Ekspedisi Sejarah Indonesia (Exsara)

Exsara merupakan organisasi terbesar di Jurusan Sejarah Unnes. Aku dirikan bersama teman-teman jurusan sejarah Unnes angkatan 2008. Mereka semakin maju

Catatan Hidupku

Aku sangat suka menulis. Termasuk membuat catatan hidupku. Biar nanti aku mati, tapi pikiranku seolah terus hidup sampai anak cucuku

Petualangan Hidup

Setiap hidup, pasti menyempatkan berkunjung ke tempat unik, berkenalan dengan orang baru. Semua itu akan mendidik kita jadi manusia besar

Sejarah Nasional dan Dunia

Basis pendidikanku Sejarah. Aku sangat menyukai kisah masa lalu. Ada yang kuanggap sebagai sastra ada yang kuanggap sebagai guru kehidupan

Pola Hidup Sehat

Sejak SMP aku sudah punya bakat pemerhati gizi. Aku sangat mencintai pola hidup sehat. Tanpa kita sehat, semua yang kita miliki tak ada gunannya

Monday, May 26, 2014

Winarso atau Fidel Sastro

27 August 2013 at 10:51

Embun tebal sedang bergayut di kompleks Gedong Songo, pagi itu. Mas Vicki Fauzi Hasan masih semangat menjadi MC nyerocos melantik kakak terganteng, tercantik, teraktif, tergalak dsb. Revita dan Toni merasa paling beruntung mendapat anugerah peserta tercantik dan tertampan. Furqon otomatis menjadi peserta tercerdas, pemenang cerdas cermat yang membuat seluruh panitia dan peserta geleng-geleng kepala. Kelompokku mengagungkan Setya Agung yang meraih label peserta teraktif. Tinggal yang ditunggu adalah ‘siapa yang mendapat kutukan sebagai peserta termalas?.

Jawaban itu ternyata jatuh pada teman di kelompok Gatotkaca, “Winarso”. Segenap orang bertepuk tangan sambil tertawa, termasuk aku. Kok bisa Winarso? Seperti tidak beralasan. Sejenak flash back tentang apa yang terjadi 10 jam yang lalu. Winarso tampil ngédan bersama teman sekelompoknya: Puspita, Nanang, Aan, Ning Eny, Novian menyanyikan sebuah lagu saat pentas. Suasana sangat meriah, banyak mata tertuju pada Winarso yang menyanyi sambil bermain gitar, di sisi kanan dan kiriku terdengar teman-teman nyletuk “Hahaha tukang ojeg” ada juga “Wah Didi Kempot”. Memang betul kala itu Winarso memang tampak seperti tukang ojeg, memakai jaket kulit hitam dan ketu ala petani sayur di Dieng. Terlebih seandainya ia sambil menunggang RX King dengan jerit knalpot yang sangat nyaring, wah benar-benar Ojegger ng-gunung sejati. Itulah yang ku tahu tentangnya dan tak ku mengerti mengapa ia menjadi peserta termalas.

Sekarang ia sering dipanggil Sastro. Tidak ada asal usul yang pasti. Semenjak di MAN ia telah memisahkan diri dari orang tua. Indekos sendiri bersama temannya, lepas dari kontrol orang tua semenjak dini dan mampu sekolah hingga kuliah karena didanai kakaknya. Awal kuliah tak tahu harus berteduh dimana, hingga masjid FIS menjadi pilihan terakhir dan belum tahu menahu tentang PKM FIS. Kutukannya menjadi peserta termalas di KEMAS membuatnya menjadi familiar oleh siapa saja, termasuk diakrabi oleh mas Vicki Fauzi Hasan aktivis HIMA saat itu. Dari kutukan berubah menjadi anugerah baginya, ruang HIMA sejarah yang tak berpenghuni dan hampir-hanpir tidak digunakan semestinya sebagai basecamp aktivis mahasiswa Sejarah. Mas Vicki menawari Winarso untuk menjaga sekaligus menghuninya, bebas biaya. Itulah awal kisah di rumah barunya.

Tinggal di PKM tanpa lencana aktivis atau tak tergabung organisasi kampus tentu bagaikan berkicot tanpa cangkang. Jika disentuh, tak tahu lagi kemana ia akan berlindung, padahal PKM seperti gearbox dalam mesin motor selalu bergesek ada yang bergerak ke dalam ada yang bergerak keluar. Hingga akhirnya ia ikut menjadi fungsionaris HIMA Sejarah dibawah dinasti Diyah Ari dan duduk di Departemen E di bawah kadep, mba Ika van Persie. Umumnya dalam awal kali forum HIMA mereka yang paling aktif berbicara adalah mereka kakak kelas, aku dan kawan-kawan fungsionaris seangkatanpun masih canggung bicara apa lagi memberikan usul pendapat. Tapi Winarso berbeda dari teman-teman kebanyakan, mungkin hanya dia dan Artha saja dari angkatan kami yang terkenal vokal di HIMA 2009 kala itu. Semua tidak lain adalah hasil didikanya dengan orang-orang PKM.

Tingkahnya yang menonjol di HIMA membuatnya merangkak ke tahta selanjutnya, yaitu Ketua (Koordinator) untuk kelas 2B untuk acara KPS 1 di Karanganyar-Jogja. Persahabatanku mengental dengan Nanang ketika KSG mengadakan acara peringatan hari Bumi tanggal 22 April 2009, bagitu juga dengan Winarso. Mereka bagai dua kurcaci penghibur yang dikirimkan Tuhan untukku hari itu. Winarso nampak semangat dan mampu memberi sambutan untuk perwakilan HIMA Sejarah kepada rekan-rekan KSG, TheMat, Biologi, SAR dsb. Aku tersadar bahwa keberanian dan inisiatif memberi sambutan ini, adalah pancaran sikap kepemimpinan. “Akankah benar, Winarso nanti menjadi seorang pemimpin?” bisik benakku, “apakah di BSO, UKM, HIMA, BEM ataukah BEM KM?”, kita lihat saja nanti.

Peringatan Hari Bumi tanggal 22 April 2009 di Pantai Tirang ini dijadikan referensi bagi Winarso, untuk mendirikan apa yang disebut dengan Exsara. Budaya makan bersama Exsara yang kini yaitu menggelar nasi memanjang diatas kertas minyak atau daun pisang, kemudian atasnya lagi diberi taburan lauk, ini tidak lain adalah jiplakan budaya KSG waktu itu, ada sensasi yang berbeda dalam kebersamaan. Kemudian perangkat KSG seperti tenda dum, kompor gas mini, nesting juga semua diadopsi di Exsara. Setiap peringatan hari Bumi seharusnya menjadi hari keramat bagi Exsara, karena ini hari pertama kali kami bertiga terutama Nanang dan Winarso dwi tunggal Exsara mendapatkan ilham untuk benar-benar mendirikan Exsara. Sekaligus hari kenangan untuk kami bertiga, sehingga di tahun-tahun berikutnya kami selalu ikut acara penanaman mangroove di tanggal yang sama dan di tempat yang sama. Bagi kami boleh diibaratkan jika 24 Oktober adalah 1 Muharramnya Exsara dan Gunung Ungaran adalah Mekkahnya Exsara, maka tanggal 22 April seperti 27 Rajab dan Pantai Tirang adalah Jerusalemnya Exsara. Jadi 24 Oktober adalah tahun baru Exsara dan 22 April adalah Isra miraj nya Exsara. 22 April benar-benar keramat bagi Exsara, semoga ada event spesial di setiap tanggal ini.

Belum lama aku dengar Nanang dan Winarso ingin mendirikan sebuah organisasi, setelah mereka berdua hobby jelajah kota dan sempat ikut acara dari MUSAFIR (Mahasiswa Suka Foto dan Plesir), apa lagi setelah mendapat ilham di Pantai Tirang. Sehabis keakraban kami di hari Bumi tahun 2009 itu semangat mereka bertambah. Mungkin kerena mereka merasa telah menggaet aku sebagai sahabat baru yang duduk di kursi HIMA selain Winarso sendiri. Nanang orangnya ngetutan saat itu, dan ia masih sedikit fobia dengan dunia formal, sementara Winarso itu orangnya ngototan. Ngototan bertemu dengan ngetutan adalah dua energi yang sempurna seperti Yin-Yang, alhasil mereka menciptakan sebuah co-cardExsara pertama yang didisain Winarso, meski sangat sederhana kala itu, dengan Identitas Nanang dan fotonya menggunakan kacamata hitam. Aku adalah orang Sejarah pertama yang disosialisasi tentang co-card itu. Aku hanya bilang, “Wah sip, keren, aku melu lah pokoke”. Aku adalah orang pertama yang mengakui eksistensi Exsara yang saat itu baru sekedar imajinasi dan aku merasa siap untuk mendedikasikan diri demi berdirinya Exsara yang sesungguhnya.

Persahabatanku lebih mengental dengan Winarso. Terhitung ketika ada lomba-lomba antar kelas di Jurusan Sejarah tahun 2009 yang saat itu dikenal dengan PKMS (Pekan Kreatifitas Mahasiswa Sejarah), aku ditunjuknya sabagai wakil 2B dalam lomba Artikel Ilmiah. Tidak mudah untuk mengetik naskah saat itu, harus ke rental komputer dan membayar jam sewa. Winarso membantuku untuk diketikan naskahnya di komputer PKM tepatnya ruang BEM. Aku dan Winarso bergantian mengetiknya hingga larut malam. Tulisanku saat itu masih jauh dari kopi paste, atau terlalu banyak mengutip artikel di internet, tapi murni tulisanku dan merujuk dari berbagai buku. Beruntung arsip file artikel ini ku temukan di backup flashdisk lamaku. Tercatat terakhir disave 17 Mei 2009 23:38. Itu adalah tahun, bulan, tanggal, jam dan menit pertama kali aku benar-benar akrab dengan Winarso, dan itu adalah untuk pertama kalinya aku tidur di PKM. Tidur hanya beralaskan kardus, dengan posisi komputer masih hidup dan winamp nya masih memutar lagu-lagunya Iwan Fals yaitu lagu-lagu yang akan terus mengingatkanku dengan Winarso. Seminggu kemudian, kami merayakan kemenangan artikel itu.

Aku mulai terbiasa dengan PKM. Ternyata Winarso kurang bisa merawat ruang HIMA Sejarah dengan baik. Inilah penyakit gila nomor 1 dari dia. Suasananya awut-awutan, banyak baju dan celananya yang belum dicuci berserakan diruang itu, dan tentu menjadi sarang nyamuk. Winarso memang malas mencuci baju, kadang ketika kuliah dia menggunakan baju yang mungkin sudah seminggu atau lebih belum dicuci. Ketika baju kotor baru terkumpul satu karung baru dibawa ke laundry. Tidak hanya di ruang HIMA bahkan ketika aku pertama menempati kosnya di Kalimasada juga suasananya demikian semrawut.

