Ekspedisi Sejarah Indonesia (Exsara)

Exsara merupakan organisasi terbesar di Jurusan Sejarah Unnes. Aku dirikan bersama teman-teman jurusan sejarah Unnes angkatan 2008. Mereka semakin maju

Catatan Hidupku

Aku sangat suka menulis. Termasuk membuat catatan hidupku. Biar nanti aku mati, tapi pikiranku seolah terus hidup sampai anak cucuku

Petualangan Hidup

Setiap hidup, pasti menyempatkan berkunjung ke tempat unik, berkenalan dengan orang baru. Semua itu akan mendidik kita jadi manusia besar

Sejarah Nasional dan Dunia

Basis pendidikanku Sejarah. Aku sangat menyukai kisah masa lalu. Ada yang kuanggap sebagai sastra ada yang kuanggap sebagai guru kehidupan

Pola Hidup Sehat

Sejak SMP aku sudah punya bakat pemerhati gizi. Aku sangat mencintai pola hidup sehat. Tanpa kita sehat, semua yang kita miliki tak ada gunannya

Monday, December 26, 2016

Knalpot Indra Jadi Incaran Importir Malaysia



PURBALINGGA - Menilik industri knalpot di Purbalingga bisa ditemukan ada ratusan pengrajin, namun demikian keberadaan mereka tidak mesti berdomisili di Kampung Sayangan yang selama ini terkenal menjadi sentralnya. Industri alat peredam suara dan penyaring gas buang kendraan ini juga bisa ditemukan di radius 1 kilometer dari patung lelaki kekar yang sedang memperagakan pembuatan knalpot. Dari perempatan Wirasana ambil ke arah timur sejauh 200 meter kita kembali menemukan sebuah industri knalpot yang masih menyatu dengan rumah.

 Indra, owner IIJ memamerkan knalpot-knalpot buatan industrinya


Penulis mencoba mendatangi rumah tersebut yang dari depan terpajang aneka silencer dan header knalpot motor dan mobil beraneka motif, seperti pelangi, karbon dan chrome dengan bentuk-bentuk yang cukup berkelas dibanding model silencer standar asli kendaraan. Sebuah industri yang tertulis Indra Indo Jaya (IIJ) ini terdengar bunyi mesin yang dihidupkan dari salah satu tukang yang sedang memotong pelat stainless anti korosi sebagai bahan pembuat knalpot, sedang tukang yang lain tampak sedang mengebor sisi-sisi knalpot untuk dipasangi frame agar terlihat menarik.

Kedatangan penulis sengaja ingin mengupas seputar industri knalpot yang satu ini. Tampak ada anak pemuda yang sedang nongkrongi, memperhatikan para tukang yang sedang bekerja. Penulis menyapa dan menyatakan ingin menemui pemilik industri ini kepadanya. Namun tak disangka, ternyata anak muda itulah mengaku sebagai owner industri kecil rumahan ini. Setelah banyak ngobrol soal perkenalan, lebih terheran lagi ketika anak muda itu mengaku kelahiran tahun 1994, tiga tahun lebih muda dari penulis namun ia sudah memimpin dan mengelola sebuah industri produk otomotif ini.

Indra Nur Arbianto, nama lengkap pemuda pemilik IIJ ini. Ia baru membuka industri knalpotnya ini sekitar satu tahun yang lalu, namun ia sudah banyak berpengalaman menggeluti pemasaran knalpot Purbalingga sejak 4 tahun yang lalu. Knalpot Purbalingga memiliki pemasaran yang begitu luas mulai level nasional hingga internasional. Contohnya saja knalpot hasil industri IIJ milik pengusaha berusia 21 tahun, ini sanggup tembus ke pasaran Malaysia.

Diakui, Kabupaten Purbalingga dikenal dengan surganya knalpot handmade alias buatan tangan bukan buatan mesin, namun dengan kualitas yang baik dengan harga yang terjangkau. Wajar saja para pecinta otomotif jelas kepincut dengan produk buatan putra kreatif Purbalingga ini. Bahkan diantara ratusan pengrajin knalpot yang ada di Purbalingga sempat menjadi suplier perusahaan mobil yang sangat terkenal di Jerman. Nama knalpot Purbalingga booming dan diakui kota-kota lain sebagai produk knalpot paling berkualitas. Booming knalpot Purbalingga bertahan bertahun-tahun hingga sekarang, tidak seperti tren batu akik yang cepat tenggelam.

