Ekspedisi Sejarah Indonesia (Exsara)

Exsara merupakan organisasi terbesar di Jurusan Sejarah Unnes. Aku dirikan bersama teman-teman jurusan sejarah Unnes angkatan 2008. Mereka semakin maju

Catatan Hidupku

Aku sangat suka menulis. Termasuk membuat catatan hidupku. Biar nanti aku mati, tapi pikiranku seolah terus hidup sampai anak cucuku

Petualangan Hidup

Setiap hidup, pasti menyempatkan berkunjung ke tempat unik, berkenalan dengan orang baru. Semua itu akan mendidik kita jadi manusia besar

Sejarah Nasional dan Dunia

Basis pendidikanku Sejarah. Aku sangat menyukai kisah masa lalu. Ada yang kuanggap sebagai sastra ada yang kuanggap sebagai guru kehidupan

Pola Hidup Sehat

Sejak SMP aku sudah punya bakat pemerhati gizi. Aku sangat mencintai pola hidup sehat. Tanpa kita sehat, semua yang kita miliki tak ada gunannya

Tuesday, June 14, 2011

Catatan seorang Pendiam 14 Juni 2011


Hari ini dimana aku sengaja menghapus SMS yang ada di inbox ku. Ada sekitar 1500 pesan (yang mungkin penting) kebanyakan pesan darinya, yang selama itu aku anggap sebagai tokoh protagonist. Kemudian sebagian kecil SMS dari para tokoh figuran, atau bahkan dari pihak Antagonis. Bukanya aku sengaja ingin melupakan sejarah dengan menghapus arsip-arsip ini, aku hanya menyimpulkan kalau perjalanan yang aku lalui selama ini ternyata nihil, tak dinamis. Bahkan sempat terpikirkan bahwa kisah-kisah itu hanya memiliki cita-cita yang absurd. Hanya bagaikan sedang berkhayal soal cita-cita yang dikemukakan Karl Marx tentang akhir dari sejarah, yaitu “terciptanya masyarakat tanpa kelas”, oh sungguh Absurd kisah itu.

SMS paling bawah di Indox terakhir kusimpan adalah tentang Tragedi “The Big Lie”, sebuah kebohongan besar yang pernah dia (someone) lakukan kepadaku. Membohongi ku dengan sebuh foto berformat JPG yang menyakitkan. Mungkin Sama menyakitkannya dengan kebohongan Sejarah tentang strategi Kuda Troya (Trojan Horse). Hadiah patung kuda palsu yang menjadi penyebab kekalahan kerajaan Troya oleh orang Yunani/ Sparta.

Aku tak membalasnya, hanya aku maafkan. . . . . semanjak itu aku menjadi kehilangan selera lagi tentangnya.
Selama ini yang membuatku dinamis bukanlah hanya soal wanita. Tapi sesuatu yang bisa dirasa dan dilihat. Buku, Alam dan Cinta. . . . . .
“Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya”, kata Gie. Itulah mengapa Gie naik Gunung. Malihat luas dan indahnya alam Indonesia membuat ia semakin cinta dengan Negara ini…

Nama dan pemikiran Gie, aku bawa dalam Proposal Skripsiku…. Besok aku akan menseminarkannya…

Monday, June 13, 2011

Catatan seorang Pendiam 13 Juni 2011


Seringkali ku sedang mencoba tegakkan jalan yang lurus….  cobaan datang seketika. Rasanya ini menjadi hukum alam. Sebelumnya aku sudah tahu persis bahwa sebuah cobaan yang dikirim untuk orang yang beriman bagaikan sebidang tanah atau lebih yang didalamnya mengandung unsur emas. Artinya jika kita mengerti cara mendapatkan dan mengolahnya maka kita akan menjadi kaya kerena emas itu dalam hal ini sebuah pahala. Tapi seandainya kita tidak bisa bagaimana kita mengolah dan memanfaatkannya kita tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali rasa capek.
Aku sudah mengerti tentang hakikat datangnya cobaan, ia datang untuk menguji. Cobaan haruslah berat, itu bertujuan agar Allah tahu mana orang yang lulus dan tidak lulus. Jika cobaan terlalu mudah, orang banyak dosa atau orang yang bodohpun bisa lulus. Itulah sisi keadilan yang konkrit.

