Ekspedisi Sejarah Indonesia (Exsara)

Exsara merupakan organisasi terbesar di Jurusan Sejarah Unnes. Aku dirikan bersama teman-teman jurusan sejarah Unnes angkatan 2008. Mereka semakin maju

Catatan Hidupku

Aku sangat suka menulis. Termasuk membuat catatan hidupku. Biar nanti aku mati, tapi pikiranku seolah terus hidup sampai anak cucuku

Petualangan Hidup

Setiap hidup, pasti menyempatkan berkunjung ke tempat unik, berkenalan dengan orang baru. Semua itu akan mendidik kita jadi manusia besar

Sejarah Nasional dan Dunia

Basis pendidikanku Sejarah. Aku sangat menyukai kisah masa lalu. Ada yang kuanggap sebagai sastra ada yang kuanggap sebagai guru kehidupan

Pola Hidup Sehat

Sejak SMP aku sudah punya bakat pemerhati gizi. Aku sangat mencintai pola hidup sehat. Tanpa kita sehat, semua yang kita miliki tak ada gunannya

Friday, June 17, 2011

Catatan seorang Pendiam 17 Juni 2011


Hari ini adalah hari lingkungan hidup. Unnes mengumpulkan segenap keluarganya untuk hadir (yang berminat saja) dalam upacara yang dilaksanakan di lapangan depan gedung H Rektorat. Perayaan yang seolah menjadi kewajiban karena kita sudah beratribut Universitas Konservasi. Jika upacara Hardiknas lalu aku ceroboh soal waktu dan tempat, tapi upacara kali ini aku hampir saja ceroboh soal pakaian. Hampir saja aku salah kostum, ternyata semua peserta upacara menggunakan pakaian Training. Sedang aku sudah terlajur sampai di gedung G menggunakan kemeja rapi dan berbekal jas Almamater di tas. Aku terkejut saja, untung pakaian ku rangkap dua, pakaian dalamku berupa kaos. Untuk bisa berkamuflase bersama mereka akhirnya aku melepas kemejaku. Tinggalah kaos hitam, meski celana kain dan sepatu pantovel. Tak masalah. Rasanya para pejabat Jurusan sejarah lebih telat ketimbang aku. Mereka berbaris di belakangku. Upacara seperti tak formal, tampak semrawut.

Hari Jumat yang suci ini terasa ringan, karena aku tak ada agenda untuk kuliah. Cukup di kos, nonton film dan membaca novel. Tidak begitu aku tercerimin sifat pemalas. Akhir-akhir ini cuaca selalu cerah, bintang selalu hadir dalam malam yang bening. Berkedip-kedip, bermain mata dan nama mereka terlampau indah: Canopus, Capella dan Vega. . . . .. . . . . . . . . . .

Aku tulis catatan ini, persis malam ini. Aku baru saja menyelesaikan novel sejarah, tentang penderitaan mereka yang sempat mengalami hidup di Kamp Konsentrasi NAZI ketika PD II (baca: Perang Dunia ke-2). Judulnya “Malam”, judul yang konotatif karya Elie Wiesel. Sebuah novel yang mengkisahkan realita tentang dirinya sebagai Orang Yahudi sekitar kesengsaraan menjadi penghuni Kamp. Ini bukan referensi pertamaku, sebelumnya aku pernah membaca buku tentang nasib serupa tapi berupa biografi, ketimbang novel. Otobiografi dari Parlindoengan Loebis, seorang Indonesia yang juga sempat tinggal di neraka Kamp Konsentrasi. Mengapa P. Loebis ini sampai disana, karena ketika belajar di Belanda ia sempat menjadi ketua Indische Vereeniging (Perhimpunan Indonesia) yang anti fasis. Hingga suatu saat NAZI (rekan Fasis) mencaplok Belanda, ia harus ditangkap, bernasib sama seperti orang-orang Yahudi dan para musuh Politik simpatisan NAZI.