Industri knalpot yang beralamat di Jalan Tentara Pelajar no 31, Kelurahan Kembaran Kulon atau kompleks depan RSUD Goeteng Taroendibrata ini mampu memproduksi silencer knalpot dengan tipe mirip produk kelas dunia. Untuk merek knalpot racing mobil, IIJ sudah tergolong mahir membuat dan menduplikasi aneka tipe knalpot berkelas, seperti tipe HKS, Tanabe, Fujitsubo, Gronel, dan Kapsul.

Selain itu, untuk knalpot khusus sepeda motor, home industri ini juga bisa meniru knalpot merek beken yang sudah tak asing lagi di telinga penggemar otomotif  seperti Akaprovic, Yoshimura, Scorpion, Termignoni, M4, Leovince, Remus, Akrapovic Garda, Akrapovic GP dan berbagai jenis knalpot untuk mesin 2-tak. Knalpot-knalpot jenis tersebut sering digunakan dalam ajang balap motor kelas dunia.

Indra menuturkan harga jual knalpot biasanya ditentukan dari kualitas dan bahan bakunya, selain itu juga pembelian dalam jumlah banyak bisa mendapatkan harga khusus. Karena ini buatan lokal, tentunya harga jual tak seperti merek aslinya.

 "Nilai jual knalpot biasanya dari kualitas suara dan materialnya. Buatan kami bisa menymainya, namun jika membeli merek yang asli tentu mahal, bisa sampai Rp 4 jutaan. Tapi dengan knalpot buatan kami harganya hanya Rp 450 ribu untuk eceran dan Rp 350 ribu untuk harga grosir," kata pemuda yang masih berstatus pacaran ini kepada Harmas, Sabtu (5/3).

Dari sekian tipe tersebut, paling digemari konsumen atau best seller adalah tipe HKS untuk knalpot mobil dan Akrapovic GP untuk sepeda motor. Sebab tipe itu disebut-sebut mampu meningkatkan performa mesin dan menghasilkan bunyi yang prestisius seperti mobil/motor sport yang mahal.

Indra, sapaan akrab owner IIJ mengaku knalpotnya sudah tembus ke berbagai kota di Indonesia bahkan ke luar negeri khususnya Malaysia. Untuk pemasaran dalam negeri, produknya banyak tersebar di Jakarta, Bali, Aceh, Kalimantan, Sumatra dan Bogor. Untuk sebaran di berbagai kota dalam negeri mencapai 100 hingga 200 unit per bulannya, tergantung permintaan, belum lagi permintaan dari pembeli eceran. "Untuk pasaran di Malaysia, kami rutin mensuplai 200 unit knalpot per bulan ke empat toko disana. Para penjual disana sangat suka karena harga dari sini murah dan disana mereka bisa menjual dan meraup keuntungan sampai Rp 1 juta per unit jika dirupiahkan," jelas Mahasiswa semester 6 Fakultas Hukum Unwiku Purwokerto ini.

Ia mengaku memulai bisnisnya setelah ia lulus SMA, sempat berpengalaman memasarkan knalpot-knalpot buatan Purbalingga di luar kota. Sebelum banyak menggeluti bisnis ini lebih jauh, ia justru terdorong untuk melanjutkan profesi ayahnya yang menjadi anggota Polri. Namun karena tersandung suatu hal yang menyebabkan keinginan menjadi polisinya itu tertunda, ia memutuskan untuk kembali berkecimpung dalam bisnis knalpot.

Ketika menjalani bisnis ini, ia memutuskan ikut dengan saudaranya untuk memasarkan knalpot Purbalingga di Jakarta. Ia mendapatkan pengalaman meraih berbagai jaringan toko-toko ataupun konsumen di berbagai kota. Dengan jaringan kenalan dan profit yang cukup baik ia akhirnya membuka home industri knalpot sendiri di rumah. Modal awal yang ia gelontorkan untuk membangun industri ini hanya Rp 50 juta saja yang juga uang tabungan pribadinya. Tanpa berfikir panjang ia membelanjakan uang tersebut untuk membangun shelter yang cukup tinggi di depan rumahnya sebagai area kerja dan showroom-nya. Modalnya juga untuk membelanjakan aneka mesin untuk membantu keperluan produksi, serta bahan baku seperti pipa baja, plat stainless, galvanis dan plat besi biasa. Keterampilan membuat knalpot-pun tak harus ia miliki, Indra tinggal merekrut para tukang-tukang warga sekitar yang sudah cukup mahir dan faham soal pembuatan knalpot sebagai karyawannya.

