sebulan ia mengirim  sms padaku dengan kalimat-kalimat yang menurutku aneh atau tidak wajar seperti halnya lelaki normal “dengan kata-kata maja ala perempuan”. Dia mengajakku mampir ke kosnya, dan minta tukar foto. Aku kaget saja ketika ia mengirim fotonya ke aku. Aneh, yang dia kirim adalah foto dirinya yang sedang tidak mengenakan baju atasan dan mengedipkan satu mata. Gila, sudah ku duga dia ternyata Gay Oriented, setelah itu dia akhirnya mengaku. Ternyata dia sudah cerai dengan istrinya, dan memutuskan untuk tidak menikah lagi.

Ada sisi mulia dibalik dirinya yang Gay, dia sudah banyak mengangkat anak orang yang tidak mampu dan membiayai pendidikan hingga sudah kerja mandiri. Kadang anak yang diangkatnya itu dianggap sebagai pacarnya (karena lelaki). Namun suatu saat ia harus menerima kenyataan. Anak yang diangkatnya itu harus menuju pelaminan sebagai pria normal yang menikahi seorang wanita. Hingga kelak punya anak. Namun hingga kini pertalian pertemanan dan persaudaraan mereka masih terjalin hangat.

Aku terkesan dengan sebuah artikel di rubrik Ragam Ilmiah bulletin Mutiara Pers (buletinnya anak HIMA Sosiologi Antropologi). Memamerkan judul “Dualisme Komunitas Gay pada Masyarakat Kota Salatiga”. Sebuah komunitas satu-satunya di Jawa tengah yang menampung para MSM (men who have sex with men).  Mereka datang dari berbagai penjuru kota. Bagi masyarakat Salatiga mereka dianggap “saru” mencintai sesama jenis bahkan resah akan dampak negative seperti rusaknya citra kota salatiga dan degradasi moral masyarakat. Akan tetapi persepsi itu kian terobati katika komunitas ini bekerjasama mensukseskan program pemerintah seperti kegiatan social, pelatihan keterampilan atau karnaval kebudayaan. Mereka tidak menimbulkan masalah.

Aku sempat berdebat dengan Tyo, dia tetap respect dan memaklumi dengan adanya perilaku gay, dan dia tidak terima bila mereka harus di diskriminasikan. Namun bagiku biar bagaimanapun ia telah melanggar agama. Dikaitkan dengan konsepsi kemanusiaan memanglah benar, tidak boleh ada diskriminasi terhadap mereka.

Bagiku ia harus segera disadarkan akan penyimpangan itu. Atau dikarantina seperti halnya pondok pesantren yang menangani rehabilitasi pacandu narkoba. Itu akan membuatnya lebih baik.