Kedua buku ini mendeskripsikan sama tentang bagaimana kehidupan di Kamp. Kamp bagiku lebih tampak semacam asrama, terdiri tanah gersang yang luas, bangunan yang sama lebih dari satu dan dipagari oleh dinding dan kawat yang dialiri listrik. Kehidupan mereka hanya dipekerjakan paksa dan diberi makan hanya sup, roti atau kentang. Para Kapo (Polisi Kamp) terkenal kejam dan disiplin, sekali ada kesalahan dia tak segan untuk membunuh. Lebih sering tahanan di kamp ini sengaja tidak disuplai makanan sama sekali, hingga mereka sangat kurus bahkan rawan konflik antar sesama. Semua orang mengurusi dirinya sendiri. Lingkungan yang penuh menbuat depresi, kotor, lebih seperti peternakan babi. Sengaja mereka disiksa dan sengaja agar mereka semua mati. Mereka yang mati, dibiarkan tergeletak begitu saja, atau kadang dibakar/ diabukan di Krematorium. Kebanyakan penghuni ini adalah Kaum Yahudi. Nampaknya Kaum Yahudi di dunia ini dianggap penuh masalah.

Mochtar Loebis dalam pengantar novel “Malam” ini nampaknya ia cukup objektif. Bahwa orang Yahudi berkali-kali ia meresakan neraka di dunia ini tapi sekarang ia giliran menjadi buas mendirikan Israel, mengusir dan mambantai orang-orang Arab.

Telah kita ketahui bahwa orang-orag Yahudi ini sempat berkali-kali mendapat cobaan besar dari tuhan. (Entah cobaan atau memang azab). Coba mengingat kembali tentang cerita nabi Musa, ia meyelamatkan para Yahudi di mesir ini dari kejamnya raja Fir’aun. Telah terjadi pembantaian dan suasana terror terhadap orang yahudi masa Fir’aun ini sebelumnya. Musa lahir dari kalangan mereka sebagai penyelamat, dan menenggelamkan Fir’aun dkk di Sungai Nil.

Beralih ke berbeda zaman. Ketika zaman Romawi, orang Yahudi sempat dibuat sengsara oleh Kekaisaran Romawi yang menginginkan semua orang tunduk dan menyembah Kaisar. Sementara orang Yahudi punya kepercayaan bahwa ia adalah makhluk pilihan Tuhan, maka ia selalu mengekslusifkan dirinya terhadap orang lain. Kaisar Romawi geram dan seringkali mengoyak kehidupan mereka, menyiksa bahkan membunuhnya. Namun saat itu Yesus lahir darah orang Yahudi, dan seolah menjadi penegar kehidupan mereka, meski Yesus juga turut disiksa. Jadi munculnya agama Kristen ternyata adalah sempalan dari agama Yahudi. Ada orang yang tetap teguh pada Yahudi dan pengikut Yesus diajak untuk menyembah agama Allah. Oleh Karena Yesus sendiri lahir di Palestina dan berasal dari darah Yahudi, maka untuk selamanya Kristen tetap mendukung berdirinya Israel. Akan sulit sekali mencegah mereka.

Menuju ke zaman Moderen sekitar PD II, Yahudi tak lepas dari neraka dunia kembali. Konon 6000.000 orang Yahudi dibantai ketika Fasis dan NAZI Jerman berkuasa di Eropa. Di bawah Hitler dan Musolini. Mereka tersiksa dalam Kamp Konsentrasi. Untuk memvisualisasikan tragedy ini, aku juga sempat nonton Film The Pianist yang diberi Tyo, dan aku juga punya Film Documenter tentang Kamp Konsentrasi “Auschwitz” Jerman (kamp yang terkenal paling kejam), keduanya mungkin cukup representatif. Nazi begitu membenci Yahudi tentu ada alasannya, panjang, aku tak bisa menjelaskanya disini.

Suasana dunia menjadi begitu kacau dan perpecahan. Seandainya orang Yahudi tetap teguh pada Kitab Taurat ketimbang Talmud (kitab yang dibuat sendiri oleh para rabbi/ulama-Yahudi, karena rabbi ini telah mengaku menang berdebat dengan Tuhan), dan seandainya orang Kristen tetap teguh pada Perjanjian Lama. Pasti dunia akan damai….  