Tapi entah mengapa ruangan HIMA yang semrawut ini masih saja kadang dijadikan tempat tongkrongan teman-teman sejarah. Termasuk aku, ketika ada senggang antar jam kuliah aku sering mampir kesitu, daripada ke kos. Ada banyak buku di laci lemari besinya, dan aku menemukan buku: Catatan Seorang Demonstran, Soe Hok-Gie. Mulai dari situ aku jadi suka berdiskusi tentang Gie dengan Winarso. Hingga saling mengerti adanya keinginan untuk mendaki Gunung seperti apa yang dilakukan Gie. Sebenarnya aku sudah beberapa kali menolak ajakan Winarso tuk naik Gunung Ungaran bersama KSG, dengan alasan aku masih dilarang orang tua meskipun aku sebanarnya sangat ingin. Namun suatu kesempatan tiba ketika ada waktu lega di akhir pekan Winarso merealisasikan semua itu. Dan tentu soulmatenya, Nanang juga ikut. Kurang puas dengan tiga serangkai. Akhirnya berita pendakian ini disebar ke teman-teman seangkatan, alhasil ada beberapa yang ikut yaitu Feby, Harry, Aji, Marwan, dan Aris. Lima teman ini tidak lain adalah follower, jadi bisa dilihat dedikasi mereka sedikit berbeda dengan kami bertiga meski kesetiaan mereka dengan Exsara begitu kuat.

Apa yang dibayangkan akan segera terealisasi, pendakian ini sekaligus akan dijadikan acara perdana Exsara. Winarso dengan semangat membuat Pamflet, dengan maksud mencari massa. Kami tempel ke berbagai tempat di FIS, dengan judul: Pendakian bersama EKSSARA (Ekspedisi Sejarah dan Alam). Pamflet ini menuai kontroversi, terutama dari KSG, sorenya mereka merobeki pamflet kami. Exsara dianggap pesaing dari KSG karena sama-sama bertema alam, dan ini menjadi ketakutan sendiri bagi mereka bila mana KSG nantinya bisa kalah laku dengan Exsara. Winarso dan Nanang akhirnya berembug dengan KSG, akhirnya tercapai resolusi nama Exsara kepanjangannya diubah menjadi Ekspedisi Sejarah Indonesia. Pendakian ke Gunung Ungaran kali ini bukan kali pertamanya bagi Winarso, sehingga ia telah mengenal Goa Jepang sebelumnya disana. Nah lawatan ke Goa Jepang di Gunung Ungaran ini dijadikan dalih Winarso kepada KSG untuk membedakan Exsara dengan KSG. Bahkan sekali dayung dua pulau terlampaui, selain KSG tenang kembali Winarso juga sekaligus berhasil menggaet Mas Kingkong, Mas Bandot dan beberapa teman KSG untuk memandu keberangkatan kami.

Paska deklarasi, Exsara semakin berambisi. Winarso tak memilih jabatan tinggi di Exsara, ia lebih memilih menjadi wakadiv Merpati. Ketika aku hanya bisa menulis di kertas, Winarso mengubahnya ke MS Word, karena memang aku belum memiliki alat canggih itu. Aku bahkan tak berani banyak menulis untuk sebuah buletin untuk disebarluaskan, tapi Winarso justru berani membuat ide gila dengan mencari sponsor untuk penerbitan. Bahkan bisa dibilang 70% Buleexs pertama adalah tulisan dan akal-akalan Winarso. Sementara aku sebagai kadiv malah hanya menulis bagian headline news nya, itu saja dengan taraf yang paling sederhana.

Saat itu Exsara masih merasa dirinya 10%-nya organisasi, 70%-nya geng dan 30%-nya komunitas. Sehingga masih sedikit ugal-ugalan, halaman 3 Buleexs pertama malah diisi dengan informasi UCL (Uefa Champions League) yang sangat tidak nyambung dengan Exsara. Namun sungguh diluar dugaan, publikasi Buleexs pertama yang sangat minimalis itu berhasil merebut hati para mahasiswa baru Sejarah angkatan 2009. Sehingga ketika hendak dilakukan pendakian ke-2 di Gunung Ungaran sekitar bulan November 2009, banyak dari mereka yang datang berbondong-bondong ikut mendaftarkan diri, termasuk teman seangkatan: Pinky, Nadia dan Anggoro, juga kakak kelas yaitu mas Khikam dan mas Ainurizal kadepku sendiri di Hima. Hingga saat diksar di Tinjomoyo Desember 2009 jumlah mereka konstant. Akupun terheran-heran, masih belum yakin, mengucek-ucek mataku untuk menyadarkan diri apakah ini nyata atau hanyalah mimpi. Dengan anggota yang semakin banyak dan program kerja yang semakin kompleks, sekejap Exsara berubah menjadi 50% Organisasi, 0%Geng dan 50%Komunitas.

Banyak kakak kelas yang melongo, tercengang dengan berita membengkaknya popularitas Exsara di Jurusan Sejarah. Bagi mereka, kebesaran Exsara semua adalah ulah Winarso. “Siapa itu Exsara?”, “Exsara ya itu, geng nya Winarso”. Exsara itu = Winarso, bukan Nanang, bukan aku atau bukan yang lain padahal kami juga anggota dan di Exsara apalagi Winarso juga tidak mendapat jabatan yang strategis di Exsara.

Mereka bertanya lagi
“Siapa sih ketua Exsara??”
“Nanang”    
Mengernyitkan alis dan bilang “ah gak kenal tapi siapapun dia, pasti dia adalah tunggangannya Winarso”

Begitulah keidentikan Exsara dengan Winarso dimata semua orang. Kenyataan pendapat itu memang bisa dibilang tidak benar bisa juga dibilang benar. Exsara terdiri dari 10 komponen inti yaitu Vamsakerta, didalamnya pun masih terbagi menjadi founding father danfollower, tidak dapat disangkal mereka semua juga bagaikan mesin yang turut berkontribusi untuk membesarkan Exsara, jadi sangat tidak tepat jika Winarso adalah tumpuan satu-satunya Exsara. Bahkan terkadang di setiap acara Exsara ada saja teman Exsara yang mengumpat “nek ono Winarso malah rosone semrawut”. Suatu saat ketika ada anggota teman Exsara yang ingin bepergian sendiri ke Lombok, “Kapan-kapan plesiran neng Lombok pye?, tapi ra usah ngajak-ngajak, kondho-kondo Sastro ah, mengko malah semrawut tok”, ini adalah hasil pengintaianku sebagai intelijen. Namun disisi lain, Winarso memang satu-satunya orang yang paling dominan di Exsara. Hingga kini paradigma yang masih dirasakan bahwa Exsara adalah milik para Vamsakerta saja, sehingga para adik kelas yang diwarisi untuk memimpin dan mengorganisir Exsara juga merasa kalau mereka seperti sedang dititipi barang antik nan mahal dari seseorang, oleh karena itu setiap langkah perawatannya mereka harus bolak balik bertanya kepada pemiliknya karena takut salah perlakuan kalau hingga membuat fatal. Dan Winarso adalah salah satu orang yang sangat dipercaya bagi ketua-ketua Exsara sebagai tempat curhat. Ibarat Exsara adalah komunisme maka Winarso adalah Lenin-nya yang sebagai tumpuan pikiran sekaligus praktisi revolusinya. Jarang sekali ada adik kelas yang berani memveto nasehat atau usulan dari Winarso ketika bicara, sekalipun ia lebih tua dengannya, kecuali teman Vamsakertanya.

Aroma kebesaran Exsara dan Winarso telah semerbak di kampus. Muncul isu bahwa Exsara adalah alat bagi Winarso untuk memenangkan menjadi ketua HIMA nantinya. Apakah Exsara adalah partai???



WINARSO ATAU FIDEL SASTRO

Bukan Sastrowardoyo, bukan pula Sastroatmodjo tapi dia adalah Fidel Sastro.


Sastro & Castro
Sastro & Castro




Sengaja aku plesetkan nama mantan presiden fenomenal Kuba, Fidel Castro dengan nama Fidel Sastro sebagai nama panggilan Winarso. Setelah ditelusuri ternyata tidak ada sesuatu yang melatarbelakangi mengapa ia dipanggil Sastro. Berbeda dengan Bung Karno dengan panggilan akrabnya “Kusno” atau “Sosro” yang memang memiliki asal usul. Sastro tidak lain adalah nama ngetrendnya Winarso.

Dua hal yang membuat mirip antara Fidel Castro dengan Sastro (Winarso) adalah kecintaanya pada Militerisme dan Komunisme. Jika Sastro benar-benar berkembang, akankah dia menjadi the Next Fidel Castro??. Dalam militerisme misalnya, Sastro suka tapi tidak fanatik mutlak. Hampir-hampir ia akan tergabung dalam satuan 902 Resimen Mahasiswa UNNES dengan mengajak Aris. Di tengah pradiksar atau mungkin di seleksi masuk, Sastro menyerah di tengah jalan. Dikala kawan yang lain sedang disuruh lari sekian putaran, Sastro malah berhenti dan minta sarapan. Usai sarapan dikira penderitaan telah berakhir, tapi ternyata ia harus melunasi hutang lari sekian putaran, push up, pull up seperti kawan yang lain lakukan, bahkan diperlakukan lebih kejam. Akhirnya ia kapok dan mengurungkan niatnya menjadi Menwa. Sementara Aris yang tadinya tidak niat, malah ia diterima.

Meski gagal tapi bukti kecintaanya pada militer, tidak sampai disitu. Dia sering berpenampilan Army Look mulai dari celana doreng, kaos raider, kalung raider, kemeja hijau militer, topi militer berbintang tiga bahkan paling senang jika sedang berfoto bareng dengan Tentara asli. Beruntung kegilaanya itu tidak menuntunya menjadi tentara gadungan. Dia suka militer, tapi dia tidak mau mengerti bagaimana beratnya berjuang mulai dari bawah. Dia suka militer, tapi dia bukan tipe orang yang suka dikomandoi. Yang dia mau bahwa ia ingin menjadi pemimpin yang militeris, berpenampilan militer dan suka mengkomandoi. Fidel Castro tidak memulai karirnya di militer, tapi ia hanya akademisi yang kemudian suka berlatih perang-perangan untuk melakukan sebuah Revolusi Kuba seperti apa yang dia inginkan. Akupun berfikiran sama, seandainya Sastro berhasil mendirikan sebuah negara pasti dia akan membuat sistem pemerintahan yang militeristik bersama jajaran junta militernya. Alasan pertama, Sastro adalah anak bungsu, perhatikan saja dimana-mana hampir kebanyakan anak bungsu memiliki watak jika berkeinginan hendaknya harus dituruti, alias otoriter. Pemerintahan militeris sudah hampir pasti otoriter.