Dari industrinya itu dalam satu hari mampu memproduksi 20 unit knalpot per-harinya. Ia melayani pemesanan level partai juga eceran. Untuk pemesanan level partai minimal 20 unit sekali pesan dan akan mendapatkan harga spesial yang jauh lebih murah dbanding eceran. Banyak kemajuan yang didapat dalam bisnis ini. Perbulannya ia bisa berpenghasilan bersih mencapai Rp 20 juta. "Paling sepi hanya Rp 3 juta per bulan. Tapi dari usaha ini dengan modal Rp 50 juta sudah balik modal, tinggal menikmati profitnya," kata pria alumni SMAN 1 Padamara ini.

Saat ini juga rutin mensuplai knalpot di berbagai toko di Purbalingga, atau melayani pemesan eceran yang seringkali datang dari media sosial khususnya Facebook, atau forum jual beli secara online seperti olx, tokopedia, bukalapak dan kaskus. Indra mengaku penjualan di dunia maya sangat membantu dan sangat efektif guna melayani pembeli yang malas atau terlalu jauh untuk datang langsung ke industrinya.

Jalan Tentara Pelajar no 31, Kelurahan Kembaran Kulon


Sebagai pelayanan after service buatan IIJ ini, ia berani memberi garansi selama 3 tahun pemakaian untuk knalpotnya yang berbahan stainless. Selain itu, untuk keunggulannya ia juga mengutamakan kualitas bagian sarangan dalam silencer yang ia buat, tentunya dengan lubang yang rapi dan tidak rapuh. Karena performa dan tampilannya yang baik, tak jarang para komunitas fansclub otomotif sering membeli darinya. "Yang sering ambil dari sini biasanya komunitas Kawasaki Ninja Bogor, Kawasaki KLX Jogja, dan komunitas mobil Grade Corola. Untuk keperluan balap roadrace tim dari Semarang, juga balap Grasstrack juga ambil dari sini," papar anak bungsu dari empat bersaudara ini.(Ganda Kurniawan)

Sistem Bioflok, Hasilkan 2000 Lele Per Meter Persegi


BUKATEJA - Forum Pemuda Bukateja Bersatu (FPBB) menggunakan teknik yang unik dalam membuidayakan ikan lele. Sekumpulan pemuda yang membentuk pesantren kewirausahaan ini memilih menggunakan sistim bioflok dan akuaponik. Dengan cara teresebut, mereka bisa membesarkan sebanyak 2000-2500 ekor ikan lele siap konsumsi per lahan seluas 1 meter persegi dalam satu kali masa panen (1 bulan).

"Jadi cara ini memang berbasis intensifikasi lahan, atau memaksimalkan fungsi lahan untuk mendapatkan hasil yang sebanyak-banyaknya," kata Ketua Divisi Litbang dan Sumber Daya Manusia FPBB, Agung Suseno.

Cara ini bisa dibilang tidak konvensiaonal, atau tidak seperti yang dilakukan para peternak ikan pada umumnya, karena menggunakan instalasi tertentu dan konstruksi kolam yang bundar. Instalasi yang digunakan adalah berupa blower yang berada di dasar kolam.



Sekretaris Dinnakkan Purbalingga meresmikan kolam lele Bioflok milik FPBB




"Sebisa mungkin air di kolam selalu berputar. Mikroorganisme di dalamnya akan mengubah kotoran ikan menjadi flock atau pakan alami ikan, otomatis akan menghemat pakan ikan," kata Agung.

Dengan teknik ini, Feed Conversion Rate (FCR), bisa mencapai 0,8, artinya untuk menghasilkan 1 Kg ikan, hanya membutuhkan 0,8 Kg pakan utama. Penghematan ini bisa meningkatkan keuntungan yang didapat.

