Ekspedisi Sejarah Indonesia (Exsara)

Exsara merupakan organisasi terbesar di Jurusan Sejarah Unnes. Aku dirikan bersama teman-teman jurusan sejarah Unnes angkatan 2008. Mereka semakin maju

Catatan Hidupku

Aku sangat suka menulis. Termasuk membuat catatan hidupku. Biar nanti aku mati, tapi pikiranku seolah terus hidup sampai anak cucuku

Petualangan Hidup

Setiap hidup, pasti menyempatkan berkunjung ke tempat unik, berkenalan dengan orang baru. Semua itu akan mendidik kita jadi manusia besar

Sejarah Nasional dan Dunia

Basis pendidikanku Sejarah. Aku sangat menyukai kisah masa lalu. Ada yang kuanggap sebagai sastra ada yang kuanggap sebagai guru kehidupan

Pola Hidup Sehat

Sejak SMP aku sudah punya bakat pemerhati gizi. Aku sangat mencintai pola hidup sehat. Tanpa kita sehat, semua yang kita miliki tak ada gunannya

Tuesday, June 3, 2014

Bekal jika lepas nanti

Aku harus segera tentukan, kapan aku mulai berubah. Aku sedang tertidur lelap dengan pendapatan dan keringanan bekerja. Aku sedang tak merasa kekurangan. Tapi aku seperti sedang tidak berjalan maju.

Hari ini Imam seperti makan buah khuldi. Tadinya di Radarmas dia kebagian jadi wartawan komunitas, halaman rendezvous, sesuai dengan bakat dan minatnya. Tapi hari ini dia terpaksa alih profesi jadi wartawan SKPD seperti aku, gara gara satu bulan ini halaman rendezvous mau diisi seputar piala dunia. Hari ini kami liputan bareng.

Sedikit yang bisa ku korek dari dia hari ini. Imam sendiri pernah dengar ungkapan dari bos Feldi, bos dia, bosku juga. Kata dia koranku Banyumas Ekspres oplahnya sedang tinggi, tapi justru bikin Radarmas merugi. Semenjak BanPres muncul pendapatan Radarmas turun. Artinya anak kandung bikin merugi ibunya.

Bisa saja kami BanPres jadi pengganggu. Kemungkinan terburuknya Banpres bisa dimusnahkan oleh bos Feldi. Kami bisa dibubarkan, apalagi kami juga belum dikontrak, belum ada perjanjian atau kedisiplinan kerja. Rasanya mudah saja mereka lakukan itu. Aku perkirakan bom itu bisa meledak.

Rasanya aku harus banyak-banyak minum air, selagi aku masih menyelam. . .

Monday, June 2, 2014

Bulu Mata Purbalingga Menyihir Dunia

Senin, 2 Juni 2014 | 15:18 WIB
Oleh: Sri Rejeki & Gregorius Magnus Finesso



KOMPAS.com - Tak ada yang menyangkal lentik bulu mata bintang pop dunia seperti Madonna dan Katy Perry telah menyihir dunia. Begitu juga mata Olga Lydia dan gadis-gadis Cherrybelle. Kelentikan itu diproduksi di kota kecil Purbalingga, Jawa Tengah.

Bulu mata palsu, bagi presenter Olga Lydia, merupakan elemen penting penampilan. Tanpa bulu mata palsu, dia merasa ada sesuatu yang kurang. Olga mengenal bulu mata palsu sejak terjun ke dunia model. Bagi dia bulu mata palsu membantu meminimalkan kekurangannya.

”Bulu mata saya, kan, kurang banyak, jadi harus dibantu dengan menggunakan bulu mata palsu,” ujarnya.

Meski begitu, tidak mudah menemukan bulu mata palsu yang sesuai dengan keinginannya. Beberapa syarat bulu mata yang pas bagi Olga adalah ringan, nyaman dipakai, dan dapat digunakan dalam setiap kesempatan, baik siang maupun malam.

”Kadang memakai bulu mata palsu bisa membuat mata merah. Apalagi kadang ada yangsampai harus didobel-dobel segala pakainya, jadinya berat. Akibatnya, mata menjadi merah,” kata Olga.