Pose Pidato Sastro & Castro
Pose Pidato Sastro & Castro




Dan benar bahwa Sastro adalah orang yang gila kepemimpinan. Ketika para Vamsakerta sudah lepas pemerintahan, sementara Sastro ngotot agar para Vamsakerta tetap dijadikan sebagai Dewan Penasehat Exsara. Ketika para Vamsakerta lain sudah lulus kuliah, Sastro seolah belum rela melepas Exsara berjalan sendirian ia terus “ngganduli”  Exsara agar menjadi organisasi yang terus didikte pemikirannya. Akibatnya Exsara akan takut berjalan sendirian, mereka harus bolak balik meminta pertimbangan dari yang lebih tua. Ini hampir menyerupai sistem otoriter dimana seorang pemimpin menjabat seumur hidup, meski Exsara sudah bergonta-ganti kepemimpinan namun pengaruh Sastro seolah belum ingin hilang. Biar begitu ada sisi positif yang didapat, Exsara yang masih muda memang masih perlu dibimbing, seperti halnya anak kecil, agar ia tidak berlaku ugal-ugalan. Vamsakerta ibarat orang tua dan ia harus selalu perhatian kepada anaknya yang masih kecil, jika tidak maka kelak anak bisa menjadi generasi yang semrawut atau bahkan kadang durhaka. Vamsakerta adalah sejarah Exsara, itulah mengapa setiap negara menginginkan warganya selalu mengenang sejarah dan jasa para pahlawannya yaitu agar ia bisa sampai tujuan. Orang yang tidak tahu sejarah seperti orang yang matanya ditutup lalu dijatuhkan sendirian di tengah padang pasir, ia tidak akan tahu kemana ia akan pulang atau melanjutkan perjalanan ke tujuan. Kini Exsara telah berkembang menjadi BSO terbesar di Jurusan sejarah, bahkan telah dikenal oleh mahasiswa-mahasiswi IKAHIMSI se-tanah air.

Biar bagaimanapun pengaruh Sastro dan Vamsakerta tidak akan abadi di Exsara. Apa yang dilakukan Sastro dengan terus “ngganduli” Exsara adalah seperti gadget Power Bank. Yaitu ketika batrai tenaga para Vamsakerta telah habis, dan belum menemukan stop kontak untuk men-charge kembali, maka Sastro adalah power cadangan yang akan mengantarkan Exsara agar bisa terus hidup. Hingga ketika menemukan stop kontaknya, Exsara sudah siap lepas landas berjalan sendiri. Sekarang misi Exsara bagi generasi penerus adalah memilih, menemukan atau mencalonkan diri sebagai Hayam Wuruk dan Gajah Mada di Exsara. Meski mereka bukan Vamsakerta Majapahit tapi mereka adalah orang-orang yang paling dikenang dalam sejarah Kejayaan Kerajaan Majapahit.

Sifat keanakbunggsuan Sastro membuat dirinya tercermin gaya radikalnya. Mudah sekali ia meluncurkan protes, suka sekali mengkritik, ahli dalam menyanggah, dan profesional dalam menyampaikan rasa tidak terima, tidak setuju. Mungkinkah ini gaya seorang aktivis yang hendak menghancurkan dominasi pihak yang kurang menguntungkan?. Ia sangat sensitif sekali dengan calon-calon pemimpin entah itu HIMA atau BEM yang tidak pernahseserawungan ke PKM atau minta wejangan darinya, maka bersiap-siaplah ia akan menjadi incaran kritik dari Sastro. Kritikan Sastro yang paling kontroversial adalah tetang protes pengadaan dana SPL yang dianggap tinggi dan tidak transparan, terlebih-lebih ia berani membeberkan hal ini langsung kepada pak Arif lewat inboxnya. Berkat kelancangannya ini, ia dikabarkan telah di-Black List. Belum lagi di setiap agenda rutin rapat koordinasi KPS (Kajian Peninggalan Sejarah), Sastro hapir selalu ikut serta dan selalu menyanggah keputusan Dosen Panitia. Ini adalah pernyataan yang sudah tidak usah dibuktikan lagi, cukup dirasakan saja ketika mengenal dan bergaul dengan dirinya.

Baginya tidak ada yang paten di dunia ini. SIKADU, sistem tercanggih Unnes itupun masih bisa dilobi. Akumulasi SKS yang belum cukup untuk mengikuti PPL, tapi Sastro bisa. Mata kuliah Statistik II yang tadinya dianggap wajib, berubah menjadi sunnah dan boleh dihapus. Pembekalan dan upacara penerjunan KKN saja yang sifatnya wajib tapi Sastro malah mangkir dengan bepergian ke Jakarta, tapi nilai KKNnya bagus-bagus saja. Semua ini bukan karena Sastro adalah anak emasnya kampus, justru karena dia adalah orang yang telah diBlack List atau Unwanted Person sehingga pihak kampus mempermudah segala urusannya agar ia cepat lulus dan pergi tidak lagi menggangu dengan sering mengkritik Unnes.

Sifat suka mengkritik, sifat suka protes biasanya satu paket dengan yang namanya “suka mendoktrin atau suka menasehati”. Baginya, ketika Diksar Exsara adalah moment wajib untuk diadakan indoktrinasi untuk menumbuhkan rasa loyalnya kepada Exsara. Senang sekali kalau disuruh untuk berbicara, apa lagi urusan doktrin mendoktrin. Aneh tapi nyata, dengan kemampuan ini ia menjadi orang yang sangat dihormati dan dipercaya oleh adik-adik kelas. Bahkan beberapa orang rela seolah menjadi ajudannya diantaranya adalah: Syaiful Anwar, Slamet Waluyo, Adit, dan mungkin banyak kader-kader ajudan lain yang belum aku ketahui. Satu doktrin populer Sastro yang paling aku ingat dan mungkin paling mujarab baginya adalah kata-katanya yang diambil dari Mario Teguh: “dik kalian seneng ngga kalo suka dimanfaatin??”. Audiens pasti serentak akan jawab “nggaaaak”. Sastro melanjutkan “tapi tahu ngga dik kalo menurut agama bahwa sebaik-baiknya orang adalah orang yang memberi banyak manfaat bagi orang lain”. Disinyalir doktrin inilah yang telah membius Syaiful Anwar (Ipul) cs. Doktrin lain yang tidak kalah populernya adalah doktrin tentang persamaan hak, sama rata, sama rasa yang tidak lain adalah karakter pemikirannya yang ke-Kiri-an. Ini juga paling sering disampaikan kepada banyak orang disekitarnya, termasuk anggota Exsara, tujuannya sebenarnya baik yaitu agar dalam persahabatan tidak mengenal lagi gap-gap pembatas antara sikaya dan si miskin atau si suku A dengan suku yang lain.

Ketika Exsara sudah ada di genggaman, maka tidak perlu Sastro berkampanye berlebihan untuk mengejar singgasana Ketua Hima Sejarah. Karisma kepemimpinannya sudah terukir ketika ia menjabat sebagai Ketua Panitia KEMAS 2009. Aku tahu persis, saat itu dia bekerja jauh lebih keras daripada panitia yang lain. Jika jabatan sebagai Ketua atau Kepala biasanya hanya bisa tengok kanan tengok kiri tapi kali ini dia benar-benar bekerja total dengan menaruh “kepalanya” sendiri sebagai kaki untuk berjalan. Popularitasnya meledak seketika di kalangan adik-adik kelas. Lebih unggul dibanding ketua Himanya sendiri, Diyah Ari. Ditambah lagi dengan keterlibatannya di Exsara, dia menjadi kakak kelas yang paling sering terlihat tampangnya oleh adik-adik kelas.

Menjelang akhir rezim Diyah Ari. Muncul isu-isu siapa saja yang akan mencalonkan diri sebagai ketua HIMA Sejarah periode 2009-2010. Nama yang muncul adalah Winarso, Anggoro, Annas dan Erika, sepertinya mereka adalah orang-orang yang paling berpengaruh di angkatanku. Erika adalah aktivis Pramuka, tapi dia tidak ikut HIMA sebelumnya dan tidak memiliki sertifikat PKMTD, meski dia cukup legitimate dari segi kecakapannya tapi dia sendiri merasa ganjil sendiri karena belum mencicipi organisasi politis tersebut. Anggoro orangnya kalem, tidak heboh, tidak suka cari muka, sangat disiplin, tekun dan cekatan. Di HIMA ia menjabat sebagai Sekertaris dan sempat menjadi Ketua Panitia Kompetisi Sejarah tahun 2009. Seharusnya ia menjadi yang paling favorit, sayangnya isu hanyalah isu, kenyataanya dia tidak bernafsu menjadi ketua HIMA, dia hanya ingin menjadi orang yang berkontribusi saja. Sedangkan Annas, dia terlihat cakap sebagai pemimpin, paling agamis, dan lagi-lagi dia adalah golongan orang yang tidak bernafsu. Untuk menghindari pengaruh rohisme maka rezim Diyah Ari malah menunjuk Annas sebagai ketua KPU Hima kali ini, sehingga ia tidak bisa dicalonkan sebagai ketua HIMA. Sedangkan Sastro (Winarso), dia adalah calon yang paling dielu-elukan oleh adik-adik kelas, namun dibenci oleh kakak kelas (khususnya angkatan 2006). Mereka telah mengenal Sastro dari segi eksternalnya saja sebagai anak yang terlihat semrawut dan seperti orang kurang waras jika ditunjuk sebagai pemimpin dan yang mungkin paling mempengaruhi adalah Sastro bukan anak yang menonjol di prestasi intelejensinya, beda dengan Erika, Anggoro dan Annas yang memang termasuk dalam TOP-5 nilai akademisnya di angkatanku. Selama ini Sastro dianggap sebagai orang semrawut dan terlihat sok-sokan aktif dan vokal di HIMA. Otomatis, orang menjadi tambah dengki ketika orang sesemrawut Sastro tiba-tiba mendirikan organisasi (Exsara) dan memiliki banyak masa. Maka banyak pihak yang ingin membendung aksinya. Jangan sampai singgasana ketua HIMA diduduki oleh orang yang tidak intelek, yang akan mempermalukan HIMA Sejarah Unnes di kancah nasional. Namun mereka lupa dua hal bahwa Sastro adalah satu-satunya anak HIMA Sejarah didikan orang-orang PKM saat itu dan bersertifikat PKMM-TD.

Secemerlangnya kapasitas Anggoro, tapi ia tidak memiliki masa, maka diculiknya oleh Sastro dibujuk untuk mendampinginya sebagai calon Wakil Ketua HIMA. Kesiapan dan kesanggupan itu telah bersatu dalam simbiosis mutualisme, keduanya tidak saling berebut menjadi ketuanya. Akhirnya di sebuah malam penutupan pendaftaran calon ketua HIMA, Sastro menyerahkan formulirnya di kosnya Annas sekitar Kalimasada. Pasangan Sastro dan Anggoro menjadi calon tunggal dalam pemilu HIMA kali ini.

Saat-saat fit and provert test inilah saatnya dapur debat digelar. Semua yang kontra atau oposisi kepada Sastro mulai terlihat, hampir semua angkatan 2006 menghujat Sastro dengan kritikan yang juga membawa-bawa nama Exsara. Dari angkatan 2007, Inisial D.A.R paling vokal membendung laju Sastro dan dari angkatan 2008 sendiri hanya Inisial E.W.N yang berani berkoar-koar tentang sisi buruk Sastro, dan dari adik kelas angkatan 2009 mereka hanya bisa bertepuk tangan semarak menyemangati Sastro ketika ia bisa menjawab semua tuduhan, kritikan dan pertanyaan dengan bijak. Ini adalah era yang paling panas di Jurusan Sejarah, dan Sastro telah dinyatakan Layak Bersyarat.

