Ekspedisi Sejarah Indonesia (Exsara)

Exsara merupakan organisasi terbesar di Jurusan Sejarah Unnes. Aku dirikan bersama teman-teman jurusan sejarah Unnes angkatan 2008. Mereka semakin maju

Catatan Hidupku

Aku sangat suka menulis. Termasuk membuat catatan hidupku. Biar nanti aku mati, tapi pikiranku seolah terus hidup sampai anak cucuku

Petualangan Hidup

Setiap hidup, pasti menyempatkan berkunjung ke tempat unik, berkenalan dengan orang baru. Semua itu akan mendidik kita jadi manusia besar

Sejarah Nasional dan Dunia

Basis pendidikanku Sejarah. Aku sangat menyukai kisah masa lalu. Ada yang kuanggap sebagai sastra ada yang kuanggap sebagai guru kehidupan

Pola Hidup Sehat

Sejak SMP aku sudah punya bakat pemerhati gizi. Aku sangat mencintai pola hidup sehat. Tanpa kita sehat, semua yang kita miliki tak ada gunannya

Saturday, June 18, 2011

Catatan seorang Pendiam 18 Juni 2011

Aku sadar begitu pentingnya sebuah catatan. Itulah sejarah, semua bisa direkonstruksi meski nisbi. Kelak, aku harap cucuku atau generasi-generasi keturunanku akan membaca catatanku ini, membaca tulisan leluhur mereka, tulisan nenek moyang mereka, yaitu aku. Beginilah pergulatan pikiranku sebagai seorang yang pendiam. Mereka akan jauh mengerti tentang aku.

Malam ini aku baru saja mengajak Winarso untuk menonton film Che Guevara ini. tentang revolusi Komunis di Cuba. Film ini diambil dari diary nya Che. Begitu terkenang karena dia memiliki catatan itu. Tulisan dan sastra bagiku adalah hal yang begitu bermakna. Meski kadang diinterpretasikan sebagai candu (memabukkan), tapi seringkali juga sebagai penggugah semangat. Ada rangkaian paragraph yang ku ambil dari sekelebatsenja.blogspot.com dan ku masukan juga ke dalam skripsiku. Diktenya begini “telah diketahui bahwa Agen-agen peniup angin perubahan seringkali terilhami oleh karya sastra yang ia baca. Bukan kebetulan tampaknya jika Gie ada di Salemba, berjaket kuning dan berada di deretan garda depan generasi '66. Ia yang kini menjadi ikon para demonstran ternyata membaca Chairil dan Andre Gide di masa remajanya. Atau jika ingin contoh yang lebih terkini, Budiman Sudjatmiko dan aktivismenya yang menghebohkan bersama PRD ternyata adalah pengagum Hikmet Ran, penyair Turki yang bersama-sama dengan Pablo Neruda meraih penghargaan dari pemerintah Uni Sovyet di tahun 1950-an. Lalu saat kita berpaling ke seberang lautan, kita tak akan terkejut jika Ernesto Guevara de la Serna (Che Guevara) ternyata mengapresiasi Garcia Lorca”. Ada kobaran api yang muncul seringkali kita dapat dari Sastra.

Penting atau tidak penting, serius atau tidak serius dari tulisan sebenarnya tidak masalah. Asal itu memang goresan yang kita buat sendiri. Aku seringkali memposting karya-karya tugasku, aku cukup bangga karena orisinil. Tujuanya jelas untuk referensi bagi pembaca. Itulah hasil pemikiranku, hasil suntinganku.

“Aku berfikir, maka aku ada” kata Descartes. Tentu saja benar, dengan menuangkan pikiran kita ke dalam tulisan. Kita serasa akan terus ada meski kita sudah tiada di bumi ini. mereka yang tidak menulis, tentang hidupnya atau pikirannya, kelak di masa depan paling ia hanya meninggalkan nama, atau foto-fotonya saja. Tak tahu apa-apa. Sulit menjawab pertanyaan ini, siapa nama kakek dari kakekku?? Aku tak mengerti karena dia tak berkarya. Sedangkan kita mengenal Aristoteles, Socrates, Plato dsb, padahal mereka jauh dari hidup kita, mereka hidup di jaman sebelum masehi. Namanya hingga sekarang masih terkenang, hanya karena ia pernah berkarnya, hasil pemikirannya tertulis.
Tadi pagi aku juga sempat menonton film Komedi “Kambing Jantan”. Raditya Dika sengaja membuat catatan harian yang dibuat konyol. Itu karena ia senang melihat orang tertawa melihat catatannya itu. Novel itu menjadi Best Seller.

Setiap catatan akan memunculkan kesan-kesan tersendiri. Lebih dari nama saja yag dikenang. .  . . .