Bulu mata palsu yang seperti itu sangat dihindari oleh Olga. Sebab, meski memakai bulu mata palsu, dia ingin tetap dapat membaca buku dengan durasi yang cukup lama. ”Kalau bulu matanya berat mau berlama-lama membaca jadi susah,” ujar Olga.

Begitu pula bagi presenter televisi Hilyani Hidranto, bulu mata merupakan elemen penting penampilan, terutama saat dia muncul di layar kaca. ”Bulu mata saya sudah cukup panjang, sih. Namun, jika untuk keperluan shooting, tetap perlu memakai bulu mata palsu. Jadi, kelihatannya lebih ngoook gitu. Maksudnya, lebih kelihatan di kamera,” ujar Pemenang Wajah Femina tahun 2007 ini seraya
terkekeh.

Menghidupi rakyat
Bulu mata palsu menghidupi ribuan warga Purbalingga. Salah satunya adalah Khotik (36). Ini adalah pekerjaan yang rumit. Saat ditemui Kompas, Kothik sedang mencabut tiga helai rambut dari kumpulan potongan rambut yang terbungkus kertas. Ia lalu menekuk ketiga helai rambut itu dan memegangnya dengan tangan kiri. Dengan bantuan alat di tangan kanannya, rambut itu dipasang pada seutas benang yang ujung-ujungnya terikat dengan paku. Dengan gerakan sigap, ketiga helai rambut itu sudah terikat dalam satu simpul di benang tersebut.

Gerakan-gerakan ini ia ulangi sambil mengatur jarak antarsimpul. Dalam jarak 1 sentimeter (cm), ia harus memasang 30 simpul rambut di benang. Total ia harus memenuhi jarak 3,3 cm dengan simpul-simpul rambut sebagai cikal bakal bulu mata. Pekerjaan yang terkesan sederhana, tetapi sebenarnya tidak mudah dilakukan, terutama bagi pekerja baru.

Ini baru satu tahap. Ada lebih dari 10 tahapan untuk membuat sepasang bulu mata, mulai dari membersihkan rambut, menyortir, mewarnai, menautkan, memotong, melentikkan, membentuk, hingga mengepak. Sebagian besar dikerjakan oleh perempuan, baik di pabrik maupun rumah-rumah dalam konsep plasma yang tersebar di Purbalingga.

Siti (45), warga Desa Limbangan, Kecamatan Kutasari, kebagian pekerjaan menggunting bakal bulu mata. Simpul-simpul yang telah tersusun kemudian dibentuk dengan cara menggunting satu demi satu helai rambut.
Misalnya, jika dalam satu simpul terdiri atas lima helai, Siti akan menggunting helai pertama dan kelima seperempat helai teratas yang panjangnya 1 cm. Helai kedua dan kelima dipotong separuhnya. Helai ketiga dibiarkan. Ada ratusan model dan bentuk dalam dunia bulu mata palsu.

Upah
Khotik, yang tinggal di Desa Pengadegan, Kecamatan Pengadegan, mendapat upah Rp 333 untuk setiap bulu mata yang dibuatnya, sementara Siti menerima upah Rp 285 per buah. Ini jika pekerjaan keduanya dianggap sempurna. Jika tidak, bulu mata harus diperbaiki atau mereka tidak dibayar.

Jika tingkat kesulitan lebih tinggi, pekerjaannya dihargai sedikit lebih mahal. Namun, bukan berarti keduanya lalu giat mengejar setoran.

”Kalau dulu bisa kerja sampai pukul 22.00, sekarang mblenger, empat jam juga sudah berhenti,” kata Khotik yang mulai membuat bulu mata sejak 18 tahun lalu.

Ada ribuan perempuan lain di Purbalingga yang menggerakkan ro da usaha bulu mata, baikskala rumahan maupun pabrik. Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Purbalingga mencatat, ada 33 industri bulu mata palsu di Purbalingga dengan 18 industri di antaranya adalah usaha penanaman modal asing. Ini ditambah ratusan plasma yang bekerja sama dengan industri besar. Tidak kurang 50.000 tenaga kerja lokal terserap ke sektor ini.