Fitnah-fitnah dari oposisi pun datang menimpanya. Berdasarkan hasil pengamatan intelijen, inisial D. A.R-07 telah memanas-manasi para pimpinan BSO MUSAFIR bahwa MUSAFIR akan dileburkan dengan HSC menjadi organisasi baru yang bernama Exsara jika Sastro resmi menjadi ketua HIMA. Pimpinan MUSAFIR yang tengah terbakar itu, Sastro datangi debat dan luruskan bahwa fitnah itu memang tidak benar. Dasarnya MUSAFIR memang telah vakum tidak ada kegiatan apapun dalam kurun waktu sekitar satu tahun, isu peleburan itu hanya menjadi shock therapy saja namun tidak ada gerakan lebih lanjut untuk menghidupkan kembali MUSAFIR. Hal ini serupa dengan perkara perdebatan perlu atau tidaknya doa qunut dalam Sholat Shubuh namun kenyataanya mereka tidak pernah Sholat Shubuh. Generasi MUSAFIR tahun 2009 itu menjadi Simpai Keramat (Orang terakhir dalam suatu klan) yang sudah tidak beranak lagi dan di Konggres tidak ada perwakilan siapapun. Inilah sejarah musnahnya MUSAFIR.

Sastro juga mencoba bersilaturahmi dengan Vamsakerta HSC yaitu mas Saiful Amin. Aku pura-pura tidur namun sambil nguping pembicaraan mereka. Mas Saiful mengampuni Sastro dan mengakui kalau isu itu tidak benar bahkan beliau setuju-setuju saja dengan adanya Exsara di Jurusan Sejarah ini. “Saya setuju-setuju saja asal itu memperkaya kegiatan positif di Jurusan Sejarah”, dengarku. Akhir-akhir itu Sastro justru sering curhat kepada mas Saiful Amin, juga ke mas Jati Amarullah. Banyak pertanyaan muncul “Kalau ingin memperkaya kegiatan positif di jurusan Sejarah, kenapa tidak menghidupi/ membesarkan saja MUSAFIR atau HSC??? Tidak usah mendirikan organisasi baru?”. ”Ini memang terkesan seperti gerakan separatisme”, aku dengar sendiri dari ungkapan kritik ini dari Annas sebagai kader HSC. Ini memang tidak sepenuhnya salah Sastro, ia menyadari bahwa dia sebelumnya bukan orang strategis di kedua organisasi tersebut, sehingga tak ada kuasa baginya untuk iseng-iseng menstarter motor organisasi tersebut. Lebih tepatnya akan terkesan seperti mengkudeta, dan itu tidak etis. MUSAFIR sudah sekarat, HSC di bawah mas Zaenal yang terkenal brilian itu nyatanya lesu seperti sedang kekurangan tenaga. Sehingga Sastro memutuskan membuat organisasi sendiri sebagai inisiatif dan niat mulianya.

Operasi Divide et Impera (politik adu-domba atau pemecah belah) dari para haters nya Sastro, gagal terbentuk berkat aksi silaturahmi Sastro kepada kedua organisasi tersebut. Sekarang tinggal menghadapi politik Embargo yang lebih membuatnya resah. Beberapa orang PKM direncanakan akan disuap dan didoktrin agar mereka mendepak Sastro dari PKM. Dengan kata lain mengasingkannya agar tidak bisa mempengaruhi orang lain dan memutus hubungan solidaritas dari orang-orang PKM yang dicintainya. Bagi mereka PKM adalah tempat yang berbahaya daripada tempat seminar. Sastro akan menjadi manusia tangguh dan berkembang jika ia terus di PKM. Serasa hampir menangis Sastro dibuatnya mendengar konspirasi ini. Tak pernah disangka Sastro dulu pernah menjilat “pantat”nya D.A.R dan V.F.H dengan mengabdikan diri menjadi timsukses mereka berdua menjadi Ketua HIMA Sejarah dan Menjadi Ketua BEM FIS, memasang pamflet, memasang baliho, membagi rokok. Kini bukanya balas budi yang didapat, justru mereka berdua malah memukul-mukul “pantat” Sastro. Dalam dini hari yang panjang di pelataran toko tutup sekitar gang Cempaka, Sastro menceritakan kisah ini semua kepada kami Vamsakerta. Dalam kepasrahanya dia mengungkap “yo wis lah nek misal mengko aku dikudeta ya ga popo”.

Sebelum operasi embargo itu dilancarkan. Justru saat-saat itu ia lebih dekat lagi dengan orang-orang PKM. Bom yang seharusnya meledak dahsyat, tiba-tiba terjinakkan. Akhirnya semua operasi ini berhasil dilewatinya. Gertakan-gertakan Angkatan 2006 kepada Sastro dan Exsara hanya ibarat mengertak namun sambil berjalan mundur, tangan mereka telah diborgol oleh waktu mendekati paripurna kuliah. Dan yang paling tragis adalah D.A.R, ia bagaikan Aidit yang gagal mengkudeta Bung Karno yang berakibat PKI giliran dibantai. Ini adalah titik balik, giliran D.A.R yang terasingkan. Berita tentang kemelut ini semua seolah telah dimengerti oleh adik-adik kelas dan teman seangkatanku. Paranoid bagi D.A.R untuk berangkat ke kampus. Sementara Sastro dianggap sebagai pemenang dalam ujian ini semua. Tanpa aksi balas dendampun D.A.R sadar bahwa ini adalah saatnya mengasingkan diri. Dia akhirnya menjadi korban akan kemelut ini semua. D.A.R adalah mahasiswi Sejarah yang mungkin tidak akan menamatkannya sebagai Sarjana disini.


Ketika Jepang berhasil dikalahkan dengan bom Atom,
Ketika Rusia menyerah kepada Demokrasi,
Ketika rezim Taliban Afghanistan berhasil digulingkan,
Ketika Iraq berhasil diluluh lantahkan,
Ketika Saddam Husein berhasil dicekik lehernya,
Dan Ketika Osama bin Ladin berhasil ditewaskan,
Namun Fidel Castro tetap hidup di singgasananya, bersama Kuba, dan Komunismenya hingga jenggotnya panjang dan memutih.
Selalu tegar, selalu selamat dari ancaman maut CIA dan Amerika.
Itulah Fidel Castro, seperti sahabatku Fidel Sastro (Winarso).

Pose Merokok Castro & Sastro
Pose Merokok Castro & Sastro




Tahun pertama kegemilangan Exsara, terus dihadapinya dengan bijak apapun keputusannya. Sastro sebagai Ketua HIMA belum mengangkat Exsara sebagai BSO di Jurusan Sejarah. Sungguh terkesan aji mumpung jika Exsara langsung menjadi BSO, ditakutkan akan lebih banyak percikan-percikan dengki lagi dari para haters. Seperti mendapat sebuah keberkahan dari langit, hampir dari semua Vamsakerta mendapatkan beasiswa. Atas ide dari Sastro, kami menyisihkan dana itu untuk membesarkan Exsara, serta beberapa tambahan sumbangan lain dari teman-teman Sejarah 2008 yang juga lolos beasiswa. Jika HSC dulu dibesarkan oleh Mas Saiful dan Tsabit menggunakan dana hasil hadiahnya dari PIMNAS dan proposal yang lolos, maka Exsara menggemukan kasnya dari solidaritas Vamsakerta dan teman-teman Sejarah 2008. Meski bukan BSO akan tetapi Exsara menjadi komunitas yang solid dan kaya akan acara, termasuk mengajak buka bersama dengan anak HSC. Rasa bersitegang kedua organisasi ini seolah lenyap. Tahun 2009 tiba saatnya Sastro harus mengurangi pengaruhnya di Exsara untuk sementara waktu, dia memiliki amanah yang lebih penting sebagai sebagai Ketua HIMA. Mayoritas anggota Exsara dari sejarah angkatan 2009 telah menjadi anggota HIMA bersama Sastro. Sungguh identik, Orang HIMA adalah Orang Exsara. Orang Exsara menguasai kursi HIMA. Exsara berdiri menjadi seperti sebuah partai dan terus menerus memproduksi kader-kader menjadi Ketua HIMA Sejarah. Hingga pada Kekhalifahan HIMA dibawah Gesang Rahmawan tahun 2011, Exsara baru resmi diangkat menjadi sebuah BSO.

Satu persamaan lagi antara Fidel Castro dengan Fidel Sastro, yaitu pemikiran komunismenya. Semenjak berdirinya kampus ini yang namanya PKM, atau mungkin dulu hanya ada pendopo FE umumnya dihuni oleh orang-orang Kiri, kata guru Sejarah SMAku dari IKIP Semarang 1998. Ada beberapa kemungkinan mengapa tempat seperti ini akhirnya mencetak paham Pemikiran Kiri dari beberapa Mahasiswa yang tinggal didalamnya. PKM adalah wadah melatih organisasi, otomatis didalamnya mendidik anti individualistik. Sehingga PKM betul-betul dimanfaatkan secara maksimal sebagai rumah gerakan, dan dapat dimaklumi jika suasana ruangannya berantakan. Karena saling kaya akan interaksi, mereka membentuk solidaritas menganggap penghuni tetap PKM sebagai lebih dari sekedar saudara. Tidur bersama, makan bersama, laptop dipakai bersama, rokok join, helem join, sandal join. Sampai pada akhirnya mereka merasa bahwa dalam berkehidupan ini tidak ada lagi yang namanya hak milik pribadi, semua orang memiliki hak yang sama. Sehingga di PKM sering ada kejadian sandal diambil orang tanpa ijin, helem diambil orang tanpa ijin, Sepatu diambil orang tanpa ijin atau barang-barang yang lain. Sebenarnya itu bukanlah kasus pencurian tapi itu adalah siklus atau rolling saja kemanapun perginya tetap akan kembali kesitu. Orang yang tidak terbiasa tinggal di PKM dengan paham Kirinya, maka setiap harinya merasa seperti kehilangan sesuatu.