Thursday, June 16, 2011

Catatan seorang Pendiam 16 Juni 2011


Rasanya film Sang Pencerah lebih menyentuh hati ketimbang film Muhammad The Last Prophet (MTLP) yang tadi siang baru saja berhasil ku download. Jelas karena MTLP ini hanyalah berupa animasi dan alurnya tergesa-gesa, dari perang satu ke perang yang lain, kurang memanfaatkan nilai-nilai yang inspiratif. Sedang Sang Pencerah mencoba berbagi rasa kepada penonton tentang jatuh bangunnya, sedih dan gembiranya.

Aku pernah, mungkin saat liburan kemarin sempat membaca sekilas bukunya Michael H. Hart, “Seratus Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah”. Dia memberi penghargaan bahwa Muhammad SAW, menduduki urutan pertama dari seratus tokoh itu. Hal ini kerena Muhammad adalah tokoh yang banyak memberi perubahan dalam dunia, khususnya dalam mengukir tatanan Islam dari berbagai belahan Negara. Wilayah taklukannya mencapai seluruh Timur Tengah, Afrika dan Eropa kecuali Perancis. Buku ini memang jelas memancing banyak perdebatan. Dan hal ini wajar, karena dasarnya tiap manusia punya subjektivitas sendiri-sendiri.

Aku cukup bisa memaksimalkan fasilitas-fasilitas di UNNES ini, dengan memanfaatkan wifi untuk mendownload Film-film edukatif-edukatif seperti itu. Apalagi akhir-akhir ini aku sedang mancoba memadukan ajaran Muhammad dengan idealisme ala Soe Hok Gie, dengan harapan kombinasi ini bisa melahirkan sifatku yang istiqomah terhadap islam/ teguh pendirian terhadap islam. Islam yang murni, sesungguhnya aku tidak ingin kembali ke posisi setengah-setengah.

Muhammad sosok yang hampir sempurna, sedangkan Gie (meski atheis) idealisme murninya lebih populer untuk kalangan pemuda Indonesia seperti aku. “Muhammad – Gie” ini bukan maksudku membuat semacam sinkretisme, tapi aku hanya sekedar mensintesiskan semangat konstruktif kedua tokoh ini, menghasilkan kecintaan Islam yang tegar tak kenal ampun, islam yang bagaikan pohon Oak. Semoga untuk selamanya konsep ini bisa berhasil. . . . . . . aaamiin.

Wednesday, June 15, 2011

Catatan seorang Pendiam 15 Juni 2011


Sengaja aku tulis catatan ini menjelang detik-detik akhir dari hari ini. karena aku anggap hingga detik-detik itulah aku sedang menyaksikan moment yang langka bagiku. Akan kurang sempura jika aku melaporkannya baru di tengah jalan. Aku baru saja menyelesaikan tugas sejarah milter soal Dwi fungsi ABRI. Hari ini adalah hari baguku banyak mempelajari soal militer.

Siang itu Tyo memberiku file Film Pengkhianatan G30S. tapi sayangnya ternyata ini file buntung, sebenarnya mungkin ada 3 file tapi aku hanya mendaptkan dua saja, sehingga film ini aku saksikan tidak sampai ending.

Sebelumnya aku cukup penasaran, karena konon film ini diciptakan dengan penuh unsur legitimasi politik Orde Baru. Katanya penuh fiksi atau hiperbolis/ melebih-lebihkan. Karena menurut dokter yang memvisum para mayat Jenderal ini mencatat bahwa tidak ada penganiayaan keji sebelumnya. Luka yang katanya bekas disayat-sayat itu ternyata adalah luka sayat yang didapat karena tergores dinding sumur. Berita telah melebih-lebihkan scenario ini. hingga doketer itupun bingung ingin mempublikasikan hasil visumnya karna sudah terlanjur banyak isu berlebihan itu.