”Bicara bulu mata, hampir semua yang beredar di Amerika Serikat, Eropa, hingga Afrika berasal dari Purbalingga meski kemudian diberi merek oleh perusahaan rekanan di sana,” ujar Audrie Sukoco, Presiden

Direktur PT Bintang Mas Triyasa (BMT), pabrik bulu mata di Kelurahan Mewek, Kecamatan Purbalingga.
Tidak heran jika produk bulu mata tiruan dari Purbalingga tidak hanya dipakai selebritas Indonesia, tetapi juga artis-artis Hollywood, mulai dari generasi Madonna hingga Katy Perry. Artis yang terakhir ini menggunakan produk Eyelure, varian produk PT Royal Korindah, perusahaan bulu mata tertua di Purbalingga.

Banyak produsen kecantikan dunia juga menggunakan produk yang dihasilkan tangan-tangan cekatan perempuan Purbalingga, di antaranya L’Oréal, Shu Uemura, MAC, Kiss, Make Up For Ever, dan Maybelline. Industri bulu mata di Purbalingga disebut-sebut hanya kalah besar dari industri sejenis di Guangzhou, Tiongkok.


Namun, untuk bulu mata berbahan baku rambut manusia, menurut sepengetahuan pemilik pabrik bulu mata PT Shinhan Creatindo, Yuni Susanawati, produk jenis itu hanya dihasilkan oleh Indonesia.Tiongkok hanya memproduksi bulu mata tiruan sintetis.

Demikian pula produsen lain seperti Vietnam. Dalam sebulan, rata-rata 10 juta pasang bulu mata tiruan dari Purbalingga dikirim ke seluruh penjuru dunia, seperti tercatat pada 2010. Nilai ekspornya pada tahun itu mencapai Rp 851,01 miliar. Kebutuhan pasar luar negeri sangat besar karena penggunaan bulu mata di
sana menjadi kebutuhan sehari-hari.

Sayangnya, di dalam negeri pasar bulu mata belum begitu berkembang. Ini salah satu alasan BMT membangun merek sendiri dan menggandeng sejumlah artis terkemuka sebagai duta produknya, seperti Olga Lidya, Syahrini, dan Cherrybelle. Mereka ingin mengedukasi masyarakat tentang penggunaan bulu mata.

Meski demikian, pendapatan utama BMT masih berasal dari ekspor ke sejumlah negara yangmencapai satu juta pasang per bulan. Semuanya dalam kemasan tanpa merek. Hal itu dilakukan hampir semua perusahaan lain.

Industri
Industri bulu mata mulai muncul di Purbalingga dengan kehadiran PT Royal Korindah (dulu Royal Kenny) pada 1967. Sang pemilik usaha, Hyung Sang Lee, memindahkan usaha bulu mata dari negaranya, Korea Selatan (Korsel), karena semakin ketatnya persaingan dan sulitnya mencari tenaga terampil.

Kesuksesan Royal Korindah diikuti berdirinya pabrik-pabrik baru yang dimiliki pengusahaKorsel lainnya. Pendirian itu mengajak mitra yang di kemudian hari membuka usaha sendiri. Pada tahun 2000-an, perusahaan lokal mulai berdiri.

”Pada tahun 1970-an, Purbalingga sudah dikenal dengan kerajinan berbahan baku rambut, seperti rambut sanggul. Selain itu, orang di sini juga dikenal tekun, sabar, teliti, dan terampil,” kata Budi Wibowo (54), pengusaha bulu mata lokal.