Itu adalah praktek komunisme secara sederhana yang diterapkan Sastro dkk di PKM. Secara ideologispun Sastro juga sangat mendukung. Menurutku adalah karena kefasihannya dalam berorganisasi. Disinilah ia mulai mendapatkan titik-titik gairah api abadinya secara alami untuk menyukai bidang politik. Dalam sejarah memang perbedaan yang menonjol antara Sekolah Tan Malaka dengan sekolah-sekolah lain adalah adanya pelatihan dalam berorganisasi. Mereka dilatih matang untuk berorganisasi dan memupuk solidaritas dengan temannya. Murid-murid juga diajarkan untuk memperhatikan kaum terhina. Tan Malaka menanamkan cita-cita agar setelah dewasa berkewajiban untuk membela dan membebaskan kaum proletar dari penindasan. Mungkin Sastro belum pernah katam dengan bukunya Harry A. Poeze atau mungkin baru baca Tan Malaka di wikipedia, tapi kefanatikannya hampir tak tertolong. Selalu mengkait-kaitkanya dengan Islam dan Pancasila, bahwa Komunis adalah satu-satunya ideologi yang cocok dengan Islam khususnya konsepsi tentang kepedulian terhadap sesama, dan Pancasila di sila ke-5. Satu hal yang luar biasa dan sangat saya kagumi kepada orang-orang Kiri, termasuk Sastro adalah itu, RASA KEPEDULIAN TERHADAP SESAMA yang benar-benar ia terapkan. Bahkan rela mengorbankan waktu dan tenaganya, untuk itu semua. Dia rela berdemonstrasi demi adik kelas, dia rela membuat esay kritik kepada eksekutif kampus demi adik kelas, dia mendirikan Exsara demi adik kelas, dll.

Itulah Sastro, adalah orang yang penuh pro dan kontra. Itu adalah sebuah hulu/ filosofi mengapa banyak beberapa mahasiswa-mahasiswi yang kagum dan ngefans dengannya (bukan dari sisi ketampanannya). Namun beberapa pihak juga banyak yang kontra dengannya.


Sastro akan menghadapi tantangan berat di masa depan, apakah ia akan tetap pada keidealisannya itu mempropaganda paham Kiri, radikal, kritikus, Rebels, ataukah dia akan menjadi menusia yang tunduk mengikuti arus zaman?


Akankah Sastro akan berkembang hingga namanya tercantum di nomor 101 dalam bukunya Michael H. Hart tentang sekumpulan orang yang palingberpengaruh di dunia?


Akankah namanya kelak akan tercantum dalam ensiklopedi Kiri, berjajar dengan Karl Marx, Eangels, Lenin, Stalin, Mao Tse Tung, Ho Chi Minh, Kim Jung Il, Fidel Castro, Che Guevara, Pol Pot, Yosef Broz Tito, Semaoen, Tan Malaka, Alimin, Aidit dan terakhir Winarso?


Fidel Castro sedang bergerilya, Fidel Sastro sedang mendaki gunung
Fidel Castro sedang bergerilya, Fidel Sastro sedang mendaki gunung





Atau mungkin Sastro akan memilih pulang ke rumahnya membantu orang tuanya bertani di desa Kletek yang dikepung hutan jati pedalaman Kabupaten Pati yang damai. . . .



SEKIAN

Hari-Hari bersama Harry

Harry Laksono
Harry Laksono


Aku melihat pemuda berambut plontos itu duduk tenang di kursi bus yang sedang melaju ini. Ia terlihat paling diam. Terlihat melamun sorot mata memandang keluar kaca. Melihat lalu lalang arus kendaraan. Memandangi dinamika masyarakat yang sedang berjalan di trotoar. Betis-betis putih wanita cantik, hingga hingga lusuhnya orang gila yang nyaris telanjang, tak luput dari pandangnya. Semua itu tak mengubah ekspresi air mukannya sedikitpun. Hanya bola matanya yang bergerak kanan-kiri, dan pupilnya yang mengembang-menciut.

Ia seperti tak sadar kalau hari ini adalah hari yang menyenangkan. Tidak mencoba ngobrol sesuatu dengan kawan di sebelahnya, Yudha. Bahkan tidak peduli dengan kegaduhan semua kawan di bus yang sedang membahas oleh-oleh apa yang akan dibawa nanti. Kita semua tak ada yang curiga dengan pendiamnnya pemuda itu. Yang kami tahu kalau hari ini adalah waktunya plesiran, atau dalam bahasa yang lebih intelektualis disebut KPS atau KKL.

Hingga KPS pertama Jogja-Karanganyar ini, aku belum begitu mengenal pemuda itu. Kalau sama-sama pendiam, sama-sama kalem seharusnya dia jadi partnerku. Tapi tidak, ia tampak aneh saja. Seperti orang yang sepanjang harinya gelisah. Dia duduk dua kursi dari depanku. Tapi aku mengamati geraknya. Dan masih menatap ke luar. Sampai ia bosan, kemudian menutup lamunannya itu dengan menguap. Lalu mengusap-usap kepala plontosnya itu berulang-ulang seperti orang menyesal dengan potongan rambutnya. Tidurlah dia dalam perjalanan ini.

****


Harry, teman teman memanggilnya Harry. Satu bulan kemudian kita bisa melihat hasil jepretan teman-teman saat plesiran itu. Aku melihat satu  per-satu. Tapi jarang ada Harry dalam foto-foto itu. Sekalipun ada, ia sedang dalam posisi tidak siap. Membuang muka dari sorot kamera.

Atau aku lihat sedikit rekaman video saat teman-teman disapa satu per satu ketika di dalam bus. Teman-teman umumnya menjawab sapaan dari cameramen. Gilirannya menyapa Harry, ia hanya menjawabnya dengan senyum sambil mengusap kepala plontosnya dan kembali menatap keluar.

TAK ACUH- Dulu Harry selalu tak pede difoto
TAK ACUH- Dulu Harry selalu tak pede difoto


***


Siapa yang menyangka orang seperti Harry itu bisa menjadi tokoh masyarakat mahasiswa di gedung C2. Seperti halnya siapa yang menyangka seorang Adolf Hitler yang sempat menjadi pengangguran dan orang terlantar tiba-tiba menjadi Kanselir Der Fuhrer NAZI Jerman yang berambisi ingin mencaplok seisi bumi ini untuk tunduk kepadanya. Siapa yang menyangka??

Tiga tahun kemudian Harry memiliki perubahan yang drastic, siapapun juga akan sulit menyangka jika melihat sejarah Harry ini. Dalam tahun-tahun itu ia telah melewati hari-hari yang berat. Pertama ia sempat menjadi anggota staff ahli di Dep B. Setahun kemudian, ia bisa duduk sebagai Kepala Departemen B. Setahun lagi ia menjadi komandan pasukan PPL untuk SMAN 1 Batang. Dan Setahun lagi dia terbang ke Landak Kalimantan Barat sambil mengenakan jas hitam perlente, pundaknya tegap dan di dadanya terbordir tulisan “SM3T”. Siapa yang menyangka?

Sekarang aku ingin memencet tombol “Rewind” rol film biografi Harry yang disutradarai aku sendiri dari sudut kamera mataku. Semua kembali dimundurkan, dan gulungan layar dibentangkan.

***


Semua memang berawal dari sebuah ruangan seluas 3x2, bangunan bergayakan Simple Cube atau kubus sederhana. Bangunan adat kelurahan Sekaran dengan kamar bertingkat, beruang sempit, minim fasilitas jendela dan fentilasi, atau orang-orang menyebutnya kos-kosan. Bangunan ini tepatnya di Gang Waru, Sekaran. Sebuah kos yang dihuni oleh dua anak kembar asal Kendal, Bagas Sriwijaya (Yoyok) dan Bagas Sri Raharja (Jojo).

Kalau boleh aku bilang, mungkin Bagas Sri Raharja (Jojo) bagiku seperti HOS Cokroaminoto. Dialah yang mempertemukan para tokoh pendiri bangsa. Dia adalah bapak kosnya Soekarno, Tan Malaka, Kartosuwiryo sampai Muso. Mungkin kalau tak ada dia, Indonesia jadi tak berwarna-warni.

Mungkin aku tidak akan akrab dengan Winarso kalau aku tidak diajak Jojo untuk ikut HIMA. Padahal Jojo sendiri tenggelam di tengah jalan berliku HIMA 2009. Mlempem kemudian terlempar dari pusaran aristocrat pengurus HIMA. Tapi Jojo juga mengajariku untuk membenci Sastro, dengan menceritakan kejelekan Sastro dari hal-hal kecil seperti makan minta dibayari. Hingga yang besar seperti dugaan Sastro yang katanya mengkorupsi sisa jatah nasi bok waktu KPS I.

Mungkin aku tidak akan akrab dengan Feby, kalau aku tak pernah mampir ke Kosnya Jojo di Gang Waru. Karena dulu Feby dan Darmawan Pujito berdua sering transit ke kosnya Jojo di jeda jam kuliah. Mereka tadinya sangat akrab seperti Doyok dan Kadir. Kadang disitu juga ada Puji Slamet, Yudha dan Eko Nurrohmad.

Mungkin aku tidak akan pernah akrab dengan Harry kalau aku tak bergaul dengan Jojo. BIsa kuakui Jojo waktu itu memang unik dan jadi sandaran banyak teman. Termasuk Harry, juga jadi korban tersedot magnet Jojo. Aku juga sering lihat Harry paling sering mampir di kosnya Jojo. Hingga ambil rombel mata kuliah sejarah hingga MKU yang berjadwal sama.

***


Aku, Harry, Jojo, Yoyok dan Yudha seperti semakin solid. Intens bertemu dengan jadwal kuliah yang sama. Meski sudah satu geng tapi masih terasa beda saja antara aku dan Harry. Belum begitu dekat. Kami bedua mungkin bagaikan Oliver Kahn dan Michael Ballack di Bayern Munchen waktu itu. Meski satu grup tapi mereka bermusuhan tidak saling bertegur sapa. Akupun dengan Harry juga begitu, bedanya kami tidak bermusuhan seperti mereka.

Tiba waktunya kita mentoring mata kuliah PAI, kita berempat satu rombel. Mentor kita memang berbeda, karena dia adalah tokoh terkenal kampus. Lukman Hakim, sekjen KAMMI senyumannya sangat tulus untuk membimbing kita. Setiap malam yang tak biasa kita anak laki-laki selalu diajak duduk melingkar di masjid. Membaca Qur’an satu per satu. Mas Lukman memang pandai sekali menggelar diskusi. Hingga kami terhanyaut untuk bicara saling jujur tentang apa yang sedang paling kita gelisahkan.

Harry pun angkat bicara. “Mas saya merasa terganggu di kos saya. Mereka itu ternyata orangnya bejat semua. Bagaimana sekiranya aku tetap jadi orang lurus ditengah-tengah kecamuk maksiat itu,” ujarnya. Mas Lukman geleng-geleng kepala mengucap “Masya Allah” kemudian menawarkan diantara kami untuk manjawab keluhan Harry ini. “Hayoo siapa yang ingin menjawab? Kita sharing saja,” katanya.

Aku baru tahu. Kasian juga Harry. Mungkin dia bagaikan Kuda Nil sendirian diantara koloni Buaya Afrika yang sedang berendam bersama-sama. Meskipun Kuda Nil tidak akan disantap Buaya itu tapi setidaknya dia risih ketika melihat Buaya kesetanan mencabik-cabik mangsa.

Aku terkesima, karena nasib kita mirip. Sama-sama merasakan tidak nyaman dengan lingkungan baru semenjak di Semarang ini. Beginilah awal kami di Semarang. Hanya saja kos kita berbeda, Harry ngekos di sekitar depan lapangan Banaran. Sedang aku di Setanjung dengan gambaran kos seperti yang pernah kutulis di catatan dari Setanjung Ke Kalimasada.