Tapi bagaimanapun juga bagi orang yang masih belum kuat imannya, masih merasa tersiksa dengan adanya cobaan. Hampir mirip dengan konsep Budha bahwa “Hidup adalah penderitaan”. Ada orang yang berlebihan menghayati hal ini, mereka yang suka menyiksa diri, selalu gelisah dan jadilah seorang pengantin yang rela mati yang katanya demi kebenaran (teroris). Terlalu menganggap penderitaan adalah jalan yang eksplisit untuk mempermudah ke nirwana.

Aku belum menemukan konsep kebahagiaan hidup sebagaimana yang diterangkan oleh Islam. Orang seusiaku sudah tergolong tua untuk tahapan pencarian kebenaran. Aku masih dalam proses membuat konstelasi presepsi ketuhanan yang benar.
Furqan ternyata membenarkan ajaran Syekh Siti Jenar tentang apa yang disebut dengan “Uni nong ana nung (dzat Tuhan, yakni Aku)” atau bisa juga diistilahkan “manunggaling kawulo gusti”. Bahwa roh yang ada pada kita-kita ini adalah pecahan serpihan kecil bagian dari Roh Agung Allah sendiri yang ditiupnya. Dengan kata lain Tuhan ada pada kita sendiri. Sepenuhnya aku masih meragukan soal hal ini. karena selama ini presepsiku manusia adalah makhluk yang independen, bahan baku pembuat jiwa ini tidak mengambil dari Roh Agung Allah. Makanya manusia diwajibkan untuk sholat/ menyembah. Nah, kalau Tuhan ada pada diri kita apakah kita tidak usah sholat?. Mungkin kritik ini hanya satu percikan kembang api saja dari apa makna sebenranya Manunggaling Kawulo Gusti. Minimnya pengetahuanku. Lagi-lagi aku harus belajar.

Aku belum merasakan manfaat Islam sepenuhnya. Karena kau termasuk orang yang masih setengah-setengah. Seperti halnya ideology, Amerika tidak setengah-setengah untuk menerapkan paham Liberalismenya makanya ia bisa menjadi Negara maju. Uni Soviet yang tidak setengah-setengah tunduk pada dogma Komunismepun juga tumbuh menjadi Negara adidaya (waktu itu). Allah-pun menghendaki kita agar tidak setenggah-setengah. Akupun tidak sengaja diberi petunjuk soal hal ini melalui ayat yang saya baca, tadi sore: “Sesungguhnya orang-orang yang ingkar terhadap Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membeda-bedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan : kami beriman kepada sebagian dan kami mengingkari sebagian, serta bermaksud mengambil jalan tengah (iman atau kafir). Merekalah orang-orang kafir yang sebenarnya. Dan kami sediakan untuk orang-orang kafir itu azab yang menghinakan” (Q.S An-Nisa 150-151). Jadi sebenarnya yang diminta Islam adalah kita mencintai nya secara mutlak.

Hari ini pula aku mendapat prestasi yang jelek soal asmara. . . semoga takan terulang lagi semenjak aku menuliskan catatan ini. . . . .
hari ini aku tampak sederhana sekali. . . . .

Sunday, June 12, 2011

Catatan seorang Pendiam 12 Juni 2011


Mungkin gara-gara aku update status di dini hari, menandakan waktu itu aku belum tidur, akhirnya aku dijadikan korban untuk teman ngobrol mereka yang kesepian juga belum tidur. Handphoneku berdering dengan Ringtone dentingan gitar Spanyol yang menjadi ciri khas Nokia Tone, itu menandakan ada sebuah panggilan. Terpampang nama si pemanggil “Sej.Furqan”. Aku mengangkatnya, ternyata yang berbicara bukan hanya Furqan tapi juga Aris dan Nanang. Mereka semua sedang bertamu dan menginap di rumahnya Furqan, atau mungkin hanya sedang memanfaatkan penghidupan yang enak, karena setahuku Furqan juga anak orang kaya yang dapat memberi pelayanan mewah kepada mereka.