Uniknya, meski bulu mata palsu Purbalingga telah mendunia, para perempuan pembuatnya belum tentu ikut memakainya. Bahkan, tidak sedikit yang tidak mengetahui wujud jadi bulu mata tiruan. ”Jangankan pakai bulu mata palsu, lihat jadinya saja belum pernah,” kata Khotik terkikik. (DOE)

Editor: Erlangga Djumena
Sumber: bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/06/02/1518008/Bulu.Mata.Purbalingga.Menyihir.Dunia

Sunday, June 1, 2014

Berburu Harta Karun Makam Peru

Satu makam kerajaan luput dari penjarah, tersembunyi lebih dari 1.000 tahun


OLEH HEATHER PRINGLE
FOTO OLEH ROBERT CLARK

Dalam cahaya senja di pantai Peru, arkeolog Miłosz Giersz dan Roberto Pimentel Nita membuka sederet ruangan kecil tertutup di dekat sebuah makam kuno. Tersembunyi selama seribu tahun lebih di balik selapis batu bata berat, ruang-ruang kecil ini berisi kendi keramik. Ada yang berlukisan kadal, ada yang bergambar muka manusia menyeringai.

Giersz meringis. “Bau sekali di sini,” katanya. Dia mengintip ke dalam guci besar tak berhias. Guci itu penuh puparium busuk, sisa-sisa lalat yang dulu terpikat pada isi guci. Arkeolog itu mundur dan berdiri, menepiskan debu 1.200 tahun dari celananya. Selama tiga tahun menggali di situs ini, yang disebut El Castillo de Huarmey, Giersz menjumpai ekosistem kematian yang tak terduga—dari sisa serangga yang dulu makan daging manusia, ular yang bergelung dan mati di dasar guci, hingga lebah madu afrikanisasi yang bergerombol keluar.

Dulu banyak orang memperingatkan Giersz bahwa menggali reruntuhan El Castillo itu sulit, dan hampir pasti hanya membuang-buang waktu dan uang. Selama setidaknya seabad, pen­­jarah membuat terowongan ke dalam lereng bukit besar ini. Mereka mencari kuburan yang berisi tulang-belulang kuno yang dihiasi emas, dan dibalut selimut tenun terindah sepanjang sejarah. Bukit yang terletak empat jam berkendara di sebelah utara Lima itu bagaikan perpaduan antara permukaan bulan dan tempat pembuangan sampah—berlubang-lubang, tulang-belulang manusia kuno berserakan, sampah modern dan kain rombeng bertebaran. Penjarah biasanya membuang pakaian sebelum pulang, takut membawa penyakit dari mayat kepada keluarga mereka.

Tetapi Giersz, si eksentrik ramah berusia 36 tahun yang mengajar arkeologi Andes di Uniwersytet Warszawski, bertekad tetap meng­gali di sana. Ada peristiwa penting yang terjadi di El Castillo 1.200 tahun silam, Giersz yakin sekali. Di lerengnya bertebaran serpih tekstil dan tembikar pecah dari peradaban Wari di Peru, peradaban yang tidak terlalu dikenal, yang pusat wilayahnya terletak jauh ke selatan. Jadi, Giersz dan tim penelitian kecilnya mulai membuat citra bawah tanah dengan magnetometer, dan me­ngambil foto udara dengan kamera pada layangan. Hasilnya mengungkapkan sesuatu yang luput dari sekian generasi penjarah kuburan: batas samar tembok terkubur yang merentang di sepanjang bukit selatan berbatu.

Giersz dan tim Polandia-Peru pun meng­ajukan izin untuk mulai menggali. Batas samar itu ternyata merupakan labirin raksasa menara dan tembok tinggi yang terhampar di seluruh ujung selatan El Castillo. Dulu dicat merah terang, kompleks luas itu tampaknya merupakan kuil Wari untuk penyembahan leluhur. Saat menggali di bawah lapisan batu bata trapezoid berat pada musim gugur 2012, tim itu menemukan sesuatu yang tidak pernah diduga para arkeolog Andes: kuburan kerajaan yang belum dijarah. Di dalamnya terkubur empat ratu atau putri Wari, setidaknya 54 bangsa­wan lain, dan lebih dari seribu benda Wari elite, dari hiasan telinga emas besar hingga mangkok perak dan kapak aloi-tembaga, semuanya bermutu tinggi.