KEJAM- Teman kosnya yang pertama menelanjanginya dan disuruh untuk pegang kertas bertuliskan TERSANGKA
KEJAM- Teman kosnya yang pertama menelanjanginya dan disuruh untuk pegang kertas bertuliskan TERSANGKA
 Aku sambar saja kesempatan yang diberi mas Lukman untuk menjawab keluhan Harry. “Saya juga merasakan hal yang sama dengan Harry, tapi yang penting bagi saya jangan terlalu dekat dengan mereka,” jawabku. Betul, itu trik ampuhku untuk bisa bertahan di Dian Ratna selama tiga tahun ditengah-tengah keganasan pemabuk, sarang orang emosional, perkelahian, pemalak dan pemalas. Kucinya hanya satu “Bersikaplah Dingin kepada mereka”. Orang akan sungkan bergaul dengan orang dingin. Sikap dingin ini juga bagiku bagaikan pura-pura mati ditengah perang. Ia sudah tidak jadi sasaran tembak musuh. Itulah yang kusarankan pada Harry.



****


Satu tahun pertama, semua orang berhak menilai Harry sebagai orang yang sangat pendiam, wajahnya seperti sedang menceritakan teraniaya dan kegelisahan. Tapi menurutku itu berlebihan, dia seperti tidak tegar. Bahkan aku ikut gemas melihatnya. Ternyata pendiamku belum apa-apanya dari pendiamnnya Harry.

Jika aku hanya pendiam, dalam definisi tidak pernah iseng nyletuk, tidak pernah sesumbar, sumpah serapah, tidak pernah mengucap basa-basi, modus atau rayu goda menggoda. Intinya aku adalah 180 derajatnya karakter para sales panci wajan Teflon yang suka mengganggu kenyamanan orang. Tapi aku bukan lagi pendiam, ketika sedang dibebani peran missal diskusi dan presentasi aku tak gentar buka mulut. Tapi Harry beda, pendiamnnya seperti Pohon cemara tertiup kabut. Sayup tapi terlihat kacau.

Pernah aku satu kelompok dengannya dalam diskusi tugas dari Pak Romadi. Dalam waktu singkat harus mengumpulkan dan menyampaikan hasil diskusinya. Kebetulan aku yang mengetuai, Harry seperti tidak berkata apa-apa satu kalimat pun. Tak berkontribusi apapun dalam lembar jawab kami. Padahal sudah saya tawari. “Pye menurutmu Har??”, “Opo si yah yo ngono ah terserah, manut wae hehehe,” jawabnya. Keplak sisan ndase.

***


Tapi tidak untuk tahun ke dua. Berkat dukungan Jojo dan kekompakannya, akhirnya aku dan Harry ikut terpengaruh olehnya. Masuk Hima Sejarah 2009. Ini bukan jabatan sembarangan, tapi entah kenapa orang pendiam dan terlihat pasif seperti kami justru bisa lolos saat seleksi anggota Hima. Kakak kelas yang menyeleksi mungkin memakai kacamata kuda. Hima itu ibarat miniatur wakil rakyat, tapi apa jadinya jika wakil rakyat diisi oleh manusia tidak lantang seperti kami, kaum pendiam, peragu dan tidak bisa bersilat lidah. Kami hanya modal senyum. Hikmah dari bergabungnya kami seolah aku dan Harry adalah satu kaum. Kaum pendiam.

Aneh bin ajaib, memang kakak kelas kita di Hima ini benar-benar menggunakan kacamata kuda atau memang ada udang dibalik batu (modus). Harry yang belum menjadi mahasiswa ternama, rambutnya masih brush plontos dan biasa, muka wajahnya selalu mencerminkan keprihatinan, matanya kudup seperti mata orang Jepang yang ternganga selamat di tengah-tengah bencana bom Hiroshima. Tapi apa kata sang ketua Hima, Diyah Ari??? “Harry aku tunjuk kamu sebagai Sekertarisnya yah” ucapnya dengan nada manja.

Dalam rapat perdana, Nama Harry sudah secara resmi ditulis sebagai seorang sekertaris HIMA Sejarah. Dalam rapat itu tiga orang duduk didepan Harry-Diyah-Fiston serupa Triumvirat kekaisaran Romawi. Tapi. Jabatan itu membuat tidurnya tidak nyenyak. Mungkin dia sudah tahu apa itu sekertaris. Bayangannya dari kata s-e-k-e-r-t-a-r-i-s selalu tertuju pada wanita muda, cantik, kenes dan biasa pendamping Bos dalam perusahaan. Ia selalu mengenakan rok ketat diatas lutut. Dan sesekali dia harus rela dan pasrah ketika sedang digerayangi si bos. Tapi dia berusaha untuk lepas dari pikiran ngeres itu. Segera berfikir tentang hal yang lain tentang jabatan Sekertaris ini.

Dalam pemerintahan. Sosok Sekda (sekertaris daerah) di sebuah kabupaten memang dalam struktur seperti orang ketiga tertinggi setelah bupati dan wabup, tapi asal tahu saja Sekda adalah seorang Jenderalnya PNS. Apapun yang menjadi kegiatan di setiap kantor dinas berada pada kontrolnya. Sementara bupati dan wakil bupati hanyalah jabatan politis, dia bukan PNS dan setiap 5 tahun sekali diganti. Tentu saja jabatan Sekda lebih penting daripada wakil bupati. Kemendagri pun sedang mengusulkan penghapusan jabatan wakil bupati.

Harry berfikir dalam mimpi seandainya dia menjadi sekertaris di Hima. Maka dia adalah jenderalnya para kepala Departemen. Diyah Ari hanyalah pemberi kebijakan utama, sang sekertaris bertugas mencatat dan menterjemahkan menjadi job desk kemudian dia bagikan ke setiap departemen. Dia harus memiliki keahlian khusus dibidang ini. Tidak hanya bekerja dalam administrasi saja. Seorang Sekertaris juga harus memiliki kewibawaan yang setara dengan ketua. Karena apa? Karena dalam sebuah peresmian sesuatu jika tidak ada ketua, tidak ada wakilnya maka seorang Sekertarislah yang menggantikan perannya baik untuk berpidato atau menandatangani dokumen. Tugas yang tidak ringan.

Harrypun tersentak sadar setelah merasa terbentak dengan kata-kata itu. Esoknya ia bereaksi dan menghubungi Diyah. Dengan nada seperti orang minta ampun, dengan bibir njembewek dia minta agar posisinya diganti dengan yang lebih rendah. Bahkan kalau bisa yang paling rendah sekalian agar tidak terbebani tanggungjawab besar. Permintaannya pun di ACC dan diberi jabatan terendah dalam Hima yaitu Staff Ahli. “Posisi staff ahlipun bagiku saat itu masih terlalu tinggi Gan, bahkan kalau bisa malah aku ingin duduk di posisi Staff Goblok saja,” katanya.

$$$$$


Satu tahun kemudian, Harry sudah sedikit berbeda. Sudah bisa mengajak becanda, meskipun dia masih sedikit pendiam dan kudup matanya masih seperti orang Jepang yang bingung. Akhirnya dia harus jujur betapa beratnya menjadi pendiam. Dia tak punya wadah untuk bisa menampung luapan kata-katanya. Ketika dia sudah pada titik klimaks, dia sudah ingin sekali muntah kata-kata. Akhirnya di facebook dia membuat suatu grup, namanya “Harry’s Fans Club”. Hingga kini grup tersebut masih ada namun sudah tidak aktif lagi. Anggotanya terdiri dari teman-teman Harry baik di Sejarah maupun teman SMA nya, mungkin.

Disitu Harry bisa meluapkan kata-kata sepuasnya. Tapi aneh kata-kata yang diluapkan Harry adalah kata kata motivasi, yang kadang mungkin copas dari Mario Teguh, atau Tung Dasem Waringin. Justru bukan kata-kata keluhan yang sesuai dengan air muka Harry selama ini. Alih-alih dengan memuat kata-kata motivasi itu Harry bisa dinilai sebagai orang yang tegar dan bisa menyemangati orang lain. Atau setidaknya dia ingin ada seorang cewek yang berkata, “Ohhh so sweeet” melalui kata-kata itu. Tapi ternyata sebaliknya. Harry yang gelisah tetaplah Harry yang gelisah. Kata-kata itu tidak jadi enak dibaca. Bagaimana bisa orang yang sedang gelisah justru membuat kata-kata motivasi. Itu hanya akal-akalan saja. Jadi kata-kata itu ibarat obat yang diracik oleh orang yang sakit-sakitan. Atau sebuah jimat penglaris yang dibuat oleh orang miskin bisa juga sebuah buku sejarah yang dibuat oleh orang yang hilang ingatan. Loro Pikir

$$$$$


HIngga pada waktu Kemas 2009 tiba. Dia mendapat jabatan yang cukup setrategis dan cukup jelas yaitu, Kakak Pendamping. Posisi ini menjanjikan melatih kemampuan bagaimana kita menyetir banyak orang. Membentuk banyak karakter orang. Disinilah mental dan pikiran Harry mulai ditempa kepemimpinannya. Mereka yang menjadi murud-murid Harry antaranya: Ramdhani, Edwin, Sasmitha, Dimas, Putri, Agung, Ninik, Liana dan Grita.

Ternyata di luar dugaan Harry bisa melewati hari-hari itu dengan mulus. Tidak seperti apa yang diprediksi orang, Harry yang pendiam dan gelisah akan menciptakan anak didiknya yang pendiam dan gelisah juga. Mereka bisa tumbuh sebagaimana anak-anak yang lain. Ini memang karena selalu menolak paham yang dibawa Harry ini atau Harry sendiri yang berhasil merubah sikapnya.

$$$$


Pasca Kemas 2009, HIMA nyaris diambang kehancuran. Mereka seolah terpecah antara yang pro penguasa dengan yang sedikit radikal. Yang Radikal tentu dipimpin oleh Fidel Sastro, anggotanya adalah aku. Sementara Harry yang nampaknya masih seperti air diatas daun keladi akhirnya dirangkul Sastro juga. Ketika Aku, Sastro dan Nanang menggagas Exsara dan ingin melepas penat di Puncak Ungaran, Harry mantap ikut tak pernah menduga bahwa nantinya akan memproklamirkan organisasi terbesar di Jurusan Sejarah Unnes ini.

Harry memang tidak seheboh Aris, di perjalanan. Tapi dia sudah tidak lagi terlihat dingin. Dia mulai mencair, karena satu angkatan keberangkatan Exsara ini sudah terbangun ikatan emosional. Satu sama lain sudah menganggap seperti saudara. Dibawah rembulan, diterangi api unggun di samping kebun teh, 24 oktober 2009, kami sepakat memproklamirkan berdirinya Exsara sebagai komunitas dan Nanang dinobatkan sebagai ketua umum pertama. Semua anggota menyandang sebutan sendiri-sendiri sebagai panggilan.