Hari senin lalu Kuliah Kapita Selekta membahas soal Gerakan G30S. Pak Shokheh memberikan versinya sendiri tantang siapa dalang peristiwa ini. aku pikir ada benarnya juga, menurut beliau peristiwa ini adalah karena ulah PKI sendiri. PKI dalam hal ini yang tergesa-gesa/ keblinger atas adanya isu Dewan Jenderal itu. Clash ini tentunya tidak berjalan mandiri, akan tetapi bayak operator-operator yang mengintai, Baik itu Beijing maupun Washington DC (CIA).
Winarso mencoba membantah dan berdebat dengan pak Sokheh yang menuduh soal ketololan PKI itu. Aku yakin, ketidakterimaan Winarso ini bukan karena ia punya referensi yang tepat dan lengkap, tapi ia hanya ingin respek saja terhadap Komunis. Aku tahu persis itu, buktinya ketika aku Tanya ke dia soal Keberadaan “Biro Chusus” di tidak mengerti. Diluar kuliah aku kembali berbincang kepada dia, bahkan berdebat, kalau aku sama sekali tidak respek terhadap sistem komunis kerena bagiku ia terlalu ekstrim, Winarso hanya mendukung soal keadilan social, system ini memang bagus tapi langkah yang diambil Komunis jelas mengerikan.

Chou En Lai ingin turut membantu PKI soal pengadaan angkatan perang ke-5 di Indonesia setelah AD, AU, AL, POLRI. Angkatan kelima ini adalah berupa rakyat biasa yang dipersenjatai. Jelas para jenderal itu menolaknya mentah mentah (kecuali Oemar Dhani, AURI). Bagiku benar, apa gunanya rakyat dipersenjatai kalau itu pasti akan digunakan untuk melakukan Revolusi berdarah (mengingat system komunis haus akan revolusi). Seperti halnya kasus di Kamboja yang difilmkan dalam “The Killing Field (Ladang Pembantaian)”. Rezim Komunis yang dipimpin Pol-Pot itu mempersenjatai rakyat kecil biasa golongan proletar, sedangkan rakyat Kota diidentifikasikan sebagai para kapitalis-kapitalis. Rakyat-rakyat bersenjata inipun menodong dan menggiring masyarakat kota ini ke sawah, kamudian ia dibantai secara keji dan mengerikan disana (aku pernah nonton filmnya). Terhitung sepertiga rakyat Kamboja lenyap atas pembantaian besar-besaran oleh rakyat ini. penganut historis materialis macam Marxis ini jelas tidak mengenal tuhan apalagi mengenal dosa. Maka ketika peristiwa G30s ini berkhir, suasana akan berbalik. Giliran Komunislah yang dibantai, karena TNI menganggap orang Komunis ini tidak bertuhan dan tak sadar dosa maka TNIpun brutal menganggap bahwa membunuh orang Komunis adalah hal yang halal. Disitulah ekstrimnya komunis. Sehingga saya pribadi paling suka dengan konsep Sosialisme ketimbang Komunisme. Sutan Sjahrir, Soe hok-Gie adalah Sosialis. Sosialis jelas paling manusiawi, dia sama-sama berkonsep soal pemerataan kelas tapi ia masih menghargai kemanusiaan dan masih menghargai kepemilikan pribadi. Negara Eropa banyak menganut sistem ini.

Peristiwa G30s ini selain bersifat ideologis, tapi juga politis. Malah lebih banyak unsure politisnya. Akupun tak sudi menjadi pejabat politik birokrat apapun itu. Aku lebih suka menjadi prbadi yang independen dan sosialis. Politik adalah barang yang paling kotor. Seperti di sekitar ruang paling belakang dari rumah, ada kamar mandi dan dapur. Disitulah tempat bergerilyanya para tikus dan kecoa. Kecoa jorok terbang kasana kemari, merayap beternak dan betelur dengan bau yang membuat orang ingin muntah. Para tikus-tikus hitam menjilat, memakan sisa makanan atau bahkan mencuri, kadang pula menggrigiti lemari. Jorok!!.