“Ini salah satu penemuan terpenting dalam beberapa tahun terakhir,” kata Cecilia Pardo Grau, kurator seni pra-Columbus di Museo de Arte de Lima. Sementara Giersz dan timnya terus menggali dan menjelajahi situs itu, analisis tentang temuannya mengungkapkan informasi baru tentang bangsa Wari dan kelas penguasa mereka yang kaya.

Bangsa Wari, yang mulai muncul di Lembah Ayacucho di Peru pada abad ketujuh, meraih kejayaan jauh sebelum bangsa Inca, pada masa yang berulang kali dilanda kekeringan dan krisis lingkungan. Mereka menjadi insinyur piawai, mem­bangun akuaduk dan sistem kanal rumit untuk mengairi ladang teras siring. Di dekat kota modern Ayacucho mereka mendirikan ibu kota yang luas, yang kini disebut Huari. Pada puncaknya, Huari berpenduduk hingga 40.000 jiwa—kota yang lebih besar daripada Paris pada masa itu, yang penduduknya tak lebih dari 20.000 jiwa. Dari ibu kota ini, para penguasa Wari memperluas wilayah ratusan kilometer di sepanjang Pegunungan Andes dan memasuki gurun pantai, membentuk yang disebut banyak arkeolog sebagai kerajaan pertama di Amerika Selatan Andes.

Para peneliti sudah lama penasaran, bagai­mana persisnya bangsa Wari membangun dan me­merintah kerajaan yang luas dan sulit diatur ini, apakah melalui perang atau diplomasi, atau perpaduan keduanya. Tidak seperti banyak ke­kaisaran lain, bangsa Wari tidak memiliki sistem tulisan dan tidak meninggalkan sejarah tertulis. Tetapi, temuan melimpah di El Castillo, yang terletak sekitar 850 kilometer dari ibu kota bangsa Wari, menjelaskan banyak hal.

Bangsa penyerbu asing ini mungkin mulai muncul di pantai bagian ini sekitar akhir abad kedelapan. Wilayah ini terletak di perbatasan selatan para penguasa Moche yang kaya, dan tampaknya tidak memiliki pemimpin lokal yang kuat. Tidak diketahui bagaimana persis­nya bangsa penyerbu ini melancarkan serangan, tetapi cawan ritual penting yang ditemukan di makam kerajaan El Castillo menggambarkan tentara Wari bersenjatakan tombak-kapak me­lawan tentara pembela pesisir yang meng­gunakan pengumban lembing. Setelah perang usai, bangsa Wari memegang kendali penuh. Penguasa baru ini membangun istana di kaki El Castillo, dan seiring waktu dia dan para penerusnya mulai mengubah bukit terjal di atasnya menjadi kuil menjulang untuk menyembah leluhur.

Terselimuti bebatuan dan tanah yang dibawa angin selama hampir seribu tahun, El Castillo kini mirip piramida berundak raksasa, monumen yang dibangun dari bawah ke atas. Namun, sejak awal Giersz menduga bahwa El Castillo tidak sesederhana itu. Untuk mengetahui denah bangunan, dia mengundang tim pakar arsitektur untuk mempelajari tangga dan tembok yang baru tersingkap. Kajian mereka mengungkapkan hal yang sudah diduga Giersz—bahwa insinyur Wari memulai pembangunan di puncak El Castillo, yang merupakan formasi batu alami, baru kemudian pembangunan dilakukan makin lama makin menuruni lereng.

Di sepanjang puncak El Castillo, para pem­bangun mula-mula membuat ruang bawah tanah yang kemudian menjadi makam ke­rajaan. Setelah makam itu siap ditutup, buruh menuangkan 30 ton kerakal dan menutup se­luruh ruangan itu dengan selapis batu bata berat. Lalu, mereka mendirikan menara ma­kam di atasnya, dengan tembok merah terang yang terlihat dari kejauhan.