Sebagian kolam milik FPBB menggunakan sistem ini secara penuh, sebagian digabungkan dengan sistem akuaponik, yakni melibatkan tanaman meningkatkan kualitas air kolam. "Air kolam dari ikan disedot dan dialirkan ke pot-pot tanaman hidroponik. Disitu terjadi penyaringan kandungan nitrit nitrat dari kotoran ikan yang beracun, namun sebagai pupuk bagi tanaman. Dari itu, air sudah ternetralisir dan kembali dialirkan ke kolam," imbuhnya.

Bioflok sekaligus aquaponik


Agung mengungkapkan, teknik ini sebenarnya sudah diterapkan oleh beberapa peternak ikan lele di Indonesia, bahkan di luar negeri. Hanya saja masih asing diaplikasikan. FPBB saat ini memiliki puluhan kolam bioflok yang dikelola, diantaranya di Desa Karangcengis, dan di Desa Bukateja, Kecamatan Bukateja.




Aquaponik memanfaatkan air dalam proses penyemaian padi

"Kami memanfaatkan buku-buku referensi dan pengalaman yang ada tentang Bioflok di Pekalongan. Lalu kami ujicobakan, melewati proses trial and error hingga akhirnya berhasil," tuturnya.

Keberadaan pesantren kewirausahaan ini merupakan kegiatan pilot project pemberdayaan pemuda yang nantinya akan dikembangkan dengan berbagai kegiatan lainnya. Diantaranya pengembangan budidaya lahan padi dengan metode SRI (System of Rice Intensification-red), sentra industry kreatif, sentra tanaman hias, volley centre, dan perpustakaan saung.

"Pesantren kewirausahaan ini diharapkan bisa menjadi tempat belajar bagi pemuda-pemuda yang lain serta menginspirasi para petani atau peternak ikan untuk meningkatkan hasil produksinya," pungkasnya.(Ganda Kurniawan)  

Menaikan Air Tanpa Mesin dan Listrik


Warga Desa Talagening Andalkan Hidram

BOBOTSARI - Situasi yang mendesak seringkali memaksa kita untuk berfikir kreatif memecahkan solusi. Seperti halnya yang dialami oleh warga Desa Talagening Kecamatan Bobotsari, desa ini bertahun-tahun kesulitan mendapatkan air bersih. Namun kini sudah tidak lagi dirasakannya berat upaya kreatif warga yang mampu menaikan air dari bawah ke atas tanpa mesin atau listrik, melainkan membuat alat sederhana yang disebut hirdaulik ram alias hidram.

Sabtu (19/3) kemarin penulis mencoba menelusuri bagaimana warga Desa Talagening ini mendapatkan air. Jika melihat kondisi alamnya, desa ini termasuk dalam wilayah tadah hujan, perlu dibuat sumur yang sangat dalam untuk menembus cadangan air, namun hal itu jarang dilakukan warga lantaran sulit dilakukan. Di sisi lain ada sebuah mata air deras, berupa curug sayanganya berada di desa sebelah yakni Desa Serayu Larangan, Kecamatan Mrebet, kedua desa ini dipisahkan oleh Sungai Soso dengan ketinggian tebing mencapai 50 meter. Curug yang jatuh ke Sungai Soso inilah yang kemudian dimanfaatkan agar bisa dinaikan ke Desa Talagening dengan teori yang dipantulkan dari dasar jurang.

Kami harus turun tebing setinggi 50 meter menggunakan tangga besi vertikal

Untuk melihat cara kerjanya penulis diajak turun dari tebing menuju tepian sungai Soso dan sebuah curug yang dinamakan Curug Jampit. Di tepian sungai ramai terdengar decitan suara katup hidram yang naik turun, bekerja mengangkat air dari bawah ke atas. Salah satu tokoh masyarakat Desa Talagening yang mempelopori penggunaan hidram ternyata adalah seorang kakek petani berusia 75 tahun bernama Rusmanto. Dia mengajak penulis melihat dan menjelaskan cara kerja hidram ini.

Di dasar jurang yang juga di tepi Sungai Soso ini setidaknya terdapat 50 hidram yang bekerja mengaliri ratusan rumah warga Desa Talagening. Rusmanto menjelaskan air tersebut diambil dari atas curug ditampung dalam tong sebagai penstabil arus yang kemudian disalurkan sebuah pipa besi diameter 5 Cm sebagai inlet masuk ke hidram. "Panjang pipa paling tidak 18 meter, dipasang dengan kemiringan yang curam ke hidram. Semakin panjang dan semakin curam kemiringannya semakin bagus air terdorong ke atas oleh hidram. Jika pipa semakin panjang tapi tidak diimbangi pemasangan pipanya yang curam maka hidram tidak bekerja," katanya.