Harry atas pertimbangan teman-teman karena sifatnya yang penurut, apa adanya, seperti orang bingung, tubuhnya paling gempal dan tidak aktif berkontribusi identik dengan anak kerbau, maka teman-teman sepakat memanggilnya Harry Gudel. Dia sendiri terima dengan lapang dada bahkan sangat menghargai penggilan barunya itu, hingga kini kata Gudel dia kembangkan sendiri sebagai nama facebooknya menjadi GUarDianangEL, sekaligus untuk mengabadikan. Satu sisi memang dia seperti Gudel, tapi di sisi lain dia memiliki sesuatu yang bahkan bertentangan dengan itu. Akan aku bahas di lain BAB.

$$$$


Kemenangan Sastro dari Exsara menjadi ketua Hima Sejarah 2010, memang membawa angin segar kepada kami. Ini lah saatnya Sastro membagi-bagi roti kekuasaan dari para anggota Exsara untuk bisa duduk di posisi setrategis di kursi Hima. Tapi mereka yang berani memanfaatkan roti kekuasaan ini hanya 7 orang saja dari 10 anggota. Mereka adalah: Sastro, Marwan, Feby, Aris, Sri Hartati, Diah Karminah dan diantara pilihan antara Jurang atau Buaya akhirnya Harrypun juga ikut dalam kabinetnya Sastro ini. Sementara aku, Nanang dan aji memilih tidak untuk menjadi birokrat seperti mereka. Kami bertiga tetap tinggal sebagai tokoh yang nguri-uri Exsara.

Sekali lagi Harry berani menantang diri sendiri dalam dunia yang bakal penuh tekanan. Harry memang tak pernah haus kekuasaan, tapi Sastro menempatkannya di posisi yang cukup berkelas yaitu kepala departemen B. Yaitu departemen bakat dan Minat. Jika dalam pemerintahan mungkin posisi ini sama dengan Menpora.

Suatu hari, aku tahu persis ketika Harry sedang diuji sebagai Menpora. Hima sejarah mendapat kehormatan untuk mengirimkan tim Futsalnya untuk ikut ajang bergengsi KAJUR CUP oleh pihak FIK. Ingat futsal, ini adalah oleh raga yang Manly sekali, sangat lelaki. Harry harus hati-hati dalam memutuskan soal tim futsal ini. Ini sangat sensitive jika salah sedikit saja dalam membuat keputusan. Bicara soal futsal di depan laki-laki itu ibarat bicara soal BLSM di depan rakyat miskin. Sangat riskan untuk digugat atau didemo jika ada kesalahan sedikit saja dalam membagi.

Betul apa kataku. Harry menyepelekan soal futsal ini dengan memutuskan bahwa tim yang akan ikut bertanding di KAJUR CUP nanti adalah tim futsal pemenang PKMS (lomba tingkat jurusan gampangnya), atau tim pemenang futsal di jurusan sejarah. Apakah ada yang salah dengan keputusan Harry??

Tapi beruntung, keputusan Harry ini baru sebatas uji public terlebih dahulu. Seandainya ada yang protes maka akan dipikir ulang. Kakak kelas ternyata ada yang memprotes. Dia mengusulkan agar tim yg dikirim dari Jurusan Sejarah nanti adalah tim yang berisi All Star, bukan tim pemenang PKMS. Harry benar-benar binging kali ini, apakah memilih membentuk tim All Star yang komposisinya adalah para mahasiswa sejarah yang trampil bermain futsal lintas kelas, lintas angkatan bahkan lintas prodi. Ataukah memilih menunjuk tim futsal dari kelas pemenaang cabang futsal di PKMS. Aku ikut merasakan bingungnya, ini bagaikan memilih antara keberuntungan atau ikhtiar.

Jika memilih tim pemenang PKMS itu ibarat memilih keberuntungan, mereka beruntung bisa menang di PKMS. Padahal isinya belum tentu pemain berbintang. Tapi jika memilih All Star adalah bagaikan memilih ikhtiar, menghindari spekulasi bersikap realistis dengan memilih yang terbaik.

Akhirnya Harry memilih untuk ikhtiar daripada berspekulasi mengandalkan keberuntungan. Dia menyeleksi siapa saja baik adik kelas, teman seangkatan maupun kakak kelas yang mumpuni bermain futsal dan pantas ditarungkan dalam KAJUR CUP. Hasilnya jreng-jreng terbentuklah tim All Star sejarah versi Harry. Mereka bukan dipilih melalui homping-pah ataupun dilotre. Tapi mereka yang memiliki postur paha dan betis kering seperti kuda dan tidak berlemak. Disamping itu juga memilih pemain yang masih trah atlit juga seperti Lutfi Amiq dan Rizqi yang masih trah Persijap. Tidak pula masalah body, kecerdikan juga dibutuhkan dengan mencari orang yang selincah Antelop. Untuk kipper sendiri memang tidak ada pilihan lain, yaitu kiper yang selama lomba PKMS terus menjabat sebagai kipper, tidak pernah diroling menjadi back atau penyerang. Itulah yang namanya kipper sejati, kata Harry.

Jadilah Laskar Historia. Siap bertempur di FIK. Mereka merasa bangga karena merasa sebagai orang terpilih. Selama HIMA masih dalam dominasi Exsara memang situasinya sangat kompak apa lagi kalau untuk menggerakkan masa. Sastro bersama Harry berhasil menghebohkan suasana futsal kali ini. Adik kelas maupun kakak kelas mau menyempatkan menonton sepak terjang tim yang dibentuk oleh Harry ini yang bertanding di malam hari. Jumlah penonton dari tim lawan bukanlah apa-apanya jumlah supporter dari jurusan sejarah, selalu.

Suporter berangkat dari kampus C7 menuju kampus FIK dengan membawa perkakas ala kadarnya untuk menghebohkan suasana seperti potongan seng yang dipukul-pukul, ember PKM, asal pungut kaleng. Apa saja, yang penting tidak kalah hebohnya dengan Tifosi atau saat pertemuan El Classico. Tidak ada supporter jurusan lain yang segila kami dan sebanyak kami. Saat pertandingan berlangsung, betapa jatuhnya mental tim lawan, karena supporter kami membuat yel-yel yang mengolok-olok mereka. “PGSD HOLA HOLO!!, PGSD HOLA-HOLO!!”, misalnya seperti itu dan kata-kata lain yang tidak kotor.

Tak disangka match demi match melawan jurusan lain. Tim kita selalu menang. Tidak terlepas dari dukungan supporter yang loro pikir ini. Hingga pada waktunya semi final, tim kita jatuh oleh PJKR dari FIK. Mereka memang tidak mempan diolok-olok dan tetap saja ganas. Akhirnya kita pasrah, PJKR lolos dan menjadi juara 2 setelah diumbangkan IKOR di final. Meski begitu masih ada satu pertandingan lagi yang harus diperjuangkan yaitu merebutkan juara ke-3. Namun waktu itu juga lagi-lagi harus berhadapan lagi dengan tim lawan dari FIK, yaitu PKLO, dan kalah lagi. Akhirnya juara 4 waktu itu harus diterima dengan lapang dada.

Tapi ada kebanggaan dibalik itu semua. Kami dari jurusan sejarah adalah satu-satunya tim 4 besar KAJUR CUP yang berasal dari non-FIK dari puluhan jurusan lain di Unnes, dan dari beberapa jurusan lain di FIK. Bagi kami adalah prestasi yang luar biasa, kami merelakan 3 besar direbut jurusan dari FIK. Ini adalah hal yang sangat wajar. Sulit memang seorang Proklamator menang lari dari atlit lari dalam lomba Sprint. Sulit memang pasukan dari Athena bisa menang melawan pasukan Sparta yang memang dari lahir dibentuk sebagai seorang petarung. Tidak hanya penghargaan juara 4 saja yang diraih, tapi juga kita mendapat nominasi Suporter terbaik.

Meski juara 4 kita masih terpana-pana. Jika berfikir ulang mungkin ini adalah prestasi futsal terbaik  jurusan sejarah unnes dalam sejarah. Kita terlalu membangga-banggakan. Hingga Buleexs edisi IV bulan April 2010 memuat ucapan selamat dari tim terbaik kita ini. Mereka adalah legenda dari tim futsal Jurusan sejarah. Tapi ternyata ada satu tokoh sejarah yang terlupa.

Dia adalah Harry. Tanpa dipungkiri, Harry lah yang membentuk tim All Star ini, dialah yang menyeleksi, meracik komposisi tim. Dialah yang bertanggung jawab untuk memenejemen supporter yang gila itu. Dialah ketua Departemen B. Dialah Menpora terbaik di Jurusan sejarah. Tapi, Harry tidak pernah sesumbar kalau pencapaian ini berkat dirinya. Harry tidak pernah disalami ucapan selamat oleh rekan Hima maupun kawan-kawan Hima yang lain. Harry seperti tokoh Supriyadi yang menghilang.

HEBAT- Harry adalah masterpiece dari tim ini, yang berhasil tembus empat besar se-Unnes di KAJUR CUP FIK
HEBAT- Harry adalah masterpiece dari tim ini, yang berhasil tembus empat besar se-Unnes di KAJUR CUP FIK

 
$$$$


Nampaknya sang guru kehidupan belum puas menggembleng lelaki yang identik dengan Gudel ini. Lagi-lagi dia harus dibebani tanggungjawab lagi setelah paripurna dari Kabinet Sastro. Dia harus melangkah pada fase PPL. Apesnya dia ditunjuk sebagai Ketua rombongan PPL, ditambah lagi dia mendapatkan ploting di sekolah ungulan di suatu kabupaten, yaitu SMAN 1 Batang. Ibarat jatuh tertimpa tangga, sudah.

Banyak yang menilai Harry dari segi fisik saja. Sepintas memang sudah seperti ras unggul, ibarat ikan Lele dia adalah strain lele Masamo F1. Bertubuh bongsor padahal lebih muda dariku. Dan beruntung Harry bisa sedikit stylish tidak tampak lagi seperti orang bego. Itulah alasan Harry seperti cocok dijadikan pemimpin. Sama seperti SBY saat pilpres 2009, calon pemilih menyebutnya paling kharismatik.

Tapi sayang, aku tak tahu bagaimana sepak terjang Harry saat di Batang ini sebagai ketua. Setahuku itu adalah tanggung jawab yang cukup besar. Karakter ketua PPL setidaknya dia menguasai lima kompetensi: pertama, bisa berpidato didepan ratusan siswa saat upacara bendera; kedua dia harus supel dengan semua guru hingga pesuruh sekolah; ketiga supel dengan semua siswa yang ada disitu, seorang ketua harus paling hafal dan paling akrab dengan kebanyakan siswa semua kelas dibanding anggota PPL yang lain; keempat, ia harus pandai dan intens berkomunikasi dengan guru kordinator untuk membicarakan program; dan kelima dia harus bisa memimpin anggota PPL itu sendiri untuk menyatukan pendapat. Nampaknya Harry bisa melalui semua itu dengan mulus.

$$$$


Saat itu mungkin sejarah mengatakan bahwa Harry memang lebih unggul dariku. Dia bukanlah Gudel seperti yang kita perolok-olok. Tapi pada fase ini dia benar-benar cerdik seperti Kancil. Atau bisa dibilang Harry adalah Kancil berbulu Gudel.