Friday, June 17, 2011

Catatan seorang Pendiam 17 Juni 2011


Hari ini adalah hari lingkungan hidup. Unnes mengumpulkan segenap keluarganya untuk hadir (yang berminat saja) dalam upacara yang dilaksanakan di lapangan depan gedung H Rektorat. Perayaan yang seolah menjadi kewajiban karena kita sudah beratribut Universitas Konservasi. Jika upacara Hardiknas lalu aku ceroboh soal waktu dan tempat, tapi upacara kali ini aku hampir saja ceroboh soal pakaian. Hampir saja aku salah kostum, ternyata semua peserta upacara menggunakan pakaian Training. Sedang aku sudah terlajur sampai di gedung G menggunakan kemeja rapi dan berbekal jas Almamater di tas. Aku terkejut saja, untung pakaian ku rangkap dua, pakaian dalamku berupa kaos. Untuk bisa berkamuflase bersama mereka akhirnya aku melepas kemejaku. Tinggalah kaos hitam, meski celana kain dan sepatu pantovel. Tak masalah. Rasanya para pejabat Jurusan sejarah lebih telat ketimbang aku. Mereka berbaris di belakangku. Upacara seperti tak formal, tampak semrawut.

Hari Jumat yang suci ini terasa ringan, karena aku tak ada agenda untuk kuliah. Cukup di kos, nonton film dan membaca novel. Tidak begitu aku tercerimin sifat pemalas. Akhir-akhir ini cuaca selalu cerah, bintang selalu hadir dalam malam yang bening. Berkedip-kedip, bermain mata dan nama mereka terlampau indah: Canopus, Capella dan Vega. . . . .. . . . . . . . . . .

Aku tulis catatan ini, persis malam ini. Aku baru saja menyelesaikan novel sejarah, tentang penderitaan mereka yang sempat mengalami hidup di Kamp Konsentrasi NAZI ketika PD II (baca: Perang Dunia ke-2). Judulnya “Malam”, judul yang konotatif karya Elie Wiesel. Sebuah novel yang mengkisahkan realita tentang dirinya sebagai Orang Yahudi sekitar kesengsaraan menjadi penghuni Kamp. Ini bukan referensi pertamaku, sebelumnya aku pernah membaca buku tentang nasib serupa tapi berupa biografi, ketimbang novel. Otobiografi dari Parlindoengan Loebis, seorang Indonesia yang juga sempat tinggal di neraka Kamp Konsentrasi. Mengapa P. Loebis ini sampai disana, karena ketika belajar di Belanda ia sempat menjadi ketua Indische Vereeniging (Perhimpunan Indonesia) yang anti fasis. Hingga suatu saat NAZI (rekan Fasis) mencaplok Belanda, ia harus ditangkap, bernasib sama seperti orang-orang Yahudi dan para musuh Politik simpatisan NAZI.

Kedua buku ini mendeskripsikan sama tentang bagaimana kehidupan di Kamp. Kamp bagiku lebih tampak semacam asrama, terdiri tanah gersang yang luas, bangunan yang sama lebih dari satu dan dipagari oleh dinding dan kawat yang dialiri listrik. Kehidupan mereka hanya dipekerjakan paksa dan diberi makan hanya sup, roti atau kentang. Para Kapo (Polisi Kamp) terkenal kejam dan disiplin, sekali ada kesalahan dia tak segan untuk membunuh. Lebih sering tahanan di kamp ini sengaja tidak disuplai makanan sama sekali, hingga mereka sangat kurus bahkan rawan konflik antar sesama. Semua orang mengurusi dirinya sendiri. Lingkungan yang penuh menbuat depresi, kotor, lebih seperti peternakan babi. Sengaja mereka disiksa dan sengaja agar mereka semua mati. Mereka yang mati, dibiarkan tergeletak begitu saja, atau kadang dibakar/ diabukan di Krematorium. Kebanyakan penghuni ini adalah Kaum Yahudi. Nampaknya Kaum Yahudi di dunia ini dianggap penuh masalah.

Mochtar Loebis dalam pengantar novel “Malam” ini nampaknya ia cukup objektif. Bahwa orang Yahudi berkali-kali ia meresakan neraka di dunia ini tapi sekarang ia giliran menjadi buas mendirikan Israel, mengusir dan mambantai orang-orang Arab.

Telah kita ketahui bahwa orang-orag Yahudi ini sempat berkali-kali mendapat cobaan besar dari tuhan. (Entah cobaan atau memang azab). Coba mengingat kembali tentang cerita nabi Musa, ia meyelamatkan para Yahudi di mesir ini dari kejamnya raja Fir’aun. Telah terjadi pembantaian dan suasana terror terhadap orang yahudi masa Fir’aun ini sebelumnya. Musa lahir dari kalangan mereka sebagai penyelamat, dan menenggelamkan Fir’aun dkk di Sungai Nil.