Ia menjelaskan cara kerja hidram sendiri adalah menerima air bertekanan tinggi dari pipa inlet tadi, air langsung terpantul ke pipa pengeluaran untuk mengalirkan keatas. Hidram berfungsi mengubah tekanan air masuk menjadi hentakan-hentakan ritmis dan setiap hentakan diakhiri katup yang menutup sehingga air tidak kembali turun. Sehingga air terus terdorong ke atas. Kinerja itu berlangsung terus menerus secara otomatis sehingga tidak memakan beaya listrik atau bahan bakar mesin.

Penggunaan Hidram ini mulai diterapkan warga Desa Talagening sejak tahun 2005 yang dipelopori oleh Rusmanto. Ia mengaku mempelajari hal ini dari penerapan serupa yang dilakukan oleh mahasiswa KKN UGM di Desa Pengalusan Mrebet, lalu ia menerapkan hidram ini di Desa Talagening dengan kapasitas yang lebih banyak. Hidram-hidram yang terpasang di desa inipun seluruhnya adalah barang rakitan dari bahan bekas dan memintakan ke tukang las untuk merakitnya. Namun demikian untuk memanfaatkan air yang diangkat dari hidram ini tidaklah murah.

Hidram terus berdecit ritmik teratur dan memuncratkan sedikit air

"Untuk satu saluran paling tidak bisa habis Rp 10 juta. Yang membuat mahal adalah untuk pembelian pipa-pipa, mulai dari pipa yang menangkap air dari atas curug ke tong penstabil, kemudian pipa besi dari tong ke hidram, lalu pipa yang menyalurkan air naik lalu tersalur ke rumah warga," kata kakek yang hanya menamatkan pendidikan di Sekolah Rakyat (SR) ini.

Ada sekita 50 titik Hidram untuk menyalurkan ke rumah warga

Tampak banyak pipa menangkap air dari atas (desa sebelah)


Sementara itu, Kepala Desa Talagening Nila Eka Ningsih mengatakan berkat penggunaan hidram ini desanya sudah tidak banyak meminta lagi dropping air dari BPBD ketika musim kemarau datang. Dari 50 hidram yang terpasang bisa tersalur ke 200 rumah atau hampir separuh dari warga Desa Talagening. "Sebagian kecil dusun masih ada yang rutin harus dropping air, karena lokasinya lebih jauh dan lebih tinggi, tapi belum kami terapkan juga hidram disana," katanya.

Semua hidram tersebut dipasang sendiri oleh warga secara perseorangan, sehingga tidak ada pentarifan atau meterisasi. Semua biaya operasional perawatan dibebankan oleh pemasang sendiri. Atas beberapa kelebihan yang dimiliki desa, saat ini Desa Talagening sedang berkonsentrasi menjadi desa wisata.

"Kita bisa manfaatkan kompleks hidram tadi sebagai wisata teknologi. Masih di sekitar situ juga  ada Curug Jampit dan Curug Ciputut," katanya.

Hanya saja berdasaran pantauan Harmas saat ini untuk menuju lokasi tersebut tidaklah mudah. Untuk menuruni tebing disitu menggunakan tangga besi setinggi 20 meter yang disandarkan secara vertikal dan sudah agak keropos. Untuk menuju kompleks hidram dan curug Jampit harus kembali turun dengan medan batu cadas. sedangkan untuk menuju Curug Ciputut perlu menyusuri tepian sungai sekitar 200 meter.

Saat ini kedua curug ramai dikunjungi para remaja, terutama ketika hari Sabtu dan Minggu. Karena masih belum ada peraturan desa (perdes), para pengunjung masih dibebaskan dari semua tarikan retribusi. Pemerintah desa akan segera mengelola keberadaan dua curug tersebut dengan mempersiapakan Peraturan Desa (Perdes) yang didalamnya akan memuat pengelolaan curug beserta pengelolaan parker dan tiket masuk. "Semua pendapatan dari retribusi ini akan dijadikan sebagai pendapatan asli desa (PADes)," katanya. (Ganda Kurniawan)