Ini adalah fase mengerjakan skripsi, aku dan Harry senasib mendapatkan pembimbing II yang sama yaitu pak Ibnu Sodiq. Aku lebih dini mulai membuat skripsi ketimbang Harry. Kira-kira selisih 2 bulan. Aku terlalu bersusah payah penuhi keinginan pembimbing yang satu ini, bolak-balik revisi dan bolak balik dikritik. Tapi ternyata tidak dengan garapan Harry, cepat sekali dia di Acc setiap tahapan. Aku sedikit iri saat itu. Bukan aku merasa benar sendiri. Mungkin karena garapan Harry lebih mudah dipahami ketimbang garapanku. Faktor eksternal juga bisa terjadi, mungkin karena Pembimbing I ku adalah pak Karyono, setiap garapanku dikira didikte olehnya, sehingga Pak Sodiq seperti sengaja membuat gesekan.

Tidak cukup disitu. Ternyata Harry cukup pandai dan licik dalam mengakali SISkripsi. Bagiku SISkripsi adalah system terlaknat yang dibuat oleh Unnes, aku benar-benar mengutuk system ini. Karena beban mahasiswa jadi dobel tidak hanya harus bimbingan tapi juga harus membujuk dosen pembimbing yang gaptek untuk menyempatkan membuka internet dan meng approve tahapan proses bimbingan kita. Karena saking kalutnya pikiranku oleh SISkripsi ini, dengan terpaksa melalui trik yang sedemikian rupa akhirnya bisa membobol akunnya Pak Sodiq demi kelancaran SISKRIPSI ini, bukan demi nilai. Itupun baru kulakukan ketika sudah hamper ujian.

Tapi berbeda dengan Harry, dia punya trik yang jauh lebih beresiko dunia akhirat. Sehabis bimbingan Pak Sodiq, Harry tak perlu membujuk untuk meng-approve tahapan skripsinya, tapi dia pergi ke Lab computer jurusan Sejarah.
“Mba tadi sama Pak Sodiq diminta untuk melengkapi SISkripsinya saya,” kata Harry.
 “Oh ya? Tadi berarti sudah ijin pak Sodiq,” mba Retno masih curiga.
 “Iya mba, tadi Pak Sodiq sibuk langsung pergi jadi minta mba Retno saja, ini saya catatannya,” sahut Harry.

Diuruslah SISkripsi Harry. Mba Retno adalah superadmin yang mengetahui semua user dan password dosen. Harry dengan mudah mendikte mba Retno berbuat demikian. Dengan kata lain Harry setiap habis bimbingan harus berbohong terlebih dahulu. Cara Harry ini baru aku ketahui belakangan. Padahal Pak Arif sudah instruksikan bahwa SISkripsi itu tidak diperkenankan diwakilkan siapapun. Akupun yakin, seharusnya mba Retno juga tahu soal ini, masa dia mau melanggarnya demi Harry. Teman lain tak ada yang tahu. Ini masih menjadi misteri bagiku, bagaimana trik Harry. Apakah dia mengintimidasi? Masa iya orang selengob Harry bisa mengancam. Pakai Mantra /hipnotis? Teman dari fisika pun dia juga tidak punya, apalagi teman metafisika. Apakah Harry mendatangi mba Retno selalu dengan posisi resleting terbuka? Aku belum tahu.

Itulah bukti yang harus diakui bahwa Harry adalah Kancil berbulu Gudel. Dari wajahnya memang sayup-sayup mellow terkesan orang lamban seperti lagunya Gareth Gates yang berjudul “Unchained Melody”. Tapi disisi lain hatinya maupun tindakannya itu cepat dan tegas seperti lagunya Avenged Sevenfold yang berjudul “Unholy Confession”. Harry cepat dalam mengerjakan skripsi, cepat mengakali SISksipsi, dalam kondisi uang yang mepet ia cepat bertindak memutuskan manjadi penjual nasi kucing atau dia juga pernah menjadi tukang kipas ayam bakar tanpa rasa malu. Hingga jelang kelulusanpun dia tak segan-segan menyerobot kesempatan ikut SM3T. Dia benar-benar lelaki bertipe cepat dalam mengambil keputusan, dan ia tidak pernah menyesalinya. Seperti apa kata Ahmad Dhani, “Prajurit tempur ya tidak ada keragu-raguan, kalau ragu ya tertembak duluan”.  Hanya ada satu hal saja yang membuatnya tidak bisa bersikap cepat, tanggap dan tepat. Yaitu masalah percintaan.

$$$$$


Ujianpun sudah dilaluinya. Aku menyaksikan, Ujian Harry ini seperti bukan ujian. Itu adalah Dagelan lebih tepatnya. Hari itu menjadi hari yang bahagia buat Harry. Ujiannya mendahului jauh sebelum ujianku. Setelah lebaran 2012, tepatnya ketika kami sudah tinggal menunggu waktu untuk Wisuda, Harry mengontakku menawariku tentang SM3T. Dia bilang, dia tidak punya pandangan setelah wisuda nanti mau melakukan apa. Dia takut menganggur. Akhirnya dia ikut SM3T ini bersama kawan yang lain: Anggoro, Nanang dan Aji.

Aku tidak akan membodohi pembaca bahwa Harry memang ingin mengabdi kepada rakyat yang tertinggal, atau terenyuh kepada mereka yang tidak mendapatkan pendidikan seenak di Jawa. SM3T baginya adalah pelarian hidup, pilihan hidup, karena dia belum memiliki visi dan misi. Tapi dia tak sampai disini berhenti menerima kepasrahan.

Hari-hari sebelum keberangkatan SM3T, Harry memang sedikit bertingkah aneh. Dia jadi rajin sekali baca berita di internet, terutama tentang cerita-terita memprihatinkan kondisi sekolah di pelosok. Hingga dia mengambil salah satu gambar dari kisah itu kemudian diupload di facebook lalu ditag ke sebagian besar temannya. Kemudian banyak yang komentar dan geleng-geleng ikut prihatin dari gambar itu.

Aku bisa menerjemahkan maksud tingkah aneh Harry yang satu itu. Sesungguhnya dia sedang mendoktrin diri sendiri, salah satunya yaitu dengan membaca kisah-kisah pendidikan pelosok yang membuatnya terenyuh sendiri. Harry ingin menumbuhkan nasionalisme murni agar dia benar-benar semangat ketika berangkat nanti. Harry sedang berusaha agar niat keberangkatannya nanti itu bukan semata artifisial saja, akan tetapi sepenuhnya disadari kalau murid-murid yang di pelosok sana benar-benar sedang membutuhkan orang seperti Harry.  Ibaratnya, ikut SM3T baginya itu seperti dijodohkan dengan wanita yang tidak dicintainya, maka untuk mengikhlaskannya yaitu dengan cara berfikir dan mencari-cari  sisi mana dari wanita itu yang sekiranya bisa membuatnya terangsang dan berhasrat. Itulah cara dia mendoktrin diri sendiri.

Sebuah pengumumanpun terdengar, Harry hendak ditempatkan di Landak, Kalimantan Barat. Aku tak tahu tentang daerah itu. Tapi siapapun yang ikut program ini mengatakan bahwa SM3T itu adalah hal yang rekoso. Harry sudah terlanjur basah, sudah diberi honor belasan juta untuk satu semester, sudah menandatangani perjanjian dan tidak bisa membatalkan keputusan ini. Buah Khuldi sepertinya sudah disuguhkan didepan Harry, tinggal dia memakannya. Setelah itu dia akan diterjunkan ke suatu tempat bisa dijamin tidak akan seenak disini, dan dia bakal menghadapi banyak tantangan hidup. Tahun 2012 Harry tak sempat merayakan kelulusan dengan baju toga wisuda. Dia telah terbang jauh meninggalkan kami disini.

$$$$


Satu tahun kemudian Harry kembali pulang ke Jawa. Rasa kangen tidak terperi kepada keluarganya, kepada tetangganya, kepada adik kelasnya dan kepada temannya. Perjalanan dari bandara Supadio Kalbar ke bandara Soetta Jakarta sebenarnya tidak terlalu lama. Tapi Harry benar-benar menikmati perjalanan ini. Ia sengaja duduk menepi di dekat kaca pesawat agar bisa melihat keluar, ia memandangi zamrud katulistiwa dari cakrawala, sambil melamun. Tidak terasa, satu tahun yang menyulitkan itu telah berlalu. Ia merasa bangga telah menyelesaikan tugas dari Dikti untuk mengajar di tempat terdepan, terluar dan tertinggal.

Dia tak pernah menyesali telah memakan buah Khuldi kemarin, karena SM3t telah memberinya pengalaman dan pelajaran yang begitu mendalam. Masih ada tantangan satu tahun lagi di Semarang, yaitu kembali kuliah untuk mendapatkan gelar “Gr” (guru), seperti yang dijanjikan menteri pendidikan, M. Nuh. Senyumnnya terkembang, dalam tatapan mata kearah awan-awan kumulo nimbus yang seperti doomba-domba lucu di peternakan yang permai. Ia merasakan banyak perubahan sejauh ini, sejarah telah membicarakannya. Kini rambutnya sudah tidak lagi plontos seperti orang bodoh lagi. Matanya sudah lebih melek, tak lagi kudup seperti orang jepang yang sedang bingung.

Ribuan fragmen ingatan dalam pandangan kosongnya, mengantarkan pada memory lama. Sepertinya dia pernah merasakan posisi melamun di sebelah kaca serupa ini sebelumnnya. Dia baru ingat  kalau dia pernah melamun di bis Nusantara saat pertama KKL dulu. Baru tersadar, dia sedang terpana oleh dejavu. Mengusap-usap kepala, menguap dan tertidur sambil tersenyum di pesawat.





“Setiap orang akan mati, hanya yang membedakan adalah perbuatannya semasa hidup”
– Harry Laksono, 2014


Padamara, 24 Mei 2014



Harry kata mereka:

“Bagiku, Harry tetaplah Gudel. Tapi dia pintar bersilat lidah”
Anggoro Alam S. B – Teman sekamarnya Harry

“Sungguh inspiratif. Harry memang selalu terlihat gelisah, setiap malam dia tidak bisa tidur. Sehingga dia punya kebiasaan yang nyaris mustahil dilakukan orang lain, mencuci baju di tengah malam”
Aris Fajar Yulianto – Guru Sejarah SMK Tunas Harapan Pati, teman satu indekos

“Kreatif. Harry suka menulisi tembok kamar: harus sering baca buku, harus solat lima waktu, meski prakteknya tidak ada. Kebanyakan teori dik”
Nanang Pratmaji – Mantan Ketua Umum Eksara pertama