Beralih ke berbeda zaman. Ketika zaman Romawi, orang Yahudi sempat dibuat sengsara oleh Kekaisaran Romawi yang menginginkan semua orang tunduk dan menyembah Kaisar. Sementara orang Yahudi punya kepercayaan bahwa ia adalah makhluk pilihan Tuhan, maka ia selalu mengekslusifkan dirinya terhadap orang lain. Kaisar Romawi geram dan seringkali mengoyak kehidupan mereka, menyiksa bahkan membunuhnya. Namun saat itu Yesus lahir darah orang Yahudi, dan seolah menjadi penegar kehidupan mereka, meski Yesus juga turut disiksa. Jadi munculnya agama Kristen ternyata adalah sempalan dari agama Yahudi. Ada orang yang tetap teguh pada Yahudi dan pengikut Yesus diajak untuk menyembah agama Allah. Oleh Karena Yesus sendiri lahir di Palestina dan berasal dari darah Yahudi, maka untuk selamanya Kristen tetap mendukung berdirinya Israel. Akan sulit sekali mencegah mereka.

Menuju ke zaman Moderen sekitar PD II, Yahudi tak lepas dari neraka dunia kembali. Konon 6000.000 orang Yahudi dibantai ketika Fasis dan NAZI Jerman berkuasa di Eropa. Di bawah Hitler dan Musolini. Mereka tersiksa dalam Kamp Konsentrasi. Untuk memvisualisasikan tragedy ini, aku juga sempat nonton Film The Pianist yang diberi Tyo, dan aku juga punya Film Documenter tentang Kamp Konsentrasi “Auschwitz” Jerman (kamp yang terkenal paling kejam), keduanya mungkin cukup representatif. Nazi begitu membenci Yahudi tentu ada alasannya, panjang, aku tak bisa menjelaskanya disini.

Suasana dunia menjadi begitu kacau dan perpecahan. Seandainya orang Yahudi tetap teguh pada Kitab Taurat ketimbang Talmud (kitab yang dibuat sendiri oleh para rabbi/ulama-Yahudi, karena rabbi ini telah mengaku menang berdebat dengan Tuhan), dan seandainya orang Kristen tetap teguh pada Perjanjian Lama. Pasti dunia akan damai….  

Thursday, June 16, 2011

Catatan seorang Pendiam 16 Juni 2011


Rasanya film Sang Pencerah lebih menyentuh hati ketimbang film Muhammad The Last Prophet (MTLP) yang tadi siang baru saja berhasil ku download. Jelas karena MTLP ini hanyalah berupa animasi dan alurnya tergesa-gesa, dari perang satu ke perang yang lain, kurang memanfaatkan nilai-nilai yang inspiratif. Sedang Sang Pencerah mencoba berbagi rasa kepada penonton tentang jatuh bangunnya, sedih dan gembiranya.

Aku pernah, mungkin saat liburan kemarin sempat membaca sekilas bukunya Michael H. Hart, “Seratus Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah”. Dia memberi penghargaan bahwa Muhammad SAW, menduduki urutan pertama dari seratus tokoh itu. Hal ini kerena Muhammad adalah tokoh yang banyak memberi perubahan dalam dunia, khususnya dalam mengukir tatanan Islam dari berbagai belahan Negara. Wilayah taklukannya mencapai seluruh Timur Tengah, Afrika dan Eropa kecuali Perancis. Buku ini memang jelas memancing banyak perdebatan. Dan hal ini wajar, karena dasarnya tiap manusia punya subjektivitas sendiri-sendiri.

Aku cukup bisa memaksimalkan fasilitas-fasilitas di UNNES ini, dengan memanfaatkan wifi untuk mendownload Film-film edukatif-edukatif seperti itu. Apalagi akhir-akhir ini aku sedang mancoba memadukan ajaran Muhammad dengan idealisme ala Soe Hok Gie, dengan harapan kombinasi ini bisa melahirkan sifatku yang istiqomah terhadap islam/ teguh pendirian terhadap islam. Islam yang murni, sesungguhnya aku tidak ingin kembali ke posisi setengah-setengah.

Muhammad sosok yang hampir sempurna, sedangkan Gie (meski atheis) idealisme murninya lebih populer untuk kalangan pemuda Indonesia seperti aku. “Muhammad – Gie” ini bukan maksudku membuat semacam sinkretisme, tapi aku hanya sekedar mensintesiskan semangat konstruktif kedua tokoh ini, menghasilkan kecintaan Islam yang tegar tak kenal ampun, islam yang bagaikan pohon Oak. Semoga untuk selamanya konsep ini bisa berhasil. . . . . . . aaamiin.