Obrolan awal, hanya sebatas canda tawa dari Nanang dan Aris mempermainkanku dengan apa itu makna istilah “Kuro”. Istilah yang aneh dan hanya bisa diketahui oleh bahasa pergaulan orang sana saja. Aku mulai bicara panjang lebar ketika Furqan meng-handle hanphonenya sendiri. Mulai dari dialog sejarah hingga dialog soal ketuhanan.
Kita sama-sama sepakat bahwa belajar sejarah pada dasarnya ada sisi kenikmatan tersendiri bagi kami, bagi kami yang telah mengetahui undercover sejarah. Sehingga bagi kami seolah-olah undercover sejarah ini lebih enak jika dikonsumsi pribadi, atau berbagi dengan mereka yang bisa connect dengan obrolan ini. aku tak mau mengungkapnya dalam catatan ini, percuma saja. Omongan kami tidak akan mudah dipercaya begitu saja jika membahas soal ini.

Seperti biasa sejarah-sejarah yang bisa dan boleh saya bagikan kepada sesama atau murid-murid kelak adalah sejarah yang sudah banyak diamini orang saja, sejarah yang sudah mengacu pada kurikulum saja. Karena membahas soal Undercover sejarah bagiku itu adalah bagian dari High Level Knowledge, sama saja dengan pekerjaan seorang detektif yang sedang mengutak-atik menemukan kode password. Begitulah tidak mudah dipercayanya.. . . .

Jangan ditanya soal luasnya pengetahuan Furqan. Bagiku ia bagaikan ensiklopedia berjalan. Tapi ia tidak ingin mengeksiskan diri. Ia menjadi seorang pemenang lomba cerdas cermat KEMAS 2008 pun katanya penuh dengan keterpaksaan, dalam kuliahpun ia enggan untuk berpendapat, atau bertanya. Hanya diam saja sambil sedang angguk-angguk kepala sendiri menikmati music melalui headset yang selalu ia kenakan. Ia sudah mengerti sebelumnya, sikapnya yang diam dan seolah tak peduli dengan pelajaran dari dosen itu bukan menandakan kalau dia bodoh dan tak suka pelajaran itu. Tapi ia sudah mengetahui dan opininya sekedar  untuk konsumsi pribadinya, tak usah diperdebatkan dengan dosen, tidak usah menampakan dirinya kalau dia pintar di depan teman-teman.

Soal agama? Juga tidak boleh diremehkan. Dia adalah Graduate dari pondok pesantren dan mungkin sudah bosan mempelajari agama. Namun pelajarannya bukan berarti hilang, ia masih hafal al-qur’an. Terlalu mempelajari agama justru membuat ia jenuh sehingga ia lebih suka berjalan di jalur akademisi yang independen ketimbang menjadi teolog.

Akupun sama dengan pendapatnya soal eksistensi diri. Meski pengetahuanku masih kalah jauh dengan dirinya. Aku sama-sama tidak ingin menonjolkan diri, tidak ingin menjadi sosok yang tenar/ terkenal diantara orang-orang, tapi juga tidak ingin menjadi orang terlalu misterius. Yang diinginkan hanyalah menjadi manusia yang biasa saja. Aneh, ini memang Paradox dengan persepsi orang-orang pada umumnya yang kebanykan ingin menjadi orang terkenal.

Orang kadang berani mengeksiskan diri, baik dengan penampilan menarik atau dengan berani sok pintar didepan orang-orang. Mengeksiskan diri seolah betapa besar peran dirinya terhadap orang disekitarnya. Bagiku orang yang terkenal/ popular memang sama halnya dengan orang yang banyak harta. Semakin banyak hartanya/ ketenarannya seolah semakin berat berat memikul tanggung jawabnya. Semakin banyak orang membawa uang, semakin ia keberatan memikul uang itu, dan ia juga makin takut kehilangan uang itu. Menjadi orang terkenal juga akan semakin takut kalau ketenarannnya itu hilang.

Bagiku peran sosial yang dilakukan secara diam-diam atau sembunyi-sembunyi itu lebih baik. . . . .