Kaum elite Wari meninggalkan sesajen me­wah di ruang-ruang kecil di dalam, dari tekstil tenun halus yang dihargai bangsa-bangsa Andes kuno lebih dari emas, hingga tali simpul yang disebut khipu, digunakan untuk mencatat harta benda kerajaan. Mereka juga meninggalkan anggota tubuh rajawali Andes, burung yang berkaitan erat dengan aristokrasi Wari. Di tengah menara terdapat ruangan yang berisi singgasana. Belakangan, para penjarah melapor kepada seorang arkeolog Jerman bahwa mereka menemukan mumi yang tersusun di relung-relung tembok di sana. “Kami cukup yakin ruangan ini dulu digunakan untuk me­nyembah leluhur,” kata Giersz. Bahkan mungkin digunakan untuk menyembah mumi sang kaisar, yang belum ditemukan oleh tim.

Para bangsawan mematok tempat di puncak untuk makam mereka sendiri. Setelah semua tempat di sana habis, mereka memperluas lahan permakaman, dengan membangun teras bertingkat di lereng El Castillo hingga ke kaki bukit, lalu memenuhinya dengan menara dan makam. Begitu pentingnya El Castillo bagi bangsa­wan Wari, kata Giersz, sehingga mereka “memanfaatkan semua pekerja lokal yang ada.” Pada semen kering di banyak tembok yang baru tersingkap, terdapat jejak tangan manusia, sebagian dibuat oleh anak-anak 11-12 tahun.

Ketika pembangunan berakhir, mungkin antara tahun 900 dan 1000, El Castillo me­nyampai­kan pesan politik yang dahsyat kepada orang hidup: Bangsa penyerbu Wari kini adalah penguasa yang sah.

Di dalam ruangan kecil bertembok, Wiesław Więckowski membungkuk di atas lengan manusia mumi, menyapu pasir dari jemari­nya yang kurus. Sudah hampir satu jam ahli bioarkeologi dari Uniwersytet War­szawski itu membersihkan ruangan bagian ini, mengumpulkan serpih dari selubung pe­makaman Wari dan mencari bagian lain jenazah itu. Saat menyodokkan tepi sekop ke sudut ruangan, dia menyingkapkan bagian tulang paha manusia yang tersangkut di tembok. Więckowski merengut. Dia menjelaskan, mungkin ada penjarah yang mencoba menarik keluar mumi dari ruangan sebelah, tetapi mumi itu malah tercerai-berai. “Yang kita ketahui hanyalah bahwa mumi itu lelaki dan cukup tua.”

Sebagai spesialis yang mempelajari jasad manusia, Więckowski sudah mulai menganalisis tulang-belulang semua orang yang ditemukan di dalam dan di dekat makam kerajaan. Jaringan lunak manusia di dalam ruangan tertutup itu tidak terawetkan dengan baik, kata Więckowski, tetapi kajiannya mulai menghasilkan perincian penting tentang kehidupan dan kematian para perempuan bangsawan ini serta penjaganya.

Hampir semua orang yang dimakamkan di dalam ruangan adalah perempuan, anak dan dewasa, yang tampaknya meninggal dalam masa beberapa bulan, kemungkinan besar akibat sakit atau tua. Petugas pemakaman mendandani mereka dengan tunik dan selendang tenun mewah, merias wajah dengan pigmen merah keramat, dan mempersolek mereka dengan per­hiasan berharga, dari ornamen telinga emas hingga kalung manik kristal yang indah. Lalu, petugas mengatur jenazah dalam posisi duduk bercangkung yang lazim di tengah bangsa Wari, dan membungkus setiap jenazah dalam kain besar, membentuk selubung pemakaman.

Derajat sosial mereka, kata Więckowski, tetap penting setelah mati, seperti semasa hidupnya. Petugas meletakkan perempuan berderajat ter­tinggi—mungkin ratu atau putri raja—di tiga ruangan-samping pribadi di dalam makam. Sosok terpenting, perempuan sekitar 60 tahun, terbujur dikelilingi oleh kemewahan langka, dari beberapa pasang ornamen telinga hingga kapak ritual perunggu dan cawan perak. Para arkeolog terpukau oleh kekayaannya dan aksi pamer ke­mewahannya. “Apa pekerjaan perempuan ini?” Makowski merenung.

Di luarnya, di area umum yang luas, petugas mengatur para perempuan bangsawan yang lebih rendah derajatnya di sepanjang tembok. Di samping setiap jenazah, dengan sedikit pe­ngecualian, mereka meletakkan wadah yang ukuran dan bentuknya mirip kotak sepatu. Terbuat dari potongan rumput, wadah itu berisi semua keperluan alat tenun untuk membuat kain bermutu tinggi. Kaum perempuan Wari mahir menenun, meng­hasilkan kain bak permadani dengan jumlah benang lebih banyak daripada kain buatan penenun Flandria dan Belanda pada abad ke-16.

Setelah ruangan siap ditutup, petugas mem­bawa sesajen terakhir menaiki lereng El Castillo: kurban manusia. Seluruhnya enam orang, tiga anak dan tiga dewasa muda. Menurut Więckowski, para kurban ini mungkin anak-anak kaum bangsawan yang ditaklukkan. “Kalau kita penguasa dan ingin orang mem­buktikan kesetiaan pada garis keturunan kita, ambil anak mereka,” katanya. Petugas me­lempar­kan jasadnya ke dalam makam. Lalu, mereka me­nutup ruangan itu, meletakkan ja­sad seorang lelaki dewasa muda yang masih ga­gah dan seorang perempuan tua—keduanya ter­bungkus—di pintu masuk sebagai penjaga. Kaki kiri kedua jasad itu dibuntungkan, mungkin untuk memastikan agar mereka tidak bisa meninggalkan tugasnya.

Więckowski sedang menunggu hasil analisis DNA dan uji isotop untuk menimba informasi lebih jauh tentang para perempuan di dalam makam dan kemungkinan asal mereka. Tetapi, bagi Giersz, bukti-bukti mulai membentuk gambar terperinci tentang serangan bangsa Wari ke pantai utara. “Kenyataan bahwa mereka membangun kuil penting di sini, di wilayah penting di bekas perbatasan dengan bangsa Moche, menyiratkan bahwa bangsa Wari menaklukkan wilayah ini dan berniat menetap.”

Di Museo de Arte de Lima, para arkeolog El Castillo berseri-seri saat memeriksa be­berapa temuan yang baru dibersihkan. Sudah berminggu-minggu para konservator mengelupas noda hitam tebal yang melapisi banyak artefak logam, menampakkan corak yang berkilauan. Terlindung dalam tisu, ter­dapat tiga ornamen telinga emas, masing-masing kira-kira sebesar kenop pintu dan ber­gambar dewa bersayap atau makhluk mitos. Anggota tim Patrycja Prządka-Giersz, arkeolog Uniwersytet Warszawski yang juga istri Giersz, mengamatinya dengan senang. Hiasan ini, katanya, “semua berbeda-beda, dan baru dapat dilihat setelah proses konservasi.”

Saat mengintip ke dalam kotak kardus besar di atas meja, Giersz menemukan salah satu temuan utama tim: buli-buli keramik. Dilukis dan dihiasi meriah, buli-buli ini menggambarkan penguasa Wari yang berpakaian mewah dan naik rakit dari kayu balsa, mengarungi perairan pantai yang penuh paus dan makhluk laut lain. Buli-buli berusia 1.200 tahun itu tampaknya melukiskan suatu peristiwa—setengah mitos, setengah nyata—dalam sejarah pantai utara, yaitu kedatangan seorang penguasa Wari yang penting, mungkin bahkan kaisar Wari sendiri. “Jadi, kami mulai menyusun cerita tentang kaisar Wari yang melaut naik rakit,” kata Makowski, “kaisar yang mangkat di pantai Huarmey, ditemani istri-istrinya.”

Untuk sementara, ini hanya cerita, tebakan arkeo­logis berdasarkan informasi yang ada. Tetapi, Giersz masih berpikiran bahwa mungkin, di tengah labirin tembok dan ruangan bawah tanah itu, terdapat makam seorang penguasa besar Wari. Dan jika para penjarah belum men­dahuluinya, dia bertekad menemukannya.

Sumber: National Geographic Edisi Juni 2014